Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.
Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.
Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.
Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.
Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....
Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Madar
Madar melangkahkan kakinya menyusuri jalan kecil, ia mencari jalan pintas menuju perkebunan, melalui ceruk-ceruk tebing. Dengan lihainya Madar menuruni undakan-undakan batu cadas yang curam, melewati semak perdu menembus ke hamparan padang hijau, dengan tumbuhan pakis setinggi pinggang.
Madar terus melewati hamparan padang hijau hingga ia memasuki hutan akasia, ia melewati sebuah gubuk bambu Mbah Karyo si dukun santet bin pelet.
Namun, Madar tak pernah bertegur sapa dengan si dukun apa lagi si cebol. Mereka seperti memahami profesi masing-masing.
Hingga akhirnya Madar tiba di pos satpam perkebunan.
"Maaf Pak, boleh minta apinya Pak?" Madar berpura-pura ingin menyalakan rokoknya.
"Oo, silakan! ini Bang" seorang satpam bernama Mulyadi memberikan mancisnya. Madar menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"Pak, teringatnya saya mau mencari pekerjaan. Apa masih ada lowongan, Pak? Hasil melaut kurang memadai." Madar berusaha mencari bahan obrolan.
"Sepertinya ... ada Bang, kemarin kalau tidak salah, Asisten Iwan mencari anggota untuk divisi penggalian dan penanaman Bang. Coba Abang tanya sajalah Mandor Ucok " jawab Mulyadi.
"Mandor Ucok? " tanya Madar.
"Iya, Bang! Suami Bu Guru Lili. Coba Abang tanya dia. Mandor Ucok orangnya baik Bang, kali aja diterima langsung bisa masuk Bang." jelas Mulyadi.
"Baiklah! Terima kasih apinya Pak" Madar memasuki areal perkebunan.
Ia bertanya kepada beberapa pekerja, "Maaf ... Bang, Mandor Ucok yang mana ya Bang? " tanya Madar.
"Oh, yang itu orangnya! yang memakai kaus biru dan celana yang robek-robek itu Bang." Jawab salah satu pekerja.
"Ooo, itu ya! Makasih ya" Madar memperhatikan sesosok pemuda muda, tampan dengan tinggi sekitar 180 cm, kulitnya putih bersih.
"Pantas saja! Ayu tergila-gila pada pemuda ini. Baiklah kita lihat bagaimana aku akan melaksanakan aksiku." batin Madar.
Madar menghampiri Dylan yang masih berbicara kepada bawahannya yang tidak lain kelompoknya sendiri, sehingga mereka tidak terlalu formal.
Walaupun Dylan sudah jadi mandor tapi ia selalu rendah hati, ia tak segan untuk turun tangan membantu bawahannya mengerjakan pekerjaan mereka. Hingga kelompoknya semangkin menghormati dan tidak iri.
"Maaf ... saya ingin bicara dengan Mandor Ucok. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Ucap Madar.
"Saya Ucok, apa itu ya Bang? " jawab Dylan, menghadap ke arah Madar.
"Saya ingin mencari pekerjaan, Pak. Hasil dari melaut tidak mencukupi." Madar memberikan alasan.
Dylan berpikir sejenak, " Baiklah Bang, besok Abang sudah boleh bekerja, jam 07.00 WIB." Jawab Dylan.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi pulang, mulai besok saya akan masuk kerja. " balas Madar.
"Begitu mudahnya pria ini percaya, mulai besok ... hidupmu tidak akan tenang." Batin Madar.
Seperti biasa, Dylan menanti Lili di bawah pohon jalutung yang sedang musim gugur. Daun-daun jalutung berguguran terterpa angin, Lili tersenyum dengan manisnya menghampiri sang suami.
"Ayo, pulang cantik! Aku rindu padamu. Udah gak tahan nih?" ucap Dylan.
"Iiiihh, Abang ini! Masih sore? Jangan aneh-anehlah." balas Lili mencubit mesra hidung Dylan.
Dengan mesranya keduanya pulang ke rumah Mak Upik.
Tanpa mereka sadari, Madar mengintai keduanya.
