Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG MENYAYAT
Setelah hantaman keras Mavin, Devan justru tidak meledak dalam amuk massa. Sebaliknya, ia menyeka sudut bibirnya yang berdenyut dengan tawa kering yang meremehkan. Baginya, tantangan Mavin hanyalah gertakan semut di hadapan gajah.
"Kamu terlalu jauh melangkah, Mavin," desis Devan, suaranya kembali tenang namun mematikan. "Scarlett adalah istriku. Hukum, status sosial, dan hak kepemilikan berada di pihakku. Urusan kami bukan konsumsi orang asing sepertimu."
Tanpa menoleh lagi, Devan berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju ruang perawatan VIP. Ia sadar, baku hantam di koridor rumah sakit akan menjadi santapan empuk media jika diteruskan. Sebagai penguasa Grup Laksmana, ia punya ribuan cara yang lebih elegan untuk melenyapkan Mavin dari Kota Nordigo tanpa harus mengotori tangannya lebih jauh.
Namun, satu hal yang mengusik pikirannya: sorot mata Mavin. Pria itu jelas mencintai Scarlett dengan cara yang sangat protektif. Bagi Devan, kenyataan itu terasa konyol sekaligus mengganggu, seperti kerikil tajam di dalam sepatunya yang mahal.
Saat Scarlett perlahan membuka kelopak matanya, dunianya masih terasa berputar. Hal pertama yang tertangkap oleh indranya bukanlah wajah hangat Mavin, melainkan sosok dominan yang duduk di sofa seberang ranjangnya. Devan. Pria itu tampak tenang, duduk menyilangkan kaki sambil membaca koran, seolah-olah kamar rumah sakit ini adalah ruang kerja pribadinya yang dingin.
Scarlett memejamkan mata kembali, berharap itu hanyalah halusinasi akibat pengaruh obat penenang. Namun, saat ia membukanya lagi, Devan sudah menyadari kesadarannya. Pria itu melipat koran, berdiri dengan gerakan efisien, dan menekan tombol panggilan suster.
Tak lama, Dokter Ryan masuk dengan terburu-buru. Selama pemeriksaan berlangsung, Scarlett memilih membisu. Namun, tatapannya secara tak sengaja terpaku pada rahang Devan. Ada memar samar keunguan yang kontras dengan kulit wajahnya yang bersih.
Dia berkelahi? Scarlett tertegun dalam diam. Sepanjang lima tahun pernikahan mereka, ia tahu Devan adalah pria yang menjunjung tinggi martabat. Baginya, kekerasan fisik adalah cara kelas rendah untuk menyelesaikan masalah. Siapa yang cukup berani—atau cukup gila—untuk menyentuh wajah sang penguasa Nordigo?
Setelah dokter keluar, Devan melangkah mendekat. Aura dominannya menyelimuti ruangan, membuat udara terasa lebih tipis dan menyesakkan. Scarlett secara naluriah menarik selimut lebih tinggi, menghindari kontak mata. Ia bersiap untuk badai makian; ia tahu Devan pasti murka karena ia mengabaikan janji pertemuan semalam demi urusan yang pria itu anggap tidak penting.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Devan menarik kursi kayu di samping ranjang dan duduk dengan tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada tuntutan.
Amarah Devan yang semula membara saat di perjalanan tadi mendadak padam melihat sosok di depannya. Scarlett tampak begitu rapuh dalam balutan baju pasien biru pucat. Wajahnya nyaris sewarna dengan seprai, dan tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali ia benar-benar memperhatikannya.
Informasi dari Dokter Ryan tadi masih terngiang di telinganya seperti lonceng kematian. Trauma akibat kecelakaan dan keguguran yang tidak tertangani dengan benar telah meninggalkan luka permanen. Kemungkinan Scarlett untuk mengandung lagi sangatlah kecil—nyaris mustahil.
Dulu, Devan memang sangat membenci ide memiliki keturunan dari Scarlett. Namun, di malam ketika ia menyangka Scarlett hamil tempo hari, sebuah getaran aneh sempat muncul di hatinya—sebuah pikiran bahwa memiliki anak mungkin tidak akan seburuk itu. Kini, sebelum pikiran itu sempat ia pahami, kenyataan telah merenggutnya dengan kejam.
Suasana hening menyiksa selama beberapa detik sebelum Devan akhirnya bersuara. Nadanya terdengar kaku, seolah ia sedang mempelajari bahasa asing yang sulit ia ucapkan.
"Aku sudah mendengar laporan dokter tentang kondisimu," ucap Devan, matanya menatap jemari Scarlett yang pucat dan gemetar di atas seprai. "Tapi... dokter bilang kemungkinan itu tidak mutlak seratus persen. Masih ada teknologi medis. Jangan terlalu terbebani secara mental."
Scarlett tersentak kecil. Ia mendongak, menatap wajah suaminya dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Selama lima tahun, ia terbiasa dengan perintah, cibiran, dan pengabaian. Mendengar Devan berusaha menghiburnya—meskipun dengan cara yang sangat kikuk—membuat hatinya bergetar aneh.
Apakah ini bentuk penyesalan tulus, atau hanya rasa kasihan dari seorang pemenang kepada pecundang yang sudah hancur?
Scarlett menarik napas panjang, suaranya terdengar serak. "Sejak kapan kamu peduli apakah aku terbebani atau tidak, Devan? Bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu tidak ingin ada 'beban' yang mengikatmu denganku selamanya."
Devan terdiam. Kata-kata Scarlett benar, namun mendengarnya secara langsung membuat ulu hatinya terasa seperti ditusuk. Sebelum ia sempat membalas, ponselnya bergetar. Nama Vivian muncul di layar.
Scarlett melihat nama itu, dan seketika itu juga, kelembutan singkat tadi menguap. Tatapan mata Scarlett kembali menjadi dingin dan mati. "Pergilah. Dewimu sedang memanggil. Jangan biarkan dia menunggu."
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.