Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Astra tidak bergeming. Cekikannya semakin kuat, namun tidak sampai membuat Clara pingsan—hanya cukup untuk memutus pasokan oksigen dan memicu kepanikan.
Mata Astra yang datar dan dingin menatap lurus ke mata Clara yang mulai berkaca-kaca.
"Gue nggak peduli lo mau teriak atau nangis," suara Astra terdengar pelan, nyaris berbisik, namun memiliki resonansi yang menusuk.
Clara mencengkeram tangan Astra yang melingkari lehernya. Kuku-kuku jarinya menggores kulit Astra, tetapi Astra seolah tidak merasakan apa-apa.
Wajah Clara semakin memerah, Astra dengan santai melepaskan cekikikan nya, membuat tubuh Clara ambruk ke lantai dengan napas tersengal, suara raupan napasnya terdengar jelas di kelas yang hening.
Hantu gadis seragam itu muncul, menatap Clara dan menyeringai. Terlihat sangat puas dengan keadaan Clara sekarang ini.
"Clara..." Suara dingin Astra terdengar pelan namun menusuk. "Tadinya gue gak mau ikut campur urusan kematian nya, tapi lo yang cari gara-gara duluan,"
Wajah Astra mendekati Clara yang terlihat ketakutan. Dengan suara pelan nyaris berbisik namun niscaya membuat merinding. "Lo pikir, lo bisa ganggu gue dengan pocong?"
Wajah Clara terlihat mematung, Astra tersenyum dingin kemudian kembali ke kursinya. Duduk tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Ckleek~
"Eh, Clara? Kok duduk di lantai?" Tanya Riel yang baru saja datang, namun tanpa menjawab, Clara langsung pergi keluar.
"Lho? Aneh banget sih..."
Brak!
Clara mengunci pintu kamar mandi, dengan marah melempar tas nya. Lalu mengotak-atik Handphone nya, tak lama kemudian sambungan terhubung.
📱: "Bang! Kok hantu yang gue pinta gagal sih!?"
📱: "...."
📱: "Serius, dia tahu! Dia labrak gue, mana kena cekik lagi."
📱: "..."
📱: "Terserah lo, tapi secepet nya dia harus segera di singkirin. Dia udah tau banyak dan mulai ikut campur!"
Sambungan terputus, Clara tersenyum dengan wajah menyeramkan. Oke, sekarang dendam antara Astra dan dia sudah terjalin.
Waktu berlalu tanpa Astra sadari, tibalah waktunya untuk jam pulang.
"Astra, main yuk! Mama gue nanyain lo lho..." Ajak Riel.
"Lain kali deh, gue ada urusan."
"Yahh, yaudah deh. Janji ya!" Astra tersenyum tipis, dia memakai tas nya dan beranjak pergi.
"Ha~i----"
"Jangan ganggu gue." Cuek Astra, sambil berlalu mengabaikan Dion.
"Sra, lain kali pulang bareng gue ya!" Seru Dion, namun tidak ada balasan dari Astra. "Eh! Woi, pelan-pelan jalannya." Bentak Dion saat seorang gadis berjalan cepat dan menabrak nya namun langsung pergi.
"Udah si Yon, mungkin si Anya buru-buru. Teriak-teriak gitu berisik!"
"Lah, si Anya ya? Gue kira siapa, biasanya dia berdua mulu sama si Greta gila. Tapi si Greta udah beberapa hari ini gak sekolah kenapa ya?"
"Kenapa liat gue?" Tanya Arka.
"Lo kan calon nya,"
"Calon apa? Jangan asal ngomong lo!"
"Calon suaminya, hahaha!"
Arka tersenyum tipis mendengar gelak tawa teman nya. "Siapa bilang? Calon gue itu... Astra~ "
"LO!" Dion melotot, membuat Arka tersenyum puas.
Riel melihat Dion dengan pandangan wajah yang aneh. "Kenapa? Keliatan gak suka banget sama gue" tanya Dion.
"Emang, kamu kaya orang yang punya kepribadian masokis! Semakin di tonjok semakin suka!"
**
Anya memasuki toilet, pandangan nya melihat sekeliling seolah mencari sesuatu.
"Lo cari apa?" Terdengar suara khas yang ia kenali di belakang nya, Astra bersandar di tembok sambil memangku kedua tangannya.
