Larasati gadis berusia 25 tahun berparas cantik, lulusan ekonomi. Dia anak yatim piatu, karena kedua orang tuanya telah tiada. Sebab kecelakaan maut, dari usianya 5 tahun, dia di titipkan oleh pamannya ke panti asuhan. Aset milik orang tuanya ludes tak tersisa oleh sang paman. Laras menikah kontrak dengan seorang CEO muda di indonesia yang bernama Malik Ibrahim, yang sudah beristri tiga. Ketiga istrinya tak juga kunjung memberikan keturunan pada sang CEO dan tak ingin diceraikan oleh suaminya. Istri pertama yang bernama Dian! mencarikan lagi gadis! ya itu Laras untuk dinikahi sang suami. Dengan harapan Laras bisa memberi keturunan pada sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juleha2606, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandul
Masih di wilayah kantor Ibra, ada beberapa orang sedang berjalan menuju ruang direktur utama. Sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin bertemu orang yang merek maksud...
Mereka adalah orang tua Malik Ibrahim, yang bernama Marwan dan istrinya Rahma. Mereka baru saja datang dari negeri kincir angin itu.
"Pak Barko, sudah. Kamu tunggu di mobil saja, ini uang buat ngopi," ujar Marwan dan memberikan lembaran uang pada supir tersebut.
"Iya. Pak, sampai sini saja nganter nya. Kamu pasti capek," sambung Rahma.
"Baiklah. Tuan besar dan Nyonya besar." Barko mengangguk hormat, kemudian berlalu pergi meninggalkan orang tua majikannya.
Keduanya terus berjalan, sambil bergandengan. Tampak masih romantis pasangan pasutri ini.
Sampai depan pintu ruangan Ibra keluar seorang wanita yang bernama Kiki, dia salah satu asisten di sana.
"Hi ... Kiki apa kabar kamu?" bu Rahma menghampiri.
"Eeh! Ibu Rahma, baik. Baru datang ya?" mereka berpelukan.
"Ibra nya masih ada! di dalam?" tanya bu Rahma lagi.
"Ada. Bu, barusan saya habis mengantar mukena," sahut Kiki.
Rahma mengernyitkan keningnya. "Buat siapa? apa di dalam ada Dian juga?"
"Bu Dian, tidak ada tuh! yang ada wanita ... entah siapa. Sebab baru lihat saya."
"Ooh! ya sudah saya dan suami masuk dulu ya," bu Rahma melanjutkan langkahnya. Memasuki pintu yang sudah di bukakan oleh suaminya.
Dari dalam. Ibra menyambut kedatangan orang tuanya dengan bahagia. "Selamat datang Ayah. Mama ... maaf aku gak bisa jemput!"
Rahma menyimpan tas branded nya di meja lalu memeluk sang putra dengan erat. "Oh ... sayang. Mama kangen kamu , Nak."
"Ibra juga Mah. Ibra membalas pelukan sang ibunda.
"Dian mana?" tanya bu Rahma sambil menatap wajah putranya itu.
Setelah melepas pelukan ibunya, kemudian mencium tangan sang ayah. Mereka duduk di sofa panjang, bersama Zayn yang menyimpan air mineral di meja untuk mereka minum.
"Kebetulan Dian ada urusan di luar Negeri Mah," ujar Ibra.
"Kapan berangkatnya?" tanya sang ayah.
"Tadi pagi, pak Barko tidak cerita ya? tadinya yang mau jemput Mama sama Papa itu Zayn," ujar Ibra menunjuk Zayn yang mengangguk. "Tapi karena kebetulan supir ke sana mengantar Dian. Ya ... sekalian saja."
"Ooh!"
Laras yang berada di kamar, selesai menunaikan sholat, mendengar di luar kamar begitu ramai. Laras segera keluar dan berdiri di pintu, nampak seorang ibu paruh baya dengan penampilan masih elegan bak sosialita. Dan seorang pria paruh baya juga wajahnya sangat mirip dengan Ibra. "Pasti! mereka orang tuanya Ibra," batin Laras.
