Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepungan di Kota Mati
Loncatan nekat Li Tian mendarat keras di pulau melayang tempat sinyal biru Su Yan berasal.
"Ugh!" Li Tian berguling, memeluk Xiao Yu agar tidak terbentur batu.
"Li Tian!"
Su Yan berlari mendekat. Wajah dinginnya tampak cemas. Jubah putihnya sedikit kotor oleh debu kosmik, tapi dia tidak terluka.
"Kau selamat," kata Su Yan, membantu Li Tian berdiri. Dia melihat memar di wajah Li Tian dan darah kering di sudut bibirnya. "Kau bertarung dengan monster itu?"
"Bertarung sedikit," Li Tian meringis, memegang rusuknya. "Dia kabur membawa Bulu itu. Maaf, aku gagal merebutnya."
"Yang penting kau hidup," potong Su Yan tegas. "Pusaka bisa dicari lagi, nyawa tidak. Lagipula, dimensi ini mulai tidak stabil sejak Ye Chen pergi. Kita harus keluar sekarang."
Li Tian mengangguk. Dia menoleh ke Xiao Yu yang masih gemetar.
"Xiao Yu, bisa kau buka jalan pulang?"
Gadis kecil itu mengusap air matanya dan mengangguk berani. Dia mengeluarkan kompasnya yang retak.
"Darah Penjaga... Pulang!"
Xiao Yu meneteskan darah lagi ke atas kompas.
WUUUNG!
Langit ungu di atas mereka berputar. Sebuah celah dimensi terbuka, memperlihatkan pemandangan langit senja gurun yang familiar.
"Ayo!"
Mereka bertiga melompat masuk ke dalam celah itu.
BLAM!
Mereka terlempar keluar dari pintu emas di dalam Menara Kaisar Angin, kembali ke dunia nyata.
Li Tian menarik napas dalam-dalam. Udara berdebu Menara terasa sangat menyegarkan dibandingkan kehampaan di dalam sana.
"Kita kembali," desah Su Yan lega.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.
BOOOM! DUARR!
Suara ledakan keras terdengar dari luar menara. Tanah bergetar hebat, debu berjatuhan dari langit-langit.
"Gempa?" tanya Xiao Yu takut.
"Bukan," wajah Li Tian berubah serius. Telinganya yang tajam menangkap suara teriakan perang, denting logam, dan raungan binatang buas dari luar alun-alun. "Itu suara pertempuran."
"Ayo periksa!"
Mereka berlari keluar dari menara, menuju balkon tinggi yang menghadap ke Alun-alun Pusat dan gerbang kota.
Pemandangan di bawah membuat darah mereka membeku.
Kota Seribu Menara yang tadinya sunyi dan mati, kini telah berubah menjadi medan perang.
Ribuan prajurit berbaju zirah emas sedang menyerbu masuk melalui gerbang kota yang telah dijebol. Mereka menunggangi kalajengking raksasa dan membawa bendera kuning dengan lambang kalajengking hitam berekor tiga.
Sekte Kalajengking Emas.
Ini bukan lagi geng bandit kecil yang Li Tian lawan di perjalanan. Ini adalah kekuatan militer penuh dari sekte penguasa Wilayah Barat!
Di langit, puluhan kapal perang kecil melayang, menghujani kota dengan panah api dan bola meriam sihir.
"Mereka menyerang kota ini?" Su Yan terkejut. "Untuk apa? Kota ini reruntuhan!"
"Mereka tidak menyerang kota," kata Li Tian, matanya menyipit melihat ke tengah pasukan musuh. "Mereka mengepung seseorang."
Di tengah lautan pasukan musuh, terlihat satu titik cahaya putih yang bergerak cepat, membelah barisan musuh seperti kilat.
Ye Chen.
Ye Chen sedang mencoba menerobos kepungan itu untuk kabur dari kota, tapi dia tertahan. Sebuah jaring energi raksasa berwarna emas membentang di langit, menghalangi jalur udara.
