NovelToon NovelToon
The Last Lotus

The Last Lotus

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: sri devi

Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.

Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.

Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.

Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?

Penasaran? langsung baca yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melupakan

... -Manusia bisa berlari, berpindah, bergerak sesukanya. Tapi mengapa hati sulit mengikuti?-...

Ibukota, 2016

Jira tersenyum menatap Bi Ami yang berlari menghindari semprotan air dari selang yang dipegang Crystal. Gadis itu tak peduli pada jeritan Bi Ami, dibuatnya wanita itu basah kuyup sebagai pembalasan dendam atas dirinya yang lebih dulu basah. 

"Mbak, saya bisa demam!" Bi Ami melengking. 

"Kan ada dokter, obat juga banyak!" sahut Crystal cuek. 

"Crys!" suara Jira yang mengalun baru berhasil membuat Crystal melepas selang, membiarkan airnya mengucur di rumput. 

"Mau pergi, Kak?" tanya Crystal sambil tersenyum. 

"Malam ini aku nggak pulang," kata Jira. 

Crystal mengerucutkan bibirnya tapi tak memprotes dan Jira tak bicara lagi. Bergegas dia melangkah diikuti Bas dan Reyna. 

"Kak, belikan croissant," tiba-tiba Crystal menjerit hingga Jira menghentikan langkahnya. Ada sedikit senyum menghiasi  wajah Jira, dulu Crystal tak akan berani meminta apa pun darinya. 

"Ya, nanti aku bawakan."

Tak ada lagi suara Crystal hingga Jira kembali melangkah diikuti desis keheranan dari Bas. "Kenapa setelah kecelakaan Mbak Crystal suka croissant?"

"Kamu pilih bawakan dia croissant atau tiga hari tiga malam merayu dia makan?" tanya Jira sambil menatap Bas yang membukakan pintu mobil. 

"Saya pilih bawa croissant tiga rasa," jawab Bas sambil menunduk. Jira tertawa kecil lalu masuk ke dalam mobil yang perlahan bergerak, meninggalkan area Croissant, nama yang diberikan oleh Crystal untuk rumah kayu minimalis itu. Rumah yang berjarak dua puluh kilometer dari gedung Mareendra. 

Takut Crystal akan mengenang hal buruk, Jira memilih membawanya jauh dari rumah lama mereka. Hanya Bi Ami yang dia bawa beserta satu asisten rumah tangga baru yang tidak mengetahui masa lalu Crystal dan seorang perawat. Dokter rehabilitasi medis dan fisioterapis didatangkan Jira ke rumah.

Tiga bulan pertama kondisi Crystal mengalami kemajuan, hingga kini tak lagi membutuhkan perawat. Dokter juga hanya datang sesekali begitupun fisioterapis yang datang dua kali dalam seminggu. 

Di rumah yang hanya punya satu lantai itu Jira berharap segalanya akan membaik. Bukan hanya Crystal tapi juga dirinya. Setelah hubungannya dengan Arsa menggantung, pria itu mengirimnya sebuah pesan ambigu. Arsa memilih pindah ke Jepang, meninggalkan perusahaan pada adik Andini.

Ji, aku butuh waktu, tolong maafin aku. Seandainya kamu meninggalkan aku, aku bisa mengerti. 

Nyatanya hingga kini Jira tak bisa meninggalkan Arsa. Setiap hal tentang pria itu masih melekat di hatinya, termasuk aroma Arsa yang masih kuat menempel di indera penciumannya. Meski sakit menerima kenyataan Arsa lebih baik lari tanpa berpamitan secara langsung, Jira setidaknya masih bersyukur Arsa memilih tetap hidup. 

Jira juga bersyukur karena kondisi Crystal jauh lebih baik. Meski ingatannya belum pulih tapi emosi Crystal lebih stabil. Dia tak lagi sering menjerit atau mengamuk. Crystal tampak normal seperti gadis biasa.  

