NovelToon NovelToon
MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

MENJADI PILIHAN KEDUA SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu Cantik

Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.

Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.

Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.

Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 23

Sebuah restoran rooftop mewah tempat para sosialita dan selebritas sering berkumpul.

Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Di salah satu sudut restoran, seorang pelayan menurunkan gelas wine dengan tangan gemetar.

Perempuan itu meneguk minumannya dengan elegan.

Lipstiknya merah darah.

Gaun hitamnya membungkus tubuhnya seperti racun yang dikemas cantik.SARAH.

Nama yang masih membekas seperti duri di dada Sadewa.

Seseorang duduk di hadapannya laki-laki misterius yang selama ini menjadi selingkuhannya. Wajahnya tampan, namun ada ekspresi gelap yang menghuni matanya.

“Aku dengar,” suara Sarah pelan tapi tajam, “Sadewa menikah dengan Bianca.”

Laki-laki itu mengangkat gelasnya.

“Dengan perempuan lain. Bukan kamu, wanita yang jauh diatas mu.”

Senyum kecil mengembang di bibirnya, tapi ada rasa marah yang ditahan.

Sarah tertawa pelan. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sama sekali.

“Aneh, ya? Tadinya aku pikir… dia akan menunda semuanya. Dia akan mencari aku. Memohon aku kembali.”

Tatapannya kosong menembus pemandangan kota.

“Aku pikir… aku sehebat itu.”

Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya, tangannya menyentuh dagu Sarah.

“Kamu hebat,” katanya, suaranya seperti racun yang manis.

“Sadewa yang bodoh. Karena dia pikir dunia masih berputar di sekelilingnya. Dia nggak tau permainan kita belum selesai.”

Jari Sarah mencengkeram gelas.

“Bukan kita,” katanya, tajam.

“Aku. Ini urusanku dengan Sadewa. Kamu cuma… alat untuk mencapai tujuan.”

Sekilas ada luka di mata laki-laki itu.

Tapi ia menutupi dengan senyum sinis.

“Dan tujuanmu apa, Sarah?”

Sarah menegakkan tubuhnya, menoleh dengan mata penuh dendam.

“Aku mau hidup di atas Bianca.Bukan di belakangnya.Aku mau dia menyesal. Aku mau dia hancur melihat aku bahagia tanpa dia.”

Laki-laki itu terdiam.

Sarah menambahkan pelan “Dan aku mau… ambil balik apa yang dulu seharusnya jadi milikku.”

Matanya berkilat.

“Apa?” laki-laki itu mengejek. “Sadewa?”

Sarah menggeleng perlahan.

“Perhatiannya.”

“Taman bermainnya.”

“Dunianya.”

Ditambah dengan suara dingin “Dan perempuan itu.”

Nama Bianca tidak disebut.

Tapi rasa bencinya sudah jelas.

Laki-laki itu mengangkat bahu.

“Kalau begitu… ayo kita mulai. Lagi.”

Sarah berdiri, merapikan gaun, berdiri seperti ratu yang siap kembali ke tahtanya.

“Tidak,” katanya pelan.

“Aku sudah mulai.”

Ia berjalan pergi, meninggalkan laki-laki misterius itu sendiri tenggelam dalam pikiran gelapnya.

 

Bianca tertawa kecil dengan teman-teman kantornya di meja kerja yang penuh blueprint.

Siluetnya dipenuhi cahaya.

Ia terlihat seperti seseorang yang perlahan menemukan rumah dalam dirinya sendiri.

Di tempat lain Sadewa berdiri di balik dinding kaca kantornya.

Pandangannya tak sengaja jatuh ke lantai tempat Bianca bekerja.

Ada sebuah helai rasa… tidak ia mengerti.

Dan di tempat berbeda, Sarah memasukkan gincu merah ke tasnya dan sebuah kartu undangan lama jatuh Undangan pernikahannya sendiri yang gagal.

 

Raka akhirnya keluar dari ruangan Sadewa sambil bersiul, masih geli dengan reaksi sahabatnya. Pintu menutup, menyisakan Sadewa yang terduduk di kursinya. Tangannya menekan pelipis, mencoba mengurai kalimat-kalimat yang masih berputar di kepalanya.

"Istriku kerja di kantor sendiri. Dan aku baru tahu di hari pertama dia masuk."

Rasanya absurd.

Ia berdiri dan menatap bayangannya di kaca jendela kantor. Kota di luar begitu sibuk, kontras dengan hatinya yang terasa sempit.

“Tidak ada yang boleh tahu,” gumamnya. “Tidak ada yang boleh sampai ribut.”

