Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penangkapan
Laura yang sudah keluar dari rumah sakit, memilih untuk tinggal di rumah ayahnya. Rumahnya yang menjadi tempat kenangan rumah tangga bersama Dave, dan juga kenangan buruk atas perbuatan kejamnya Dave akan di lelang.
"Jika itu memang keputusanmu, papa tak bisa berbuat apapun dan akan mendoakan yang terbaik untukmu," ucap sang ayah yang menyetujui keputusan Laura menjual rumahnya.
"Tapi, apa pria itu tak akan menuntutmu karena menjual rumah itu?" Tanya Bram yang takut jika Dave akan menuntut sang putri. Karena dia tahu jika rumah itu dibeli oleh keduanya.
"Sebelumnya, aku sudah membuat surat pada notaris agar semua aset rumah itu jatuh ke tanganku. Dave sudah menandatangani dokumen penyerahan aset tersebut untukku."
"Jangan sebut namanya lagi, rasanya amarahku semakin meninggi jika mendengar nama itu," ucap Bram yang meminta Laura untuk tak menyebut nama Dave lagi.
Laura tak lagi bicara, dia pun pergi ke dapur membantu pembantunya memasak untuk makan malam.
Makan malam kali ini begitu hangat bagi Bram. Senyum manis sang putri terpancar, membuat hatinya yang panas seolah tersiram air yang memberi kesejukan.
Tiba-tiba suara ponsel berdering. Bram segera mengangkat panggilannya dan menjauh dari sang putri.
"Sudah beberapa hari ini papa selalu menghindar jika menerima panggilan di ponselnya. Aku penasaran, seolah ada yang papa sembunyikan," curiga Laura yang kini diam-diam mengikuti sang ayah menuju ruang kerjanya.
"Belum ketemu sampai sekarang? Coba kalian cari di kampung halaman Mona. Bisa saja dia ada di sana. Aku akan kirimkan alamatnya. Setelah berhasil membawanya, kurung dia di gudang bekas penyimpanan kain."
Laura terkejut dan menutup mulutnya setelah mendengar percakapan Bram dengan seseorang di ponsel. Diam-diam sang ayah tengah merencanakan sesuatu untuk menangkap Dave.
Bram kembali ke meja makan, lalu menyantap sisa makan malamnya. Laura yang sudah menghabiskan makan malamnya, masih diam di meja makan menemani sang ayah
"Papa senang kau menghabiskan makan malammu," puji Bram yang baru kali ini melihat Laura makan dan lahap.
Laura tersenyum lalu memegang tangan sang ayah. Bram ikut memegang tangan putrinya dan menghabiskan makannya.
"Papa," panggil Laura yang melihat Bram akan kembali ke ruang kerjanya.
"Iya sayang?" Jawab Bram yang masih berdiri di dekat meja makan.
"Berhentilah mencari dan merencanakan sesuatu untuk membuat Dave tersiksa. Biarkan Tuhan yang membalas perbuatan pria itu, jangan kotori tangan papa," ucap Laura memelas, ada kekhawatiran dari tatapannya pada sang ayah.
"Apa yang kau bicarakan sayang, aku tak mengerti," sangkal Bram yang tentunya tak akan bisa lagi di sembunyikan dari Laura.
"Aku mendengar semuanya, rencana papa dengan orang yang tadi menghubungi papa. Aku sudah mendengarnya pa. Ku mohon jangan lakukan itu," pinta Laura yang membuat Bram menghembus nafas kasar.
"Papa hanya ingin membalas rasa sakit hati seorang ayah yang melihat putrinya menderita oleh orang itu. Papa mohon Laura, izinkan papa melakukannya untukmu."
"Tidak, aku tak akan izinkan papa bermain kotor seperti itu. Jangan mengotori tangan papa hanya untuk menyiksa pria itu. Kalau papa terjerat hukum, siapa yang akan bersamaku?"
Melihat Laura yang menangis, tentunya Bram tak tega dan urung melakukannya. Laura pun meminta sang ayah menghubungi pihak berwajib untuk menangkap Dave dan membawa kasus tersebut ke jalur hukum.
