Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Murid Rendahan
Fajar belum sepenuhnya naik ketika Xu Tian sudah berdiri di halaman latihan luar Sekte Awan Giok.
Kabut tipis menggantung rendah, menempel di batu-batu lantai yang dingin. Udara pagi menusuk kulit, membuat napas keluar tipis dan cepat. Di sekelilingnya, murid-murid lain telah membentuk barisan rapi, punggung lurus, pandangan ke depan.
Xu Tian berdiri di barisan paling belakang.
Jubahnya lebih kusam dari yang lain. Ujung lengan terlihat aus, benang-benang kecil terurai di pergelangan. Ia merapatkan kain itu ke tubuh, bukan untuk menahan dingin, tapi untuk menyembunyikan tangan yang sedikit bergetar.
Bel latihan berbunyi.
Suara logamnya menggema, memantul di dinding aula utama yang menjulang di hadapan mereka. Pintu-pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan ruang latihan dalam yang luas, lantainya licin dan mengilap.
Murid-murid bergerak serempak masuk.
Langkah Xu Tian tertinggal setengah denyut. Ia mempercepat langkah, tapi tetap saja jarak terbentuk. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang menunggu.
Di dalam aula, aroma dupa bercampur dengan bau keringat lama. Pilar-pilar batu berdiri kokoh, permukaannya dingin dan polos. Di bagian depan, beberapa guru dan senior sudah menunggu, jubah mereka bersih dan jatuh rapi.
Xu Tian mengambil posisi di sudut kiri.
Tempat itu selalu menjadi miliknya. Cukup jauh dari pusat, cukup dekat untuk terlihat.
“Mulai.”
Satu kata itu jatuh datar. Latihan dimulai tanpa aba-aba tambahan.
Murid-murid lain menggerakkan tubuh dengan pola yang sama. Kaki menapak, tangan terangkat, napas diatur. Udara di aula bergetar halus, seperti ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Xu Tian mengikuti.
Ia mengangkat tangan, meniru sudut dan tinggi yang sama. Kakinya bergeser setengah langkah terlambat. Saat ia menarik napas, dada terasa berat, seolah udara enggan masuk.
Ia memaksakan gerakan berikutnya.
Peluh muncul cepat di pelipisnya. Otot lengan menegang, lalu bergetar. Di sekelilingnya, murid lain bergerak stabil, napas mereka nyaris tak terdengar.
Sebuah tawa kecil terdengar dari barisan tengah.
“Masih sama saja.”
Suara itu tidak keras, tapi cukup jelas. Beberapa kepala sedikit menoleh, lalu kembali lurus. Bibir-bibir menyunggingkan senyum tipis.
Xu Tian menunduk sedikit. Tangannya turun sepersekian detik lebih cepat dari seharusnya.
“Fokus.”
Suara senior terdengar dingin. Tatapannya menyapu aula, lalu berhenti sesaat di sudut kiri.
Xu Tian segera mengangkat tangan lagi. Bahunya terasa seperti ditarik beban. Gerakan yang sama, diulang, lagi dan lagi.
Waktu berjalan lambat.
Saat latihan selesai, beberapa murid hanya berkeringat ringan. Xu Tian sudah membasahi bagian dalam jubahnya. Napasnya tidak teratur, telapak tangannya dingin.
“Berhenti.”
Bel kembali berbunyi. Murid-murid merapikan barisan.
Guru di depan melangkah maju. Pandangannya tajam, seolah bisa menimbang isi tubuh setiap murid.
“Sore nanti, ujian rutin.”
Beberapa murid mengangguk ringan. Ada yang tersenyum kecil.
“Siapkan diri kalian.”
Guru itu berbalik pergi. Para senior mengikuti.
Barisan mulai bubar.
Xu Tian tetap berdiri beberapa saat. Ia menatap lantai batu di depannya, melihat pantulan kabut yang mulai menipis. Lalu ia bergerak menuju asrama murid rendah.
