Bagaimana jadinya kalau sad boy bertemu dengan sad girl.
Disarankan membaca Dosenku Suamiku dulu biar feel-nya dapat. Novel ini merupakan squel dari Dosenku suamiku.
"Sayang..... jangan bobo dulu aku mau lagi." ~ Zidane
"Apaan sih Bang, tinggal comot aja langsung."~ Anna
"We....asyik...."~Zidan
"Abaaang.... gubrak"~Anna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darren junior
Hari ini Anna dan Zidan aktifitas seperti biasanya. Anna pergi kuliah dan Zidan pergi ke kantor. Setelah kemarin bertemu dengan Dosen pembimbing nya Anna cukup sibuk melakukan bimbingan dan beberapa revisi yang masih belum di terima.
Zidan mengantar Anna terlebih dahulu ke kampusnya lalu kemudian baru dirinya ke kantor. Sebenarnya Anna berniat berangkat sendiri saja namun suaminya itu sangat manis dan perhatian.
"Hai Nay, masih masuk?" Sapa Anna ketika sampai di kampusnya langsung bertemu Naya.
"Masih dong, HPL masih aman dari pada di rumah nggak ngapa-ngapain mending kan ngampus sekalian cari buku di perpus."
"Istri pak Dosen mantap, rajin banget."
"Harus dong, nggak ada kompensasi nilai soalnya. Lo kan tahu sendiri suami gue orangnya gimana? nggak ada tawar-menawar masalah nilai, salah ya salah dia cuma bantuin gue belajar."
"Iya sih hafal gue mah, tapi tetep aja tenang kan bisa bimbingan suka-suka di manapun anda berada. Mungkin kalau di atas ranjang beda Nay, kompensasi nilainya gede."
"Uluh sama aja nggak ngaruh," ujar Naya lalu.
"Emang udah di coba ya?" tanyanya kepo.
"Belum maksimal, guenya yang males entar ujung-ujungnya senjata makan tuan. Bubrah kacau udah belajar nggak konsen di buat capek iya."
"Kalau lo gimana udah sampai mana petualangan lo sama suami?"
"Hah! maksudnya? kok jadi gue sih. Perasaan kita lagi bahas proposal deh."
"Eh gila si Tomi kemarin udah seminar proposal loh. Ternyata dia encer juga."
"Yuhu... dia kan emang aslinya pinter, cuman ya gitu kadang loading. Perasaan pertanyaan gue bukan itu deh tadi sampai hubungan lo sama suami? jawab dong bu, kepo nih malam pertama kalian." ckckck....
"Nggak lucu Nay, jangan bahas gituan ah nggak seru." Kilahnya mencoba mangkir.
"Eh tapi jangan salah sangka dulu, gue kepo kaya gini sebagai Sahabat lo yah nggak ada hubungannya sama Zidan."
"Iya tahu, dia nggak pernah nyinggung masa lalu kok. Cuma gue heran cowok itu manja banget aslinya."
"Manja gimana? di kamar lagi berdua." Tebaknya cepat.
"Ya kalau lagi berdua, ya gitu lah pokoknya suka manja banget."
"Wajar lah, suamiku aja yang lebih dewasa gitu. Asalkan manjanya sama pasangan sendiri tak mengapa, Darren juga gitu tapi lebih manjaan aku sih malah."
"Kok jadi bahas rumah tangga, rempong banget kita yah. Efek jarang kumpul nih jadi gini sekalinya ketemu pinginnya ngomong mulu."
"Coba gih si Vivi di kasih tahu masuk nggak tuh bocah tumben jam segini belum nongol."
"Eh, kok gue rada nggak enak ya perutnya." Naya meringis.
"Jangan bilang lo mau lahiran sekarang?"
"Nggak tahu nih belum begitu mudeng kan baru pertama kalau nyerinya dikit kaya gini termasuk tanda-tanda soal buka."
"Mending ke Dokter aja deh, ayo gue antar."
"Eh, udah nggak sakit beb, iang sakitnya." Naya masih cengengesan.
"Beneran? aman. Ya udah ayok kita ke perpus Vivi lagi otewe."
Mereka berdua berjalan gontai menyusuri koridor menuju gedung yang di sebut perpustakaan. Namun sebelum sampai di tempat yang di tuju Naya tiba-tiba menghentikan langkahnya karena merasa perutnya nyeri lagi.
"Lo kenapa Nay, muka lo kelihatan nggak baik-baik aja."
"Kok gue tambah nyeri ya?" Naya meringis kali ini lebih lama.
"Nggak salah lagi itu tanda-tanda mau lahiran, ayo cepat kita ke rumah sakit telfon suami lo sekarang."
