NOVEL PERTAMA YANG BELUM MENGENAL ILMU LITERASI. Harap maklum dan berkomentarlah yang positif. Masih tahap belajar sedikit demi sedikit.
Aku hanyalah lelaki yang hidup dari keluarga sederhana. Tak banyak yang bisa di harapkan dari ku. Sebuah tragedi mengharuskan aku merantau ke sebuah kota di pulau S.
Disanalah titik balik hidup ku bermula.
Disanalah aku bertemu dengan seseorang yang membuatku lebih berarti.
Walaupun aku hanyalah seorang supir, tapi dia mengubahku menjadi sosok menawan dan mencintai diri sendiri.
Ikuti kisahku, seorang MALIK JAYADI yang hanyalah seorang supir yang mampu menaklukkan kerasnya hidup..
harap bijak dalam memilih bacaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black_queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Lelucon kecil
Breeet...breett...
Terdengar suara motor menghampiri rumah Sumiyati.
Tap...tap...tap...
Langkah kakinya tak biasa, dia setengah berlari masuk ke dalam rumah.
" Duh pake dikunci lagi", ujarnya dengan tampang yang tidak bisa diartikan.
Tok...tok...tok.
" Bu...Malik dateng, assalamualaikum", ujarnya lagi sambi mengetuk pintu.
" Waalaikumsalam...", terdengar jawaban salam dari dalam rumah.
Cekklek...
Pintu terbuka lebar. Malik langsung melesat masuk ke belakang rumahnya menuju kamar mandi.
" Hais....udah kaya paan aja nih maen lari gitu aja", sungut Sumiyati akan tingkah anaknya.
" Ayah kenapa yangti?, lari gak noleh sama Nissa", ujar Nissa kecewa.
" Tau tuh ..kebelet pipis mungkin ayahmu nak", kata Sumiyati sambil mengendikkan bahu.
Annisa yang mendengar jawaban dari neneknya hanya melanjutkan menonton acara kesukaannya bersama Molly di pangkuan.
Klek...pintu toilet terbuka.
" Legaaa rasanya, fiuhhh....", lirihnya seorang diri sambil bernafas lega.
Tap...tap ...tap...
" Ayah...", panggil Nissa berhenti ketika melihat ayahnya datang.
" Ayah....celananya mana?", kerjab Nissa sambil menatap Malik.
" Celana...?", tanya Malik yang menjawab pertanyaan anaknya dengan pertanyaan.
Dia melihat...ke arah bawah, dan....
" Astaga....cuma pake daleman doang", sambil berlari menuju toilet rumahnya kembali.
" Ayahmu lagi terburu-buru, makanya bisa lupa make celana...ha...ha...ha", Sumiyati tertawa lepas.
" Tau tuh nek...kikiki", Nissa hanya terkikik melihat tampang bod*h ayahnya yang lari terbirit-birit dan hanya memakai ****** ***** saja.
" Pada seneng ya...ngeliat ayah lupa make celana", sungut Malik sebal pada anak dan ibunya.
" Pfftttt.......", nenek dan cucunya menahan tawa.
" Lagian kamu itu teledor amat sih Lik, syukur masih dirumah...lha...coba kalo diluar rumah kek gitu, bisa-bisa di foto sama orang, masuk nominasi manusia mesum... ha...ha..ha", lanjut Sumiyati menertawakan anaknya.
" Malik tadi lupa bu, beneran dah kagak sengaja, pas di jalan mau pulang, perut sakit...melilit. Nyampe langsung lari kebelakang", ujar Malik menjelaskan.
" Eh...saking leganya malah kelupaan make celana panjang, langsung aja keluar dari toilet", lanjut Malik lagi menampakkan deretan giginya.
" Lain kali hati-hati nak, jangan teledor lagi", ibunya menasehati.
" Iya ...bu, maaf ya ", angguk Malik mengiyakan.
" Kenapa gak sekalian mandi sih tadi? biasanya kamu kan langsung mandi kalo sampe rumah", tanya ibunya.
" Oh...tadi Malik mikir, heran juga sih, kenapa pintu di kunci? kan masih sore bu. Biasanya Nissa sama ibu maen di dipan teras rumah!", heran Malik mengungkapkan perasaannya.
Deg...deg...
Jantung Sumiyati berdetak lebih kencang ketika Malik menanyakan perihal pintu yang di kunci. Ingatannya kembali pada waktu pagi tadi ketika wanita itu menemuinya dan cucunya.
" Ehm...oh...itu nak, tadi kendaraan lebih banyak yang lewat, ibu kuatir sama kesehatan Nissa, jadi ibu ajak aja nonton tivi, ibu kunci pintunya karena takut kami ketiduran disini", ujarnya berbohong sambil menunjuk tempatnya duduk bersila.
Sumiyati tidak mau menambah beban pikiran Malik, dia menutupi kejadian tadi pagi dirumahnya. Suatu saat dia akan menceritakan semuanya.
Mereka bertiga melanjutkan kegiatan sore mereka didalam rumah, menunggu kepala keluarga datang dan membawa sayuran hasil panen hari ini. Sugeng mengolah lahan temannya, hasilnya dibagi rata. Hari ini waktunya panen, karena itulah beliau tidak dirumah sedari pagi tadi.
Tokkk,tokkk,tokkkk.
" Assalamualaikum, kemana semua orang?", teriak suara seorang tua didepan pintu.