Bangunan itu terletak di sisi barat sekte, agak terpisah. Dindingnya lebih tipis, atapnya lebih rendah. Lorong-lorong sempit dipenuhi bau lembap.
Xu Tian masuk ke kamarnya.
Ruangan kecil itu hanya berisi dipan kayu, meja rendah, dan satu rak kosong. Ia duduk di tepi dipan, membuka telapak tangan.
Kulitnya kasar. Ada bekas lecet lama yang belum sepenuhnya hilang.
Ia menutup tangan itu perlahan.
Sore datang lebih cepat dari yang ia harapkan.
Bel ujian berbunyi, kali ini lebih berat. Murid-murid kembali berkumpul di halaman luar. Matahari sudah condong, bayangan pilar memanjang di lantai.
Xu Tian berdiri di posisi yang sama seperti pagi tadi.
Di tengah halaman, sebuah batu uji berdiri tegak. Permukaannya halus, warnanya kelabu pucat.
Satu per satu murid maju.
Saat murid-murid lain menyentuh batu itu, udara di sekitar mereka berubah. Ada getaran singkat, kadang disertai cahaya tipis. Beberapa senior mengangguk, mencatat sesuatu.
Xu Tian memperhatikan dari belakang.
Setiap kali giliran berganti, dadanya menegang sedikit lebih keras.
Namanya dipanggil.
“Xu Tian.”
Suara itu terdengar tanpa emosi.
Ia melangkah maju. Langkahnya terasa berat di setiap pijakan. Puluhan pasang mata mengarah padanya, sebagian kosong, sebagian penuh minat singkat.
Ia berdiri di depan batu uji.
Permukaannya dingin saat disentuh. Xu Tian menarik napas, menempelkan telapak tangannya.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada perubahan.
Udara tetap diam. Batu itu tidak bereaksi.
Keheningan turun.
Seseorang berdehem. Lalu terdengar tawa tertahan.
“Coba lebih keras,” kata seorang murid dari barisan belakang.
Xu Tian menekan tangannya sedikit lebih kuat. Otot lengannya menegang, rahangnya mengeras.
Tetap tidak ada apa-apa.
“Cukup.”
Senior yang bertugas melangkah maju. Ia melirik batu itu, lalu menatap Xu Tian.
“Menjauh.”
Xu Tian menarik tangannya. Telapak itu terasa mati rasa.
Ia melangkah mundur. Beberapa murid berbisik. Ada yang menggeleng pelan, ada yang tersenyum tanpa suara.
“Masih nihil,” kata seseorang lirih.
Xu Tian kembali ke barisan. Kepalanya sedikit tertunduk. Pandangannya tertuju pada ujung sepatunya yang usang.
Ujian berlanjut seolah ia tidak pernah maju tadi.
Saat semua selesai, matahari hampir tenggelam. Langit berwarna jingga pucat.
“Xu Tian.”
Namanya dipanggil lagi.
Ia mengangkat kepala.
Senior yang sama berdiri di depan, tangan di belakang punggung.
“Kau tinggal.”
Murid-murid lain mulai bubar. Beberapa meliriknya sambil berjalan pergi. Ada yang sengaja melambat, seolah ingin melihat apa yang akan terjadi.
Halaman menjadi lebih sepi.
Xu Tian berdiri sendirian di depan senior itu.
“Kau tahu hasilmu,” kata senior itu.
Xu Tian tidak menjawab.
“Kau juga tahu posisi dirimu di sekte ini.”
Angin sore berhembus. Daun-daun kering bergeser di lantai batu.
Senior itu melangkah lebih dekat. Tekanan halus menyebar di udara. Xu Tian merasa dadanya sedikit tertekan, napasnya memendek.
“Mulai besok,” lanjut senior itu, “kau akan membantu tugas kebersihan aula utama.”
Xu Tian mengangkat pandangan.
“Pagi dan sore.”
Senior itu berhenti tepat di depannya.
