Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bencana
"Malam ini sangat dingin. Sepertinya kita kekurangan kayu bakar," ucap Esme.
"Benar. Aku akan pergi ke tukang kayu istana. Siapa tahu mereka bersedia memberikan kayu api lagi, " sahut Lily yang langsung keluar dari kamar.
"Anak itu main pergi saja tanpa pamit," gerutu Esme.
"Biarkan saja, Esme. Kalau kita bertiga, anggap saja aku teman kalian," sahut Sara.
Esme beranjak mengambil selimut di kursi, lalu menyelimutinya ke tubuh Sara. "Tidurlah."
Sara mengangguk, "Iya."
Sudah cukup lama Lily pergi, tetapi dayang itu belum juga kembali. Perapian sudah mulai meredup karena tidak ada lagi bahan yang akan dilahap oleh si jago merah.
Sara tampak kedinginan karena angin malam yang berembus, dan ibu yang sedang mengandung itu terlihat gelisah dalam tidurnya.
Sara membuka matanya. "Apa Lily belum kembali?"
"Belum. Dia membuatku khawatir saja. Aku akan coba lihat dia di luar," kata Esme.
"Ya, lebih baik kamu menyusulnya. Aku khawatir."
Esme bangun dari kasur, lalu mengambil jubah yang tergantung di kayu kemudian memakainya. Esme juga khawatir kepada Lily yang tak kunjung kembali.
Sara menjadi gelisah karena api sudah padam. Suasana kamarnya gelap dan terpaksa ia membuka jendela agar sinar rembulan dapat masuk ke dalam kamar.
"Kenapa mereka belum juga kembali?" gumam Sara.
Pintu kamar dibuka, suara langkah kaki masuk ke dalam kamar yang gelap.
"Syukurlah kalian kembali. Kenapa lama sekali?" tanya Sara.
Langkah kaki itu mendekat dan Sara tersentak saat melihat sepatu pria dari seseorang. Sara menelan ludah dan wajah dari orang yang mendekat terlihat dari sinar rembulan.
"Siapa kamu?!"
"Putri, saya hanya menjalankan perintah," ucap pengawal istana.
"Menjauh dariku! Esme, Lily," teriak Sara.
Pengawal itu tertawa, "Mereka tidak akan mendengarkan. Di sini hanya tinggal kita berdua."
Pengawal dengan wajah kaku dengan rahang berbulu, mengeluarkan barang dari sakunya. Sebuah botol kecil dengan tutup kain berwarna merah.
"Mau apa kamu?" Sara mundur-mundur ke belakang sampai ia tidak dapat ke mana-mana karena terbentur dinding.
"Saya tidak akan menyakiti putri. Saya hanya minta putri meminum ramuan ini."
"Jangan mendekat! Aku ini selir kesayangan raja. Aku akan mengingat wajahmu dan memintanya untuk menghukummu!" ancam Sara.
"Justru itu yang saya harapkan. Sekarang Putri minum ini."
Sara menendang tulang kering dari pengawal itu, lalu mendorongnya ke tempat tidur. Sara berlari, tetapi kakinya di sepak hingga tersungkur ke lantai.
"Jangan membuatku susah, Putri."
"Lepaskan aku. Tolong ampuni aku."
Kaki Sara dikunci oleh kedua kaki pengawal itu agar tidak dapat bergerak. Pipinya ditekan agar mulut Sara dapat terbuka. Sara memukul lengan sang pengawal, tetapi percuma karena kekuatan dari seorang pria sangat besar.
Pengawal itu membuka botol dengan mulutnya, lalu menuangkan cairan tersebut ke dalam mulut Sara.
"Telan!" Pengawal itu menekan hidung Sara agar cairan itu bisa tertelan. "Bagus, Putri. Pekerjaan saya sudah selesai."
Sara terbatuk-batuk dan mencoba untuk memuntahkan cairan yang dipaksa masuk ke dalam tenggorokkannya. Pengawal itu tersenyum, lalu bergegas keluar dari kamar tanpa meninggalkan bukti apa pun.
"Obat apa yang mereka berikan padaku." Sera mencoba untuk bangun. Namun, tiba-tiba ia merasakan sakit pada bagian bawah pusarnya. Sara berteriak meminta tolong saking sakitnya. "Esme, Lilyyyy!" Sara berguling-guling sembari memegang perutnya. Rasa sakit itu sangat terasa hingga cairan merah keluar dari sela kakinya.
