NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawa Di Atas Air Mata Buaya

Lobi Abraham Tower siang itu ramai oleh lalu-lalang karyawan yang hendak makan siang. Di tengah hiruk-pikuk manusia berjas dan bersepatu mengkilap itu, ada satu sosok yang terlihat sangat kontras.

Rendy Angkasa berdiri gelisah di dekat meja resepsionis.

Penampilannya jauh dari kata rapi. Kemejanya kusut di bagian lengan, rambutnya berantakan seolah sering diacak-acak karena stres, dan kantung matanya hitam pekat. Pria yang dulu selalu tampil klimis dan wangi itu kini tampak seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

Rendy sedang berdebat dengan satpam ketika suara ketukan sepatu hak tinggi yang tegas mendekat.

"Ada keributan apa ini, Pak Danu?"

Suara dingin itu membuat tubuh Rendy membeku. Ia menoleh perlahan.

Di sana, dikawal oleh dua staf junior, berdiri Alina Oktavia. Wanita itu mengenakan setelan blazer putih gading yang membalut tubuhnya dengan elegan. Rambutnya tergerai indah, riasannya sempurna, dan di tangannya tergenggam tas branded yang harganya mungkin setara gaji Rendy tiga bulan.

Dia terlihat bercahaya. Sangat berbeda dengan Rendy yang redup.

"Alina..." panggil Rendy, suaranya parau.

Alina mengangkat alisnya sedikit, menatap Rendy dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan. Tatapan yang sama yang dulu sering diberikan Sisca kepada Alina.

"Pak Danu, biarkan dia," perintah Alina pada satpam. Ia kemudian menatap Rendy. "Kamu punya waktu lima menit. Ikut aku ke pojok sana. Jangan bikin malu di tengah lobi."

Mereka berjalan menuju area tunggu tamu yang agak sepi. Alina duduk di sofa kulit tunggal dengan anggun, menyilangkan kakinya, sementara Rendy berdiri canggung di hadapannya. Alina tidak mempersilakan pria itu duduk.

"Katakan," ucap Alina singkat, sambil melirik jam tangan mahalnya. "Waktuku mahal, Ren."

Rendy menelan ludah. Egonya sebagai laki-laki rasanya diinjak-injak, tapi ia tidak punya pilihan. Desakan Sisca yang histeris dan ancaman debt collector bank yang mulai meneror mertuanya membuatnya putus asa.

"Al, aku... aku datang mau minta tolong," Rendy memulai dengan gagap. "Soal pemutusan kontrak CV. Maju Karya. Itu... itu menghancurkan keluarga kami, Al."

Alina tersenyum tipis. "Lalu?"

"Papa mertuaku kena serangan jantung ringan begitu terima surat itu. Sisca stres berat, dia lagi hamil, Al. Kasihan bayinya kalau ibunya stres," Rendy mencoba memainkan kartu simpati. "Tolonglah, Al. Aku tahu kamu orang kepercayaan Pak Wisnu sekarang. Tolong bujuk dia. Bilang kalau ini cuma salah paham. Minta dia sambung kontraknya lagi. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan kami."

Rendy bahkan memberanikan diri untuk berlutut di depan sofa Alina, menangkupkan kedua tangannya.

"Demi masa lalu kita, Al. Aku mohon. Aku nggak sanggup lihat keluargaku hancur."

Hening sejenak.

Alina menatap pria yang berlutut di hadapannya itu. Dulu, ia pernah membayangkan Rendy berlutut untuk melamarnya. Tapi sekarang, pria ini berlutut demi uang. Demi wanita lain.

Tiba-tiba, bahu Alina berguncang.

Sebuah tawa lolos dari bibirnya.

Awalnya pelan, lalu semakin keras. Alina tertawa lepas. Tawa yang renyah namun terdengar mengerikan di telinga Rendy.

"Hahahaha! Ya ampun, Rendy, Rendy..." Alina menyeka ujung matanya yang berair karena tertawa. "Kamu ini polos atau bodoh sih?"

Rendy mendongak bingung. "Maksudmu?"

Wajah Alina yang tadinya tertawa, mendadak berubah datar dan dingin dalam hitungan detik. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Rendy lekat-lekat.

"Demi masa lalu kita, katamu?" desis Alina tajam. "Masa lalu yang mana? Masa lalu saat kamu berselingkuh? Atau masa lalu saat kamu membiarkan aku pendarahan di lantai apotek sementara kamu cuma diam kayak patung?"

Wajah Rendy memucat.

"Kamu bilang kasihan sama bayi Sisca?" lanjut Alina, suaranya meninggi. "Terus anakku gimana, Ren?! Anak kita yang mati enam bulan lalu karena dorongan istrimu! Kamu pernah kasihan sama dia? Kamu pernah datang ke kuburannya? Nggak kan?!"

"Al, itu kecelakaan..."

"Itu pembunuhan!" potong Alina bentak. "Dan sekarang, dengan wajah tanpa dosamu, kamu datang minta tolong ke aku? Ke wanita yang sudah kalian hancurkan?"

Alina berdiri, membuat Rendy terpaksa mendongak semakin tinggi.

"Dengar baik-baik, Rendy Angkasa. Pemutusan kontrak itu bukan keputusan Pak Wisnu. Itu keputusanku. Aku yang mengaudit perusahaan mertuamu. Aku yang menemukan korupsinya. Dan aku yang tanda tangan surat itu."

Mata Rendy membelalak lebar, mulutnya ternganga tak percaya. "Ka-kamu...?"

"Ya. Aku," Alina tersenyum puas. "Aku sengaja melakukannya. Aku ingin melihat kalian melarat. Aku ingin melihat Sisca yang sombong itu menangis karena nggak bisa beli tas baru. Aku ingin melihat kamu stres dikejar hutang."

"Kamu jahat, Al..." bisik Rendy, tidak menyangka Alina yang lembut bisa berubah menjadi monster seperti ini.

"Aku belajar dari ahlinya. Kamu dan istrimu guruku," balas Alina santai.

Alina merapikan blazernya.

"Pulanglah, Ren. Bilang sama istrimu, ini baru permulaan. Simpan air matamu, karena kamu bakal butuh lebih banyak air mata untuk hari-hari ke depan. Jangan harap aku akan membantu. Aku justru akan duduk di barisan paling depan sambil makan popcorn melihat kehancuran kalian."

Rendy terdiam kaku. Harapannya musnah. Wanita di depannya ini bukan lagi Alina yang mencintainya. Ini adalah musuh yang mematikan.

"Pak Danu!" panggil Alina keras.

Satpam berbadan tegap segera datang berlari. "Siap, Bu Alina!"

"Tolong antar bapak ini keluar. Dan pastikan wajah ini di-blacklist. Jangan biarkan dia masuk ke radius seratus meter dari gedung ini lagi. Dia mengganggu kenyamanan saya."

"Baik, Bu! Mari, Mas, silakan keluar," Pak Danu menarik lengan Rendy dengan kasar.

Rendy diseret menjauh seperti pengemis. Ia menoleh ke belakang, menatap Alina untuk terakhir kalinya.

Alina masih berdiri di sana, menatapnya dengan dagu terangkat dan senyum kemenangan yang dingin. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun.

Saat Rendy sudah menghilang di balik pintu putar, Alina menghela napas lega. Dadanya terasa ringan.

"Bodoh," gumam Alina sambil berbalik menuju lift pribadi eksekutif.

Hari ini ia belajar satu hal: Balas dendam ternyata jauh lebih memuaskan daripada memaafkan. Dan ia baru saja menikmati hidangan utamanya.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!