Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Mimpi Buruk
Fian menyodorkan telapak tangannya. "Berikan pendant itu padaku. Berbahaya bagi orang yang bukan pemiliknya memiliki itu. Lynda ...."
"Tidak! Kalau aku serahkan, kamu akan menceraikan aku tanpa memberikan apa pun padaku!" Lynda mendekap pendant itu sambil selangkah mundur.
"Lynda, ini bahaya bagimu! Jangan keras kepala!"
Tiba-tiba tanah tempat Lynda berpijak retak. Ternyata tanah longsor dan ia terperosok jatuh. "Ahh!!"
"Lynda!" Fian menyambar tangan istrinya dengan kedua tangan hingga jatuh ke tanah.
Tangan Lynda hanya satu yang didapat Fian karena tangan satunya lagi masih memegang kalung itu.
"Lynda pegang tanganku," ucap Fian yang berusaha menahan bobot tubuh istrinya sambil berbaring di tanah.
"Tunggu, aku kantongi dulu kalung ini." Lynda melihat ke bawah mencari kantong baju tapi sangat sulit.
"Lepaskan saja kalung itu, nanti kamu jatuh!" ujar Fian yang memicingkan mata menahan tubuh istrinya. Masalahnya, tangan sang istri basah sehingga licin dan sulit ditahan. "Lynda ...!"
"Sebentar ..."
Namun, ternyata pria itu tak sanggup menahan tangan Lynda. Malah tangan wanita itu meluncur begitu saja tanpa sanggup dihentikan. Fian panik. "Lynda ..!!"
Lynda tersadar, tapi sudah terlambat. Ia meluncur jatuh ke jurang yang dalam tanpa bisa ditahan lagi. "Mass ...!!"
"Lyndaa ..!!"
"Hah!" Lynda terduduk seketika. Ia terbangun di sebuah kamar. Dahinya mengucurkan keringat hingga leher bajunya basah. "Aku di mana? Ah, di apartemen ...."
Di sampingnya, seorang pria bule berwajah tampan membuka mata dan terkejut. "Lynda, kamu kenapa?" tanyanya sambil memicingkan mata.
"Oh, tidak. Hanya mimpi buruk." Lynda menyentuh keningnya karena merasa lega. Mimpi itu membuat ia syok, tapi untunglah hanya mimpi.
"Ayo, Baby, tidur kembali, Sayang." Daniel mengulurkan tangan.
Lynda mendekati pria bule itu dan memeluknya dari samping. Pria itu kembali tidur.
Namun, Lynda tak bisa tidur. Kembali terbayang mimpi itu. Ia sebenarnya ragu membawa pendant itu bersamanya, tapi mau bagaimana? Sudah terlanjur ia bawa ke Paris.
***
"Mmh, aku cuci tangan dulu. Kamu jangan bayar, biar kali ini aku yang traktir." Daniel beranjak berdiri.
"Oke." Lynda tersenyum senang. Sehari-hari mereka memang bicara dalam bahasa Inggris karena Daniel keturunan Inggris Belanda.
Restoran itu mulai ramai padahal restoran mahal. Hanya artis-artis terkenal atau orang kaya saja yang bisa makan di sana. Tempat ini adalah favorit Lynda karena itu Daniel mengajaknya ke sana.
Lynda terpikir lagi tentang pendant itu hingga ia membuka tas kecil yang dibawanya. Ia melihat pendant itu di sana. "Apa aku kembalikan saja pendant ini?" Mimpi semalam membuatnya berpikir ulang tentang memiliki pendant itu. Apa jangan-jangan keluarga Fiore mencari ini karena Fian tidak memegangnya? "Aduhh, kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana? Tapi kenapa Mas Fian tidak meneleponku balik?"
Lynda kemudian mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon. Namun, tak kunjung diangkat. "Duh, Mas Fian. Kenapa nadanya seperti ini? Apa teleponnya dimatikan?"
Seorang pelayan wanita datang membawa nampan berisi tagihan. Bersamaan dengan itu, Daniel, pria yang terlihat jauh lebih muda dari Lynda datang. Ia mengeluarkan kartunya dan diletakkan pada nampan itu. Sang pelayan kemudian mengangguk dan membawa pergi nampan itu. Daniel memperhatikan Lynda yang tengah menelepon. "Kamu sedang telepon siapa?"
"Oh, suamiku." Lynda menoleh sambil menepikan rambutnya yang panjang. "Cuma, kenapa hapenya dimatikan ya?"
Daniel mengangkat bahu.
"Kalau gitu, kamu ke mobil aja dulu. Nanti aku nyusul. Aku ingin ke toilet sebentar." Lynda beranjak berdiri.
"Oke."
Lynda pergi ke toilet yang letaknya dekat pintu masuk dapur restoran. Tak lama ia keluar.
"Oh, Nyonya Razman!"
Lynda menoleh. Ia mengenali Eugene. Bola matanya melebar seketika. "Eh, kamu ...." Wajahnya langsung pucat pasi.
