"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Tegang Sekali
Belum sempat Dea menjawab ajakan Juan, ponselnya sudah bergetar tanda jika ada pesan masuk. Dea melihatnya dan ternyata notifikasi itu adalah pesan dari Alex.
'Malam ini sepertinya aku tidak akan pulang, jadi jangan menungguku,' tulis Alex dalam pesan yang dia kirim.
Sungguh Alex sangat ingin Dea menahannya, meminta untuk kembali atau apapun itu asal Dea sedikit saja menunjukkan kecemburuannya. Karena hanya dengan begitu Alex memiliki alasan untuk berhenti dari semua kegilaan ini. Perjodohan yang sebenarnya sangat tidak dia inginkan.
Apa yang Alex lakukan sekarang hanya untuk membuat Dea cemburu, tidak lebih.
"Pesan dari siapa De? Mukamu serius sekali," ucap Juan dan berhasil membuyarkan semua lamunan Dea.
Tak biasanya memang Alex izin seperti ini, biasanya terserah pria itu akan melakukan apa tanpa perlu persetujuan yang.
"Tuan Alex. Katanya malam ini dia tidak Pulang ke apartemen."
"Jadi apa rencanamu sekarang? Mau ku temani ke klub atau tidak? Lagipula besok libur," ajak Juan, dia sedikitpun Tidak memiliki maksud buruk pada Dea, benar-benar hanya berniat untuk menghibur sang sahabat.
Dea menatap Juan beberapa detik.
Berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang, haruskah menerima ajakan itu atau langsung pulang dan meratapi nasibnya sendiri. Tapi saat ini kepalanya terlalu penuh dan dadanya terlalu sesak.
“Baiklah, ayo kita pergi." putus Dea akhirnya.
Untuk sekali saja Dea ingin mengambil keputusan tanpa melibatkan Alex di dalamnya. Sekali saja benar-benar menjalani kehidupan untuk dirinya sendiri, bukan untuk terus menyenangkan pria tersebut.
Juan tersenyum tipis. “Oke. Tapi aku peringatkan Jangan membuat masalah di sana."
Dea mendengus kecil. “Aku cuma mau mabuk.”
Dan mereka benar-benar melakukannya.
Lampu klub temaram, musik berdentum keras dan aroma alkohol bercampur parfum memenuhi udara. Dea dan Juan duduk di bar, gelas demi gelas berpindah tangan. Awalnya hanya satu, lalu dua, lalu entah sudah berapa.
Dea tertawa lebih lepas dari biasanya. Kepalanya ringan dan pikirannya kacau tapi menyenangkan. Untuk beberapa jam, nama Alex benar-benar menghilang dari benaknya.
Juan pun tak kalah parah. Ia jarang minum sebanyak ini, tapi malam ini ia membiarkan dirinya tenggelam.
“Aku benar-benar bodoh, ya?” gumam Dea sambil menatap isi gelasnya.
Juan menyandarkan siku. “Tidak juga De, setidaknya kamu sekarang punya banyak uang kan? Kirim satu miliar ke ATM mu sendiri."
Dea terkekeh. “Benar juga, kenapa aku tidak pernah kepikiran selama ini."
"Pikiran saja uangnya De, uang, uang, uang."
"Uang, uang, uang," ucap Dea mengikuti bicaranya Juan.
Entah jam berapa Juan akhirnya sadar bahwa mereka tidak bisa pulang sendiri. Ia menyewa sopir, memastikan Dea duduk aman di kursi belakang. Sepanjang perjalanan Dea beberapa kali mengeluh kepanasan, membuka kancing atas blusnya, menyandarkan kepala ke jendela.
Setibanya di apartemen, Juan membantu Dea masuk. Langkah mereka sempoyongan, tawa kecil sesekali pecah tanpa sebab.
Dea langsung menjatuhkan diri ke ranjang. “Panas sekali ya, padahal aku hanya minum sedikit,” gumamnya sambil menarik bajunya sendiri, melepasnya asal-asalan lalu menggulung selimut.
Juan berdiri bingung beberapa detik. Ia sendiri merasa kepalanya berputar-putar, tubuhnya berat sekali. Akhirnya ia ikut merebahkan diri di sisi ranjang, melepas jaket dan kemejanya karena gerah.
Tidak ada sentuhan yang disengaja. Tidak ada bisikan yang menggoda. Tidak ada apa pun selain dua orang yang terlalu lelah dan terlalu mabuk untuk berpikir. Mereka tertidur begitu saja di ranjang yang sama.