Crystal terlihat senang menikmati hidupnya di Croissant. Belakangan gadis itu malah lebih bersemangat karena sempat bisa berdiri walau sambil berpegangan. 

"Bu, sudah sampai." Reyna membangunkan Jira yang terpejam. Reyna dan Bas saling pandang, sedikit iba pada Jira yang memilih tinggal jauh hingga harus pergi lebih pagi. Bila ada kegiatan mendesak, Jira baru tinggal di rumah lama sekaligus mengenang masa lalunya. 

"Bu ..." Reyna kembali membangunkan Jira yang perlahan membuka mata. "Aku ketiduran lagi?" tanya Jira sambil tertawa, merapikan make up, rambut, dan pakaiannya lalu bergegas masuk ke gedung Mareendra. 

**

Arsa mengepak pakaian terakhirnya ke koper lalu menutupnya setelah menghela napas panjang. Perlahan dia mengambil sebatang rokok, menyelipkan di sela bibir. Baru saja akan menyalakan korek, telinganya seakan mendengar sebuah suara. 

"Sa! Aku nggak suka bau rokok! Buang jauh atau aku yang pergi jauh!"

Suara Jira yang diucapkan bertahun-tahun lalu masih jelas terngiang, lengkap dengan ekspresi juteknya yang tak menggubris segala rayuan Arsa. Jira berkeras tak akan berkompromi, bila Arsa merokok, dia akan pergi. 

"Sial!" Arsa mengumpat. Dilemparnya batang rokok tak berdosa itu berikut koreknya. Seakan belum cukup melampiaskan kemarahan, kali ini koper yang menjadi sasaran tendang hingga membentur lemari. Namun rasa panas di dada Arsa tak juga menghilang. 

"Jira! Kenapa kamu nggak mau pergi?!" Arsa menjerit dalam hati sembari menjambak rambut. Rasa frustrasi tak bisa lagi dipendam Arsa, hampir setahun lamanya dia memilih pergi untuk mengubur salah satu rasa di hatinya. Cinta atau benci, tapi keduanya bertahan dalam hati. Arsa tak bisa membebaskan diri dari keduanya. 

Cinta untuk Jira tak pernah benar-benar hilang. Hampir setiap hari dia mengenang kebersamaannya dengan wanita yang hampir menjadi istrinya. Mengingat segala momen indah dan kebahagiaan. Namun segala kenangan indah itu berpadu dengan kenyataan pahit yang dia sembunyikan. Perlahan, Arsa membenci Jira yang tak pernah mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. 

Setelah meneguk alkohol, Arsa merogoh laci di dalam lemari, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi sebuah benda yang membuatnya sulit memercayai Jira. Kilau gelang emas berhias permata kecil itu yang kian hari memupuk kecurigaan Arsa. 

Tadinya Arsa tak memperhatikan semua barang yang ditemukan di lokasi kejadian. Barang-barang kecil yang diduga milik Andini karena tercecer dari tas mungilnya. Tapi saat Arsa melihat salah satu gelang, dadanya terasa terbakar. Dia tahu itu gelang kembar yang dibeli Jira untuk hadiah Crystal dan Arsa juga tahu pada saat kejadian Crystal masih memakai gelangnya. 

Tak mungkin gelang itu berada di lokasi bila Jira tak pernah berada di sana tapi Jira selalu bersikeras berada di kamar saat kejadian. 

"Ji, kenapa kamu terus berbohong?" tanya Arsa sambil meremas gelang di tangannya. 

Setiap hari Arsa mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang seharusnya membuat kadar kebencian mengalahkan rasa cinta tapi nyatanya Arsa tak mampu menyangkal bahwa dia tidak bisa berhenti mencintai Jira. Dia masih memikirkannya bahkan masih mengkhawatirkannya. Meski tak jarang Arsa menatap wajah Jira dalam berita web Mareendra, tetap saja hati kecilnya selalu bertanya-tanya. "Apa kamu sekarang bahagia, Ji?"

