"Rena....,Aku mau minta maaf sebelumnya,tapi jujur ini juga berat untuk aku,tapi aku juga harus jujur sama kamu".
Rena tak memandang curiga saat suaminya berkata seperti itu,tapi setelahnya ucapan kejujuran dari suaminya seperti pisau tajam yang menusuk hatinya.
"Aku mencintai wanita lain yang kutemui 6 bulan terakhir ini,Dia bukan hanya cantik tapi juga pintar memasak,semua yang ada didiri wanita itu aku sangat menyukainya".
Rena diam membeku,tapi Ia juga ingin tau apa yang menjadi alasan suaminya bisa mencintai wanita lain padahal ada istri yang sudah Ia nikahi lebih dari 10 tahun.
"Kenapa Mas...?,Kenapa harus ada wanita lain yang Mas cintai".
"Aku sudah tidak cinta sama kamu Rena,Kamu berubah,Kamu tidak lagi menarik dimataku,Kamu juga selalu mementingkan anak-anak daripada aku suamimu".
Rena kembali diam,Ia ingin meledak tapi teringat ada 2 anaknya yang harus Ia jaga mentalnya.
"Baiklah Mas....,terus apa maumu kalau sudah seperti ini?Kamu mau pisah?".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiwit Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Terpuruk
Direstoran yang berada didalam Mall menjadi pilihan Rena untuk bertemu dengan Agen Property,Ia menunggu dalam diam sambil mengawasi Aluna yang sedang bermain dengan Adrian.
Ada rasa tak enak hati karena Ia menambah pekerjaan Adrian, tapi melihat Aluna yang bahagia saat ada orang yang menemaninya bermain membuat Rena memilih ide lain untuk Adrian.
Rena berencana menambah bonus tambahan untuk Adrian asal disaat-saat tertentu mau menemani Aluna dan juga Axel.
Karena setelah rumah terjual dan memiliki tempat tinggal baru,Bukan tak mungkin Rena akan sibuk bekerja.
Saat Rena sibuk dengan pikirannya,Orang yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Halo selamat siang Bu Rena....,Maaf harus mempercepat jadwal pertemuan kita,Apa berkas sudah dibawa semuanya?Kalau sudah saya bisa mulai iklankan hari ini",sapa wanita bernama Bu Sarah dan juga laki-laki bernama Pak Ibnu.
Rena mengeluarkan dokumen salinan rumahnya sebagai data bahwa rumah itu adalah miliknya yang sah,dan beberapa dukumen lain yang menyatakan bahwa rumah itu sah hak milik dan juga dilandasi dengan pajak yang rutin Ia bayar.
Bahkan setiap sudut rumahnya juga sudah Rena abadikan dengan hasil jepretan kamera dan juga beberapa Video pendek yang sengaja Ia persiapkan
Rena memang sedetail itu karena ingin rumahnya segera terjual,Bukan hanya karena Ia membutuhkan uang tapi juga karena tak ingin lagi diganggu oleh Dion dan Cika
Bu Sarah dan Pak Ibnu takjub dengan segala yang sudah Rena persiapkan,Mereka begitu yakin bahwa Rumah itu akan segera terjual dalam waktu dekat.
"Bu Rena....,Saya akan segera memberi kabar jika ada kabar baik nantinya,Bu Rena persiapkan diri aja untuk mulai berkemas,Harga yang Ibu tawarkan cukup masuk akal dengan rumah sebesar itu,Saya yakin dalam beberapa minggu kedepan rumah itu akan ada yang membeli".
Rena sangat bahagia mendengarnya,Ia semakin yakin jalan kedepannya akan terus dipermudah dengan banyak hal baik yang mulai datang pada kehidupannya.
Bu Sarah dan Pak Ibnu yang masih memiliki janji temu membuat mereka harus pamit undur diri.
"Terimakasih Bu sarah dan Pak Ibnu atas waktunya,Saya harap semua diberi kelancaran dan kabar baik dengan segera".
Rena berjabat tangan dan mengakhiri pertemuan singkat mereka.
Rena kembali duduk dan tersadar bahwa jam makan siang telah tiba.
Rena melambaikan tangannya pada Aluna dan juga Adrian yang masik asik bermain,tak lama mereka datang dengan keringat Aluna yang bercucuran.
"Ya Ampun Aluna...,Kamu main apa sampai keringetan begini,Kasian dong Om Adrian...,lihat tuh Om Adrian capek banget",omel Rena sambil mengusap keringet anaknya dengan tissue.
"Aluna main semuanya Bu....,Aluna laper Bu mau makan".
Rena sibuk membuka buku menu begitu juga Adrian,Adrian tak malu-malu lagi menunjukkan jati dirinya karena Ia memang sangatlah lapar.
