Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: LABORATORIUM KARNIVORA
Dunia di depan mereka tampak seperti imajinasi buruk seorang pelukis surealis yang kehilangan akal sehatnya.
Di tengah lembah tersembunyi Mato Grosso, berdiri sebuah pohon purba yang ukurannya menentang hukum alam.
Pohon itu, yang mereka sebut sebagai pusat dari The Hive, memiliki diameter batang hampir seratus meter dengan tajuk yang menembus awan, seolah-olah menjadi pilar yang menopang langit Amazon.
Namun, kulit kayunya tidak berwarna cokelat alami; ia bersinar dengan urat-urat perak yang berdenyut, mengalirkan cairan nutrisi sintetis ke seluruh penjuru hutan.
"Mummy, pohon itu... itu bukan tumbuhan lagi," bisik Lukas, suaranya bergetar saat ia menyesuaikan lensa pemindai pada helmnya.
"Struktur selulernya sudah terintegrasi dengan nanoteknologi. Seluruh batang pohon ini adalah kerangka biologis untuk sebuah laboratorium raksasa di dalamnya."
Alana menatap pintu masuk yang menyerupai luka menganga di dasar batang pohon. Tidak ada penjaga manusia di sana, hanya sulur-sulur tebal yang bergerak lambat seperti tentakel gurita, menyapu tanah untuk mencari getaran mangsa.
"Aktifkan mode senyap pada baju kalian," perintah Arlan, ia memeriksa sisa amunisi pembakar yang dibawanya. "Jika kita masuk ke sana, kita masuk ke jantung musuh. Tidak ada jalan kembali."
Mereka menyelinap masuk melewati sulur-sulur tersebut, menggunakan frekuensi pengacau yang dipancarkan dari ransel Lukas agar dianggap sebagai 'bagian dari sistem' oleh sensor biologis pohon tersebut.
Begitu melintasi ambang pintu, udara berubah drastis. Bau tanah basah berganti dengan aroma tajam klorofil yang bercampur dengan bahan kimia rumah sakit dan bau amis daging yang membusuk.
Di dalam batang pohon, interiornya adalah perpaduan mengerikan antara botani dan mekanis.
Lift-lift transparan yang terbuat dari membran organik bergerak naik-turun di sepanjang serat-serat kayu raksasa.
Alana memimpin mereka menyusuri koridor yang dindingnya terbuat dari jaringan otot tumbuhan yang terus berdenyut.
"Lihat itu..." Luna menunjuk ke arah deretan kantung transparan yang tergantung di langit-langit koridor.
Alana mendekat, dan jantungnya serasa berhenti. Di dalam kantung-kantung yang berisi cairan perak kental itu, terdapat manusia.
Namun, mereka bukan lagi manusia seutuhnya. Akar-akar halus telah menembus kulit mereka, menyatu dengan sistem saraf dan pembuluh darah.
Beberapa dari mereka memiliki daun-daun kecil yang tumbuh dari pori-pori wajah, sementara tangan mereka telah berubah menjadi sulur yang berduri.
"Eksperimen hibrida manusia-tumbuhan," gumam Alana, suaranya bergetar karena kemarahan yang tertahan.
"The Botanist mencoba menciptakan inang yang bisa berfotosintesis dan memiliki regenerasi abadi, tapi dia mengorbankan kesadaran mereka. Mereka bukan lagi subjek medis, mereka adalah baterai biologis untuk pohon ini."
Tiba-tiba, salah satu kantung di depan mereka pecah. Cairan perak tumpah ke lantai, dan sesosok makhluk yang dulunya mungkin seorang peneliti Ouroboros jatuh terjatuh.
Makhluk itu melolong tanpa suara—karena pita suaranya telah digantikan oleh serat kayu—dan menerjang ke arah mereka dengan gerakan yang patah-patah namun sangat cepat.
"Jangan tembak!" perintah Alana saat Arlan mengangkat senjatanya. "Gas saraf di dalam sini sangat mudah terbakar. Biar aku yang mengatasinya."
Alana melangkah maju, pedang pendeknya berpendar perak. Saat makhluk itu menerjang, Alana bergerak dengan keanggunan seorang penari maut.
Ia tidak memotong anggota tubuh makhluk itu, melainkan mengincar titik di mana akar utama menembus sumsum tulang belakangnya.
Dengan satu tebasan presisi yang dialiri arus biolistrik, Alana memutus koneksi saraf tersebut.
