Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nggak Mungkin!
Setelah mendengar sesuatu yang sangat tak masuk akal. Indra mengurungkan niat untuk masuk lalu menutup pintu perlahan-lahan, hingga ketiga manusia di ruangan tak menyadari kehadiran Indra sejak tadi.
Indra bergegas pergi dari situ, hendak menemui Dea.
"Astaga anak ini, cepat ke sini!" Darah Mayang mulai mendidih, karena Jayden tak juga menggerakkan kaki. Sedangkan Casey tampak biasa saja, justru berharap Jayden tak mendekat.
Pada akhirnya Jayden menuruti perkataan neneknya. Kemudian melangkah cepat, menghampiri Casey dan Mayang.
"Cepat pegang tangan istrimu!" Dengan cepat Mayang menyambar tangan kanan Jayden lalu menyatukan tangan Jayden dan Casey.
Casey dan Jayden saling melirik kala tangan keduanya bertautan. Jayden terlihat salah tingkah. Berbeda dengan Casey biasa saja.
"Nah begini kan romantis, ya kan Casey," kata Mayang, melempar senyum hangat kepada Casey.
Casey tersenyum kaku. "Iya Nek," ucapnya sambil melirik sekilas tangannya yang digenggam Jayden dengan erat sekarang.
Seharusnya Casey bahagia dengan sentuhan tangan Jayden. Namun, mengingat perlakuan Jayden atas perintah Mayang dan bukan inisiatifnya sendiri, Casey bingung harus merasa senang atau sedih. Apalagi, orang yang membuat dirinya tergolek di atas tempat tidur rumah sakit saat ini adalah kekasih Jayden.
Sementara itu di lain sisi. Indra sudah ada ruang kerja Dea dan baru saja menjatuhkan diri di sofa. Dia tampak ragu-ragu, apa harus memberitahu Dea tentang obrolan di ruang Casey tadi.
"Kenapa Ndra?" Dea baru saja menyelesaikan laporan, kini beranjak dari kursi hendak menghampiri Indra.
"Um, Dea ada yang ingin aku sampaikan, ini tentang Casey." Sebagai teman baik, Indra tetap harus menyampaikan apa yang didengar tadi. Meskipun akan ada ledakan di dalam ruangan ini.
Saat nama Casey disebut, wajah Dea mendadak masam. "Apa Casey curiga samamu? Kalau iya, biarkan saja, lagipula aku penasaran, apa yang akan dia lakukan setelah tahu kita lah yang membuat dia hampir mati kemarin. Akan aku kasi pelajaran lagi nanti dia, awas saja."
Sontak, jawaban Dea membuat Indra jadi merinding disco. Sebab ini sudah ke berapa kalinya Indra melihat sisi lain Dea, tak seperti sebelum-belumnya, lemah lembut dan keibuan.
Kalau pun Dea kemarin, yang cemburu dan marah sama Casey. Indra menganggap semua itu hanya sebagai bentuk kemarahan seorang wanita yang merasa posisinya terancam oleh wanita lain. Tetapi, sekarang Indra dilanda dilema besar. Apa benar ini Dea yang dia kenal selama ini?
"Bukan, duduk dulu sini ...." Indra tampak gugup, menepuk pelan sisi sofa di sampingnya.
Dea menurut, duduk tepat di sebelah Indra, wajahnya masih tak sedap dipandang. "Apa sih Ndra? Aku penasaran banget, ayo cepat cerita."
"Tapi janji ya jangan kesurupan seperti kemarin," kelakar Indra, berusaha menciptakan suasana yang nyaman.
Dea malah mengerling tajam, candaan Indra terkesan garing menurutnya.
"Ish, kesurupan apa sih, ayo cepat cerita! Jangan buat aku mati penasaran deh!" katanya, dengan sangat ketus.
Indra tak langsung membuka mulut, masih bimbang, dan berusaha mengingat perbincangan di ruangan Casey tadi, apakah itu realita atau hanya sebuah imajinasi liarnya saja.
"Indra, kalau nggak penting-penting banget, mending keluar, sebentar lagi ada orang dinas kesehatan mau ke sini!" seru Dea ketika Indra hanya diam saja.
