"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Keheningan di apartemen mewah yang dulu terasa seperti rumah kini telah berubah menjadi sesak yang mencekik. Namun, Kirana tidak berada di sana. Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap melalui jendela mobilnya yang melaju kencang meninggalkan batas kota Jakarta.
Di dalam kabin mobil yang sunyi itu, Kirana mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang luar biasa hingga buku-buku jarinya memutih, kontras dengan kulitnya yang pucat. Napasnya memburu, pendek dan tajam. Adrenalin yang tadi memuncaknya saat ia berdiri tegak di atas panggung pesta Mahendra Group kini mulai surut, meninggalkan rasa hampa yang luar biasa dingin dan mencekam.
Melalui spion tengah, ia melihat kelap-kelip lampu Hotel Grand Hyatt yang semakin mengecil di kejauhan. Ia tahu, mulai detik ini, jembatan di belakangnya telah habis terbakar. Ia bukan lagi Kirana sang Manajer Pemasaran yang dihormati di industri perhiasan, ia adalah wanita yang baru saja mendeklarasikan perang terbuka melawan salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh dan tak kenal ampun di negeri ini.
Ponselnya yang retak di kursi penumpang terus bergetar tanpa henti. Nama Arka muncul berulang kali di layar, disusul oleh puluhan panggilan dari nomor-nomor yang tidak dikenal, mungkin wartawan yang haus berita, atau mungkin pengacara keluarga Mahendra yang siap mengancamnya.
Dengan gerakan kasar yang didorong oleh kemarahan yang meluap, Kirana menyambar ponsel itu dan melemparkannya keluar jendela saat mobilnya melintasi jembatan tinggi. Ia sempat melihat melalui spion benda itu hancur berkeping-keping terlindas kendaraan di belakangnya.
"Selesai sudah," bisiknya pada kegelapan di dalam mobil. "Tidak ada lagi jalan kembali."
Kirana tidak pulang ke apartemennya. Ia cukup cerdas untuk tahu bahwa itu adalah tempat pertama yang akan disatroni oleh orang-orang suruhan Surya Mahendra. Sebagai gantinya, ia memacu mobilnya menuju arah selatan, ke sebuah kawasan terpencil di pinggiran Bogor.
Di sana berdiri sebuah rumah kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon tua, rumah mendiang bibinya yang tidak pernah terdaftar atas namanya dalam dokumen publik mana pun. Ini adalah tempat persembunyian yang ia siapkan sejak lama untuk pelarian dari kepenatan Jakarta, namun ia tidak pernah menyangka akan menggunakannya untuk melarikan diri dari ancaman nyawa.
Sesampainya di sana, Kirana segera masuk dan mengunci pintu dengan semua gerendel yang ada. Ia tidak menyalakan lampu. Dalam kegelapan total, Kirana terduduk lemas di lantai ruang tamu yang berdebu. Pertahanan baja yang ia bangun sepanjang malam akhirnya runtuh berkeping-keping. Ia menangis.
Bukan tangisan sedih karena kehilangan Arka - pria itu tidak pernah benar-benar ada - tapi tangisan karena rasa jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat bodoh, naif, dan kotor karena telah membiarkan hatinya terbuka untuk predator semacam Arka.
"Bagaimana bisa aku begitu buta?" isaknya, memukul lantai kayu dengan tangan yang gemetar hebat.
Setiap kenangan manis kini berubah menjadi racun. Wajah Arka saat membacakan cerita di panti asuhan, sentuhan lembutnya di meja makan, semuanya kini tampak seperti adegan film horor yang menjijikkan. Arka tidak sedang mencintainya, pria itu sedang melakukan pembedahan emosional untuk mencuri rahasianya.
Keesokan harinya, dunia bisnis Indonesia diguncang oleh gempa tektonik. Skandal Mahendra meledak di setiap sudut media, dari portal berita online hingga koran cetak nasional.
"*Kehancuran di Grand Hyatt - Rekaman Taruhan Sang Ahli Waris Tersebar* !"
"*Saham Mahendra Group Terjun Bebas 10% dalam Pembukaan Pasar Pagi Ini* !"
"*Siapa Kirana? Wanita Misterius yang Berani Membakar Naga Bisnis Sudirman* ?"
Di sebuah vila pribadi yang sangat tertutup di kawasan Puncak, Arka Mahendra melempar tabletnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Wajahnya yang biasanya tampan dan tertata kini merah padam dengan mata yang memancarkan kebencian murni. Rambutnya berantakan, dan tuksedonya semalam masih ia kenakan dalam kondisi lusuh.
Surya Mahendra berdiri di depan jendela besar, menatap kabut pegunungan dengan dingin yang mematikan. "Kau tidak hanya kehilangan taruhan mobil sport konyol itu, Arka. Kau telah menghancurkan kepercayaan investor internasional yang aku bangun selama empat puluh tahun. Global Star Corp dari Singapura membatalkan kontrak secara sepihak pagi ini. Mereka menganggap kita adalah firma kriminal yang terlibat pencurian data."
"Aku akan menemukannya, Ayah," geram Arka dengan suara yang tertahan di tenggorokan. "Aku akan menyeret Kirana kembali dan membuatnya mencabut semua laporan kepolisian itu. Dia tidak punya siapa-siapa di belakangnya. Dia hanya seorang wanita yang sedang hancur hati dan emosional."
Surya berbalik perlahan dan, dengan gerakan yang sangat cepat, ia menampar wajah putranya dengan sangat keras. Suara tamparan itu bergema di ruangan besar tersebut.
"Dia bukan sekadar wanita emosional, Arka! Dia adalah wanita yang kau beri senjata untuk menembak jantung kita!" bentak Surya. "Dia memiliki data vendor, dia memiliki rekaman suaramu, dan sekarang dia memiliki simpati publik. Cari dia. Temukan dia sebelum polisi mulai menggeledah kantor kita untuk mencari bukti data ilegal yang dia sebutkan semalam."
Arka memegang pipinya yang panas. Rasa cintanya yang palsu kini telah bermutasi menjadi obsesi kebencian yang murni. "Aku akan membuatnya memohon untuk mati di tanganku, Ayah. Aku janji."
Dua minggu berlalu dalam keheningan pengasingan di Bogor. Kirana menghabiskan waktunya bukan untuk meratap, melainkan untuk memantau pergerakan pasar. Melalui laptop baru yang ia beli dengan identitas palsu dan koneksi internet terenkripsi, ia melihat bagaimana Mahendra Group mulai limbung.
Namun, ia juga menyadari satu hal yang pahit, menghancurkan reputasi mereka di pesta itu hanyalah sebuah luka gores. Naga itu masih hidup, masih memiliki uang, dan masih memiliki kekuatan untuk menghancurkannya.
Untuk benar-benar mematikan dinasti itu, Kirana butuh kekuatan yang setara. Ia butuh modal yang tak terbatas, jaringan yang lebih luas, dan yang terpenting: identitas baru yang tidak terdeteksi.
Suatu sore yang mendung, seorang pria muncul di halaman rumah persembunyiannya. Pria itu mengenakan kemeja linen sederhana, namun auranya memancarkan ketenangan yang sangat kuat. Namanya adalah Reza.
Sepuluh tahun yang lalu, Reza adalah pialang saham jenius yang dikhianati oleh Surya Mahendra hingga jatuh miskin dan kehilangan keluarganya. Sejak saat itu, ia hidup dalam bayang-bayang, mengamati Mahendra dari kejauhan.
"Kau membuat keributan yang cukup indah di Jakarta, Kirana," ujar Reza sambil duduk di kursi teras yang reyot, menatap pegunungan di depan mereka.
Kirana keluar dari rumah dengan penampilan yang berbeda. Wajahnya lebih tirus, matanya lebih tajam, dan tidak ada lagi sisa-sisa kelembutan di sana. "Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya tidak pernah mereka sentuh: harga diriku."
"Harga diri tidak bisa digunakan untuk membayar pengacara atau membeli saham pengendali," sahut Reza dengan nada pahit. "Keluarga Mahendra sudah menyewa detektif swasta terbaik untuk melacakmu. Mereka akan menemukan tempat ini dalam hitungan hari, mungkin jam."
Kirana menatap Reza dengan intensitas yang baru. "Itulah sebabnya aku menghubungimu melalui jalur gelap itu, Reza. Kau tahu setiap lubang hitam di sistem keuangan Mahendra. Kau tahu di mana Surya menyembunyikan aset-aset kotornya yang tidak pernah dilaporkan ke pajak."
Reza tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung dendam lama. "Kau ingin membalas dendam lebih jauh dari sekadar skandal pesta?"
"Aku ingin keadilan yang tuntas," jawab Kirana tegas. "Aku ingin Arka Mahendra merasakan apa artinya tidak memiliki apa pun. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi objek yang dibuang setelah tidak lagi berguna. Aku ingin dia kehilangan segalanya—harta, nama, dan kehormatan."
Reza mengangguk perlahan. "Baiklah. Tapi untuk melakukan itu, Kirana yang lama, manajer perhiasan yang tersakiti itu, harus benar-benar mati. Kau tidak bisa kembali ke Jakarta sebagai korban. Kau harus kembali sebagai predator."
Sejak hari itu, Kirana memulai transformasinya. Di bawah bimbingan Reza, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan mempelajari instrumen investasi tingkat tinggi. Ia belajar cara menggunakan perusahaan cangkang di negara-negara tax haven, cara menjatuhkan harga saham dari dalam, dan cara bermain di area abu-abu hukum internasional.
Ia memotong rambut panjangnya menjadi potongan bob tajam yang membingkai wajahnya dengan sangat tegas. Ia menjual seluruh sisa perhiasan pribadinya yang paling mahal, termasuk jam tangan dan koleksi tas mewahnya, melalui pasar gelap di Singapura untuk mendapatkan modal awal yang tidak terlacak oleh sistem perbankan Indonesia.
"Ingat," ujar Reza suatu malam saat mereka sedang menganalisis laporan keuangan Mahendra Group yang bocor. "Arka adalah titik terlemah ayahnya. Dia sombong, ceroboh, dan selalu merasa paling pintar. Jika kau ingin menghancurkan Surya, kau harus membuat Arka melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Kau harus membuatnya merasa dia sedang menang lagi, tepat sebelum kau menarik karpet dari bawah kakinya untuk kedua kalinya."
Kirana menatap foto Arka di layar laptopnya. Rasa sakit di hatinya kini telah mengeras menjadi batu yang dingin. "Aku akan menjadi cermin baginya, Reza. Aku akan memberinya ilusi tentang kekuasaan dan kekayaan yang lebih besar, hanya untuk mengambilnya kembali di saat dia paling merasa berada di puncak dunia."
**Tiga bulan kemudian**.
Dunia bisnis Jakarta kembali dikejutkan dengan munculnya sebuah firma ekuitas swasta baru yang misterius bernama Nirmala Capital. Firma ini berbasis di Singapura dan Dubai, namun mulai melakukan akuisisi agresif terhadap perusahaan-perusahaan menengah yang selama ini menjadi penyuplai bahan baku krusial bagi Mahendra Group.
Pemilik Nirmala Capital dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup. Ia hanya berkomunikasi melalui perwakilan hukum kelas atas. Namun, rumor di kalangan elit menyebutkan bahwa pemiliknya adalah seorang wanita muda yang sangat dingin, cerdas, dan memiliki dana yang seolah tidak terbatas.
Di kantor barunya yang megah di salah satu gedung pencakar langit di Singapura, Kirana berdiri menatap teluk. Ia mengenakan setelan jas putih yang sangat elegan, rambut pendeknya tertata sempurna. Tidak ada lagi kalung safir murah; di jarinya kini melingkar sebuah cincin perak polos yang menjadi simbol kemandiriannya.
"Arka," gumamnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. "Panggung kali ini jauh lebih besar, dan aku yang memegang kendali lampunya."
Pintu kantor terbuka, dan Reza masuk dengan wajah puas, membawa sebuah kartu undangan fisik yang sangat mewah. "Mahendra Group sedang dalam posisi sangat sulit. Proyek hotel mereka di Bali terbengkalai dan investor asing lari semua. Mereka sedang putus asa mencari investor baru untuk menyelamatkan nama keluarga mereka dari kebangkrutan."
Kirana mengambil undangan itu. Sebuah undangan makan malam eksklusif bagi calon investor kakap di Jakarta.
"Waktunya pulang ke Jakarta," ucap Kirana. Suaranya tidak lagi bergetar karena emosi, melainkan stabil dan mengintimidasi. "Kirimkan konfirmasi bahwa CEO Nirmala Capital akan hadir secara pribadi. Tapi pastikan mereka tidak akan tahu siapa aku sampai saat aku melangkah masuk ke ruangan itu."
Malam itu, Kirana berkemas. Ia bukan lagi Kirana sang korban pengkhianatan. Ia adalah Kirana sang Penghancur. Ia siap kembali ke sarang naga, bukan sebagai mangsa yang ketakutan, melainkan sebagai pemilik baru yang akan mengambil alih seluruh sarang tersebut.
...----------------...
**Next Episode**....