Makhluk itu tumbang, tubuhnya seketika layu seperti tanaman yang dicabut dari akarnya.
Matanya yang sempat kembali jernih menatap Alana dengan rasa terima kasih yang bisu sebelum akhirnya menutup selamanya.
"Kita harus menghancurkan pusat kendalinya," kata Arlan, wajahnya mengeras. "Tempat ini adalah penistaan terhadap kehidupan."
Mereka naik ke level yang lebih tinggi menggunakan platform membran. Semakin tinggi mereka naik, semakin kompleks laboratorium tersebut.
Di lantai utama yang disebut 'Cortex', mereka menemukan ruangan luas yang dikelilingi oleh layar-layar besar yang menampilkan data pemetaan hutan Amazon.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah tabung kristal besar yang berisi bunga teratai raksasa yang berwarna hitam pekat, namun memiliki cahaya perak di pusatnya.
"Selamat datang, Dr. Alana. Kau datang tepat saat kuncupku siap mekar."
Suara itu lembut, feminin, dan sangat tenang, muncul dari balik bayangan di sisi ruangan. Seorang wanita muncul. Ia mengenakan gaun hijau zamrud yang tampak menyatu dengan kulitnya yang pucat.
Rambutnya panjang, berwarna putih perak, dan di sela-sela rambutnya tumbuh bunga-bunga kecil yang mekar dan layu dalam hitungan detik. Inilah The Botanist.
"Kau menghancurkan segalanya, Bianca," kata Alana, mengenali sosok di depannya. "Dulu kau adalah ahli botani terbaik di The Sovereign. Apa yang terjadi padamu?"
Bianca—The Botanist—tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan daun kering.
"Aku melihat kebenaran, Alana. Manusia adalah virus bagi bumi. Kita mengonsumsi, menghancurkan, dan membusuk. Tapi tumbuhan... mereka memberi kehidupan. Dengan Formula Teratai milik kakekmu, aku menemukan cara untuk memberikan manusia tujuan yang lebih mulia: menjadi bagian dari ekosistem yang abadi."
"Dengan mengubah mereka menjadi monster tanpa jiwa?" tantang Arlan.
"Jiwa adalah konsep yang sangat rapuh, Tuan Syailendra," Bianca mendekati tabung teratai hitam.
"Di dalam 'Sarang' ini, tidak ada kesedihan, tidak ada perang, tidak ada ego. Hanya ada pertumbuhan."
Alana mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkanmu menyebarkan spora ini. Lukas, sabotase sistem distribusinya sekarang!"
Lukas segera meletakkan tangannya di atas konsol pusat yang terbuat dari serat kayu konduktif.
Namun, saat ia mencoba meretas, sulur-sulur kecil keluar dari konsol tersebut dan melilit pergelangan tangannya.
"Aaaah! Mummy!" teriak Lukas.
"Lukas!" Alana menerjang maju, namun Bianca melambaikan tangannya, dan dari lantai laboratorium muncul tanaman karnivora raksasa dengan rahang berduri yang menghalangi jalan Alana.
"Jangan terburu-buru, Dokter," Bianca tersenyum dingin.
"Lukas memiliki otak yang sangat indah. Dia akan menjadi pusat pemrosesan data organik yang sempurna bagi pohon ini. Dan kau... kau akan menjadi ratu dari ekosistem baru ini. Darahmu adalah kunci yang kubutuhkan untuk membuat spora ini mampu bertahan di iklim gurun dan salju."
Arlan melepaskan tembakan ke arah Bianca, namun peluru-pelurunya ditangkap oleh dinding tanaman yang tumbuh seketika di depan wanita itu. "Kau harus melewati aku dulu, jalang!"
"Dengan senang hati," Bianca menjentikkan jarinya.
Dari bayangan di langit-langit, turunlah tiga 'Ksatria Hijau'—eksperimen manusia-tumbuhan yang paling sempurna.
Mereka mengenakan baju zirah organik yang keras seperti baja dan memegang tombak dari kayu yang sangat tajam.
Pertarungan pecah di dalam Cortex. Arlan berduel dengan dua ksatria hijau, menggunakan teknik pertarungan jarak dekat dan pisau taktis untuk mencari celah di balik zirah organik mereka.
Sementara itu, Alana harus berhadapan dengan tanaman karnivora yang terus beregenerasi setiap kali dipotong.