“Dan hari ini,” katanya, “kau mulai sekarang.”
Beberapa murid yang belum jauh berhenti melangkah. Mereka berdiri di tepi halaman, pura-pura merapikan jubah atau mengikat rambut.
Xu Tian menelan ludah. Tenggorokannya kering.
“Aula latihan dalam,” tambah senior itu. “Sendirian.”
Senior itu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.
Xu Tian tetap berdiri.
Langit semakin gelap. Lentera-lentera mulai dinyalakan satu per satu, cahaya kuningnya jatuh di lantai batu.
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan menuju aula utama.
Pintu kayu sudah setengah tertutup. Xu Tian mendorongnya perlahan. Suara engsel bergema pelan di ruang kosong.
Di dalam, aula terasa lebih besar dari siang tadi. Pilar-pilar menjulang seperti bayangan. Bau dupa masih tertinggal, bercampur debu halus.
Sebuah ember dan kain pel sudah disiapkan di dekat pintu.
Xu Tian menatapnya sejenak.
Lalu ia membungkuk, mengambil ember itu. Air di dalamnya dingin, hampir membeku.
Ia melangkah masuk lebih jauh.
Setiap langkah bergema, memantul kembali padanya. Di kejauhan, ia mendengar suara tawa murid-murid dari luar aula.
Xu Tian berhenti di tengah ruangan.
Ia menurunkan ember, meremas kain pel. Air menetes ke lantai batu, membentuk genangan kecil.
Tangannya terasa kaku.
Ia mulai menggosok lantai.
Gerakannya lambat. Setiap tarikan kain meninggalkan jejak basah yang segera mengering di udara dingin. Bahunya turun naik mengikuti napas yang berat.
Dari pintu, beberapa bayangan muncul.
Murid-murid berdiri di ambang, menyaksikan. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang pergi.
Xu Tian tidak menoleh.
Ia terus menggosok lantai, sedikit demi sedikit maju.
Air di ember semakin keruh. Tangannya memerah. Lantai batu terasa semakin dingin menembus telapak.
Suara bisik-bisik terdengar samar.
Xu Tian menunduk lebih dalam.
Di bawah cahaya lentera, bayangannya sendiri terlihat kecil dan terpotong-potong di lantai.
Ia mengangkat kain pel sekali lagi.
Dan melanjutkan.
...
Air di ember hampir habis ketika kain pel terseret ke sudut aula.
Xu Tian berlutut. Lututnya menekan batu dingin, meninggalkan noda basah di kain celana. Tangannya bergerak lambat, mengikuti garis lantai yang memantulkan cahaya lentera.
Di ambang pintu, bayangan-bayangan masih ada.
Beberapa murid bersandar di pilar luar. Ada yang berbisik pelan, ada yang tertawa tanpa suara. Tidak satu pun melangkah masuk.
Kain pel terangkat lagi. Air menetes dari ujungnya, jatuh ke lantai dengan suara ringan.
Xu Tian memeras kain itu. Jari-jarinya memutih. Air keruh mengalir turun, membasahi punggung tangannya.
“Lihat caranya.”
Suara itu datang dari luar aula. Nada santai, nyaris bosan.
Xu Tian tidak menoleh. Ia menarik kain pel kembali ke lantai dan menggosok.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Seorang senior masuk ke dalam aula. Jubahnya bersih, ujungnya tidak menyentuh lantai basah. Ia berhenti beberapa langkah dari Xu Tian.
“Sudut itu belum bersih,” katanya.
Ujung sepatunya menunjuk ke arah pilar depan.
Xu Tian mengangguk tipis. Ia mengangkat ember dan bergeser mendekat. Air di dalamnya berguncang, memercik ke lantai.
Saat ia memiringkan ember untuk mengambil air, tangannya tergelincir.
Ember jatuh.
Suara logamnya memantul keras di aula. Air menyebar cepat, membasahi lantai yang sudah kering.
Beberapa murid di luar tertawa terbuka.
