"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Matahari Bali yang terik biasanya memberikan kehangatan, namun bagi Kirana, pagi itu terasa seperti musim dingin yang abadi. Setelah mendengar percakapan telepon Arka semalam, seluruh emosi yang sempat mekar di hatinya.
Harapan, rindu, dan rasa percaya seketika mati pucat. Ia kini berdiri di depan cermin besar vilanya, mengenakan setelan kerja berwarna merah menyala, warna yang melambangkan keberanian sekaligus bahaya.
Ia tidak lagi melihat Kirana yang rapuh. Ia melihat seorang pemain catur yang siap menumbangkan raja lawan.
"Kau ingin aku mencintaimu, Arka? Baiklah," bisik Kirana pada pantulannya sendiri. "Aku akan mencintaimu dengan cara yang akan membuatmu menyesal pernah mengenalku."
Di lokasi proyek, Arka tampak gelisah. Ia berulang kali melirik ke arah jalan masuk, menunggu mobil Kirana. Sejak kejadian semalam, ia merasa ada jarak yang tak kasat mata, meski Kirana bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Saat mobil Kirana tiba, Arka segera menghampirinya. Ia membawa segelas kopi kesukaan Kirana dan sebuah payung untuk melindunginya dari panas matahari.
"Selamat pagi, Kirana. Kau tampak luar biasa hari ini," ujar Arka, mencoba mencari kehangatan di mata wanita itu.
Kirana tersenyum, sebuah senyuman yang sangat sempurna hingga Arka tidak menyadari ada belati di baliknya. "Terima kasih, Arka. Tidurku sangat nyenyak setelah percakapan kita di pantai kemarin. Aku memikirkan tawaranmu soal masa depan kita."
Arka merasa hatinya melonjak. "Benarkah? Dan apa keputusanmu?"
Kirana menyentuh lengan Arka dengan lembut, gerakan yang membuat Arka merasa telah berhasil memenangkan hatinya kembali seutuhnya. "Aku setuju untuk mempercepat merger antara Nirmala Capital dan Mahendra Group. Bahkan, aku sudah menyiapkan dokumen penyerahan dana darurat sebesar satu triliun rupiah untuk melunasi hutang ayahmu besok pagi."
Arka tertegun. Angka itu jauh lebih besar dari yang ia dan ayahnya harapkan. "Satu triliun? Kirana, kau yakin? Itu hampir seluruh likuiditas Nirmala."
"Aku percaya padamu, Arka," ucap Kirana dengan nada bicara yang paling tulus yang bisa ia buat. "Jika kita akan membangun masa depan bersama, hartaku adalah hartamu juga, bukan? Aku ingin kita memulai lembaran baru tanpa bayang-bayang kebangkrutan ayahmu."
Arka memeluk Kirana dengan erat di tengah hiruk pikuk suara mesin konstruksi. Ia merasa berada di puncak dunia. Di telinga Kirana, ia membisikkan janji-janji manis, sementara di dalam saku jasnya, ia sudah mengirim pesan singkat kepada Surya. "Uang satu triliun akan cair besok. Persiapkan tim hukum untuk mendepaknya lusa. Kita menang, Ayah."
Arka tidak tahu bahwa di balik bahunya, mata Kirana menatap dingin ke arah laut.
~
Malam harinya, sebuah makan malam perayaan diadakan di restoran mewah di kawasan Seminyak. Hanya ada Kirana dan Arka. Di atas meja, terdapat dokumen merger yang tebal.
"Sebelum aku menandatangani ini," Kirana membuka map tersebut, "ada satu prosedur teknis. Karena dana ini dikirim melalui jalur investasi luar negeri Nirmala Capital, aku butuh tanda tanganmu sebagai penjamin pribadi dan manajer lapangan proyek Bali. Ini hanya formalitas agar bank pusat tidak mencurigai adanya pencucian uang."
Arka membaca sekilas. Dokumen itu tampak seperti dokumen penjaminan standar. Karena ia sedang mabuk oleh rasa kemenangan dan juga beberapa gelas anggur mahal, Arka tidak meneliti bagian fine print atau catatan kaki di halaman terakhir yang telah disisipkan oleh Reza.
Dokumen itu bukan sekadar penjaminan merger. Itu adalah pengakuan bawah Arka Mahendra bertanggung jawab secara penuh atas seluruh aliran dana ilegal dan manipulasi laporan pajak yang dilakukan Mahendra Group selama lima tahun terakhir, yang telah Kirana pindahkan secara digital ke dalam sistem proyek Bali.
Arka mengambil pulpen emasnya dan menandatangani setiap halaman dengan senyum lebar.
"Selesai," ujar Arka puas. "Sekarang, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita, Kirana."