Esme memegang kepalanya yang berdenyut. Saat ia ingin menyusul Lily, tiga-tiba saja seseorang memukul tengkuknya.
"Apa yang terjadi?" Esme bangun dengan masih memegang kepalanya dan berusaha untuk kembali ke istana dingin. "Saraa! Kamu di mana?" Keadaan kamar hanya sedikit mendapat penerangan cahaya rembulan. Angin berhembus dari jendela. "Saraa!"
"Es-esme, tolong aku."
Esme menarik selimut kemudian menyelimuti Sara. "Apa yang terjadi?"
"Perutku."
"Ayo ikut aku. Kita harus menuju ruang perawatan." Esme membantu Sara bangun dan menuntunnya untuk keluar dari kamar. Sara tidak dapat berjalan karena deraan sakitnya. Esme mendudukkan Sara di lantai dan tubuhnya disandarkan pada dinding, lalu ia meninggalkan Sara untuk meminta bantuan.
Esme beralih menuju pengawal yang berjaga di sekitar istana dan meminta bantuan mereka untuk membawa Sara ke ruang perawatan dokter.
"Cepat angkat Putri," kata Esme.
"Baiklah." Pengawal itu menggendong tubuh Sara yang lemah tidak berdaya.
Pintu ruang perawatan dibuka dan berhasil membuat wanita perawat di sana kaget. Mereka bergegas bangun dari tidur dan mengikat rambut untuk membantu Sara.
"Apa yang terjadi?" tanya perawat itu.
"Aku tidak tahu."
"Cepat panggil dokter Ophelia. Ini sangat darurat," kata perawat itu kepada rekannya.
Pengawal yang membantu Sara keluar dan pergi bersama perawat untuk memanggil dokter Ophelia yang berada di kamarnya.
"Sepertinya dia keguguran. Apa dia mengandung?"
Esme menutup bibirnya. "Keguguran?"
Dokter Ophelia datang tergesa-gesa untuk memeriksa pasiennya. Ia kaget mendapati Sara yang terbaring hampir tidak sadarkan diri. Ophelia mendekat dan memeriksa bibir serta leher Sara.
Sisa dari cairan yang Sara minum bercampur dengan keringatnya. Ophelia mendekatkan hidungnya dan ia segera memerintahkan bawahannya untuk membuat ramuan.
"Cepat kalian tumbuk penawarnya," kata Ophelia.
Kedua perawat wanita meracik penawar, menumbuknya dengan cepat kemudian mencampurnya dengan air untuk diserahkan kepada Ophelia.
"Dokter, ini penawarnya."
"Cepat kalian bantu aku untuk meminumkannya."
Tubuh Sara ditopang. Ophelia meminumkan penawar itu, tetapi malah membuat Sara muntah dan terbatuk-batuk.
"Tahan Putri. Penawarnya memang pahit, tetapi kamu harus menghabiskan semuanya untuk mengeluarkan racun itu," kata Ophelia.
Ramuan itu berhasil diminum oleh Sara. Dokter Ophelia dan perawat lainnya membersihkan tubuh Sara agar kondisinya terlihat membaik.
"Apa yang terjadi?" tanya Esme.
"Putri meminum ramuan yang dapat mengugurkan kandungan," jawab Ophelia.
"Bagaimana mereka tahu Putri mengandung?"
"Mereka pasti curiga saat aku datang memeriksa Putri."
Esme mengusap lembut kepala Sara. Nasib putri yang ia layani sangat tragis. Hidupnya telah dimanfaatkan oleh orang-orang berkuasa dan kuat.
"Semoga kamu menerima hal ini dengan ikhlas, Sara," ucap Esme.
...****************...
Istana geger dengan berita penemuan mayat di dalam istana. Tepatnya pelayan menemukan mayat wanita di bagian belakang istana.
Penghuni istana saling berbisik-bisik saat pengawal membawa mayat itu dengan tandu. Selir-selir istana melihat wanita malang itu dari atas balkon hareem.
"Bukannya itu Lily?" kata mereka.
"Apa yang terjadi dengannya? Sungguh malang nasibnya," sahut yang lain.
Kematian seorang dayang tidaklah berpengaruh pada istana inti. Hal itu sudah biasa bagi kehidupan strata terbawah. Hanya orang terdekat saja yang merasa kehilangan Lily.
"Dia tidak kembali karena memang sudah dihabisi rupanya," kata Sara.
"Berharap semoga tuhan mengampuni segala dosa dan memberi tempat terindah di sisinya," sahut Esme.
Bersambung
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara