Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Preambule dari Spesies Langka
Ruang Makan Keluarga Myltom
Meja makan keluarga Myltom selalu terlalu panjang untuk percakapan yang jujur. Kayu mahoni mengilap itu dirawat seperti pusaka—dipoles, diselimuti taplak bersih, dan hanya dipakai untuk pembicaraan yang dianggap “penting”. Malam ini, seluruh kursinya terisi.
Tafana Alegrisa Myltom duduk di ujung meja, punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia mengenakan gaun rumah warna gading yang terlalu sopan untuk acara makan malam biasa. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya tenang, nyaris khidmat.
Jika ada kamera, inilah momen pembuka drama keluarga kelas atas: sunyi yang terlalu disengaja.
Ayahnya berdeham.
“Mama dan Papa sudah memikirkan ini matang-matang,” kata lelaki itu, dengan nada yang selalu digunakan saat membicarakan keputusan yang, entah bagaimana, tidak pernah melibatkan Tafana. “Besok sore, kita akan bertemu keluarga Arvana.”
Tafana mengangkat alis tipis. Tidak kaget. Hanya… siap.
Ibunya menambahkan, “Mereka ingin pembicaraan serius. Tentang masa depan.”
Masa depan. Kata yang fleksibel. Bisa berarti pendidikan. Bisa berarti warisan. Bisa juga berarti hidup orang lain yang akan diputuskan sambil menyuap sup bening.
Tafana mengangguk pelan. “Baik,” katanya sopan.
Dalam kepalanya, ia mencatat:
Masa depan rupanya dijadwalkan. Jam sekian, hari sekian. Lengkap dengan menu makan malam.
Adiknya menatapnya dengan mata membulat, setengah iba, setengah penasaran. Tafana membalas dengan senyum kecil yang tenang—senyum orang yang sudah tahu dirinya akan jadi tokoh utama, tapi belum tahu genre apa yang akan ia mainkan.
Ayahnya melanjutkan, kali ini lebih pelan, seolah kata-kata berikutnya rapuh dan bisa pecah jika diucapkan terlalu keras.
“Keluarga Arvana tertarik membahas… penjajakan lebih jauh.”
Penjajakan. Kata yang biasanya dipakai untuk wilayah baru, bukan hidup seseorang.
Tafana tetap diam. Ia menunggu. Pengalamannya mengajarkan: kalimat terakhir selalu yang paling menentukan.
Ibunya akhirnya berkata, dengan suara yang nyaris lembut, “Mereka mempertimbangkan kamu sebagai calon istri untuk putra mereka.”
Nah. Itu dia.
Jika ini drama Cina, sekarang seharusnya ada sendok jatuh ke lantai atau musik gesek menggelegar. Tapi di rumah Myltom, segalanya terlalu beradab untuk kekacauan teatrikal. Tidak ada yang menjatuhkan apa pun. Bahkan udara pun seolah menjaga sopan santun.
Tafana menelan ludah. Bukan karena terkejut, melainkan karena otaknya mulai bekerja terlalu cepat.
Putra keluarga Arvana. Kaya. Terhormat. Dingin. Profil klasik lelaki yang, menurut masyarakat, pantas untuk perempuan sepertinya.
Ia mengangguk sekali lagi.
“Besok jam berapa?” tanyanya.
Ibunya tampak lega. Ayahnya tersenyum tipis, senyum kemenangan kecil yang tidak disadari sebagai tekanan.
“Pukul enam,” jawab ayahnya. “Di restoran keluarga mereka.”
Tafana menghela napas pelan.
Baiklah, pikirnya.
Kalau hidup mau menjadikanku bagian dari proposal bisnis, setidaknya aku akan datang tepat waktu.
Ia berdiri, merapikan gaunnya.
“Kalau begitu,” katanya dengan nada datar yang nyaris manis, “aku akan memastikan besok aku terlihat seperti seseorang yang siap didiskusikan.”
Adiknya tersedak air minum.
Ibunya menatap Tafana dengan kening berkerut. “Maksudmu?”
Tafana tersenyum sopan—senyum perempuan berpendidikan yang tahu persis bagaimana terdengar patuh tanpa benar-benar menyerahkan diri.
“Nggak apa-apa, Ma,” katanya. “Aku mengerti. Kita semua cuma ingin yang terbaik. Lagipula… belum tentu aku cocok.”
Ia melangkah pergi dari ruang makan, meninggalkan orang tuanya dengan kelegaan setengah matang.
Di dalam kamarnya, Tafana menutup pintu, bersandar sebentar, lalu menghela napas panjang.
“Baik,” gumamnya pada diri sendiri.
“Besok aku akan bertemu masa depanku. Mudah-mudahan dia nggak terlalu membosankan. Atau setidaknya… nggak terlalu yakin bahwa dirinya pusat semesta.”
Ia mengambil buku catatan dari laci.
Di halaman pertama, ia menulis rapi:
Catatan Harian Tafana Alegrisa Myltom
"Hari ini orang tuaku mengabarkan bahwa masa depanku sudah memiliki jadwal temu.
Aku belum tahu apakah ini kisah cinta, transaksi sosial, atau lelucon kosmik yang terlalu rapi untuk ditertawakan."
Dan di situlah, tanpa disadari siapa pun, kisah ini benar-benar dimulai.
-oOo-
Le Grande, Restoran Keluarga Arvana
Restoran Le Grande tidak berisik. Tempat yang terlalu eksklusif untuk kegaduhan. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat yang terasa seperti upaya keras untuk membuat semua orang tampak lebih ramah dari aslinya. Musik klasik mengalun pelan, cukup lirih untuk tidak mengganggu pembicaraan penting—atau keputusan hidup.
