Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
'Haruskah aku menyelamatkannya… atau membiarkannya?'
Kesepakatannya dengan kepala desa terlintas di benaknya, ia harus segera kembali jika menemukan bahaya di hutan. Namun semakin lama ia menatap gadis itu, semakin sulit baginya untuk berpaling.
'Jika aku pergi sekarang… rasa bersalah ini akan mengikutiku seumur hidup!'
Perasaan putus asa itu terasa begitu familiar. Ketidakberdayaan gadis itu menyerupai bayangan ibunya, terbaring lemah melawan penyakit. Dan bersama bayangan itu, terngiang sumpah yang pernah ia bisikkan di sisi ranjangnya.
'Aku akan menyembuhkan Ibu. Apa pun yang terjadi.'
Bagaimana ia bisa menepati sumpah itu jika ia bahkan tak sanggup mengulurkan tangan pada nyawa lain yang berada di ambang kematian?
Rasa takut di dadanya terkikis, digantikan sesuatu yang lebih kuat... rasa malu jika sampai ia mengingkari janjinya sendiri.
Sorot mata Jihan berubah. Ketakutan masih ada, namun kini terkunci rapat di balik tekad. Genggamannya pada gagang kapak mengeras, menyalurkan seluruh keberanian bocah tiga belas tahun itu ke dalam sebilah baja tua.
Ia paham betul batas kemampuannya. Melawan Serigala Taring Panjang secara langsung adalah tindakan bodoh.
Matanya bergerak cepat, menelusuri sekitar. Saat itulah ia menyadari tumbuhan tempatnya bersembunyi... Lidah Bara. Daunnya menjulur seperti lidah api, menyamarkan tubuhnya. Buahnya menghasilkan serbuk pedas yang biasa dimanfaatkan warga desa.
Senyum tipis terukir di wajah Jihan.
'Aku memang tak bisa melawannya… tapi aku bisa membuatnya menangis!'
Dengan gerakan cepat dan senyap, ia memetik puluhan buah dan menyelipkannya ke dalam saku. Tangannya bekerja cekatan, sementara pikirannya menyusun langkah demi langkah.
Gedebuk!
Ia melempar ranting dan batu ke sudut yang jauh dari serigala.
Makhluk buas itu langsung waspada. Langkahnya yang hanya tersisa sejengkal dari sang gadis terhenti. Kepala besar itu berputar, mata tajamnya menyapu sekeliling.
'Bagus… kau menggigit umpanku.'
Sebuah batu lain melayang ke arah timur. Suaranya menggema lebih keras, cukup untuk menarik perhatian sepenuhnya. Serigala Taring Panjang bergerak ke arah suara itu, langkahnya berat dan penuh ancaman.
'Seperti yang kuduga binatang buas bergerak berdasarkan suara dan penglihatan.'
Memanfaatkan celah itu, Jihan menyelinap dari balik semak, bergerak rendah di antara akar dan bayangan pohon. Gadis itu menatapnya dengan mata membelalak, tubuhnya kaku oleh ketakutan. Ia menggeleng cepat, seolah menyuruh Jihan pergi.
Namun Jihan tetap mendekat.
Ia berlutut di hadapannya.
“Tenanglah, aku di sini untuk menolongmu,” bisiknya.
Saat ia membantu gadis itu berdiri, aroma lembut dan manis menguar tiba-tiba. Jihan refleks memalingkan wajah.
"Kau!… bangsawan bodoh mana yang masuk hutan pakai wewangian? Tidak heran jika kau diserang binatang buas!""
Gadis itu tak menjawab. Matanya justru membelalak, tangannya terulur menunjuk ke belakang Jihan.
“Kakak… di belakangmu…”
Darah Jihan serasa membeku.
Perlahan, ia memutar tubuh.
Wajah mengerikan Serigala Taring Panjang memenuhi pandangannya. Liur kental menetes dari rahangnya, hampir menyentuh bahu Jihan. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah terbakar dari dalam.
Terlalu cepat…
Namun di tengah kepanikan itu, satu rencana terakhir muncul.
'Sial… mungkin ini waktunya.'
Jihan menyelipkan kapak ke dalam keranjang di punggungnya. Ia merogoh saku, menggenggam Buah Lidah Bara, lalu meremasnya kuat-kuat hingga pecah. Serbuk halus menyelimuti telapak tangannya.
HUSHH!
Ia melemparkannya tepat ke mata serigala.
Raungan menggelegar mengguncang hutan. Burung-burung beterbangan, sementara Serigala Taring Panjang mengamuk kesakitan, cakarnya mencakar tanah dengan buas.
Tanpa ragu, Jihan menarik tangan sang gadis.
“Lari!”
Mereka berlari menembus semak dan dedaunan tanpa arah. Napas memburu, kaki tergores ranting dan duri, namun rasa perih itu tenggelam oleh adrenalin yang meluap.
Di tengah pelarian, Jihan merasakan tatapan gadis itu padanya... penuh keterkejutan, bercampur kagum.
Namun pelarian mereka terhenti mendadak.
Sebuah batang pohon besar tumbang, melintang di jalur mereka.
Jihan menatap gadis di sampingnya. Gaun panjang itu jelas akan menyulitkan.
Tanpa berkata banyak, ia melepaskan keranjang dari punggungnya, lalu berjongkok.
“Naik.”
Gadis itu sempat ragu, namun akhirnya menaiki punggungnya.
“Sekarang pakai keranjang itu,” ujar Jihan cepat.
Saat raungan kembali terdengar dan dentuman langkah mendekat, gadis itu tak punya waktu untuk menolak. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat keranjang ke punggungnya.
Berat. Asing. Namun terasa… penting.
Jihan menarik napas dalam-dalam, seketika sensasi asing menyelimuti tubuhnya... hangat, liar, dan tak sepenuhnya ia pahami.
Maju.
Dalam satu lompatan kuat, ia melompati batang pohon itu dan mendarat mantap di seberang. Tanpa berhenti, ia kembali berlari, gadis itu di punggungnya.
Namun saat ia menoleh ke belakang...
Matanya membelalak.
Serigala itu… sudah terlalu dekat.
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"