Tania yang sudah memiliki kekasih jatuh cinta pada seorang siswanya di saat dia tengah menjalani masa-masa PPL.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Tulus
"Ibu kamu harus menjalani operasi, jika tidak hal itu akan memperburuk kesehatan beliau," jelas dokter.
"Sebelum di operasi, beliau harus rawat inap di rumah sakit ini. Silakan diurus administrasi nya!" ujar Dokter sebelum meninggalkan Sandy dan Tania.
"Apa yang harus aku lakukan? Darimana aku akan mendapatkan biaya operasi?" gumam Sandy yang terdengar jelas di telinga Tania.
Tania sendiri bingung, bagaimana caranya bisa membantu ibu Sandy.
"Kamu sabar, ya! Pasti ada jalannya. Lebih baik kita selesaikan administrasinya terlebih dahulu." Hanya itu yang dapat diucapkan Tania agar Sandy tegar dalam menjalani ujian hidupnya.
Terdengar ponsel Tania bergetar, Tania mengeluarkan ponselnya. Dia melihat panggilan dari Reyhan.
"Halo," ucap Tania saat panggilan sudah tersambung.
"Sayang, kamu di mana?" tanya Reyhan.
"Mhm," gumam Tania, dia bingung harus menjawab apa.
"Sayang?" desak Reyhan lembut.
"Aku lagi di rumah sakit." Tania terpaksa jujur.
Dia takut kebohongannya akan menjadi masalah di antara mereka.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Reyhan panik.
"Mhm, ibunya Sandy yang sakit," jawab Tania.
"Ibu Sandy?" Reyhan bingung.
"Jadi begini, Sayang. Sandy tadi nggak sekolah. Teman-temannya kasih tahu aku, ibunya sedang sakit. Karena aku sudah kenal dekat dengan ibunya. Aku datang ke rumahnya untuk memastikan keadaan ibunya. Saat aku sampai di sana, beliau sudah lemah. Makanya aku dan Sandy membawanya ke rumah sakit," jelas Tania pada Reyhan.
"Oh, ya udah kamu share lock, ya! Aku ke sana!" pinta Reyhan.
“Memangnya, kamu lagi di mana?” tanya Tania penasaran.
“Aku di sekolah kamu, kebetulan lewat. Tunggu aku!” perintah Reyhan lalu dia pun memutuskan panggilan.
“Syukurlah aku tidak berbohong,” gumam Tania di dalam hati.
Sejak kejutan yang diberikan Reyhan padanya, Tania mulai mencoba menetapkan hatinya untuk Reyhan. Walaupun itu sulit untuk dilakukannya.
Sandy dan Tania pun mengurus administrasi rawat inap ibu Sandy.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas administrasi pada Tania.
“Mhm, kami mau mengurus rawat inap inap. Ini berkasnya.” Tania menyerahkan lembaran kertas yang diberikan perawat IGD padanya.
“Apakah pasien memiliki BPJS?” tanya petugas administrasi.
Tania menoleh ke arah Sandy.
“Ada,” jawab Sandy.
Sandy mengambil kartu BPJS yang dimiliki oleh sang ibu dari dompetnya, lalu menyerahkan BPJS tersebut pada petugas.
“Saya cek terlebih dahulu,” ucap sang petugas.
“BPJS ini bisa digunakan untuk membantu biaya operasi, tapi tidak sepenuhnya ditanggung BPJS. Keluarga juga harus menyiapkan dana,” jelas petugas.
“Berapa biaya yang harus disiapkan?” tanya Sandy.
“Persiapkan saja sekitar 10 atau 15 juta,” jawab petugas adminstrasi.
“Apa?” pekik Sandy menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Kamu tenang, dulu! Nanti kita pikirkan jalan keluarnya,” ujar Tania menenangkan Sandy yang mulai panik.
“Tania!” panggil Reyhan saat melihat sang kekasih.
Reyhan menghampiri Tania dan Sandy, perlahan Tania melepaskan genggaman tangannya dari Sandy. Hal itu dapat dilihat Reyhan dengan sangat jelas. Namun Reyhan berusaha menahan emosinya.
“Sayang, bagaimana keadaan ibu Sandy?” tanya Reyhan sambil melirik ke arah Sandy.
“Ibu Sandy harus dioperasi,” jawab Tania.
“Lalu?” Reyhan bertanya masih melirik ke arah Sandy yang terlihat sangat terpuruk dalam menghadapi masalah yang tengah dihadapinya.
