Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di dalam hutan, sinar mentari tak mampu menembus dalamnya, terhalang oleh dahan pohon yang menjulang tinggi. Suasana yang semula menenangkan kini berubah menjadi kengerian, saat beberapa orang tergeletak tak bernyawa dengan kematian yang tragis. Angin hutan membawa keheningan, menciptakan harmoni yang semakin menyesakkan.
Pandangan Jihan akhirnya tertumbuk pada satu-satunya jiwa yang masih berdenyut di antara puluhan mayat itu. Ia adalah seorang gadis muda dengan pakaian tampak seperti bangsawan, begitu mencolok dan tak lazim di tempat terpencil seperti ini.
Gadis itu tampak sebaya dengannya. Ia terduduk lemas di tanah, tubuhnya gemetar, sementara wajahnya memancarkan ketakutan yang nyaris tak terlukiskan. Di hadapannya, binatang buas itu melangkah perlahan, mendekat selangkah demi selangkah. Liurnya menetes dari rahang yang terbuka, dan matanya menyala tajam, seolah kematian hanya tinggal satu tarikan napas lagi.
Suara derit kayu terdengar pelan saat Jihan mengepal erat kapak di tangannya. Ia menggigit sudut bibirnya, mencoba menenangkan rasa takut dan ngeri yang mencengkeramnya. Dalam benaknya, pikirannya bergolak hebat.
'Haruskah aku menyelamatkan gadis itu atau membiarkannya?'
Jihan teringat kembali kesepakatannya dengan kepala desa, bahwa ia harus segera kembali jika menemukan bahaya di dalam hutan. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak bisa membiarkan gadis itu begitu saja.
'Jika aku membiarkannya dan pergi dari tempat ini, rasa bersalah akan menyelimuti seluruh hidupku,'
Perasaan putus asa ini terasa familier. Ketidakberdayaan gadis itu adalah cerminan dari ibunya yang berjuang melawan penyakit. Tiba-tiba, sumpah yang ia bisikkan di sisi ranjang ibunya menggema di telinganya: 'Aku akan menyembuhkan Ibu, apa pun yang terjadi.'
Bagaimana ia bisa menepati sumpah itu jika ia bahkan tak sanggup mengulurkan tangan pada nyawa lain yang ada di ambang kematian? Seketika, rasa takutnya terkikis oleh sesuatu yang lebih kuat, rasa malu jika sampai ia mengingkari janjinya sendiri.
Kesadaran baru itu mengubah segalanya. Ekspresi Jihan mengeras, sorot matanya yang semula dipenuhi ngeri kini menajam, terkunci pada sosok binatang buas itu. Genggamannya pada gagang kapak mengerat, menyalurkan seluruh tekad bocah tiga belas tahun itu ke dalam sebilah baja tua.
Jihan paham dengan kekuatannya saat ini; melawan seekor Serigala Taring Panjang adalah ide yang bodoh. Oleh sebab itu, ia tidak boleh gegabah menyerang. Jihan harus mencari cara. Pertanyaannya bukan bagaimana mengalahkan binatang buas itu, tetapi bagaimana menciptakan celah untuk menolong gadis tersebut.
Saat pikirannya bekerja keras dan matanya mengamati sekitar, Jihan menyadari bahwa tumbuhan tempatnya bersembunyi adalah Lidah Bara. Tumbuhan ini menjulur seperti lidah api, membuat sebagian tubuhnya tak terlihat. Buahnya menghasilkan serbuk pedas yang sering dimanfaatkan untuk olahan makanan. Seketika, sebuah senyum melengkung terukir di wajah Jihan saat ia menyadari potensi buah tersebut.
‘Aku memang tidak bisa melawannya… tapi aku bisa membuatnya menangis!’
Sebuah rencana licik terlintas di benak Jihan, memicu senyum tipis di wajahnya. Dengan cepat, ia mulai memetik puluhan buah berbentuk lidah itu ke sakunya. Tangan mungilnya bekerja cekatan, merangkai strategi dalam diam. Kemudian, suara gedebuk keras terdengar saat ia melempar beberapa ranting pohon dan batu ke sudut yang jauh dari binatang buas itu, berharap dapat menarik perhatiannya.
Mendapati keributan di sekelilingnya, Serigala Taring Panjang seketika menjadi waspada. Langkahnya yang hanya tersisa sejengkal dari sang gadis untuk mencabiknya pun terhenti. Matanya yang tajam mengernyit, menyapu sekeliling, mencari sosok yang hidup.
‘Bagus, kau menggigit umpanku’
Jihan sekali lagi melempar batu yang ada di sekelilingnya ke arah sudut yang berlawanan, sembari bergerak di balik pepohonan menuju sang gadis. Kali ini, ia melemparkannya ke arah timur. Batu itu melesat di udara dan jatuh tepat ke sudut yang Jihan inginkan, menciptakan suara yang berhasil menarik perhatian Serigala Taring Panjang. Makhluk buas itu segera melangkah mendekatinya.
‘Syukurlah, binatang buas memang bergerak berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar. Untung saja dia cukup bodoh untuk permainan kecil ini’
Perlahan, Jihan menyelinap dari balik semak, menyusuri jalur yang tertutup oleh akar dan bayangan pohon. Di sisi lain, sang gadis memandangnya dengan mata membelalak, tubuhnya kaku diliputi ketakutan. Ia menggeleng cepat seolah ingin menyuruhnya pergi. Namun Jihan tetap melangkah, lalu menurunkan tubuhnya perlahan di hadapannya.
Rambut hitam legam gadis itu terurai liar, menutupi sebagian wajahnya. tapi di balik helaian rambut itu, sepasang mata bening sempat menyembul mata yang besar, indah, tapi dipenuhi kecemasan yang menyesakkan. Wajahnya tampak halus, nyaris seperti porselen yang belum ternoda debu perjalanan, begitu kontras dengan rimbunnya semak liar di sekeliling mereka. Bahkan dalam situasi yang menegangkan antara hidup dan mati, pesonanya tetap memancar, halus dan tak terbantahkan.
"Aku di sini untuk menolongmu,"
Ia mencoba membantunya berdiri. Seketika, saat tubuh gadis itu bergeser sedikit mendekat, aroma lembut dan manis tiba-tiba menguar darinya. Wangi seorang bangsawan kelas atas. Jihan memalingkan wajahnya, dalam hati ia mengutuk gadis ini.
‘Bocah ini! tidak heran kalau dia diserang binatang buas. Bangsawan bodoh mana yang masuk hutan pakai wewangian? Itu cuma bikin binatang buas tertarik!’
Gadis itu tetap diam. Sebaliknya, tatapannya kini membelalak lebar, tangannya terulur menunjuk ke arah belakang Jihan. Suara lirihnya terdengar saat ia memperingatkannya.
“Kakak, dibelakangmu…”
Mata Jihan melebar mendengar peringatan gadis itu. Baginya, ini terlalu cepat dari yang ia bayangkan. Mungkinkah Serigala Taring Panjang itu sengaja berpura-pura tertarik dengan pengalih perhatian yang ia ciptakan, lalu hendak menerkam keduanya? Membayangkan hal ini membuat Jihan merinding.
Dengan menelan ludah, Jihan perlahan memutar tubuhnya ke belakang. Seketika, giginya bergemeletuk, wajah mengerikan binatang buas itu memenuhi pandangannya. Liur kental menetes dari rahangnya, membasahi bahunya, sementara mata binatang itu menatap lurus ke arahnya, tajam dan dingin. Tubuh Jihan gemetar hebat. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, seolah paru-parunya terbakar.
Namun ditengah rasa kepanikan itu, beruntung ia masih memiliki rencana lain.