Suara ponsel Arsa menyadarkannya untuk segera bersiap. Hampir setahun lamanya Arsa bersembunyi hingga akhirnya dia menyadari bahwa dia tak akan bisa mendapat jawaban bila tak pernah mencarinya. 

"Kalau kamu nggak mau jujur, aku yang akan mencari tahu sendiri!"

**

Rumah keluarga Mareendra masih terawat hanya saja tak ada lagi belasan pekerja. Para asisten rumah tangga hanya tersisa Inah dan juniornya, selebihnya dipecat karena menganiaya Crystal. 

"Mbak, nginap di sini?" tanya Inah dengan senyum semringah. Dia teramat gembira Jira kembali karena bekerja tanpa majikan kadang menyeramkan terlebih di rumah yang pernah terjadi tragedi. 

"Ya, aku besok ada rapat jam tujuh." Jira berjalan lambat menatap foto lengkap keluarga saat Crystal wisuda. Foto terakhir sebelum semua orang pergi meninggalkan Jira bersama Crystal. 

"Mau makan malam apa, Mbak? Saya siapkan."

"Nggak usah masak, nanti pesan aja. Apa pun asal nggak pedas," jawab Jira sambil menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. 

Berbagai kenangan langsung berebut ikut masuk ke dalam ruangan yang tak berubah itu. Semua masih tampak sama kecuali isi dalam lemari yang banyak dipindahkan Jira. Seperti banyak hal yang coba dia enyahkan tapi tak kunjung berhasil. 

"Apa aku sudah gila?!" Jira memaki dirinya karena merasa telah melihat Arsa di lobi gedung Mareendra. Pria itu berdiri di balik tembok, berbalik dan mengembuskan asap rokok. Mirip Arsa saat mencuri waktu merokok di belakang Jira. 

Perlahan Jira membuka brankas yang berisi kotak berbentuk hati. Dikeluarkannya gelang hitam pemberian Arsa ketika SMA. 

"Ah, kenapa kamu mesti pergi setengah hati?" tanya Jira sambil meneteskan air mata. Dia tak pernah tahu alasan pasti Arsa menjauh. Meski Jira mengerti kekalutan Arsa yang kehilangan Andini tapi dia tak menyangka Arsa tega mengambil jalan ekstrem, pergi meninggalkannya. Terlalu lama menangis membuat Jira lelah dan akhirnya ketiduran. Jira baru terbangun  saat Inah menggedor pintu dengan khawatir karena sudah sepuluh kali mengetuk tapi tak ada jawaban. 

"Ya, kenapa, Nah?"

"Mbak, baik-baik aja, kan?" tanya Inah

"Ya, aku ketiduran," jawab Jira sambil membuka pintu. 

"Mbak, makan malam udah siap. Tapi ada yang nyari Mbak Jira," kata Inah sambil tersenyum. 

"Siapa?" tanya Jira heran. 

"Mas Arsa."

Dahi Jihat berkerut, kemudian bibirnya mendesah kesal. Dia sedang tidak ingin bercanda tapi Inah kembali bersuara. 

"Sudah satu jam nungguin Mbak Jira di bawah."

"Nah, nggak usah ..." Jira berhenti bicara karena menatap sosok yang berada di belakang Inah. Pria yang tak berubah banyak dari bayangannya selama ini, berjalan mendekat tanpa senyuman. 

"Ji, aku kembali." Tanpa basa-basi Arsa berdiri di depan Jira hingga Inah langsung berlari meninggalkan keduanya. 

"Ji, kamu masih kenal aku, kan?" tanya Arsa karena Jira terdiam. 

"Ji ...."

Arsa memekik sambil berusaha menahan pintu yang hampir dibanting Jira. Karena tangannya nyaris terjepit, sebelah kakinya ikut dia gunakan untuk mengganjal. 

"Ji, plis! Dengerin aku!" Arsa memohon sambil sekuat tenaga membuka pintu. 

