"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Amarah Kalendra
"Seharusnya kalian pukul kepalanya sampai pecah."
Laki-laki yang tengah menghisap cerutunya itu mendengus samar. Menghembuskan asap beraroma khas yang memekakkan.
"Tapi, tak apa. Aku cukup puas dengan melihat darahnya yang mengucur."
Laki-laki asing itu melemparkan segepok uang kepada para preman sewaanya. Salah satu preman maju, mengambil uang itu, lantas mengangguk puas.
"Terimakasih Tuan. Bekerja dengan anda tidak pernah mengecewakan."
Sang laki-laki tersenyum miring. Ia kibaskan tangannya mengusir. Para preman tadi mematuhinya tanpa banyak bertanya.
Selepas kepergian orang-orang rendahan itu, sang laki-laki menarik laci meja kebesarannya. Mengambil bingkai foto yang tersimpan di sana.
Di dalam bingkai itu, terdapat gambar dua remaja laki-laki yang saling merangkul. Menunjukkan jika mereka memiliki hubungan yang cukup erat.
Netra laki-laki itu berubah bengis. Menatap penuh kebencian pada salah satu remaja yang terdapat di bingkai foto.
"Kau akan hancur, Kalendra."
.
.
"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu, Kanaya?"
Dua minggu sejak dirinya mengalami pengeroyokan, dan selama itu pula Kalendra cukup sabar menghadapi sikap istrinya yang semakin semena-mena.
Perempuan yang kini memakan salad buahnya tampak abai pada suami yang kini tengah menatapnya menuntut penjelasan. Netra gelapnya berkilat tajam. Penuh peringatan dan ancaman.
"Kanaya, aku bersumpah, jika kau tetap diam, aku akan membungkam mulutmu hingga kau benar-benar tidak bisa bicara." desis Kalendra rendah. Giginya bergemelatuk menahan amarah dengan rahang yang mengencang.
Kanaya--- perempuan itu menghela nafas jengah. Mengumpulkan keberaniannya, dia tatap sang suami seakan menantang.
"Memangnya kenapa? Apa yang harus dijelaskan?" tanyanya pura-pura tak mengerti.
"Jangan bertingkah seolah tidak paham apa yang ku maksud!" seru Kalendra. Kini kedua telapak tangannya mengepal kuat. Oh, tolong ingatkan Kalendra agar tidak mencengkram wajah sok polos istrinya. Menariknya kasar, lalu memberikan pelajaran kepada mulut tak sopan itu.
Untuk sejenak, Kanaya tertegun. Ia telan salivanya bersama rasa takut yang mulai menghantui. "Aku--- aku memang tidak mengerti apa yang kau maksud." ujarnya memcoba tetap terlihat tenang. Walau rasanya percuma saat secara alamiah tangannya bergemetar takut.
Kalendra terkekeh dingin. Ia majukan wajahnya. Sangat dekat, bahkan hingga hidungnya menyentuh hidung Kanaya.
"Benarkah?" tanyanya dengan nada remeh. Dapat dia lihat, sang istri yang menahan nafas. Matanya terpejam terancam. Ahh, pemandangan yang cukup menghibur.
Fyuhhh.
Nafas dingin Kalendra menerpa wajah Kanaya yang tegang.
"Buka matamu, Kanaya. Kemana larinya keberanianmu, hah?"
Kanaya. Istrinya ini benar-benar sudah menguji kesabarannya. Setelah membawa perempuan asing itu ke rumah sebagai pembantu tanpa persetujuannya, tikus kecilnya ini dengan berani melanggar batas yang ada.
Kalendra jelas tahu, jika Kanaya tengah mencoba mendekatkan perempuan asing itu dengan dirinya. Melakukan berbagai trik yang justru membuat Kalendra muak.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya Kanaya." suara Kalendra terdengar berbisik. Jemari kasarnya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah ayu sang istri.
Sentuhan lembut yang justru membuat Kanaya meremang.
"Buka matamu. Tatap aku, dan katakan. Apa yang sedang kau rencanakan."
Kanaya--- perempuan itu mati-matian menyingkirkan rasa takutnya. Menarik nafas panjang, ia buka matanya yang berkedut. Netra tajam Kalendra langsung menyapanya.
"Ke-- kenapa? Bukankah...dia cantik?"
Ini aneh. Kenapa semuanya malah semakin melenceng. Harusnya Kalendra sudah mulai menaruh hati pada Zana. Harusnya laki-laki itu sudah mulai mengacuhkannya. Bahkan, jika memungkinkan, harusnya Kalendra sudah melayangkan gugatan cerai kepadanya.
Lalu Kanaya akan bebas. Dan mungkin saja, perasaan sesak yang kerap menghantuinya pun akan berangsur-angsur menghilang.
Bukan ini yang Kanaya harapkan dengan membawa Zana ke rumah ini.