"Ya," Kirana mengambil dokumen itu dan memasukkannya ke dalam tas. "Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita dari kebenaran."
Keesokan paginya, suasana di kantor pusat Mahendra Group di Jakarta sangat meriah. Surya Mahendra sudah menyiapkan konferensi pers untuk mengumumkan merger besar tersebut. Ia duduk di ruang rapatnya, menunggu notifikasi transfer dana dari Kirana.
Tiba-tiba, pintu ruang rapat didobrak. Bukan oleh Kirana, melainkan oleh belasan petugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian RI.
"Surya Mahendra? Anda ditahan atas dugaan pencucian uang, penggelapan pajak, dan manipulasi laporan keuangan sebesar dua triliun rupiah," ujar salah satu petugas dengan tegas.
Surya ternganga. "Apa? Ini pasti kesalahan! Saya baru saja akan melakukan merger dengan Nirmala Capital!"
"Justru dari dokumen Nirmala Capital dan tanda tangan putra Anda, Arka Mahendra, kami mendapatkan bukti kuat bahwa seluruh aset Anda saat ini adalah hasil dari skema penipuan terorganisir."
Di saat yang sama, di Bali, Arka sedang bersiap untuk pergi ke lokasi proyek saat sepasang tangan memborgolnya tepat di lobi hotelnya.
"Apa-apaan ini?! Lepaskan saya! Saya Arka Mahendra!" teriak Arka meronta.
Dari balik kerumunan petugas, Kirana melangkah maju. Ia tampak sangat anggun, berdiri di depan Arka dengan tatapan yang menghakimi.
"Kenapa, Arka? Kenapa kau tampak terkejut?" tanya Kirana pelan.
"Kirana! Apa yang kau lakukan? Jelaskan pada mereka bahwa ini salah faham! Jelaskan soal dana satu triliun itu!"
Kirana berjalan mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Arka, mengulangi kata-kata Arka semalam. "Aku percaya padamu, Arka. Begitu percayanya, hingga aku memastikan kau yang menandatangani surat masuk penjara untuk ayahmu dan dirimu sendiri."
Wajah Arka berubah menjadi abu-abu. "Kau... kau menjebakku? Sejak kapan?"
"Sejak kau tertawa di telepon malam itu, menyebutku ikan di dalam pukat," desis Kirana. "Aku tahu tentang rencana penipuan setelah merger. Aku tahu ayahmu ingin mendepakku setelah uangku cair. Jadi, aku memberikan apa yang kalian mau, sebuah kehancuran yang sah di mata hukum."
Arka jatuh terduduk di lantai lobi, air mata penyesalan, kali ini mungkin sangat nyata mengalir di pipinya. "Kirana... aku benar-benar mencintaimu di Bali... aku ingin berubah..."
"Mungkin," jawab Kirana dingin. "Tapi di duniaku, penyesalan tidak menghapus hutang darah. Kau menghancurkan integritasku demi mobil sport. Sekarang, aku menghancurkan kebebasanmu demi keadilan bagi setiap orang yang pernah keluargamu injak."
Kirana berbalik tanpa menoleh lagi. Di luar, puluhan wartawan sudah menunggu.
Satu jam kemudian, Kirana duduk di tepi tebing Uluwatu, tempat ia dan Arka pernah bersumpah. Ia mengambil kalung safir yang sempat Arka berikan kembali, yang ia ambil diam-diam dari laci Arka semalam dan melemparkannya jauh ke tengah samudra.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Reza. "*Semua aset Mahendra Group telah disita negara. Saham mereka nol. Nirmala Capital kini memegang hak penuh atas proyek Bali. Kau menang, Kirana*."
Kirana menarik napas dalam. Angin laut menerpa wajahnya. Tidak ada rasa bahagia yang meluap-luap, hanya ada rasa lega yang sangat berat. Ia telah menyelesaikan permainannya. Ia telah membuktikan bahwa pengkhianatan mungkin bisa mematahkan hati, tapi ia melahirkan seorang ratu yang tak terkalahkan.
Ia berdiri, mengenakan kacamata hitamnya, dan berjalan menuju mobilnya.
"Selamat tinggal, Arka," ucapnya pada angin. "Terima kasih telah mengajariku bahwa cinta adalah senjata paling mematikan jika jatuh di tangan yang salah. Dan sekarang, aku adalah pemilik senjata itu."
Kini semuanya berakhir dengan Kirana yang meluncur pergi menuju masa depan yang baru, meninggalkan puing-puing dinasti Mahendra di belakangnya. Di Bali, pembangunan hotel tetap berlanjut, namun kini di bawah nama Nirmala Resort, sebuah monumen untuk seorang wanita yang bangkit dari pengkhianatan untuk menaklukkan dunia.
...----------------...
**Next Episode**....