NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi Berdarah

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Agil melewati sebuah toko perhiasan. Ia teringat kalung berlian yang ia lihat di tangan Laila kemarin. Ia menepi dan masuk ke toko itu.

​"Permisi, apakah Anda mengenali model kalung ini?" Agil menunjukkan foto kalung yang sempat ia ambil secara diam-diam dari ponselnya.

​Pelayan toko itu melihat foto itu dengan seksama. "Oh, ini koleksi Eternal Desire dari butik pusat, Pak. Hanya diproduksi tiga buah di Indonesia. Harganya sekitar 1,2 miliar rupiah."

​"Siapa pembelinya?" tanya Agil, jantungnya berdegup kencang.

​"Maaf Pak, kami tidak bisa memberikan informasi pelanggan secara sembarangan."

​Agil mengeluarkan kartu namanya—kartu nama sebagai Direktur Logistik Baskoro Group. "Ini untuk urusan internal keluarga Baskoro. Saya hanya ingin memastikan asuransinya."

​Pelayan itu melihat kartu nama itu, lalu melihat daftar di komputer. "Ah, benar. Pembelinya adalah Tuan Baskoro sendiri, dua minggu yang lalu. Beliau membelinya sebagai hadiah untuk... tertulis di sini untuk 'Menantu Tercinta'."

​Agil memejamkan mata. Kebenaran itu kini mulai terangkai satu demi satu. Hadiah 1,2 miliar rupiah untuk seorang menantu yang awalnya ia benci? Itu bukan hadiah selamat datang. Itu adalah harga dari sebuah pengkhianatan.

​Agil keluar dari toko itu dengan tatapan mata yang sudah berubah. Kenaifannya telah mati di jalanan Puncak. Kini yang tersisa hanyalah seorang pria yang sedang merencanakan pembalasan paling dingin untuk ayahnya sendiri.

​Agil mengemudikan mobilnya kembali ke Jakarta dengan kecepatan rendah. Tangannya mencengkeram kemudi, hingga kuku-kuku jarinya memutih. Di kursi sampingnya, kartu nama toko perhiasan itu tergeletak seperti bom waktu yang siap meledak. Angka 1,2 miliar rupiah terus berputar di kepalanya. Itu bukan sekadar harga sebuah kalung; itu adalah harga dari kehancuran martabatnya sebagai seorang suami.

​Namun, Agil bukan lagi pemuda impulsif yang akan langsung mendobrak pintu kantor ayahnya dan berteriak marah. Ia sadar, Baskoro adalah predator puncak yang telah memenangkan ribuan pertempuran bisnis dan politik. Jika ia menyerang sekarang dengan bukti-bukti remeh seperti struk makan dan kesaksian penjaga vila, Baskoro hanya akan tertawa dan memutarbalikkan fakta dalam sekejap.

​"Aku harus menjadi seperti dia," bisik Agil pada dirinya sendiri. "Dingin, penuh perhitungan, dan tanpa ampun."

​Malam itu, di ruang makan mansion Menteng, suasana terasa sangat normal—setidaknya di permukaan. Baskoro sedang memotong daging steak dengan elegan, sementara Rina hanya mengaduk-ngaduk saladnya tanpa minat. Laila duduk di samping Agil, wajahnya masih pucat, tangannya sesekali gemetar saat memegang garpu.

​"Bagaimana persiapan London-mu, Agil?" tanya Baskoro tanpa mengangkat wajah dari piringnya.

​Agil mendongak, menunjukkan senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama satu jam sebelum makan malam. Senyum seorang anak yang patuh. "Semua lancar, Pa. Tadi aku sudah mengurus visa dan mengecek jadwal pelatihan di London School of Business. Aku sangat bersemangat. Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini."

​Laila menoleh ke arah Agil dengan tatapan terkejut. Ia tidak menyangka Agil akan berubah begitu cepat setelah ketegangan di taman kemarin. Kecurigaannya meningkat; apakah Agil sudah menyerah, atau justru sedang merencanakan sesuatu?

​Baskoro tertawa kecil, suara yang biasanya membuat Agil merasa bangga, kini terdengar seperti suara ular yang mendesis. "Bagus. Itu baru anakku. Jangan biarkan emosi kecil menghambat langkah besarmu. Perusahaan butuh pemimpin yang berdarah dingin."

​"Tentu, Pa," jawab Agil tenang. "Oh ya, soal kalung yang Mama Rina berikan pada Laila... maafkan aku kalau kemarin aku sedikit emosional. Aku hanya kaget karena harganya pasti mahal sekali. Aku merasa belum bisa memberikan yang sehebat itu untuk Laila."