Di atas sebuah kereta perang raksasa yang ditarik oleh dua Drake Tanah, berdiri seorang pria kekar berkulit tembaga dengan tato kalajengking di wajahnya. Auranya mengerikan, setara dengan Inti Emas Awal.
Itu adalah Raja Kalajengking Sha Tong, pemimpin Sekte Kalajengking Emas.
"Serahkan Sayap dan Bulu itu, Bocah!" teriak Sha Tong, suaranya menggelegar diperkuat Qi. "Wilayah Barat adalah milikku! Harta yang muncul di sini adalah upeti untukku!"
Ternyata, fenomena cahaya saat Ye Chen masuk ke kota dan badai energi saat dimensi terbuka telah menarik perhatian penguasa lokal ini.
"Mereka mengincar Ye Chen," kata Su Yan. "Ini kesempatan kita untuk kabur lewat jalan belakang."
Li Tian terdiam. Dia melihat Ye Chen yang dikepung oleh ribuan orang dan seorang ahli Inti Emas. Meski Ye Chen kuat, dia baru saja bertarung dengan Li Tian dan kelelahan. Tanpa bantuan, dia mungkin akan mati atau tertangkap.
"Zu-Long," tanya Li Tian dalam hati. "Jika Ye Chen mati, apa yang terjadi pada Sayap Rembulan?"
"Pusaka itu akan jatuh ke tangan Raja Kalajengking," jawab Zu-Long. "Dan percayalah, lebih baik Sayap itu ada di tangan rival yang sombong daripada di tangan tiran yang serakah. Setidaknya si Naga Putih punya prinsip."
Li Tian menghela napas panjang. Dia menarik Pedang Hitam Tanpa Mata dari punggungnya.
"Kita tidak jadi kabur," kata Li Tian.
"Apa?" Su Yan menatapnya tak percaya. "Kau mau menolongnya? Dia baru saja mencoba membunuhmu!"
"Musuh dari musuhku adalah teman... untuk sementara," Li Tian menyeringai liar. "Lagipula, aku belum sempat membalas pukulannya yang membuat tulangku ngilu tadi. Aku tidak akan membiarkan orang lain membunuhnya sebelum aku."
Li Tian menunjuk ke arah jaring emas di langit yang disuplai energinya oleh empat pilar pasak di sudut kota.
"Su Yan, kau dan Xiao Yu hancurkan pasak penahan jaring di sektor Utara. Aku akan mengacaukan barisan depan mereka."
"Kau gila," desah Su Yan, tapi dia tersenyum tipis dan mencabut pedang esnya. "Benar-benar gila."
"Ayo kita buat kekacauan," kata Li Tian.
Dia melompat dari balkon menara setinggi lima puluh meter.
Di udara, Li Tian memegang pedang beratnya dengan dua tangan.
"Berat... 5.000 Jin!"
Dia jatuh lurus ke tengah formasi pasukan Kalajengking Emas seperti meteor hitam.
"HALO, TETANGGA!"
BOOOOOM!
Hantaman Li Tian menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan puluhan prajurit dan kalajengking tunggangan mereka. Debu membumbung tinggi di tengah barisan musuh.
Sha Tong di atas kereta perangnya menoleh kaget. "Siapa lagi itu?!"
Dari balik debu, Li Tian berdiri tegak, memanggul pedang raksasanya di bahu. Dia menatap Raja Kalajengking dengan tatapan menantang.
"Maaf mengganggu pestanya," teriak Li Tian. "Tapi sepertinya kalian melupakan undangan untukku."
Di kejauhan, Ye Chen yang sedang menebas musuh berhenti sejenak. Dia melihat ledakan itu. Dia melihat Li Tian.
"Si bodoh itu..." gumam Ye Chen, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Dia benar-benar datang mencari mati?"
Pertempuran tiga arah antara Dua Naga dan Satu Raja Kalajengking dimulai di bawah langit gurun yang terbakar.