Tania ikut melirik ke arah Sandy, “Sayang, ibu Sandy harus dioperasi tapi Sandy harus menyiapkan biaya operasinya terlebih dahulu. Jika biayanya belum ada, ibu Sandy belum bisa dioperasi.” Tania menjelaskan keadaan ibu Sandy.
Reyhan merasa kasihan pada Sandy, “berapa biayanya?” tanya Reyhan.
“Sekitar 10 sampai 15 juta,” jawab Tania.
Reyhan menghela napasnya, dia menarik tangan Tania menjauh dari Sandy, melihat hal itu Sandy memilih untuk kembali ke tempat sang ibu yang tadi sudah di pindahkan ke ruang rawat.
"Sayang, aku punya simpanan buat pernikahan kita. Mungkin kita bisa berikan uang itu terlebih dahulu untuk membantu ibu Sandy," ujar Reyhan.
"Tapi," bantah Tania.
"Sudahlah, dia lebih membutuhkan dari pada kita saat ini. Semoga nanti ada gantinya." Reyhan melangkah menuju petugas administrasi.
Dia menyelesaikan administrasi ibu Sandy agar operasi dapat dilaksanakan secepatnya.
"Sayang," lirih Tania.
Matanya mulai berkaca-kaca terharu dengan apa yang telah dilakukan oleh sang kekasih.
"Kenapa kamu masih saja baik padanya setelah dia ingin merebut diriku darimu?" gumam Tania di dalam hati.
"Berjanjilah, kamu tidak akan memberitahu dia bahwa biaya operasi itu dariku," pinta Reyhan pada Tania.
Tania hanya bisa mengangguk paham dengan ucapan Reyhan.
Setelah mereka selesai mengurus semua persiapan operasi ibu Sandy, Reyhan pergi meninggalkan Tania.
“Aku tahu, hatimu hanya untukku. Kamu akan menjaga hatimu untukku,” ujar Reyhan sebelum meninggalkan Tania.
Tania melangkah menuju ruang rawat ibu Sandy dengan hati yang terpuruk, dia merasa tersindir dengan apa yang telah diucapkan oleh sang kekasih. Reyhan memang tidak pernah meminta lebih darinya. Reyhan selalu memberikan dirinya kepercayaan. Namun, Tania telah merusak kepercayaan Reyhan.
Perlahan Tania sampai di depan ruang rawat ibu Sandy, dia duduk di bangku panjang yang terdapat di depan ruang rawat ibu Sandy. Dia masih memikirkan semua tentang Reyhan.
Sementara itu, di dalam mobil Reyhan menghela napasnya panjang.
“Aku harap dengan ini kau bisa merasakan tulusnya cintaku padamu,” gumam Reyhan sambil menghapus buliran bening yang jatuh di pipinya.
Reyhan selalu bersikap tegar di depan Tania. Semua itu dilakukannya agar Tania dapat mengerti bahwa dirinyalah yang pantas bagi Tania.
“Tania,” panggil Sandy saat melihat Tania berada di depan ruang rawat ibunya.
Tania menoleh ke arah Sandy, dia menghapus pipinya yang basah.
“Hei, Ada apa?” tanya Sandy khawatir saat melihat Tania bersedih.
“Apakah, dia menyakitimu?” tanya Sandy berburuk sangka pada rivalnya.
Tania menggelengkan kepalanya, “Tidak, San.”
“Lalu kenapa kamu menangis?” tanya Sandy penasaran.
“Nggak apa-apa.” Tania enggan bercerita pada Sandy.
“Bagaimana dengan emak?” tanya Tania mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdulillah emak sudah mendingan dengan bantuan alat medis,” jawab Sandy.
“Makasih, ya! Aku nggak tahu apa yang akan terjadi sama ibuku, kalau kamu nggak datang,” ucap Sandy sambil menggenggam tangan Tania.
“Kamu adalah wanita yang paling berarti dalam hidupku,” ujar Sandy sambil meraih tubuh Tania dan memeluknya dengan erat.
Tania hanya diam, dia tidak membalas pelukan Sandy.
"Maaf, keluarga nyonya Fatimah?" ujar seorang perawat yang datang menghampiri mereka.
"Iya, Sus. Saya putranya." Sandy berdiri mendekati perawat.
"Begini, Dek. Kami mendapatkan program donasi dari seseorang, dengan donasi tersebut. Nyonya Fatimah dapat melakukan operasi secepatnya." jelas sang perawat pada Sandy.
"Maksud Suster, ibu saya bisa dioperasi tanpa ada dana dari kami sebagai keluarga?" Sandy memastikan.
Dia tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh perawat tersebut.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
Udh Ry favorite, like dan Komen
3 Cogan dan Ry mampir