NovelToon NovelToon
Gairah Sang Janda

Gairah Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Konflik etika / Selingkuh / Romantis / Trauma masa lalu / PSK
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.

Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.

Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Pergi Tanpa Tujuan Pasti

Bab 27

Pergi Tanpa Tujuan Pasti

Lyra mengerjapkan matanya pelan. Tubuhnya serasa remuk oleh percintaannya tadi malam. Ia menoleh ke samping, Dika sudah tidak berada di tempatnya.

"Sudah bangun?"

Dika masuk ke kamar dengan membawa sebuah nampan berisi segelas susu hangat dan sarapan pagi Lyra.

"Mas..."

Lyra perlahan bersandar pada dipan, tak sanggup bangun karena pinggang serasa patah.

"Hehehe, Mas suka tadi malam sayang. Kamu... begitu hebat dan menggairahkan sampai Mas ingin lagi dan lagi."

Lyra tersipu malu. Tapi dengan cepat ia sadar, bahwa ia harus segera menghentikan perasaannya karena sudah berjanji, malam tadi adalah malam perpisahannya tanpa Dika sadari.

"Mas mau pergi kerja?"

"Iya sayang." Dika mencium kening Lyra dengan lembut. Dan itu mendebarkan hati Lyra yang harus ia kubur dalam-dalam. Karena kecupan itu tidak seharusnya dimiliki olehnya. "Sepulang kerja, Mas mau langsung menjemput Ibu. Kamu baik-baik di rumah ya? Lusa Mas sudah pulang lagi sama Ibu. Dan ingat, angkat telepon Mas."

"Iya Mas."

Dika mencium pipi Lyra sebelum berangkat pagi itu. Hal yang sudah biasa ia lakukan, tetapi bagi Lyra itu merupakan tanda perpisahan akhir yang tak terucap olehnya.

Lyra menatap sendu kepergian Dika yang menutup pintu rumah rapat-rapat, mencoba merelakan yang bukan miliknya, dan perlahan menghapus kenangan kebersamaan mereka.

Air matanya jatuh di pipi. Sakit memang sakit. Sulit pasti sulit. Dan menyesakkan dada. Padahal ia begitu cinta dan tahu, Dika pun mencintai dirinya. Tapi Lyra bukan wanita yang ingin menghancurkan kebahagian orang lain, apalagi sebuah rumah tangga. Ia sudah termakan buaian manis, yang berbungkus kebohongan di awal. Yang akhirnya harus di lepas dengan luka dan kekecewaan.

Dari sini Lyra berlajar, pentingnya untuk mencari tahu lebih detail latar belakang seseorang agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Karena jika berurusan dengan hati dan kecewa, dunia seakan- akan hancur saat itu juga.

Lyra perlahan beranjak bangun setelah memastikan suara mobil Dika semakin menjauh. Lalu masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri.

Jejak-jejak yang Dika tinggalkan terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya. Lyra menyentuhnya dengan pelan seraya memejamkan mata, seolah-olah bibir Dika masih terasa kulitnya.

Mata Lyra terbuka. Genangan air mata kembali membanjiri pelupuk matanya. Lyra menangis tersedu-sedu, menumpahkan semua emosi yang menumpuk di dada.

-

-

-

Matanya sembab, tetapi tidak menutupi wajah cantiknya, dengan langkah pelan Lyra turun dari sebuah taksi online yang mengantarkannya ke bandara. kini sudah berada di bandara.

Bandara cukup ramai hari itu. Suara riuh rendah pengumuman, langkah kaki tergesa-gesa, dan deru mesin pesawat bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang kontras dengan kekacauan dalam hatinya. Hanya sebuah tas besar berisi pakaian dan beberapa barang berharga, serta satu tas selempang kecil berisi dompet dan ponsel, Lyra menyeret langkahnya menuju check-in counter dan menunjukkan tiket yang sudah ia beli secara online. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa beban masa lalu yang ingin ia tinggalkan.