Senior itu menghela napas pendek. “Ceroboh.”
Xu Tian membungkuk cepat. Ia meraih ember yang terbalik, membenarkannya, lalu menyeka air yang tumpah dengan kain pel yang sudah basah.
Gerakannya terburu-buru. Kain itu tersangkut di ujung pilar. Ia menariknya terlalu keras.
Tubuhnya condong ke depan.
Telapak tangannya menghantam lantai batu. Suara benturannya tumpul. Lututnya ikut jatuh.
Beberapa tawa berhenti sejenak, lalu terdengar lagi, lebih pelan.
Xu Tian tetap di lantai selama beberapa detik. Nafasnya terdengar kasar. Rambutnya jatuh menutupi mata.
“Bangun,” kata senior itu.
Xu Tian mengangkat kepala. Ada garis merah tipis di telapak tangannya. Ia menekan luka itu ke kain pel, lalu berdiri perlahan.
Ia kembali bekerja.
Air di ember semakin keruh. Lantai yang digosoknya bersih, tapi jejak basah selalu tertinggal. Tangannya mulai sulit digerakkan lurus.
Waktu berjalan tanpa tanda.
Lentera-lentera di aula menyala lebih terang. Cahaya kuningnya membuat bayangan Xu Tian memanjang di lantai.
Murid-murid di ambang pintu berganti. Ada yang pergi, ada yang datang. Wajah-wajah baru muncul, melihat sekilas, lalu berbisik.
“Masih di sini?”
“Belum selesai rupanya.”
Xu Tian memindahkan ember ke sisi lain aula. Langkahnya terseret. Setiap kali ia membungkuk, bahunya turun lebih dalam.
Senior yang tadi berdiri kini duduk di dekat pintu, bersandar santai. Ia menonton tanpa berkata apa-apa.
Kain pel terseret lagi. Batu di bawahnya terasa tidak rata. Xu Tian menggosok lebih keras, lalu berhenti.
Tangannya gemetar sebentar.
Ia memeras kain pel. Air menetes ke lantai, membentuk pola acak.
Untuk sesaat, suara di luar aula meredup. Hanya ada bunyi air jatuh dan napasnya sendiri.
Udara di sekeliling terasa lebih berat.
Xu Tian berhenti memeras kain. Ia menatap genangan air di lantai. Permukaannya bergetar halus, seolah tersentuh angin tipis, padahal pintu aula tertutup.
Ia mengedip.
Getaran itu hilang.
“Jangan melamun.”
Suara senior terdengar lagi. Nada suaranya lebih dekat.
Xu Tian mengangguk. Ia kembali menggosok lantai.
Gerakannya lebih pelan sekarang. Setiap tarikan kain terasa panjang. Lengan kirinya sedikit tertinggal saat bergerak.
Dari sudut matanya, ia melihat lantai yang sudah bersih memantulkan bayangan pilar dengan lebih jelas.
Saat kain pel melewati satu garis di lantai, dingin menusuk telapak tangannya lebih dalam dari sebelumnya.
Xu Tian menarik tangan itu cepat.
Ia menatap telapak tangannya. Garis merah tadi melebar. Kulit di sekitarnya terlihat pucat.
Ia menggosok tangan itu ke jubah, lalu melanjutkan.
Senior di dekat pintu berdiri.
“Cukup,” katanya.
Xu Tian berhenti. Kain pel tergeletak di lantai.
Senior itu berjalan masuk beberapa langkah, melihat sekeliling. Pandangannya menyapu lantai yang basah, pilar yang bersih.
“Belum kering,” katanya.
Ia menoleh ke arah Xu Tian. “Lap lagi.”
Senior itu berbalik dan pergi.
Beberapa murid di luar menghela napas kecil, ada yang tertawa singkat. Langkah kaki menjauh.
Xu Tian menunduk. Ia mengambil kain pel lagi.
Air di ember tinggal sedikit. Ia tetap memaksakan, memeras kain hingga hampir kering.