Beberapa menit kemudian Ruang Meeting Tim Eksekutif.

Rapat internal berjalan seperti biasa. Namun Sadewa merasakan sorotan mata para staf entah benar atau hanya perasaannya sendiri, tapi ia merasa ada sesuatu yang berubah setelah Bianca muncul di gedung.

Saat rapat usai, salah satu kepala divisi, Pak Bram, menghampirinya.

“Pak Sadewa,” katanya sopan, “mohon maaf sebelumnya, tadi saya melihat Bapak di lift dengan… staf baru dari perencanaan. Apakah beliau punya hubungan kerja khusus dengan Bapak? Kami perlu memastikan alur koordinasi.”

Nada Bram netral, tapi yang mendengarnya Sadewa merasa seperti disudutkan.

“Apa itu penting?” jawab Sadewa singkat.

Bram terkesiap kecil. “Tentu, Pak tidak harus menjelaskan jika tidak relevan. Kami hanya mengatur alur komunikasi saja.”

Sadewa mengangguk singkat.

“Dia staf baru. Perlakukan profesional. Tidak lebih.”

Kalimat itu terdengar tegas terlalu tegas sehingga Bram menunduk, buru-buru pamit.

Sadewa menghela napas. Ia tahu, bila ia sedikit saja goyah, dunia kerja bisa jadi tempat paling kejam. Satu celah saja… habis.

 

Bianca menata dokumen dan laptopnya. Ia berusaha tetap fokus, meski kepalanya dipenuhi kalimat Sadewa dari tadi.

"Tidak ada yang boleh tahu kamu istri ku."

Tidak ada pilihan lain selain mengikuti. Ia tidak mau membuat masalah.

Belum.

Tiba-tiba Raka menyandarkan tubuhnya di sisi meja Bianca, membuatnya sedikit terlonjak.

“Maaf ganggu,” ujar Raka dengan senyum setengah. “Tadi aku ke ruangan Sadewa. Dia kayak… lagi kebakaran jenggot. Kamu baik-baik aja, kan?”

Bianca mengangguk.

“Baik. Cuma… aku nggak nyangka ternyata CEO-nya itu…”

Ia terhenti. Tidak melanjutkan.

Raka mengangkat sebelah alis.

“Suamimu.”

Bianca tersentak kecil. “Aku… tidak—”

“Aku nggak akan ngomong apa-apa,” potong Raka cepat, suaranya menenangkan. “Serius. Bukan urusanku juga.”

Ada jeda. Hening. Bianca merasa nyaman, tapi juga waspada.

Raka kemudian menatap Bianca dengan cara yang sulit diartikan. Tidak agresif, hanya… memperhatikan.

“Kamu kuat juga ya,” ujarnya akhirnya. “Kerja di tempat yang sama sama… suami kamu. Tanpa ada yang tahu. Aku mungkin sudah kabur.”

Bianca tertawa kecil, getir.

“Aku juga ingin kabur sebenarnya.”

Raka ikut tertawa, tapi matanya berbeda lebih serius.

“Kalau kamu butuh bantuan, bilang. Aku nggak janji bisa menyelesaikan semua masalah, tapi aku bisa bikin kamu nggak merasa sendirian.”

Kata-katanya berhenti di udara, menggantung seperti sesuatu yang berbahaya.

Bianca merespons dengan senyum sopan—bukan menerima, bukan menolak.

Saat Raka hendak pergi, ia sempat menoleh lagi.

“Oh ya, Bianca… hati-hati dengan kantor ini. Orang di sini cepat bikin asumsi dari hal kecil.”

Ia mengedip ringan, tapi nada suaranya bukan main-main.

Bianca menelan ludah.

Dalam hatinya, ia tahu Raka benar.

 

Di lantai atas, Sadewa berdiri di balik dinding kaca, memperhatikan lantai 17 dari kejauhan. Ia tidak bisa mendengar apa pun, tapi ia melihat Raka di dekat Bianca.

Jarak yang terlalu dekat.

Rahangnya mengejang.

Bagi Sadewa, itu terasa seperti ancaman.

Bagi Bianca, itu hanya percakapan baik.

Dan bagi Raka… itu baru permulaan.

 

 

1
mheldaaa
🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
rasain , tp bentar lg sarah datang yg sakit hati bianca kasihan yaa
Dian Fitriana
update
Reni Anjarwani
sdh bi mending kamu sama orang lain dati pada sama, sadewa yg blm bisa melupakan laki2 lain
Dian Fitriana
update
Reni Anjarwani
lanjut thor
Dewi Susanti
lanjut kak
Dewi Susanti
yang banyak up nya kak
Dewi Susanti
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!