Tafana duduk tegak di kursinya, berhadapan dengan seorang lelaki yang, sejak lima menit lalu, belum menunjukkan satu pun ekspresi yang bisa dikategorikan sebagai gugup.
Namanya Ravindra Arvana.
Ia mengenakan setelan abu-abu gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Rambutnya rapi, wajahnya tenang, dan matanya—mata orang yang terbiasa memandang laporan keuangan tanpa berkedip.
Jika Tafana harus memberi penilaian cepat, lelaki ini tampak seperti seseorang yang tidak pernah mengambil keputusan emosional tanpa tabel perbandingan.
Ayah dan ibu mereka duduk berseberangan, berbincang ringan tentang bisnis keluarga, yayasan sosial, dan cuaca—topik-topik aman yang berfungsi sebagai pembuka sebelum inti pembicaraan dikeluarkan.
Ravindra akhirnya menoleh pada Tafana.
“Senang bertemu dengan Anda, Nona Tafana,” katanya, suaranya datar tapi sopan. “Saya sudah membaca profil singkat Anda.”
Profil singkat.
Tafana tersenyum tipis. “Saya tidak tahu hidup saya sudah diringkas,” balasnya halus.
Ravindra mengangguk kecil, seolah menerima koreksi minor dalam rapat. “Ringkasan selalu tidak lengkap. Tapi cukup untuk gambaran awal.”
Ah. Tentu saja. Tavana mengulas seringai tipis.
Ibunya Tafana tersenyum lebar, senyum orang tua yang merasa pertemuan ini berjalan sesuai rencana. “Kalian bisa berbincang berdua. Kami tunggu di meja sebelah.”
Dan seperti adegan yang sudah disepakati sebelumnya, para orang tua berdiri dan menjauh, meninggalkan Tafana dan Ravindra dalam jarak aman. Cukup dekat untuk dinilai, cukup jauh untuk tidak terdengar.
Beberapa detik hening menyusul.
Ravindra memecahkannya lebih dulu.
“Saya akan langsung ke inti, jika Anda tidak keberatan,” katanya.
Tafana mengangguk. “Silakan. Saya menghargai efisiensi.”
Ravindra tampak sedikit… lega. “Baik. Dari sudut pandang saya, pertemuan ini bertujuan untuk menjajaki kemungkinan pernikahan yang saling menguntungkan.”
Tafana mengedip sekali.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada metafora. Langsung ke proposal.
“Pernikahan,” lanjut Ravindra, “bisa menjadi kerja sama jangka panjang. Dengan pembagian peran yang jelas, komunikasi yang terbuka, dan kesepakatan sejak awal.”
Tafana menyandarkan punggungnya, menatap lelaki di depannya dengan ketertarikan baru. Bukan ketertarikan romantis, lebih seperti rasa ingin tahu pada spesies langka.
“Menarik,” katanya. “Biasanya orang menyebutnya komitmen.”
Ravindra mengangguk. “Komitmen adalah bagian dari kerja sama.”
Tafana menahan senyum. Tentu saja.
Ravindra melanjutkan, suaranya tetap tenang, nyaris tanpa emosi berlebih. “Saya tidak akan berpura-pura menawarkan cinta. Saya tidak mengenal Anda cukup jauh untuk itu. Namun, jika pernikahan ini terjadi, saya berkomitmen untuk bersikap adil, menghormati batas pribadi Anda, dan tidak menuntut hal-hal di luar kesepakatan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, seolah ini poin penting dalam kontrak:
“Saya terbiasa bekerja dalam tim. Dan saya percaya, pernikahan—dalam konteks ini—tidak jauh berbeda.”
Tafana menatap gelas air di depannya, lalu kembali menatap Ravindra.
“Jadi,” katanya pelan, “Anda mengajak saya menikah seperti mengajak rekan kerja baru?”
Ravindra tidak tersinggung. Ia malah mengangguk.
“Kurang lebih begitu.”
Kejujuran yang dingin. Tidak berusaha memikat. Tidak menjual mimpi.
Anehnya, Tafana tidak merasa tersinggung.
Ia menarik napas, lalu berkata, dengan nada yang tetap sopan namun mengandung ujung tajam, “Baiklah. Kalau begitu, izinkan saya bertanya. Dalam kerja sama ini… apa ekspektasi Anda terhadap saya?”
Ravindra berpikir sejenak. “Profesionalitas. Diskresi. Dan kesediaan untuk menjalankan peran di hadapan publik.”
“Oh,” Tafana tersenyum kecil. “Akting.”
“Jika Anda ingin menyebutnya demikian,” jawab Ravindra. “Saya lebih suka istilah representasi."
Tafana tertawa pelan—sekilas saja—lalu mengangguk. “Saya rasa saya bisa melakukan itu.”
Ia berhenti, lalu menambahkan, dengan nada ringan tapi bermakna, “Selama saya juga dihargai dan diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar posisi.”
Ravindra menatapnya lurus. “Itu sudah termasuk dalam kesepakatan.”
Di kejauhan, orang tua mereka saling bertukar pandang puas.
Tafana menyandarkan punggungnya lagi, kali ini dengan perasaan yang aneh. Bukan jatuh cinta, bukan takut.
Lebih seperti… aman.
Baiklah, pikirnya.
Jika ini kerja sama, setidaknya aku tahu aturannya sejak awal.
Dan tanpa ia sadari, keputusan paling rasional dalam hidupnya baru saja diletakkan di atas meja makan, di antara piring porselen dan janji-janji yang terlalu rapi untuk disebut perasaan.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