" Pria ini sangat mencintai istrinya, begitu juga sebaliknya. Akh, andaikan Ayu bersikap demikian padaku, aku tidak akan di sini. Menuruti keinginan konyol Ayahnya." Batin Madar. Bayangan Ayu yang sedang tersenyum dan ingin bunuh diri melintas di benaknya.
"Wanita bodoh itu ... Tidak akan aku biarkan jatuh kepelukan pria mana pun. Ayu milikku." Batinnya mengepalkan tangannya.
Madar kembali ke rumahnya di ceruk tebing, memasuki rumah gubuknya bila terlihat dari luar. Akan tetapi semua itu adalah kamuflase, di balik dinding tepasnya ada sebuah pintu rahasia untuk masuk ke dalam sebuah gua di dalam tebing yang sangat panjang, dengan sebuah penerangan obor.
Di dalam gua tersebut terdapat ruangan yang sangat luas, dengan berbagai kotak peti kemas. Kotak-kotak itu berisikan sabu, yang akan di edarkan ke seluruh pulau-pulau di Indonesia. Barang haram itu di dapat dari negara-negara tetangga melalui jalur laut.
Setiap bulan dengan waktu yang tidak di tentukan, mereka mengadakan transaksi, di sekitar pantai yang sepi atau di tengah lautan. Menyusuri lorong gua yang panjang dan gelap, akan sampai ke pintu gua yang tersembunyi di ceruk bagian lain lagi di tebing yang lebih curam dan dalam, jauh dari keramaian, bahkan tidak ada satu manusia pun yang pernah menginjakkan kakinya ke ceruk terjal itu.
Selain Madar dan komplotan Rawin. Di sisi ceruk lain lagi yang lebih luas tersembunyi sebuah kapal motor, yang bisa memuat peti kemas dan beberapa orang saja, sebagai kendaraan untuk melakukan transaksi.
Madar mengamati pantai, hari mulai senja, beberapa hari lagi transaksi narkoba akan di lakukan di tengah lautan.
Mereka sangat berhati-hati melakukannya, karena menghindari polisi airud ataupun patroli AL.
Madar memasuki gua kembali dan menutupnya dengan menggeser sebuah batu besar, dengan sebuah tuas besi yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa.
Ia berputar-putar di antara beberapa lorong hingga ia memasuki kamarnya.
Kamarnya sangat nyaman, tempat tidur ukuran besar dan mewah, lemari pakaian, seperangkat meja kerja. Di dinding, tepat di depan meja kerjanya terpampang sebuah peta, yang sudah ditandai dengan warna merah setiap kotanya sebagai tempat mereka memasarkan jalur narkobanya dan beberapa foto yang sudah di beri tanda silang di foto. Bahwa si pemilik foto sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Madar membuka lemari pakaiannya, ia mengambil sebuah foto wanita cantik, yang tidak lain adalah Ayu. Ia berbaring di tempat tidurnya dengan menciumi foto Ayu berulang-ulang hingga ia menuntaskan hasrat birahinya, ia terkapar lemas, masih dengan memandangi foto Ayu. Foto Ayu yang sedang berfose seksi dengan pakaian setengah telanjangnyalah sebagai pemuas birahi Madar.
"Aku harus memilikimu! Aku akan membunuh Ucok. Aku tidak peduli kalau kamu akan hidup atau mati dengan kematian Ucok. Bagiku kau tidak akan dimiliki siapa pun selain aku." Batin Madar kembali mencium foto Ayu dan tertidur dengan memeluk foto.
Keesokan pagi ....
Madar benar-benar menepati janjinya, dengan masuk kerja jam 07.00 WIB. Ia mulai bekerja di kelompok Dylan, Madar begitu sigap, tekun dan terampil melakukan semua pekerjaannya. Ia benar-benar lihai memainkan semua triknya agar mendapatkan kepercayaan Dylan dan kelompoknya.
Madar terus mengamati segala gerak-gerik Dylan dan kebiasaannya.
Madar laksana psikopat berdarah dingin.
Ia terus saja mengintai Dylan dan Lili, mengikuti seperti kuman, tanpa disadari oleh Dylan dan Lili.
