NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:17M
Nilai: 4.9
Nama Author: Delia Septiani

Rate 21+

Nashira membuka mata, ia begitu terkejut melihat tubuhnya yang polos tanpa terutup benang sehelai pun. Ia menganggap kalau semalam ia telah memanggil seorang gigolo dan menemaninya tidur. Nashira pun meninggalkan beberapa uang di atas meja untuk lelaki itu. Lalu ia kabur.

Takdir kembali mempertemukan mereka berdua, akan tetapi Nashira tidak mengingat lelaki itu. Nashira yang terlilit hutang besar akhirnya dibantu oleh lalaki asing itu dengan imbalan mau menjadi pengantinnya.

“Aku akan membantumu, tapi kau harus mengabulkan tiga permintaan untukku,” ucap seorang lelaki bernama Akash Orion Atkinson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muslihat Sang Paman

Kriiiiiing ....

Bell pulang sudah terdengar, para mahasiwa maupun mahasiswi bergegas untuk pulang saat dosen keluar meninggalkan kelas terlebih dahulu.

Urusan antara Luna dan gengnya, serta Kalala dan Shira, sebenarnya belum selesai. Masih ada hal yang ingin Luna lakukan untuk mengeluarkan Shira dari kampus ini.

“Ingat ya, urusan diantara kita belum selesai!” cetusnya saat melewati bangku Shira.

Shira menatap sinis ke arah Luna. “Terserah,” jawabnya cuek.

"Sudah, Luna kita pergi sekarang saja, urusan dengan mereka biar kita urus nanti saja," ucap salah satu anggota geng Luna.

"Pergi sana! Anak luknut!" cerca Kalala mendekati Shira. Luna dan anggota gengnya hanya bisa menarik nafas kesal, lalu mejejakkan kaki dengan keras dan pergi dari sana.

"Yuk." Ajak Kalala pada Shira. Shira mengangguk, lalu beranjak dari bangkunya dan pergi meninggalkan kelas bersama Kalala.

Shira dan Kalala berjalan melewati koridor tiap kelas, menuju ke tempat parkir sambil asyik mengobrol.

“Lalu, sekarang kau tinggal di mana? Kalau kau tidak punya tempat tinggal, kau bisa tinggal di kostanku saja,” tawar Kalala, “ya walau pun tempatnya sempit, he he.”

“Udah enggak apa-apa, aku sekarang sudah punya tempat tinggal kok," jawab Shira tersenyum.

"Serius? Kok bisa?" Kalala menatapnya heran.

Shira mengangguk. "Iya, soalnya sekarang aku bekerja di rumah mewah.”

Kalala langsung membeliakan kedua matanya. “Bekerja? ... Bekerja sebagai apa?” tanyanya menatap tak percaya.

“Ya, biasa lah, beres-beres rumah, masak, nyuci, pokoknya pekerjaan asisten rumah tangga gitu.” Shira meringis tersenyum, dengan perasaan yang tidak enak hati, karena tidak jujur sepenuhnya pada Kalala.

“Serius?” Kalala semakin membelakakan kedua matanya, merasa shock karena seorang Shira yang manja bisa bekerja sebagai asisten rumah tangga.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku memang manja, tapi bukan berarti aku tidak bisa apa-apa!” cetusnya mencebik, lalu meraup wajah Kalala, agar tidak menatapnya seperti itu.

Kalala menyingkirkan tangan Shira dari wajahnya. “Wah... daebak! Seorang Shira kini bisa bekerja sampai seperti itu.”

Kalala merangkul pundak Shira. Ia menatap sahabatnya itu dengan bangga. “Tapi aku bangga, ternyata Nona Manja ini sekarang sangatlah mandiri ya,” ucapnya. Mereka pun tertawa bersamaan.

“Maafin aku juga ya, Shir. Aku enggak bisa bantu kamu dengan materi. Tapi, kalau kamu perlu bantuan tenagaku aku selalu siap untukmu kok, Shir.”

Shira tersenyum. “Iya ... enggak apa-apa kok, lagi pula saat ini kebutuhanku masih tercukupi,” ucap Shira.

Mereka berdua pun sampai di jalan raya setelah berjalan sekitar 20 menit dari kelasnya. Selagi menunggu taksi, tiba-tiba Kalala mendapat telepon dari managernya. Agar bisa lebih cepat untuk datang ke tempat kerjanya.

“Shira, sepertinya aku harus pergi menggunakan bus, managerku sudah meneleponku dan menyuruhku untuk datang lebih awal, kamu enggak apa-apa ‘kan aku tinggal sendirian?” tanya Kalala tidak nyaman.