Saat cahaya pagi menyelinap masuk lewat sela gorden, Dea adalah yang terbangun lebih dulu.
Kepalanya nyut-nyutan dan tenggorokannya terasa sangat kering. Ia menggerakkan tangan… lalu membeku ketika merasakan ada seseorang di sampingnya.
Dia pikir itu adalah Alex, jantungnya berdegup secara tiba-tiba. Tentang semalam tak ada sedikitpun yang Dea ingat, hal terakhir yang dia tahu adalah dia dan Juan mabuk di meja bar klub. Selebihnya Dea tidak ingat apapun lagi.
'Apa semalam Alex pulang,' batin Dea bertanya-tanya.
Dea kemudian menoleh perlahan dan alangkah terkejutnya saat melihat Juan di sana.
Deg! “Ya Tuhan, ” bisik Dea panik, pria itu bukanlah Alex tapi Juan.
JUAN.
Hampir bersamaan Juan pun membuka mata. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari posisi mereka. Lalu matanya membelalak.
“Dea!”
Mereka sama-sama langsung duduk.
Sunyi.
Canggung.
Panik.
“Kita…,” Dea membuka mulut lebih dulu, lalu berhenti.
Juan mengusap wajahnya frustasi. “Tunggu sebentar, buat kuingat-ingat dulu." Namun sialnya Juan pun tak ingat apa-apa.
"Astaga, aku tidak ingat apapun De. Terakhir yang kuingat kita masih di klub, lalu kenapa aku malah tidur di sini." Juan lebih panik daripada Dea, bagaimana bisa dia tidur di ranjang wanita sang boss.
Juan bahkan buru-buru turun dari ranjang dan memungut kemeja yang semalam ia lepaskan. "Maafkan aku De! Aku benar-benar minta maaf, tapi aku yakin kita tidak melakukan apapun," ucap Juan, dia pun buru-buru memakai bajunya lagi, sementara Dea menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Sumpah demi apapun kini kepala Dea pusing sekali, entah harus memikirkan yang mana dulu. Semalam semuanya terasa menyenangkan sebab ingatannya entah hilang kemana, tapi sekarang setelah sadar masalahnya malah bertambah satu, bukannya berkurang.
Pelan-pelan Dea mengintip di balik selimut dan melihat dia masih menggunakan celana, deg! Jantung Dea sedikit berdenyut nyeri namun hatinya sedikit lega.
Tapi apakah ini bisa menjadi jaminan bahwa mereka benar-benar tak melakukan apapun.
"De, maafkan aku," ucap Juan lagi setelah memakai baju, dia bahkan langsung bersimpuh di tepi ranjang. Benar-benar memohon ampun pada sang sahabat.
"Jangan meminta maaf sampai seperti itu, ini juga salahku. Tapi aku yakin kita tidak melakukan apa-apa selain tidur," ucap Dea, meskipun sebenarnya dia sendiri pun tidak seyakin itu.
Juan menelan ludahnya dengan kasar. "Apapun yang kamu inginkan akan aku turuti De, kamu mau aku bagaimana?" tanya Juan.
Dea terdiam sesaat, sebab kini pikirannya benar-benar buntu. "Kita lupakan saja semua ini, anggap tida pernah terjadi."
"Baiklah, tapi... Tampar aku jika kamu ingin menampar ku De."
"Ayolah Juan, jangan membuat masalah ini semakin rumit. Lebih baik kamu segera pergi."
"Benar, bagaimana jika tiba-tiba tuan Alex datang. Bisa mati aku."
"Aku juga mati."
"Astaga, maafkan aku De. Aku benar-benar minta maaf."
"Iya iya, pergilah." balas Dea, mereka berdua benar-benar cemas.
"De, aku mencintaimu sebagai sahabat. Aku akan melakukan apapun untukmu. Tapi sekarang aku pergi dulu," ucap Juan, kalimat terakhirnya sebelum pergi. Meninggalkan Dea yang makin tak karuan.
"Ish, bodoh!" umpat Dea, memaki dirinya sendiri.
Tiga puluh menit setelah Juan pergi, barulah Alex tiba di apartemen ini. Saat itu Dea tengah membuat susu di dapur. Alex yang menyadari ada suara di dapur pun segera menuju ke sana.
Deg! Dea membeku, seolah baru saja ketahuan selingkuh.
"Kenapa wajahmu tegang sakali?" tanya Alex.
udh pergi lah sejauh mungkin de...
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