"Ji, jangan kekanakan!" Arsa menjerit ketika berhasil mendorong pintu hingga Jira terpental. Sebagai balasan, Arsa yang membanting pintu dan menguncinya lalu mendekat untuk membantu Jira berdiri. "Maaf, aku nggak bermaksud ...."

"Mau apa?" tanya Jira sambil menepis tangan Arsa. 

Arsa terpaku menatap sorot mata Jira yang penuh amarah. Pria itu takjub menyadari bahwa sepuluh bulan ternyata tak banyak mengubah Jira. Wajahnya masih sama begitu juga perilakunya. Sikap dingin Jira tak juga mencair. 

"Ji, maafin aku," kata Arsa pelan. Meski kaget dengan kedatangan Arsa terlebih melihat tingkahnya, Jira memilih bergeming. 

"Aku tahu aku salah, aku menyerah, aku kalah." Arsa melanjutkan. 

"Apa maumu?" tanya Jira sambil menyentak tangan Arsa yang berusaha menyentuhnya. 

"Maafin aku, maafin aku. Maaf karena ninggalin kamu. Aku pikir aku bisa tenang tapi nyatanya aku nggak bisa hidup tanpa kamu!"

"Maaf?" tanya Jira murka. 

"Kamu pikir selama ini aku hidup tenang?! Setan! Kamu pikir kamu siapa, bisa datang dan pergi sesuka hatimu? Keluar, aku nggak mau ngelihat kamu lagi!" bentak Jira sambil mendorong Arsa menjauh. 

"Ji, maafin aku!" Arsa menolak diusir, alih-alih pergi, dia justru berbalik menguasai tubuh Jira, mendekapnya dalam pelukan. 

"Plis, maafin aku, Ji, maaf. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Aku nggak bisa kehilangan kamu!" jerit Arsa sambil meneteskan air mata. Jira memberontak tapi Arsa dengan beringas justru mencari bibir Jira untuk dia kecup. Tak terima perlakuan Arsa, Jira sekuat tenaga membebaskan diri sekaligus melepaskan sebuah tamparan. 

"Aku bukan siapa-siapamu lagi! Keluar!" Jira membuka pintu dengan napas memburu. Arsa terdiam tapi akhirnya memilih untuk pergi. Meninggalkan Jira yang menangis semalaman.

1
sksksk
kece
??????@!2😍😄6h9
Nemu Lg karya yg the best
Ilfra Ilivasa
dari prolog udah bagus kak! mantap!
Ilfra Ilivasa
mantap kata-katanya! dan akan saya jawab, "ia tidak marah, melainkan sang awan lah yang menghilangkan bulan dan itu artinya bulan itu tidaklah marah. Dirinya hanya membutuhkan waktu untuk keluar dari awan itu"
Eva Sri Wahyuni
ini novel yang paling sad sih 😭
sksksk: sengaja buat yang sad" bund biar keluar air matanya 🤭
total 1 replies
sksksk
bagus banget
⚚𝓐𝔂𝓮͠𝓼𝓱𝓪͛👒
yaa aampuun thor berasa banget beban yg di tanggung jira semasa hidupnya
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi
sksksk: makasi kakak sudah mampir
total 1 replies
Arasa Cimamahmuda
nyimak
nura julian
tulisan rapi 👍
sksksk: terimakasih 🥰
total 1 replies
Quora_youtixs🖋️
semangat terus sukses selalu buat karyamu 👍
Yeni Eka
Aku hadir nih thor kasih boom like
Nona Bucin 18294
💜💜💜
Nona Bucin 18294
like like like 💜
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir,,,
circle
aku mampir Thor, 😘😘
Sweet chicie💞
wah aku up jejak sampai disini dlu ya kak,, nyicil baca ya ni bakal jadi pr,,, mangattt
Sweet chicie💞
rindu mampir kak, baru mulai baca udah tertarik kak, semangat ya berkarya terus,...
Sweet chicie💞
like
Sweet chicie💞
up
SoVay
hadiiiirrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!