NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Dua hari sudah Dian berada di rumah orang tuanya. Waktu terasa berjalan cepat, padahal hatinya ingin sedikit lebih lama bersembunyi di pelukan ibu, di rumah yang membuatnya merasa aman.

Hari ini, ia harus kembali ke Pinang. Bukan karena ia benar-benar siap, tapi karena hidup tak pernah memberi jeda panjang untuk luka. Dian menguatkan diri—menarik napas panjang—lalu menatap Naya yang sedang tertawa kecil entah karena apa.

Perih itu masih ada. Setiap langkah terasa berat. Namun Dian tahu, selama senyum Naya masih mengembang, ia akan sanggup bertahan. Anak itu kini adalah dunianya, alasannya bangun setiap pagi, alasan untuk terus berdiri meski hatinya retak.

“Gapapa ya, Nak,” bisiknya sambil mengecup kening Naya. “Kalau Ibu harus sakit sedikit, asal kamu bahagia.”

Ia pergi membawa luka yang belum sembuh, tapi juga membawa satu kekuatan yang tak tergantikan: cinta seorang ibu. Dan untuk cinta itu, Dian rela menahan apa pun.

Bu Eni menatap Dian dan Naya dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya berat melepas anak dan cucunya pergi. Waktu kebersamaan mereka begitu singkat, padahal ia ingin lebih lama memeluk, lebih lama menjaga, seolah bisa menahan semua luka yang ada di hati anaknya.

Namun Bu Eni tahu, Dian bukan lagi gadis kecil yang bisa ia lindungi sepenuhnya. Dian adalah seorang istri, seorang ibu. Ada jalan yang harus ia tempuh sendiri, ada keputusan yang hanya bisa ia ambil dengan hatinya sendiri.

Dengan tangan gemetar, Bu Eni mengusap rambut Dian.

“Kamu kuat, Nak,” ucapnya pelan namun penuh keyakinan. “Ibu percaya, kamu bisa menyelesaikan semua ini dengan caramu. Jangan takut, apa pun yang terjadi, rumah ini selalu menunggumu.”

Dian memeluk ibunya erat, seolah ingin menyimpan kekuatan itu untuk bekal pulang. Bu Eni pun memeluk Naya, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia belajar ikhlas—bukan karena tak peduli, melainkan karena percaya pada kekuatan anak yang ia besarkan dengan cinta.

Jam makan siang, Dian dan Naya akhirnya sampai di Pinang. Rasa lelah di perjalanan sedikit terobati ketika Pak Long dan Mak Long mengajak mereka makan bersama. Di meja makan sederhana itu, Dian merasakan kehangatan keluarga yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini—tanpa tekanan, tanpa kata-kata yang menyakitkan.

Mak Long sibuk menyuapi Naya, sementara Pak Long beberapa kali menanyakan keadaan Dian dengan nada penuh perhatian. Dian hanya tersenyum dan menjawab seperlunya, namun hatinya terasa lebih ringan. Setidaknya, ia tahu ibunya di Bintan tidak sendirian. Ada Pak Long dan Mak Long yang akan menemani, menjaga, dan menguatkan.

Sore harinya, setelah mengantar Dian dan Naya sampai rumah, Pak Long dan Mak Long bersiap kembali ke Bintan. Saat mobil mereka perlahan menjauh, Dian menarik napas panjang. Ada rasa haru, namun juga ketenangan. Ia belajar menerima bahwa meski hidupnya sedang tidak baik-baik saja, ia tidak benar-benar sendirian.

“Naya, nenek sama atok pulang yaaa. Naya jagain ibu,” ujar Mak Long Dena lembut sambil menunduk sejajar dengan wajah cucunya.

Naya hanya mengangguk pelan. Matanya mengikuti Mak Long yang perlahan berdiri, seolah belum sepenuhnya mengerti perpisahan, tapi cukup paham bahwa ada orang-orang yang pergi dan ada yang harus dijaga.

Pak Long lalu berjongkok di depan Naya. Tangannya yang kasar membelai rambut Naya dengan penuh kasih.

“Denger kata ibu ya, Nak. Kamu kuat, sama kayak ibu kamu,” ucapnya pelan namun hangat.

Naya menatap Pak Long sesaat, lalu memeluk kaki Dian yang berdiri di sampingnya. Dian menahan napas, dadanya terasa sesak melihat perhatian tulus itu. Ia tersenyum sambil mengangguk, berusaha tampak baik-baik saja.

Mobil Pak Long dan Mak Long akhirnya melaju pergi. Dian berdiri cukup lama di teras, menggenggam tangan kecil Naya erat-erat.

“Cuma kita ya, Nak,” bisiknya lirih.