Indra tersentak. "Eh iya, aku harap kau menanyakan ke orangnya juga nanti, siapa tahu aku salah dengar, hehe," katanya sambil cengengesan berusaha menenangkan diri sendiri.
"Hm, iya, cepat katakan."
Indra mulai menceritakan apa yang didengarnya di ruang Casey tadi tanpa dilebih-lebihkan.
"Apa?!" Detik itu pula, dengan mata melotot keluar Dea beranjak dari sofa."Nggak mungkin! Jayden nggak mungkin sudah menikah! Kau pasti salah dengar kan!" teriak Dea sambil mencengkram kuat kerah kemeja Indra. Bokong Indra pun jadi ikut terangkat dari sofa sekarang.
Gugup, Indra menelan air ludah dengan susah payah. Dea, seperti bukan sosok yang dia kenal.
"Ak–u nggak bo–hong, turunkan tanganmu Dea, tenangkan dulu dirimu, saran aku temui Jayden dan tanyakan padanya lagi, si–apa tahu saja omongan dia kemarin bukan karena emosi semata," Indra berkata dengan terbata-bata.
"Kalau begitu keluar kau dari ruanganku sekarang !" Napas Dea mulai memburu, tanpa banyak kata menghempas Indra ke sofa seketika.
Indra terkesiap, memandang Dea dengan wajah tampak syok. Dia pun bergegas berjalan menuju pintu sambil sesekali melirik Dea yang saat ini wajahnya terlihat sangat menakutkan.
"Arghhh! Sialan! Jayden milikku! Dia hanya milikku!!!"
Namun, baru beberapa langkah dari pintu, jantung Indra hampir saja melompat keluar kala mendengar teriakan Dea di dalam sana.
"Astaga, si Dea kenapa sih? Au ah, capek," gumam Indra seraya mengelus-elus dadanya sejenak.
Indra pun memutuskan melanjutkan aktivitasnya karena jam istirahat sebentar lagi selesai. Sementara itu di dalam sana, Dea masih meraung histeris dengan air mata mengalir deras.
"Indra pasti salah dengar, aku harus menemui Jayden nanti sore, harus!" kata Dea, matanya masih melotot keluar.
Semenjak kejadian di kantin, Jayden sulit sekali ditemui. Dea menganggap Jayden sibuk karena profesinya sebagai dokter. Namun, sepertinya rencananya untuk bertemu Jayden tak bisa terwujud, Jayden sibuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
Akhirnya Dea memutuskan menemui Jayden keesokan harinya. Pagi-pagi sekali dengan perasaan masih kacau balau Dea masuk ke ruang Jayden tanpa mengetuk pintu.
Kedatangan Dea tentu saja membuat Jayden sedikit terkejut, tapi lelaki itu tetap bersikap tenang dan tak berniat beranjak dari kursi ketika Dea melangkah, menghampirinya sekarang.
"Jayden, kita perlu bicara sekarang," kata Dea, menatap nanar pria yang dia cintai dengan segenap hati, atau lebih tepatnya cinta karena harta.
"Nanti saja, sebentar lagi aku ada jadwal operasi." Jayden menjawab tanpa menoleh ke arah Dea. Dia malah sibuk membaca rekam media pasien yang akan dioperasi nanti.
Tangan Dea mulai mengepal, matanya pun mulai melotot tajam. "Jayden, kenapa kau cuek denganku?! Aku ini pacarmu!"
Sontak, teriakan Dea membuat pandangan Jayden beralih ke depan.
"Bukannya kita sudah putus, kau bukan pacarku lagi," ucap Jayden tanpa menunjukkan emosi.
Makin melotot mata Dea. "Apa kau bilang!?"
"Aku bilang kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi, apa kau lupa? Kemarin aku bilang nggak bisa menikah denganmu."
Kemarahan Dea bertambah dua kali lipat. Napasnya kian memburu, wajahnya pun tampak merah padam sekarang.
"Aku nggak lupa, kau cuma bilang nggak bisa menikah, bukan memutuskan hubungan kita! Kenapa kau seperti ini Jayden! Semua ini pasti gara-gara Casey, wanita jalang itu!!!"
"Cukup Dea!" Jayden ikutan emosi, kini beranjak dari sofa sambil melayangkan tatapan tajam kepada Dea.
"Mulai detik ini kita nggak ada hubungan apa-apa lagi, kita putus!"