***
Dave tengah menyantap kopi yang sudah Mona sajikan di meja luar rumahnya. Pria itu sudah bergelut dengan laptopnya di pagi hari, mengawasi keadaan perusahaan yang ada di Jakarta.
"Lalu siapa yang mengurus perusahaan di sana?" Tanya Mona sambil duduk di samping Dave, menemani suaminya.
"Om Randi, aku meminta papa agar dia mau mengawasi situasi perusahaan di hari kerja."
Mona hanya diam dan masuk kembali ke rumah. Dave pun menyeruput kopi sambil memakan gorengan yang sudah di buat oleh Mona.
"Berbeda istri, berbeda pula cara melayaninya. Biasanya di pagi hari Laura menyiapkan roti panggang dan juga telur carbonara. Sedangkan Mona, gorengan yang kalorinya begitu tinggi."
Dave yang sudah dua minggu tinggal di Bandung, merasa kepergiannya dari Jakarta adalah keputusan tepat. Dia tahu jika mantan ayah mertuanya tak mungkin diam saja dan mencarinya untuk balas dendam.
"Setidaknya dia tak akan tahu jika aku pergi dan tinggal di sini. Laura pun pastinya tak akan melaporkanku pada polisi. Dia masih mencintaiku, aku yakin itu," gumam Dave yang masih bersikap tenang.
Setelah pekerjaannya selesai, dia pun masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap menuju kantor cabang yang ada di Bandung.
Beberapa pria bertubuh besar sudah ada di depan rumahnya. Mona merasa asing dengan mereka yang wajahnya tak pernah dia kenal.
"Kalian siapa? Ada apa kalian datang kemari?" Tanya Mona yang tentu saja tak tahu jika mereka adalah pihak berwajib yang di minta Bram untuk menangkap Dave.
"Kami mencari saudara David Putra Kusuma," ucap salah satu dari tiga pria itu.
"Mereka mencari Dave? Apa jangan-jangan dia punya hutang dan debt collector datang untuk menagih?" Gumam Mona yang terlihat cemas dan segera masuk ke dalam rumah.
"Dave, di luar ada tiga orang pria yang wajahnya seram. Apa kau meminjam uang? Apa jangan-jangan mereka debt collector?"
Mona terus mencecar Dave dengan pertanyaan yang baginya tak masuk akal. Dia pun terkekeh dengan pertanyaan Mona yang merendahkan dirinya.
"Pria dari keluarga kaya sepertiku tak akan pernah terlilit hutang. Sekarang di mana mereka? Apa masih di luar?"
Mona mengangguk, lalu Dave menghampiri tiga orang pria yang masih ada di luar rumahnya.
"Selamat pagi, anda dengan saudara David Putra Kusuma?"
"Ya, itu nama saya. Bagaimana kalian bisa tahu nama lengkap saya?" Tanya Dave yang terlalu naif. Ketiga pria itu pun mendekat dan memasangkan borgol pada Dave.
"Apa-apaan ini, kenapa suami saya di tangkap?" Tanya Mona yang terkejut dengan penahanan suaminya.
"Suami anda kami tahan dengan tuduhan pelecehan dan penganiayaan serta penghilangan nyawa seseorang," jelas salah satu pria yang kini membawa Dave ke dalam mobil polisi.
"Tidak, aku mohon suamiku pasti tak melakukan hal itu. Ini fitnah, ini pasti fitnah," teriak Mona yang membuat para tetangga keluar dari rumah dan melihatnya yang sedang menangisi kepergian Dave.
Dave yang tak menduga ini, hanya bisa terdiam dan terkejut. Dia tak berkutik sedikitpun seolah pasrah dengan penahanan yang di terimanya.
Mobil polisi pun melaju menuju kota Jakarta, di mana Bram dan Laura sedang menunggu kabar dari kepolisian. Mereka pun mendapat kabar dari salah satu pria yang menangkap Dave, yang membuat Bram merasa lega.
"Sudah ku bilang kan pa, tanpa harus berbuat kotor keadilan pasti akan datang pada kita," ucap Laura yang membuat Bram menganggukan kepalanya. Pria paruh baya itu pun memeluk sang putri dan berharap hukuman setimpal akan di dapat oleh mantan menantunya.
🤣🤣