Dylan dan Lili begitu naif mereka selalu berpikir Puak tempat yang damai, aman dan sentosa, mereka tidak pernah menyadari Puak adalah sarangnya narkoba dari Puaklah para pengedar mendapatkan narkoba sejenis sabu.
Madar dan Rawin melakukan transaksi di tengah lautan, bersama negara tetangga B, " Mengapa para pengantar barang bukan Tuan Decha?" tanya Madar di dalam bahasa Inggris.
"Tuan Decha lagi pergi bersama Tuan Chai. Kamilah yang mengantarkan pesanan." Jawab salah satu pria di dalam bahasa Inggris juga.
Tanpa banyak bicara lagi mereka melakukan transaksi. Madar dan Rawin memeriksa keaslian barang haram tersebut dengan menjilatnya. Keduanya saling menganggukkan kepala, " Semua murni." Jawab Madar. Akan tetapi mata Madar melihat kejanggalan pada anak buah Tuan Decha, ia merasa mereka bukan anak buah Tuan Decha, melainkan para intel kedua negara Indonesia dan B, yang sedang berkerja sama menumpas gembong narkoba. Akhirnya baku tembak pun terjadi di antara dua kubu. Kelompok Madar dan Rawin berhasil mengalahkan lawan mereka, hingga tidak tersisa seorang pun. Madar dan Rawin menenggelamkan kapal milik intel yang sedang menyamar.
Madar dan Rawin membawa hasil transaksi gagal mereka. Namun, sayangnya saat mereka memeriksa ulang. Hanya ada satu kilo gram sabu yang murni sisanya hanyalah barang tiruan.
Mereka membuang ke tengah laut semua barang tiruan, hanya membawa satu kilo gram yang asli.
"Sial! kita harus lebih waspada lagi. Bulan depan, kita harus merubah rute transaksi." Ucap Rawin.
"Sebaiknya kita gunakan pantai bagian utara saja." Balas Madar dan disetujui Rawin.
"Bagaimana urusan si Ucok?. Apakah sudah kamu lakukan? " tanya Rawin lagi menyusuri lorong panjang gua.
" Masih aku lakukan, aku sudah bekerja di perkebunan." Balas Madar dingin.
Akhirnya Rawin dan para centengnya pulang meninggalkan Madar seorang diri.
Ia melampiaskankan kekesalanya dengan melakukan adegan mesum bersama foto Ayu, Madar memiliki kelainan seksual.
Keesokan harinya ....
Seperti biasa, Madar masih bekerja bersama Dylan dan kelompoknya. Sepulang dari bekerja, ia melihat Ayu di pinggir hutan akasia. Madar mengikuti ke mana arah langkah kaki Ayu. Pakaian Ayu yang teramat seksi sudah membuat Madar pusing tujuh keliling. Ia terus mengikuti Ayu, hingga ia melihat Ayu mengetuk pintu rumah Mbah Karyo si dukun santet bin pelet.
"Apa yang dilakukan Ayu di rumah si dukun?" batin Madar.
Ia merubah posisi intaiannya, agar mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Madar mengendap-endap lebih mendekat, hingga ia dengan jelas mendengar pembicaraan Ayu bersama si cebol.
" Mbah Karyonya sudah pulang?" tanya Ayu.
" Belum, kemungkinan lusa. Kamu datang saja lagi lusa." balas si cebol.
"Baiklah, bila si Mbah sudah pulang, katakan kalau aku Ayu anaknya Tuan Rawin ada perlu dan aku akan datang kemari lagi." Ucap Ayu dengan congkaknya.
"Ada perlu apa si Ayu dengam Mbah Karyo? " batinnya. Madar mendahului Ayu dan memasang jebakan, dengan membuat kawat tipis melintang memotong jalan setinggi pergelangan kaki. Ia menunggu mangsanya dengan sabar, seperti harimau menantikan rusa.
Brrukk!
"Aduh, sialan! Kakiku .... " ucap Ayu merintih memegang pergelangan kakinya yang terluka.
Bersambung ....
Terima kasih jangan lupa like, comen, dan vote-nya 😘😘
menarik