Eugene membungkukkan tubuh memberi hormat. "Iya, Nyonya. Tuan sekarang di mana?"
"Apa?" Kini Lynda yang bingung. "Tapi, bukankah Fian pergi bersama kalian?"
"Nyonya jangan bohong. Dia kabur dari bandara ketika mobil jemputannya meledak."
"Apa!?" Seketika tangan Lynda gemetar. Wajahnya kembali pucat. "Ada apa ini? Sedang perang antar mafia? Ini yang paling aku takutkan bila berhadapan dengan keluarga mafia. Kenapa aku begitu bodoh bisa menikah dengan Mas Fian, brenggsek! Kan ada pria kaya lainnya yang bisa aku nikahi? Kenapa malah menikah dengan anak seorang mafia? Sekarang aku bingung bila harus cerai dari Mas Fian, apa aku masih bisa minta harta gono gini darinya? Hh ...." "Biar aku telepon dulu." Wanita itu mengibas rambutnya ke samping dan membuka tasnya.
Saat itu Eugene melihat pendant Fian ada di dalam tas Lynda.
Lynda tak sadar dan mengambil ponsel lalu menghubungi Fian. Namun, tetap saja sama. Tidak ada nada dering yang berarti ponselnya tidak menyala. "Ada apa dengan Mas Fian? Kenapa hapenya dimatiin sih? Apa dia melarikan diri dari orang ini?" Ia melirik pria ini. "Sial!" Wanita itu terus menunggu dengan gusar hingga berjalan mondar-mandir.
"Eh, kenapa pendant milik suamimu ada padamu?" Eugene menunjuk tas Lynda yang tengah terbuka.
"Eh?" Lynda mengikuti arah telunjuk itu. Ia panik karena pria itu tahu mengenai pendant itu.
"Berarti dia ada bersamamu, 'kan?"
"Eh, bukan. Dengar dulu ...." Lynda mengangkat kedua telapak tangannya sambil mematikan ponsel.
"Beri tahu kami, di mana dia sembunyi." Wajah datar Eugene terlihat fokus.
"Aku mengambil ini tanpa sepengetahuannya dan dia tidak ada bersamaku. Ini aku sedang telepon dia tapi dia tidak menyahut." Lynda memperlihatkan layar ponselnya yang bertuliskan 'Fian'.
"Kami tidak percaya. Ayo! Di mana kalian tinggal? Tunjukkan pada kami!" Dahi Eugene berkerut masih dengan wajah datarnya.
Lynda melihat Eugene tidak sendiri. Eugene bersama beberapa orang bertubuh kekar lainnya yang ikut mengiringi pria itu. Orang-orang yang sama yang dulu datang ke rumahnya di Jakarta.
Lynda mau tak mau terpaksa mengikuti perintah mereka. "Tapi aku datang dengan seorang teman. Biar aku telepon dia dulu."
"Sudah, jangan panggil bantuan! Sekarang tunjukkan saja dimana kamu tinggal." Eugene merebut ponsel Lynda. Ia tak mau kecolongan lagi, atau ia akan kena marah bosnya. "Ayo, ke tempat tinggalmu!"
Lynda terdiam karena tak punya pilihan hingga akhirnya menghela napas pelan. "Mungkin kalau mereka melihat sendiri tidak ada siapa-siapa di apartemenku, barulah mereka percaya." Akhirnya, ia ikut rombongan itu keluar lewat pintu depan.
Eugene membawa Lynda ke mobilnya di parkiran. Baru saja akan membuka pintu, terdengar suara tembakan. Mereka tak sempat menghindar. Suara tembakan yang beruntun membuat satu per satu dari mereka roboh bermandikan darrah. Bahkan Lynda.
Tiba-tiba tiga orang pria berpakaian jas berwarna hitam mendatangi mereka yang sudah tak bergerak. Salah seorang membuka tas Lynda sementara yang lainnya memastikan rombongan itu mati semua.
"Ini pasti pendant yang dicari," ujar pria yang membuka tas Lynda. Ia memperlihatkan pada temannya. Orang itu berbicara bahasa Itali.
"Iya, benar itu. Sesuai yang di gambar. Jadi benar dia istri Alessandro."
"Ayo, kembali!"
Ketiganya kembali ke mobil. Duduk di kursi belakang, Daniel yang tangannya terikat ke belakang dengan mulut yang dilakban. Ketiga orang itu langsung masuk mengelilinginya.
Pria di depan langsung menoleh ke belakang sambil memperlihatkan pendant itu pada Daniel. "Lihat, istrimu yang menyembunyikan pendant ini. Kamu mau menyangkal bagaimana? Kamu anak Adrian Fiore, kan? Alessandro Fiore!"
Mata Daniel seketika melebar. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat. "Aku bukan Alessandro Fiore, kamu salah orang!" Ia berusaha berteriak keras, tapi apa daya, suaranya terhalang lakban hingga bicaranya jadi tidak jelas. "Aku mohon dengarkan aku!"
Bersambung ....