​Rina yang sedang minum air hampir tersedak. Ia menatap Agil, lalu menatap Baskoro. Baskoro hanya tersenyum tipis, matanya berkilat licik.

​"Tidak apa-apa, Agil. Perhiasan itu hanya simbol. Yang penting adalah Laila merasa nyaman di rumah ini selama kau tidak ada," ujar Baskoro dengan nada yang penuh makna ganda.

​Laila menunduk dalam-dalam. Ia merasa sedang berada di tengah-tengah dua singa yang sedang saling mengukur kekuatan, dan ia adalah mangsa yang terjebak di antaranya.

​Setelah makan malam, Agil tidak langsung kembali ke kamar. Ia mengikuti Baskoro ke ruang kerjanya dengan alasan ingin berdiskusi soal strategi logistik di London.

​"Pa, boleh aku bertanya satu hal?" Agil berdiri di depan meja besar ayahnya.

​Baskoro menyalakan cerutu, asapnya mengepul menutupi wajahnya. "Tanyakan saja."

​"Soal keluarga Laila di desa... apakah Papa sudah memastikan semuanya benar-benar aman? Aku tidak ingin saat aku di London nanti, ada penagih utang atau masalah hukum yang mengganggu pikiran Laila," tanya Agil dengan nada bicara yang sangat tulus.

​Baskoro mengembuskan asap cerutunya. "Kau tidak perlu khawatir. Semua sudah aku bereskan. Ayahnya sudah tenang, tanahnya sudah aman. Aku pribadi yang mengurus pelunasannya. Kau cukup fokus pada studimu."

​"Terima kasih, Pa. Papa memang luar biasa. Aku berjanji tidak akan mengecewakan Papa," Agil membungkuk sedikit, sebuah gestur penghormatan yang kini terasa seperti racun di lidahnya.

​Agil berbalik keluar. Begitu pintu ruang kerja tertutup, ekspresi wajahnya berubah drastis. Matanya mendingin. Ia tidak menuju kamarnya, melainkan ke arah paviliun belakang tempat Pak Broto, orang kepercayaan ayahnya, biasanya menghabiskan waktu sebelum pulang.

​Pak Broto sedang merapikan tasnya saat Agil masuk ke ruangannya.

​"Pak Broto, saya butuh bantuan," bisik Agil tanpa basa-basi.

​Pak Broto menoleh, wajahnya yang penuh keriput tampak waspada. "Pak Agil? Belum tidur?"

​"Saya tahu Anda tahu banyak tentang apa yang Papa lakukan di luar kantor. Saya tidak butuh rekaman CCTV sekarang—saya tahu Papa pasti sudah menghapusnya atau menyimpannya di tempat yang tidak terjangkau," Agil mendekat. "Saya hanya butuh satu hal: koneksi. Siapa orang yang biasa Papa gunakan untuk 'membereskan' masalah atau memata-matai orang?"

​Pak Broto terdiam lama. "Ini berbahaya, Pak Agil. Jika Tuan Besar tahu saya bicara pada Anda..."

​"Saya akan ke London dalam tiga hari, Pak Broto. Papa pikir saya akan belajar bisnis. Tapi saya akan mencari investor dan sekutu di sana untuk membangun kekuatan saya sendiri. Jika Anda membantu saya sekarang, saat saya kembali, Anda tidak akan lagi menjadi bayang-bayang Papa. Anda akan menjadi mitra saya," Agil memberikan tawaran yang sulit ditolak.

​Pak Broto menghela nafas panjang. Ia mengambil secarik kertas kecil dan menuliskan sebuah alamat di daerah pinggiran Jakarta. "Cari orang bernama 'Gito'. Dia mantan intelijen yang pernah dikhianati Papa sepuluh tahun lalu. Dia punya dendam yang sama, tapi dia butuh modal untuk bergerak."

​Agil menerima kertas itu. "Terima kasih, Pak Broto."

​Kembali ke kamar, Agil menemukan Laila sedang duduk di tepi ranjang, masih mengenakan piyama panjangnya. Ia tampak sedang menunggu.

​"Mas... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Laila saat Agil masuk. "Kenapa kamu tiba-tiba sangat baik pada Papa? Dan kenapa kamu setuju ke London?"

​Agil berjalan mendekati istrinya. Ia duduk di samping Laila, namun tidak menyentuhnya. Ia menatap lurus ke depan. "Laila, aku hanya ingin masa depan kita aman. Jika dengan pergi ke London semua masalah selesai, kenapa tidak?"

​"Kamu bohong, Mas," suara Laila bergetar. "Aku bisa melihat dari matamu. Kamu sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya. Tolong, jangan lawan Papa. Dia... dia bisa melakukan apa saja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!