"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Lily menatap Axton dengan tajam, melihat pria itu telah berdiri di depan rumahnya.
"Mau ngapain di sini?" tanya Lily menatap Axton heran.
"Berkunjung," jawab Axton santai.
Lily mengerutkan keningnya, dan menggeleng pelan. "Maaf tidak menerima tamu."
Axton mengedikkan bahu, ia berjalan mendekat membuat Lily langsung melebarkan tangannya, mengetahui apa yang akan dilakukan Axton.
"Eh, jangan seenaknya masuk rumah orang," hadang Lily.
Axton tidak menggubris. Ia mendorong Lily ke samping yang sedang menghalangi pintu.
Lily mencoba bertahan, namun, Axton yang memiliki berbagai cara langsung mengarahkan tangannya di area dada Lily, membuat Lily langsung menjerit pelan memeluk dirinya.
"Akh!"
Kelengahan Lily dimanfaatkan. Axton langsung mendorong Lily, sehingga ia bisa masuk ke dalam rumah yang sudah lama tak ia kunjungi.
"Axton!" Geram Lily menyusul.
"Keluar!" usir Lily menunjuk arah pintu.
Bukannya menurut, Axton malah mendudukkan tubuhnya santai di sofa yang sudah tampak cukup tua dan usang.
"Kamu belum ganti sofa, ini sudah sepuluh tahun kan?" celetuk Axton menepuk-nepuk sofa itu.
Mendengar itu, Lily mendengkus. Menendang kaki Axton kesal. "Bukan urusanmu, keluar sana!" usirnya.
Keributannya itu membuat sang Ibu yang berada di kamar keluar disertai batuk ringan dalam setiap langkahnya.
"Siapa yang datang nak?" tanya Diah, ibu Lily.
Lily menoleh menatap ibunya dengan lesu. "Ibu, suaraku kekencengan ya maaf," ucapnya menyambut ibunya mengarahkannya duduk.
"Ibu," sapa Axton membuat Diah menatapnya dengan kening berkerut, dan mata memicing memastikannya.
"A ... Axton ya," sahut Diah seketika melebarkan mata terkejut saat menyadarinya. Ia lalu mendongak menatap Lily.
Lily menggeleng mengusap bahu ibunya.
"Iya Bu, ini saya. Lama tidak bertemu," jawab Axton mengulurkan tangan, membuat Diah spontan membalas hingga keduanya saling berjabat tangan.
"Ini, saya juga bawa beberapa vitamin dan susu untuk Ibu. Semoga suka," lanjut Axton menyerahkan kantung belanja di tangannya.
Lily mendesis, namun tak protes. "Udah kan, sana pergi," sahutnya mengusir.
Axton tak menanggapi, fokus menatap wanita yang tampak jauh lebih tua dari usianya itu.
"Ibu, bagaimana kondisi Ibu?" tanyanya.
Diah tersenyum, membuka mulut ingin menanggapi, namun Lily segera memotong. "Matamu buta tidak melihatnya sakit!" Sahut Lily ketus.
"Lily," tegur Diah mengusap punggung tangannya.
Axton diam, menatapnya dengan tenang. "Pengobatan Ibu biar aku yang urus ya," ucap Axton.
Lily mendengkus tajam, dengan cepat menyahut, "nggak usah! Meski pengobatan Ibu menghabiskan setengah gajiku, tapi aku sanggup mengobatinya!"
Axton terdiam menatap Lily yang menolaknya mentah-mentah. Mengingat masalalu yang sangat berbeda.
Lily yang dulu selalu bergantung padanya. Selalu meminta padanya. Hingga orang-orang yang melihat terkesan ia dimanfaatkan. Namun, bagi Axton itu jauh lebih baik, karena artinya ia berguna.
Namun, melihat Lily yang kali ini ingin berdiri sendiri, membuat Axton merasa sakit hati.
"Wanita ini begitu mencintai uangnya, dan selalu sayang digunakan. Tapi, bantuan seperti ini pun ditolak mentah-mentah. Apa dia benar-benar tidak akan memaafkanku?" batin Axton termenung menatap Lily.