"Tapi bentar-bentar ilang ini, apa ini yang dinamakan kontraksi palsu?" Naya lebih bertanya pada dirinya sendiri.
"Aduh beb lama, sini biar gue yang telfon suami lo?" Sergah Anna nggak sabaran.
Panggilan pertama di abaikan, ke dua masih belum diangkat.
"Kayaknya suami lo lagi ngajar kelas deh, nggak di angkat mulu." Omel Anna sembari menatap layar ponsel sahabatnya.
Hubby calling
"Suami lo Nay, nih." Anna langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pilih itu ke telinga Naya.
"Ada apa sayang, aku lagi kelas nih." Suara Darren dari sebrang.
"Mas aku lagi di depan gedung perpus tapi perut aku sak---"
Tut
Panggilan langsung di tutup secara sepihak sebab sang penerima telefon langsung mengerti arah yang di bicarakan, apalagi terdengar suara Naya merintih menahan sakit.
Darren tergopoh-gopoh menuju gedung perpustakaan dan menemukan Naya yang sedang di papah Anna berjalan menjauh dari perpus.
"Mas sakiit..." Naya meringis sambil menerima uluran tangannya yang bersiap menopang tubuh nya.
"Kamu mau lahiran? ayo sayang bertahan." Darren langsung menggendong istrinya dan membawanya menuju mobilnya terparkir.
"Anna tolong bawa mobilnya Ann, saya duduk di belakang." Titah Darren setengah panik.
"Siap Pak, tancap." Mereka menuju rumah sakit dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun kendati demikian tidak protes asal selamat sampai tujuan memburu cepat.
Begitu sampai di rumah sakit Naya langsung di tangani oleh Dokter dan di bawa ke ruang persalinan. Sementara dirinya masih cemas menunggu di luar dengan sibuk menghubungi orang-orang terdekat.
Ada rasa sedikit takut terbesit melihat Naya yang meringis menahan sakit. Dengan raut muka Pak Darren yang cukup tegang dan khawatir di tambah sampai sore ini bayinya belum juga lahir.
Kontraksi hamil pertama memang kadang lambat dan ini sudah berjalan berjam-jam sedari tadi pagi belum ada tanda-tanda tangisan bayi.
Pak Dahlan dan Mama Alin datang secara bersamaan setengah berlari di Koridor rumah sakit.
"Gimana Ann, Naya udah lahiran?" Kepo Mama Alin cemas.
"Belum Mah, Pak Darren juga masih di dalam belum ngasih kabar."
"Ya Allah semoga di mudahkan dan di lancarkan. Aamiin...."
"Aamiin..."
Setelah menunggu selama berjam-jam, akhirnya selepas isya bayi mungil Pak Darren dan Naya dengan berat 3kg itu lahir ke dunia dengan selamat. Senyum terkembang pun terpancar jelas di wajah cantik yang baru beberapa jam itu menyandang status baru. Ibu muda.
Darren tak henti-hentinya mengucap syukur dengan terus menciumi puncak kepala istrinya. Mereka semua kini tengah berkumpul di ruangan rawat rumah sakit setelah Naya di pindah ke ruang perawatan. Karena dirinya dan bayinya sehat mereka berada dalam satu ruangan.
"Selamat beb udah jadi ibu yang sempurna." Anna menatap haru sahabatnya yang tengah tersenyum itu.
"Makasih Ann, semoga kamu juga cepet nyusul bisa hamil."
Glek
Anna menelan salivanya susah payah. Apalagi ketika Zidan merangkum pundaknya dan mengaminkan perkataan Naya.
"Aamiini dong sayang...." Dengan percaya dirinya Zidan mengelus perut Anna yang masih rata. Anna hanya bisa meringis kaku.
Tangannya Bapak Zidan yang terhormat?
"Aku mau gendong." Tiba-tiba Zidan mendekat dan mengambil Alih bayi mungil dari gendongan Mama Alin.
"Awas anak gue Dan, lo nggak bisa jangan dikasihkan Mama nanti jatuh." Cecar Darren.
"Apasih cerewet banget bang, bisalah pelan-pelan. Aku mau latihan dulu biar besok kalau Anna lahiran aku sudah pinter gendongnya."
"Udah cocok kan sayang, ayo sini Ann kamu gendong ya? aku mau ambil foto kita bertiga."
"Eh kok malah jadi kamu yang heboh sih Dan, anak gue itu. Bikin sendiri kalau mau punya anak." Protes Darren sengit melihat keantusiasan adiknya.
"Lagi proses dulu bang, do'ain aja moga cepet isi istri aku." Jawabnya santai lagi-lagi membuat Anna nyengir sendiri. Ia merasa kasihan melihat Zidan yang sangat bersemangat dengan anak mereka sementara dirinya saja masih belum memberikan haknya.