Shira mengangguk. “Iya, enggak apa-apa, kamu pergi aja, dahulukan pekerjaanmu gih,” ucap Shira. Kalala pun mengangguk lalu segera bergegas pergi menuju halte bus, yang saat itu sudah ada bus di sana.

Sedangkan Shira, ia masih diam berdiri menunggu taksi lewat. Dan tak berapa lama, taksi pun datang, Shira langsung mencegatnya dan masuk ke dalam taksi tersebut.

Di dalam taksi ia duduk bersender, mengistirahatkan punggungnya yang terasa kaku.

Tiba-tiba, getar dari ponselnya terdengar.

Drrttt ... drrttt ... drrrttt ....

Ponselnya berdering, ia mengkerutkan kedua alisnya saat melihat panggilan masuk dari nomor pamannya. Pamannya yang sempat berselisih dengan mendiang ayahnya dulu.

“Paman Ikson,” ucap Shira, seraya ibu jarinya yang mengusap tombol berwarna hijau di layar ponselnya.

“Nashira.” Suara Ikson di balik ponsel.

“Iya, Paman.”

“Shira, kau ada di mana? Apa kau ada waktu luang? Paman ingin berbicara denganmu,” pinta Akson lewat telepon.

“A-aku baru pulang kuliah, Paman," jawab Shira sedikit gagap.

“Kalau begitu, bisakah kamu datang ke kantor paman, nanti biar paman yang bayar ongkos taksimu.”

Shira sejenak terdiam, sebenarnya ia enggan untuk pergi ke sana, karena mobil yang ditumpanginya harus berputar arah, dan jarak menuju kantor pamannya itu tidaklah dekat, sedangkan dirinya sekarang merasa begitu lelah, akan tetapi ia juga tidak bisa menolak permintaan dari pamannya.

“Baiklah, Paman, aku akan ke sana sekarang,” ucapnya seraya mematikan sambungan teleponnya.

Shira turun dari taksi, saat mobil yang ditumpanginya sudah sampai di halaman parkir kantor milik pamannya. Shira memberikan beberapa lembar uang kepada Pak Sopir, baru setelahnya ia melanggangkan kakinya memasuki gedung bertingkat yang sangat tinggi menjulang itu.

Keadaan di kantor saat itu cukuplah ramai, masih banyak para pekerja yang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Setelah keluar dari lift, Shira bergegas menuju ruang kerja pamannya. Shira dipersilakan masuk oleh asisten pamannya ke dalam ruang kerja khusus pamannya itu.

“Akhirnya kau datang juga, Shira,” ucap Ikson dengan wajah yang berseri-seri jauh dari pada biasanya.

Shira menatap penuh curiga, karena sedari dulu, pamannya itu tidak pernah bersikap ramah padanya, berbeda dengan kali ini, yang tiba-tiba menyambut kedatangannya dengan penuh semangat dan energik.

“Emh, ada apa, Paman memanggilku ke mari?”

“Duduklah dulu ... ayo.” Ikson memperlakukan Shira dengan begitu lembut. Membuat Shira semakin curiga dengan tingkah laku Ikson yang tidak biasanya itu.

Kini mereka berdua duduk berhadapan di atas sofa. Lalu Ikson memanggil asistennya untuk membawakan minuman untuk Shira.

“Begini, Shira. Kau tahu bukan, ayahmu mempunyai hutang pada Paman?” tanyanya, Shira mengangguk mengiyakan.

“Nah, jadi ... untuk melunasi hutangnya, kau mau ‘kan bekerja dengan tuan Boy. Tuan Boy bilang, kalau kau bisa bekerja dengannya, semua hutang ayahmu bisa dilunaskan, dan sekaligus dia juga yang akan membayarkan hutang ayahmu pada paman,” ucap Ikson menjelaskan dengan penuh harapan, kalau Shira akan menerima bujukannya itu.

“Tuan Boy itu siapa, Paman?” Shira bertanya, karena dirinya tidak tahu siapa tuan Boy yang dimaksud oleh pamannya.

Lalu, asisten Ikson pun datang membawakan secangkir teh untuk Shira.

“Sebentar, kau minumlah dulu tehnya.” Ikson mengambil cangkir teh itu dari nampan yang dibawa asistennya, lalu menyerahkannya pada Shira.

Shira yang memang kehausan ia langsung mengambilnya, dan tanpa rasa curiga ia meneguk teh tersebut beegitu banyak.