Ya. Kanaya telah membawa Zana ke kediaman Wijaya, walaupun itu mendapatkan tatapan protes dari sang pemilik rumah. Meminta Zana merawat Kalendra meskipun laki-laki itu menolak. Semua itu Kanaya lakukan agar keduanya memiliki waktu sendiri, lalu mungkin benih-benih cinta akan timbul. Seperti yang diceritakan di novel.
Namun, semakin Kanaya berusaha, semuanya terasa semakin sia-sia.
Bibir Kalendra tersungging tak percaya. Bukankah dia cantik? Apa perempuan di hadapannya ini tidak punya otak sehingga memuji perempuan lain di depan suaminya sendiri?
Apakah Kanaya tidak merasa takut jika suatu saat--- perempuan asing itu mulai serakah dan mengambil paksa posisinya? Membayangkannya saja sudah membuat darah Kalendra mendidih marah.
"Ya. Dia cantik." ujar Kalendra dingin. Mengikuti permainan yang tikus kecilnya itu jalankan.
Ya. Seperti ini yang Kanaya maksudkan. Namun sialnya, perasaan sesak itu kembali datang. Hanya karena dirinya mendengar Kalendra memuji perempuan lain.
Bukankah ini yang kau inginkan, Kanaya? Tapi kenapa kau tidak rela?
Istri Kalendra itu terkekeh mengejek. Ia pandangi suaminya remeh. Kenapa Kalendra harus pura-pura marah. Apakah laki-laki itu ingin mempermainkannya?
"Kau jatuh hati padanya kan? Jangan bersandiwara Kalendra. Aku tahu---" nafas Kanaya tercekat.
"Aku tahu, kau mencintainya. Kau dan Zana. Kalian ditakdirkan bersama. Memiliki akhir yang bahagia. Sedangkan aku--- entahlah. Nasibku selalu buruk." tawa sumbang mengudara dari bibir mungil itu.
Kalendra menatap Kanaya rumit. Wajahnya mengeras hingga urat-urat lehernya terpampang jelas.
"Ya. Aku mencintainya."
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari tempat mereka bertengkar, orang yang menyebabkan pertengkaran itu terjadi mendengar semuanya. Zana Damara. Perempuan itu bersembunyi di balik dinding.
Awalnya, dia merasa bersalah. Namun, kata-kata terakhir Kalendra berhasil membuatnya terpaku dengan jantung yang berdebar kencang. Pipinya bersemu merah. Ribuan kupu-kupu seakan berterbangan memenuhi perutnya.
Dengan bibir yang berkedut menahan senyum, perempuan itu pergi. Membawa perasaan salah yang mulai bercokol di hatinya.
Kembali pada sepasang suami istri yang tengah bertengkar itu, Kanaya tersenyum miring. Mendorong tubuh Kalendra hingga laki-laki itu sedikit menjauh darinya.
"Lalu kenapa kau marah? Kenapa kau bertingkah seolah tak terima?! Dasar munafik!"
Kanaya tidak tahu kenapa emosinya memuncak. Dia hanya ingin menumpahkan semua perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Jika kau mencintai Zana, ceraikan aku. Lepaskan aku!"
"Dasar bodoh." Kalendra menggeram tertahan. Mata gelapnya semakin berkilat tajam. Kembali mendekat, dia cengkram bahu istrinya kencang, hingga membuat empunya meringis sakit.
"Kau memang bodoh. Dari dulu kau selalu bodoh!!" seru Kalendra keras.
"Bagaimana bisa dengan bodohnya kau mengira aku mecintainya sedangkan kami saja tidak saling kenal, hah?!"
"Darimana kau menyimpulkan aku tertarik padanya?!"
"DARIMANA?!"
"Kau sendiri yang membuat ulah dengan membawa dia kesini. Kau yang semena-mena dengan mencoba mendekatkan kami."
"Lalu kenapa sekarang kau bertingkah paling tersakiti, Kanaya?"
"JAWAB AKU!!"
Kanaya terisak. Entah sejak kapan pipinya basah oleh air mata. Kepala yang semula tertunduk, harus terpaksa mendongak saat Kalendra mengapit dagunya erat.
"Kenapa kau menangis?"
Protagonis itu menghapus air mata Kanaya dengan tangan satunya. "Ini, kan yang ingin kau dengar?"
Ya. Ini yang ingin Kanaya dengar. Ini yang Kanaya harapkan. Seharusnya perempuan itu bahagia karena misinya berhasil.
"Kanaya, dari dulu--- kau tidak pernah puas untuk selalu mempermainkan hidupku."
Mempermainkan hidup Kalendra? Bukankah di sini, hidupnya yang telah dipermainkan. Terjebak di dalam novel dan terlibat konflik dengan tokoh-tokoh penting di sini.
Tatapan Kalendra melembut. "Kenapa kau bisa mengatakan aku mecintai perempuan lain, sedangkan kau tahu sendiri betapa rakusnya aku tentang dirimu?"
Tunggu. Apa yang sebenarnya Kalendra maksud?!