Jantung Lyra berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Meski bukan kali pertamanya ia berpindah kota, kali ini terasa berbeda. Dulu, ia pergi dengan harapan dan impian. Namun kini ia pergi dengan luka dan ketakutan.

Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Tunjukkan jalan yang terbaik untukku, batin Lyra, mencoba menguatkan hatinya sendiri sambil menggenggam erat tas selempangnya.

Dulu, Lyra pernah pergi meninggalkan pulau Sumatera, kampung halamannya, mencari kehidupan yang lebih baik. Lalu, kini ia meninggalkan Sulawesi dan menuju pulau Jawa, melarikan diri dari masa lalu yang menghantuinya. Ia merasa seperti burung yang patah sayap, terbang tanpa arah dan tujuan pasti.

Lyra duduk sebentar di kursi tunggu. Ia teringat harus mengganti sim cardnya sebelum pergi. Namun sebelum ia mengganti dengan yang baru, Lyra mengirimkan pesan kepada Novia sesuai janjinya terlebih dahulu.

Assalamualaikum, Mbak. Ini saya Lyra. Saya sudah di bandara sekarang dan bersiap untuk pergi. Setelah ini, nomor kontak ini akan saya buang. Sekali lagi, maafkan saya karena telah merusak rumah tangga Mbak.Dan terima kasih, masih memperlakukan saya sebagai sesama wanita. Saya pamit. Wassalam.

Begitu pesan sudah di kirim, Lyra membuang sim card yang sudah 4 tahun ini ia gunakan. Mengganti sim card baru tanpa seorang pun yang tahu. Ia benar-benar ingin mengubur masa lalu yang kelam, dan melangkah pada masa depan baru meski tak tahu, bagaimana perjalanan hidupnya nanti.

"Permisi, Mbak Lyra kan?" Sebuah suara tiba-tiba memecah lamunannya.

"Eh!" Lyra tersentak, menoleh pada pemilik suara. Cukup terkejut karena ada yang mengenalinya di bandara ini, di tempat yang seharusnya menjadi awal dari kehidupan barunya. "Siapa ya?" tanyanya, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Saya anaknya Bu Murti, pemilik warung dekat pertigaan itu," jawab pemuda itu dengan senyum ramah.

Lyra mencoba mengingat-ingat. Ah, ya, Bu Murti. Ibu warung yang sering ia kunjungi untuk membeli sarapan. Lyra baru ingat, Bu Murti punya anak remaja laki-laki dulu. Dan remaja itu kini menjelma menjadi seorang pemuda tampan yang mungkin saja sudah bekerja di bandara ini, dilihat dari seragam yang lelaki itu gunakan.

"Iya, saya ingat. Kerja di sini ya?" tanya Lyra, mencoba bersikap biasa.

"Iya, Mbak. Belum lama sih, baru satu bulan. Mbak mau bepergian ya?" tanya pemuda itu, matanya menelisik ke arah tas besar yang dibawa Lyra.

"Iya, pengen jalan-jalan," kilah Lyra, terpaksa berbohong. Ia tidak ingin pemuda itu tahu bahwa ia sedang melarikan diri. "Maaf, saya nggak bisa lama-lama, mau masuk pesawat soalnya," ucapnya, mencoba mengakhiri percakapan.

"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan," ucap pemuda itu dengan tulus.

"Aamiin. Makasih ya," jawab Lyra, menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. Ia merasa bersalah karena telah berbohong pada pemuda itu.

Lyra buru-buru melangkah menuju pintu masuk pesawat yang sudah menunggu para penumpangnya. Namun, langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya. Sebenarnya, ada perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya karena ada yang melihatnya di bandara ini. Ia takut jika tiba-tiba Dika datang mencarinya, meskipun itu hanya pikiran panik yang menghantuinya. Ia menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran buruk itu. Tidak mungkin Dika tahu, lelaki itu sedang dalam perjalanan jauh menjemput ibunya.

Namun, semakin ia mencoba mengusir rasa takutnya, semakin kuat pula perasaan itu mencengkeram hatinya. Ia merasa seperti sedang diawasi, seperti ada sepasang mata yang mengintainya dari kejauhan. Lyra mempercepat langkahnya, berharap bisa segera masuk ke dalam pesawat dan menjauh dari semua ketakutan ini.