“Habiskan saja tehnya, sepertinya kau sangat haus,” titah Ikson, Shira pun tidak segan langsung meneguk semua air yang ada di cangkir tersebut, lalu sesudahnya ia pun menyimpannya di atas meja.

“Jadi, siapa tuan Boy yang, Paman maksud?” Shira kembali mengajukan pertanyaannya.

“Apa kau tidak mengenalnya Shira? Padahal dia bilang, sudah dua kali dia bertemu denganmu, dan dua kali pula kau lolos darinya.”

Shira menautkan kedua alisnya. “Ma-maksud paman, rentenir tua itu?” tanyanya begitu terkejut tidak menyangka. Ikson mengangguk.

“Ya siapa lagi kalau bukan dia. Lebih baik kau menyerahkan dirimu padanya Shira, itu akan lebih baik untukmu juga untuk Paman,” ucap Ikson mencoba membujuk.

Shira langsung bangkit. “Tidak! Aku tidak mau. Tega sekali Paman menyuruhku untuk kembali pada rentenir jahat itu!” Shira berseru sedikit emosi.

“Shira, ini demi kebaikan untuk kita semua, kau bekerja padanya juga tidak akan susah.”

“Tidak, Paman!” Shira pun mengayunkan kakinya hendak meninggalkan ruang tersebut, akan tetapi tiba-tiba rasa pusing menyerang di kepalanya.

Pandangannya berkunang-kunang, ia masih berusaha untuk tetap pada posisinya, langkah kakinya tiba-tiba jadi sempoyongan, lalu semuanya jadi terlihat buram, dan rasa sakit kian menguat di kepalanya. Dan saat pendangannya samar-samar menggelap, saat itu lah Shira tersadar kalau ia pasti sudah meminum obat tidur dalam dosis tinggi yang diberikan oleh Pamannya lewat teh tadi.

Shira berbalik ke arah Pamannya. “Paman, apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa ....”

Brak!!!

Shira jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Wanita itu sudah terkapar lemah tidak berdaya.

Kini, sudut bibir lelaki setengah baya itu tampak menyeringai, seolah puas dengan rencana yang akan ia jalankan.

"Sepertinya semua akan berjalan mulus," gumamnya, begtiu senang, ia pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, lalu segera menghubungi seseorang.

“Bawa dia sekarang,” ucapnya, dengan seringai yang tak menyurut dari bibirnya.

 

 

Bersambung...

Wah kira-kira ada apa nih dengan Shira??? Mau diapakan lagi gadis malang itu?

Bantu vote, like dan komen dong mentemen.

Kira-kira kalau dicahallange lagi bakalan tuntas gak ya?

Cahllangenya gak banyak-banyak kok, kalau besok pagi yang like bab ini tembus sampai 70 like, aku bakalan up tiga bab besok.

Terima kasih, semangat semuanya, and enjoy~~~

1
Jee Ulya
Ndengerin Audiobook enak juga yaah😍
Muawanah
😱😱🤣🤣🤣🤣🤭bisa aja si Shira 😁😁😁
Muawanah
mampir kak... mdh2n cerita nya menarik ya
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Mas Tista
bikes
Mas Tista
Shira aneh
Mas Tista
pantesan infonya shira idiot yaaa
Mas Tista
Luar biasa
Mas Tista
lanjutlaaahhh
Meriana Erna
wah ud tamat,gmn kbr jakshson
Meriana Erna
kasian edwin
Meriana Erna
kesian si Jakson 😔😔😔akibat keserakahan ibu ny dia jd korban
Meriana Erna
ayah ny si akash ni egois x
Meriana Erna
ih si pelakor ini TK sadar diri ,knp bukan pelakor ini j yg d bw Marvel trs mati
Meriana Erna
mngkny jgn berurusan dgn org kaya lw kau masih pemula🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤣🤣🤣
Meriana Erna
Ap mungkin bakker & austin ini di jodohkn ?
krn ssuatu hal jd bakker tk bs menceraiknny,nampak bakker tw lw istri kedua ny jahat
Meriana Erna
agak ny si boy ni org suruhan ny jakscon
Meriana Erna
shira ni istri pembangkang 🤦🏼‍♀️🤣🤦🏼‍♀️🤣 smua hal mw di kerjain sendiri gk prnh mw izin dgn suami,bhkn stts ny j sengaja di sembunyikkn ny🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Meriana Erna
shira pun sllu gk minta izin suami stiap melakukan sesuatu🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️kk author knp karakter shira ni tipe istri durhaka y???
Meriana Erna
ud di bilang lw ad masalah hubungi suami ny dasar istri pembangkang🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!