Dia mencoba membuka pintu, tapi terkunci.
" Waalaikumsalam pak, tunggu sebentar", sambil setengah berlari menuju pintu depan.
Sugeng yang baru datang meletakkan hasil panen berupa kacang panjang dan terong di dipan rumahnya.
Klik.....
Pintu yang terkunci sudah terbuka.
" Kenapa mesti dikunci to bu? gak biasanya ", tanya Sugeng curiga.
" Gak kenapa-napa kok pak, sengaja, kami didalam semua daritadi sampe sekarang, jadi kami kunci pintunya". Jelas Sumiyati pada suaminya.
" Terong dapat jatah 1 karung, kacang panjang juga, nanti bisa dimasak seperlunya dan disimpan sedikit, yang lain besok ibu jual di pasar ya", suruh Sugeng sambil menunjuk sayuran di dipan tadi.
" Alhamdulillah pak, lumayan dapat banyak. Uangnya, bapak sudah terima dari hasil panen nya?", tanya Sumiyati.
" Sudah bu, tadi langsung diambil pengepul, makanya langsung dapet uang", sambil menepuk kantongnya yang berisi.
" Syukurlah pak, nanti aku panggil Malik dulu, biar dia bawa masuk ke dalam rumah", sambil berlalu meninggalkan suaminya dan memanggIl Malik yang bermain dengan Nissa di depan Tivi.
Malik mengikuti ibunys kedepan.
" Wah...panennya dapet jatah banyak ya pak", ujar Malik sambil memandangi 2 karung besar berisi sayuran.
" Rejeki kita nak", ujar Sugeng sambil tersenyum.
Mereka masuk kedalam rumah, Sumiyati menyiapkan makan malam seadanya dengan bahan yang ada.
Para lelaki dirumah ini hanya duduk sambil menunggu waktu Maghrib tiba, tak lupa juga, Nissa yang selalu menemani hari-hari mereka yang berceloteh dengan riang.
...----------------...
Disuatu tempat yang berbeda.
" Yanti....kamu kenapa belom masak?", tanya Andi yang baru pulang dari bengkel.
Hari ini dia mulai rutin bekerja di pagi hari selama 1 minggu. Perutnya sudah lapar, tak bisa menunggu malam tiba.
" Bahan dapurnya dikit banget mas, makanya aku gak masak. Kalo dipaksakan masak malah gak enak jadinya", jawab Rosyanti.
" Ya sudah ...beli mi instan dulu sana, buat ganjel ini perut", sambil menyodorkan uang biru selembar.
" Kalo duitnya segini, sekalian beli bahan dapur ya mas?", tanya Rosyanti.
" Terserah kamu, tapi buruan beliin mi instan, kamu masak mi dulu buat aku ya!, sekarang aku mau mandi dulu, gerah banget", Ucap Andi sambil melangkah menuju kamar mandi.
" Tumben dia ngasih duit lebih, biasanya kan dia yang beli bahan dapur", cibir Ros dalam hati.
Rosyanti mengambil kesempatan untuk berbelanja ke warung sebelah dan mengambil kembaliannya. Dia harus mengumpulkan duit receh buat ongkos ojek kekampung sebelah.
" Mayan, sisanya bisa aku simpen", gumamnya seorang diri.
Malam pun tiba, Andi yang masih kenyang karena memakan mie instan tadi memutuskan menonton acara di televisi, Ros yang makan malam sendirian masih saja memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. Dia masih saja berharap akan bisa bertemu Nissa lagi.
" Apa aku minta ijin kerja saja ya?, biar bisa nyamperin Nissa walopun bentar, tapi apa mas Andi ngijinin?", batinnya berkecamuk memikirkan segalanya.
Rosyanti sudah duduk bersama Andi didepan Tivi, dia memandangi Andi sambil memikirkan idenya tadi.
" Duh, gimana ini...apa aku tanya aja ya?", batin Rosyanti gelisah.
" Gak ada salahnya mencoba, kali aja diijinin, kali aja ada malaikat lewat trus bisa ngabulin keinginanku", gumam Rosyanti pelan.
" Kamu kenaa sih Yan?, kok kaya gelisah gitu?", tanya Andi curiga sambil menelisik raut wajah istrinya.
" Ehm...sebenarnya-ehm...Yanti mau ijin mas Aan", tanyanya gugup.
" Ijin? emangnya kamu mau kemana? pake acara ijin segala, kamu kan gak boleh berkeliaran dikampung ini!", ujarnya santai sambil menyesap rokok ditangannya.
" Gini lho mas...ehm....Yanti tuh mau minta ijin kerja, di kampung sebelah ada warung makan yang perlu tenaga koki, jadi aku pengen kerja disana mas", pinta Rosyanti.
" Apa katamu? kerja? kamu gak salah?", tanya Andi bertubi-tubi.
Andi yang terkejut karena permintaan konyol dari istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melotot kearah istrinya.
" Di kampung sebelah kamu mau kerja apa mau nemuin mantan suami kamu?, sudahlah Yan, kamu itu gak usah macem-macem", ucap Andi pada istrinya.
Rosyanti kembali merasa kecewa, dia berharap terlalu lebih kepada suaminya. Walaupun dia tahu dari awal keputusan suaminya seperti apa.
SUNGGUH TRAGIS NSIB RUMAH TANGGA IPAH. DISELINGKUHI SUAMINYA DN DITELANTARKN.