Naya mendongak, lalu tersenyum polos. Senyum itu—alasan Dian masih bertahan, masih berdiri, dan masih percaya bahwa suatu hari luka ini akan menemukan jalannya untuk sembuh.

Setelah berganti baju, Dian dan Naya duduk di ruang tengah. Dian bersandar di sofa, matanya mengikuti setiap gerak Naya yang asyik bermain dengan mainan barunya. Sesekali terdengar tawa kecil yang membuat hati Dian hangat, meski di dalam dadanya masih ada luka yang belum sembuh.

“Gapapa ya, Nak,” bisik Dian lirih sambil mengelus rambut Naya.

“Kalau kamu tidak diterima di keluarga ayah… keluarga ibu selalu ada buat kamu.”

Naya tidak sepenuhnya mengerti kata-kata itu. Ia hanya tersenyum, lalu menunjukkan boneka kecil yang tadi dibelikan Mak Long dan Pak Long. Dian teringat, sebelum pulang tadi, Mak Long dengan penuh semangat memilihkan dua stel baju untuk Naya, sementara Pak Long memborong beberapa mainan tanpa banyak bicara—cara sederhana mereka menunjukkan kasih sayang.

Dian menahan air mata. Bukan karena sedih sepenuhnya, tapi karena akhirnya ia sadar: tidak semua keluarga harus sama darah untuk bisa mencintai dengan tulus.

Ia menarik Naya ke dalam pelukan.

“Selama ibu masih berdiri, kamu nggak akan pernah sendirian,” ucapnya pelan, lebih pada janji untuk dirinya sendiri.

Naya tertawa kecil, lalu memeluk balik. Di ruang tengah yang sederhana itu, Dian menemukan kekuatan—bukan dari siapa yang pergi, tapi dari siapa yang tetap tinggal.

Dian menatap layar ponselnya yang sejak tadi sunyi. Tidak ada satu pun pesan dari Andi. Tidak menanyakan kabarnya, apalagi kabar Naya. Dadanya terasa sesak.

Ah… mungkin dia sedang bersama selingkuhannya, batin Dian getir.

Bercanda, tertawa, lupa kalau dia punya anak dan istri yang sah.

Ia menarik napas panjang, menahan gemetar di ujung jarinya.

“Kira-kira kapan ya…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Kapan aku harus berhenti diam.”

Selama ini Dian memilih sabar. Memilih tenang. Memilih pura-pura tidak tahu demi Naya. Tapi sabar pun ada batasnya. Ada titik di mana hati seorang istri tak lagi sanggup memeluk luka sendirian.

Bukan karena ingin menang.

Bukan karena ingin balas dendam.

Tapi karena Andi harus tahu—

bahwa yang ia khianati bukan hanya Dian,

melainkan juga seorang anak kecil yang setiap malam masih mencari ayahnya.

Dian menatap Naya yang kini tertidur pulas di sofa, boneka kecil dipeluk erat. Hatinya semakin mengeras, bukan menjadi dingin, tapi menjadi kuat.

“Kalau nanti ibu bicara,” bisiknya lirih,

“itu bukan karena ibu lemah… tapi karena ibu sudah terlalu lama kuat sendirian.”

Ia tahu, waktunya akan datang.

Bukan dengan emosi.

Bukan dengan teriakan.

Tapi dengan bukti, dengan ketegasan, dan dengan keberanian seorang ibu yang akhirnya berdiri untuk dirinya dan anaknya.

Dan saat itu tiba, Andi tidak akan lagi bisa berpura-pura lupa

bahwa ia adalah suami,

dan ayah.

Ah, sudahlah.

Dian mengusap wajahnya perlahan, seolah ingin menyeka semua lelah yang menumpuk di dadanya. Ia bangkit, lalu menggendong Naya dengan hati-hati agar anak itu tidak terbangun. Langkahnya pelan menuju kamar, setiap pijakan terasa berat namun pasti.

Di dalam kamar, Dian merebahkan Naya di ranjang. Ia membenahi selimut kecil itu, merapikan rambut anaknya yang sedikit berantakan. Lama ia menatap wajah polos itu—wajah yang selalu menjadi alasan terkuatnya untuk bertahan.

“Ibu di sini, nak,” bisiknya lirih. “Selalu.”

Lampu kamar diredupkan. Dian duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar lemah, tapi hatinya kembali ia paksa tenang. Untuk malam ini, ia memilih diam. Memilih istirahat. Memilih memeluk anaknya daripada memeluk luka.

Besok… atau lusa… entah kapan.

Yang jelas, malam ini ia hanya ingin menjadi ibu.

Bukan istri yang disakiti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!