“Sialan… mungkin ini waktunya”
Dengan tergesa, Jihan menyelipkan kapaknya ke dalam keranjang di punggung. Ia lalu merogoh saku, mengeluarkan Buah Lidah Bara. Dengan kedua tangan, ia menggenggamnya erat, lalu meremas kuat-kuat hingga pecah, menyebarkan serbuk halus yang langsung memenuhi telapak tangannya. Sebuah senyum melintas di wajahnya, cepat namun penuh keyakinan.
HUSHH!
Tanpa ragu sedikitpun Jihan melemparkan serbuk itu, tepat mengenai mata Serigala Taring Panjang. Seketika, suara raungan hebat menggentarkan hutan sekitarnya. Gemanya membuat burung-burung di sekelilingnya terbang, menyiratkan kebencian dan kemarahan yang diarahkan pada pemuda itu.
Melihat kesempatan untuk kabur, Jihan tanpa ragu menarik tangan sang gadis. Gadis itu tampak bingung, tidak sempat mencerna apa yang baru saja Jihan lakukan, namun ia tidak punya pilihan lain selain berlari bersamanya.
Suara langkah kaki mereka menggema saat keduanya berlari menerobos semak dan dedaunan tanpa arah. Ketegangan memuncak, diiringi raungan binatang buas yang masih meraung kesakitan di belakang. Napas mereka memburu, berat dan tak beraturan, sementara ranting dan dedaunan yang menyapu kaki menggores kulit hingga memerah. Namun rasa perih itu nyaris tak terasa, tertutupi oleh ledakan adrenalin yang membanjiri tubuh mereka.
Sang gadis, yang berlari terhuyung di belakang Jihan dengan tangan ditarik, menatapnya dengan penasaran. Sedikit rasa kagum terukir di benaknya saat Jihan tanpa ragu menolongnya, bahkan berani menghadapi binatang buas itu.
Langkah kaki mereka terus berpacu dengan waktu, menyusuri jalur sempit yang dipenuhi semak dan akar menjalar. Namun pelarian itu mendadak terhenti ketika sebuah rintangan menghadang di depan, sebatang kayu besar tumbang melintang di jalur mereka. Jihan langsung menghentikan langkah, matanya menatap gadis di sampingnya. Gaun panjang yang dikenakannya jelas akan menyulitkan untuk memanjat rintangan sebesar itu.
Tanpa berkata banyak, Jihan segera melepaskan keranjang dari punggungnya, lalu berjongkok sambil menepuk-nepuk bahunya.
“Naiklah,”
Gadis itu sempat tertegun, namun melihat sorot mata Jihan yang tak menunjukkan keraguan, ia pun mengangguk dan menaiki pundaknya.
“Sekarang ambil keranjang itu pakailah dipundakmu”
“Itu..”
Sang gadis terdiam sejenak. Bagaimanapun, ia tidak pernah membawa keranjang kayu di pundaknya. Tali kasar itu menyakiti kulitnya yang mulus, dan beban di dalamnya terasa tak seimbang. Tapi saat suara raungan menggema, disusul dentuman langkah Serigala Taring Panjang yang mendekat dengan cepat, ia tahu, tak ada waktu untuk ragu.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat keranjang ke punggungnya. Terasa asing, namun lebih dari itu, terasa penting. Sebuah beban yang kini ia pikul bukan hanya demi dirinya, tapi demi mereka berdua.
Sementara itu, Jihan menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun menahan adrenalin yang menggelegak. Matanya menatap lurus ke depan, ke batang pohon yang masih menghalangi jalan mereka. Dalam benaknya, hanya ada satu kata: maju.
Otot-otot kakinya menegang. Dalam satu gerakan yang nyaris seperti ledakan, ia melompat tinggi dan mantap, melintasi batang pohon itu. Tubuhnya mendarat dengan kuat di tanah seberang, lututnya sedikit tertekuk, namun ia tidak berhenti. Jihan langsung bangkit dan kembali berlari, bersama gadis itu di punggungnya.
Namun baru beberapa langkah ia menoleh ke belakang, matanya membelalak.
Serigala itu... sudah terlalu dekat.