"Dari masuk pagi tadi, gue perhatiin lo merhatiin gue terus. Ada urusan?"
Sementara Anya sedikit terkejut, setelah memiliki penjaga gaib, indra nya menjadi semakin tajam. Namun dia tidak bisa merasakan kehadiran Astra tadi dan tiba-tiba dia sudah ada di belakang nya.
"Gue... Gue mau minta bantuan lo--"
"Gue sibuk." Astra ingin pergi, "gue mohon!"
Astra mengerutkan alisnya, dia tidak suka ada yang memohon kepada-nya. Itu mengganggu hatinya.
"Gue juga mohon sama lo," terdengar suara berat laki-laki dari arah pintu, Bastian berjalan masuk.
"Ini toilet cew--"
"Itu gak penting!" Potong Bastian. "Saudara gue lagi menderita, bahkan gue gak yakin apa yang lagi terjadi sama dia. Gue mohon, bantu selamatin saudara gue." Bastian sampai menjatuhkan tubuhnya, dia telah melihat kehebatan Astra kemarin, dan berlutut kepadanya. Rasanya itu sepadan.
Astra menghela napas pelan. Dia pikir keinginan nya untuk hidup seperti gadis biasa itu hanyalah lelucon, kenyataan nya dia tidak bisa hidup tanpa para hantu dan kekuatan gaib.
Dia menertawakan keinginan bodohnya itu, Anya dan Bastian terdiam seperti patung, bahkan napas mereka berdua pun di tahan seolah tidak ingin menganggu 'dia' yang tertawa, membuat bulu kuduk merinding.
"Oke!"
"Cari nomor gue di grup kelas, Sherlock alamat nya, gue datang jam 9 malem." Ucap Astra lalu pergi.
"Oke, makasih!"
**
Tidak seperti biasanya jalan kaki, kali ini Astra menghentikan sebuah taxi dan menaiki nya.
"Mau kemana Nak?"
"Jalan dulu aja pak."
"O-oh.."
"Jadi, kemana?" Tanya Astra pada hantu gadis berseragam di sampingnya.
"Setelah ini belok ke kiri, setelah setengah jam berenti di perkebunan teh. Kita harus jalan masuk ke bagian yang lebih dalam untuk sampai di tempat mereka."
Astra mengatakan apa yang di beritahukan hantu gadis itu kepada Supir taksi.
"Omong-omong nama aku Friska,"
Namun Astra tidak menjawab, suasana dalam mobil terasa hening. Hingga 45 menit perjalanan.
"Berhenti," Astra memberikan 2 lembar uang merah lalu keluar.
Supir taksi langsung ngebut pergi, "ternyata bener ya, anak-anak sekolah High School itu banyak yang indigo." gumam pak Supir taksi takut.
"Jadi harus jalan masuk ke sini?" Friska mengangguk.
"Ada berapa banyak mereka?"
Friska terdiam seolah berpikir. "Aku kurang yakin, mungkin puluhan atau ratusan. Soalnya mereka kaya geng motor."
Seketika Astra menghentikan kakinya, wajahnya membeku. Dia menatap hantu itu dengan horor, "lo pikir gue harus hadapin ratusan orang itu?!"
"Nggak usah... Bunuh pemimpin nya aja..."
"Pemimpin nya di jagain anak buahnya gila, Lo hantu tolol banget sih!" Baru kali ini Friska melihat Astra berkata kasar, dia jadi takut.
"Gue minta maaf, gue pikir lo bisa..."
"Gue emang bisa lawan ratusan hantu, tapi kalo manusia... Lo pikir gue beastman?!"
"M-maaf..." Mata Friska berkaca-kaca seolah teraniaya.
"Ngapain marah-marah di kebun teh gini?" Astra melihat pemuda itu, keningnya mengerut.
"Lo ngikutin gue?"
Fino nyengir dengan sedikit canggung. "Jangan salah paham, gue cuma penasaran kenapa lo yang selalu pelit naik angkot malah naik taksi, gue takut aja lo di culik."
"Wahh, pantes aja lo nolak ajakan si Dion mulu. Ternyata lo udah punya pacar ya? Tapi pacaran kok di kebun teh?" Suara santai pemuda yang Astra kenali.
***
Like dan komentar yang banyak!!!
BESOK AUTHOR SEKOLAH, HUWAA... BELUM SIAP!!! 😭😭😭😭😭
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