Rena memanggil pelayan untuk memesan makanan,Ia memesan untuk dirinya sendiri dan juga untuk Aluna,begitu juga Adrian yang memesan makanan yang sangat Ia inginkan,Ia tak peduli jika Bu Rena akan mengomel yang penting perutnya keisi.
Rena cukup terkejut dengan pesanan yang Adrian sebutkan,tapi Ia hanya bisa menyimpannya dalam hati,Ia anggap Adrian sangat kelelahan karena bermain dengan Aluna yang menyita banyak energi tubuhnya.
Saat Mereka sedang menunggu makanan,Dari kejauhan Cika tersenyum sinis dengan apa yang Ia lihat.
Cika diam-diam membuka ponselnya dan mengambil beberapa foto,Ia akan gunakan itu untuk mengembalikan keadaan.
Namun saat Cika hendak menelpon Dion,Ponselnya lebih dulu berbunyi dan Cika sangat bahagia saat tau Dion yang menelpon.
"Halo Mas....,Mas tau aja sih aku mau telpon,Aku punya kabar baik Mas....,Aku sedang melihat Rena dengan seorang pria sedang makan siang bersama,Diam-diam aku memgambil foto kebersamaan mereka,Rencananya aku mau gunakan foto itu untuk mengembalikan keadaan,perselingkuhan kita terjadi karena Rena lebih dulu selingkuh,itu artinya perceraian Mas sama Rena akan memakan waktu yang lama dan karena itu juga kita bisa terus mengganggu Rena dan kedua anaknya,Aku nggak rela Mas dia hidup baik-baik aia sedangkan kita seperti ini,Aku mau dia gila Mas...,Kalau perlu depresi biar mati sekalian,Kalau Rena mati kan rumah itu buat anak-anaknya dan itu artinya Mas sebagai Ayahnya bisa tinggal disana begitu pula aku istrimu Mas...,Gimana?Bagus kan ideku?".
Tapi Dion yang sudah kepalang marah dengan tindakan Cika yang keterlaluan membuat Dion murka dibalik ponselnya.
"CIKA!!!,kamu apakan kartu kreditku?,Bisa nggak sih kalau mau apa-apa tuh bilang!!Sekarang aku lagi pusing dengan jabatan yang hilang tapi perbuatanmu semakin bikin aku pusing,bisa nggak sih jangan bikin masalah,sekarang balikin kartu kreditku dan pulang secepatnya!!".
Cika begitu terkejut dengan kemarahan Dion,Tapi Cika tak ambil pusing karena tangannya sudah penuh dengan banyak belanjaan.
Cika akhirnya memilih pulang menaiki Taxi,Ia bersenandung ria tanpa peduli dengan yang sedang Dion rasakan.
Namun saat baru menginjakkan kaki dirumah,Ibunya menyeret Cika kekamarnya.
"Ada apa sih Bu....?,Aku capek tau...",umpat Cika kesal.
Bu Ratih membuka beberapa paperbag isi belanjaan yang dibeli Cika,Ia marah dan kesal dengan kelakuan anaknya.
"Ya Ampun Cika......,Kamu ngapain belanja sebanyak ini?,Seharusnya yang kamu pikirkan itu bagaimana caranya biar kamu sama Dion segera menikah!!Ibu malu Cika,Ibu malu jika tetangga tau kamu hamil,Perutmu akan semakin besar dan Ibu nggak mau saat itu terjadi kamu belum menikah sama Dion,Seharusnya kamu pikirkan itu Cika!!,Pikirkan nama baik Ibu!!".
Cika bukannya sadar justru lebih emosi menatap Ibunya.
"Sudahlah Bu....,Mas Dion pasti sedang mempersiapkan semuanya,Aku nggak mau asal nikah Bu,Aku mau nikahan yang mewah biar Ibu juga senang anaknya dibahagiakan,lebih baik Ibu diam agar Mas Dion nggak risih tinggal dirumah ini,Apalagi Mas Dion juga sedang memperjuangkan uang yang masih dipegang mantan istrinya,Jadi Ibu sabar aja pasti dalam bulan-bulan ini semuanya akan terwujud".
Bu Ratih akhirnya memilih diam,Ia berusaha mempercayai apa yang Cika katakan,Walaupun perasaannya begitu gelisah karena Dion tak membahas apapun setelah kepulangan mereka dari Rumah Sakit.
Begitu juga Cika yang memilih tidur setelah apa yang Ia perbuat,Namun sebelum memejamkan matanya Ia mendapat pesan dari salah satu teman yang berada dikantor yang sama dengan Dion.
",Cika....,Kamu masih inget Pak Dion kan?,Kasian dia,sekarang dia hanya staff biasa,Dia ketauan curang dengan kepala cabang,bahkan denger-denger dia juga diceraiin sama istrinya karena ketauan selingkuh,karma mungkin karena dia selingkuh".
amit"