Detik selanjutnya, suara ceria dari arah luar milik gadis kecil itu terdengar memekik.
"Aku pulang!"
Perhatian langsung teralihkan ke arah pintu yang menampilkan sosok Luna yang sedang melepaskan sandalnya, kemudian berlari masuk dan menghambur pelukan ke Lily.
"Hayo, Luna dari mana sore begini?" sahut Lily mengintograsi dengan lembut.
Luna mengulum senyum lebar dengan lembut menjawab. "Habis dari rumah Anna, main istana boneka. Ibunya baru belikan untuk Anna," sahut Luna dengan semangat menjelaskan apa yang sudah dilalui hari ini.
Axton diam memperhatikan menatap sosok Luna yang dari wajahnya membuatnya teringat dengan adik Lisa.
"Aku benar-benar bodoh, anak ini jelas sangat mirip Lisa. Sedangkan Lily dan Lisa meski saudara wajah mereka sangat berbeda," batin Axton mengulum senyum tipis menertawai apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.
Bahkan ia sampai membenci anak kecil karena kesalahpahaman itu.
"Luna, nama yang seharusnya milik putriku dan Lily. Sayangnya sudah dipakai anak ini," batin Axton semakin ragu ia masih bisa menggapai sebuah harapan.
"Apapun itu, aku akan tetap menyelidiki tuntas apa yang terjadi dulu. Di mana dokter yang membantu Lily? Sampai-sampai riwayat Lily melahirkan anak perempuan atau Laki-laki juga tidak ada. Aku harus mencarinya hingga ke akar-akarnya," batin Axton menatap Luna dengan lekat membayangkan wajah anaknya yang seharusnya satu tahun lebih tua dari Luna.
"Axton!" Sentak Lily membuat sang pemilik nama terkejut dalam lamunannya dan segera menatap Lily.
"Hah?"
"Kenapa kau melihat Luna seperti itu!" sahut Lily penuh penekanan dan intograsi.
Axton mengerjapkan mata menatapnya heran, lalu menggelengkan kepala. "Tidak aku hanya melihatnya saja, emm .... dia mirip Lisa," jawabnya kemudian mengulum senyum tipis.
Lily berdecih, memutar bola matanya malas. Sedangkan gadis kecil itu berceletuk. "Tentu saja. Ibu juga sering bilang, kalau aku mirip ibuku, Lisa."
Axton tersenyum ramah, tangannya terulur. "Ayo kemari," panggilnya.
Luna ingin berjalan mendekat, namun segera ditahan Lily. "Jangan sayang, dia penjahat," ucap Lily menekan kata penjahat penuh sindiran.
"Hah? Bukannya dia pacar Ibu," balas Luna membuat Lily melebarkan mata sedangkan Axton mengulum senyum puas.
"Kenapa Luna bicara begitu?" tanya Lily melirik sekilas pada Axton yang tampak senang.
"Aku pernah lihat fotonya bersama Ibu, Ibu Lisa, dan nenek. Nenek bilang itu pacar Ibu," jawab Luna dengan polosnya membuat Lily menatap ibunya yang tersenyum salah tingkah.
"Ibu kenapa begitu sih?" sahut Lily protes.
"Ibu hanya bercanda nak," jawab Diah.
Axton menimpali. "Kenapa, lagi pula itu tidak salah. Belum ada kata putus diantara kita."
"Diam kamu! Ini tempatku, dan aku tidak mengizinkanmu bicara!" sentak Lily dengan ketus.
Axton benar-benar diam, menyandarkan tubuhnya santai, sekilas menatap ke arah luar pintu, yang saat itu juga membuat bola matanya melebar melihat sebuah mobil yang tak asing melesat melewati rumah itu.
"Pak tua itu, kenapa dia ke sini?" Batin Axton menyadari siapa yang baru lewat tadi.
kalau kamu bahagia dengan yg lain itu rekord loh pasalnya PD CLBK semuheee