Saat ia menggosok bagian tengah aula, lututnya tiba-tiba melemah.
Ia berhenti setengah jongkok. Tangan kirinya menyentuh lantai untuk menahan tubuh.
Dingin dari batu merambat cepat ke lengan. Xu Tian menarik napas tajam. Bahunya naik, lalu turun.
Ia berdiri lagi, kali ini lebih lambat.
Kain pel bergerak, meninggalkan jejak basah yang tipis. Di bawah cahaya lentera, jejak itu tampak berkilau singkat sebelum memudar.
Xu Tian menggosok satu area yang sama dua kali. Lalu tiga kali.
Tangannya berhenti dengan sendirinya.
Ia berdiri diam. Ember di sampingnya kosong. Kain pel tergeletak di lantai.
Aula sunyi.
Tidak ada murid di ambang pintu. Tidak ada langkah kaki. Hanya cahaya lentera dan pilar-pilar tinggi.
Xu Tian menatap lantai di depannya. Permukaannya bersih, memantulkan bayangannya sendiri.
Bayangan itu terlihat sedikit bergoyang.
Ia berkedip. Bayangan kembali diam.
Xu Tian menunduk, mengambil ember kosong. Logamnya terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia berjalan menuju pintu aula.
Saat tangannya menyentuh daun pintu kayu, suara terdengar dari belakang.
“Belum.”
Xu Tian berhenti.
Senior berdiri di dekat salah satu pilar. Entah sejak kapan ia ada di sana. Wajahnya setengah tertutup bayangan.
“Kau belum membersihkan bagian dalam lingkaran,” kata senior itu.
Tangannya menunjuk ke lantai, ke sebuah area yang tidak tampak berbeda dari yang lain.
Xu Tian mengikuti arah itu. Ia kembali melangkah ke tengah aula.
Ia menatap lantai yang ditunjuk. Batu itu tampak sama. Tidak ada noda. Tidak ada debu.
Ia menoleh ke arah senior.
Senior itu hanya menatap.
Xu Tian berlutut lagi. Ia mengambil kain pel yang hampir kering dan menggosok area itu.
Saat kain menyentuh lantai, udara di sekitarnya terasa menekan. Lentera di dekatnya bergetar ringan.
Xu Tian berhenti. Ia menekan kain itu sedikit lebih keras.
Getaran itu mereda.
Ia melanjutkan, gerakannya lambat dan hati-hati. Setiap tarikan kain terasa seperti melewati permukaan yang lebih kasar.
Napasnya terdengar lebih jelas di ruang kosong.
Senior itu tidak bergerak. Tatapannya tetap.
Xu Tian menyelesaikan satu putaran gosokan. Ia berhenti, menunggu.
Tidak ada suara.
Ia menggosok sekali lagi.
Kali ini, saat kain pel terangkat, udara terasa lebih ringan. Lentera kembali stabil.
Xu Tian menarik kain itu ke samping. Ia berdiri perlahan.
Senior itu mengangguk satu kali.
“Sekarang pergi.”
Xu Tian tidak menjawab. Ia mengambil ember dan kain pel, lalu berjalan ke pintu.
Saat ia melangkah keluar, udara malam menyentuh wajahnya. Dingin, tapi terasa lebih tipis.
Ia berhenti di ambang pintu sejenak.
Di belakangnya, aula kembali sunyi. Lentera-lentera menyala tenang, memantulkan cahaya di lantai yang bersih.
Xu Tian melangkah pergi.
Langkahnya pelan, tapi tidak berhenti.
Di halaman, bayangannya memanjang di bawah cahaya bulan yang baru naik. Tangannya menggenggam ember kosong, jari-jarinya masih bergetar ringan.
Ia berjalan menuju asrama murid rendah.
Di dalam aula, tidak ada siapa-siapa.
Namun di lantai tengah, pada area yang tadi digosoknya berulang kali, cahaya lentera memantul sedikit lebih lama sebelum padam.