"Mummy! Sistem ini... dia mencoba mengunduh pikiranku!" Lukas berteriak, wajahnya pucat pasi saat sulur-sulur itu mulai merayap ke lehernya.
Alana merasakan kemarahan yang meledak di dalam dadanya. Energi Teratai di darahnya merespons emosinya, membuat matanya berpendar perak yang sangat terang hingga menyinari seluruh ruangan.
Ia tidak lagi menggunakan pedangnya. Ia merentangkan tangannya, melepaskan gelombang frekuensi ultrasonik yang sangat kuat dari pita suaranya—frekuensi yang didesain untuk menghancurkan struktur seluler tanaman hasil rekayasa Bianca.
BOOOM!
Tanaman karnivora di depan Alana meledak menjadi serpihan hijau. Alana melesat ke arah Lukas, memotong sulur-sulur yang melilitnya dengan satu sentuhan tangan yang panas membara.
"Lukas, aktifkan protokol penghancuran diri dari dalam!" perintah Alana sambil memeluk anaknya.
"Aku... aku sudah memasang virusnya, Mummy! Tapi aku butuh pemicu dari pusat nukleus pohon ini!" Lukas menunjuk ke bawah lantai, ke arah akar utama yang berdenyut di bawah kristal teratai hitam.
Arlan berhasil melumpuhkan ksatria hijau terakhir dengan granat termit, namun Bianca tidak tinggal diam.
Ia menyatukan tubuhnya dengan pohon pusat, kulitnya mulai berubah menjadi kulit kayu, dan matanya berubah menjadi zamrud yang bersinar.
"Kalian tidak akan bisa menghancurkanku! Aku adalah hutan ini!" suara Bianca kini terdengar sangat besar, mengguncang seluruh batang pohon.
Alana menatap Arlan. Mereka saling memahami tanpa kata. Arlan segera melindungi Lukas dan Luna, sementara Alana melompat ke arah tabung teratai hitam.
Ia menghantamkan tinjunya ke kristal tersebut dengan seluruh kekuatan DNA Teratai-nya.
PRANG!
Kristal itu hancur. Alana menangkap teratai hitam itu dengan tangan kosong.
Spora hitam mencoba meresap ke dalam kulitnya, namun darah perak Alana melawannya, menciptakan reaksi berantai yang menyilaukan.
"Pesan terakhir untukmu, Bianca," Alana berbisik saat ia menghujamkan teratai hitam itu ke inti akar di bawahnya. "Alam tidak butuh penguasa. Ia hanya butuh dibiarkan hidup."
GUMARRRRRR!
Reaksi berantai dimulai. Cairan perak di seluruh pohon mulai mendidih. Api mulai berkobar dari serat-serat kayu yang mengandung metana tinggi. Seluruh 'Sarang' mulai bergetar hebat saat sistem biologisnya mengalami gagal fungsi masif.
"Evakuasi! Sekarang!" Arlan menarik Alana menuju platform peluncuran darurat yang ditemukan Lukas.
Mereka meluncur keluar dari batang pohon raksasa itu tepat saat ledakan besar terjadi di puncaknya. Dari kejauhan, mereka melihat pohon purba itu runtuh perlahan, terbakar dalam api berwarna perak yang indah namun mematikan. Spora-spora hitam yang tadinya mengancam dunia kini musnah terbakar sebelum sempat menyebar.
Mereka mendarat di tanah hutan yang masih alami, jauh dari jangkauan racun Bianca. Alana jatuh berlutut, napasnya tersengal. Tangan yang tadi memegang teratai hitam kini tertutup bekas luka bakar perak yang perlahan menghilang.
"The Botanist sudah tidak ada," Lukas memeriksa tabletnya yang sudah bersih dari sinyal Ouroboros. "Jaringan 'The Hive' di seluruh Amazon telah mati."
Arlan memeluk Alana, lalu mencium keningnya. "Kau melakukannya lagi, Alana. Kau menyelamatkan dunia dari kiamat hijau."
Alana menatap reruntuhan pohon yang masih berasap di kejauhan. "Kita baru saja memenangkan pertempuran besar lainnya, Arlan. Tapi di luar sana, masih ada faksi-faksi lain yang memegang kepingan warisan kakekku."
"Mummy," Luna mendekat, memberikan selembar daun hijau alami yang ia temukan di tanah. "Hutannya sudah bernapas lagi."