Saat ia melewati pintu pemeriksaan terakhir, ia menoleh ke belakang, mencoba mencari tahu apakah ada seseorang yang mengikutinya. Namun, bandara terlihat ramai dan penuh sesak, sulit untuk membedakan mana yang hanya penumpang biasa dan mana yang mungkin saja sedang mengawasinya.

Lyra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia harus percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Ia harus percaya bahwa Allah akan melindunginya dan memberinya kekuatan untuk menghadapi masa depan. Tak ada sanak saudara, dan juga sahabat. Hanya mengandalkan tekad dan berserah dirinya kepada-Nya.

Lyra memasuki pesawat, mencari tempat duduknya dan meletakkan tasnya di cabin. Saat pesawat mulai bergerak dan lepas landas, Lyra memejamkan matanya dan membiarkan air mata mengalir di pipinya. Entah itu mata kesedihan, air mata ketakutan, atau air mata harapan, semua tercampur menjadi satu. Dan Lyra tidak tahu, mana yang lebih dominan. Perasaan itu masih ada, tapi menyesakkan dalam hati. Ia tidak tahu apa yang menantinya di pulau Jawa. Namun ia tetap harus kuat untuk menghadapi semuanya. Ia akan memulai hidup baru, ia akan menjadi wanita yang lebih baik, dan ia akan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.

Lyra menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi, lalu menatap keluar jendela. Bandara terlihat semakin mengecil dari atas sana, seolah meninggalkan jejak masa lalunya di bawah sana. Dalam hati, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, "Ya Allah, bimbinglah hamba-Mu ini. Berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti ini. Semoga Engkau selalu melindungi dan menuntun hamba ke jalan yang Engkau ridhai."

-

-

-

Bersambung...

NOTES : Minta like nya dong 🥺

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa ini awal lyra akan bertemu orang lama itu?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
padahal yg nyampurin justru manager gelok ituu
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa semua yg dekat dgn lyra bakal dipecat?
Author.N.
buruan laporin aja sama pemilik cafe ga sih, biar dia yang dipecat
Author.N.
Huff malah pada dipecat. Ga beres itu si boss.
Author.N.
semoga yg ini baik
Author.N.
Yang kontainer yang bisa menyembuhkan otak dika 🤣😆
Author.N.
harusnya malah bikin kamu sampai muntah paku sih Dik 🤣
Author.N.
Katakan prett katakan prettt
Author.N.
Ga ada rasa bersalah yang tulus sih kayaknya. otaknya dah tercemar 😅 Semoga Novia ga mau sama kamu lagi Dika
Author abal-abal
serem banget si Hardi ini🙈 menyalahgunakan kekuasaan. moga aja Tar dia yg di pecat sama pemilik cafe nya 😂
Author.N.
good emang harus ditolak dari awal klo dia dah punya anak mah.
Author.N.
modus nihhh
Author.N.
eh gimana pak? apa maksudnya ini 😅
🏘⃝Aⁿᵘ🍒⃞⃟🦅♉🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Kᵝ⃟ᴸ➢‮
semoga Hardi gak menahan lyra dengan aturan palsu saat mengundurkan diri
🏘⃝Aⁿᵘ🍒⃞⃟🦅♉🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Kᵝ⃟ᴸ➢‮
gila gila si Hardi.. Udah punya anak istri posesif Nya sama lyra 😄
🏘⃝Aⁿᵘ🍒⃞⃟🦅♉🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Kᵝ⃟ᴸ➢‮
Mknya jgn serakah Dika..mau beristri dua jadi jablai kan/Casual/
🏘⃝Aⁿᵘ🍒⃞⃟🦅♉🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Kᵝ⃟ᴸ➢‮
Bagus lyra..tegas biar Hardi gak sok ngatur kamu
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
bagus ly, biar sadar itu orang 😂
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
yg ada di bejekk istrinya iya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!