Mereka yang berada di sana menoleh kearah Laras, bahkan bu Rahma terkesima melihat Laras. Namun bibirnya terlintas senyuman.
Laras memberanikan diri mendekati dan mencium tangan orang tua Ibra masing-masing. Kemudian dia duduk di kursi yang kosong.
"Ini ... yang Dian dan kamu ceritakan itu?" tanya bu Rahma menunjuk Laras. Senyuman masih menghiasi bibirnya.
"Iya," jawab Ibra singkat.
"Sini, duduk di sini?" bu Rahma menepuk sofa dekatnya. Menyuruh Laras duduk dekat beliau.
Dengan malu-malu Laras berpindah duduk nya menjadi dekat bu Rahma.
"Kok saya baru lihat kamu ya? dulu kamu kuliah di luar negeri ya! sehingga tidak pernah bertemu saya kalau ada pertemuan keluarga," ujar bu Rahma.
Jelas Laras merasa kebingungan, siapa yang kuliah di luar negeri? dia memang lulusan ekonomi tapi masih di dalam negeri! Laras menoleh Ibra, matanya melotot, siapa yang bilang seperti itu.
"Saya tidak menyangka kalau Dian punya sepupu secantik kamu?" mengusap bahu Laras sangat lembut.
"Kemarin. Kuliah di mana kamu?" tanya pak Marwan, menatap Laras.
Lagi-lagi Laras menoleh Ibra, dia bingung harus jawab apa. "Siapa sih yang bikin kebohongan ini? heran aku?" batin Laras sambil menatap Ibra.
"Eh ... itu?" Ibra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sial! Dian bicara apa sih tentang Laras? saya jadi bingung harus jawab apa," batin Ibra.
Melihat Ibra kebingungan, apa lagi Laras nampak kikuk, gusar. Zayn mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sorry! sebentar lagi waktunya pertemuan. Sebaiknya kita berangkat sekarang," sambil berdiri, sebelumnya merapikan berkas yang harus di bawa.
Ibra tersenyum. Merasa terselamatkan oleh Zayn, begitupun Laras hatinya sedikit lega. Akhirnya mereka semua bersiap ke tempat rapat, yang di adakan disebuah ruangan sambil makan siang.
****
Dian yang sudah sudah sampai di luar negeri, berada di salah satu kamar hotel uang mewah. Dian tengah duduk santai di sofa, memegangi sebuah amplop besar, perlahan ... menarik secarik kertas dan dipandanginya. Air matanya menetes di pipi, jatuh tanpa diundang.
Secarik kertas itu hasil dari pemeriksaan dokter kandungan, bahwa dia tidak bisa mengandung ataupun melahirkan. Dian divonis dokter, mandul. Tidak bisa memberikan suaminya anak, penyebabnya adalah ... Masalah fisik pada rahim
Fibroid rahim (miom), yang merupakan gumpalan jaringan dan otot non-kanker pada dinding rahim.
Kecewa yang di rasa dalam hatinya, sedih yang teramat menyelimuti relung jiwanya! sebagai perempuan dia pun sangat ingin bisa memberi keturunan seperti perempuan lainnya. Namun kenyataan berkata lain Dian menjadi segelintir perempuan yang tak bisa memiliki anak.
Enam tahun menikah bersama Ibra. Ia jelas sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya, merindukan tangis dan tawa seorang bayi. Namun itu tidak mungkin dia dapatkan, bila pun itu di dapatkan! pastinya bukanlah bayi dari rahimnya pribadi.
Dian berusaha menghadirkan anak di tengah keluarganya dengan cara mencarikan suaminya istri lagi. Awalnya Ibra menolak dengan alasan sabarlah dulu, mungkin nanti ada sebuah keajaiban untuk mereka, namun Dian merasa itu tidak sangat mungkin!
Pada akhirnya Ibra menyetujui saran dari sang istri, sakit itu pasti! siapa sih wanita yang mau dimadu? namun dia harus mampu menyampingkan perasaannya demi sebuah harapan, ya itu keturunan! Ibra adalah anak tunggal begitupun Dian sama-sama anak tunggal. Tapi hasilnya sungguh mengecewakan. Kedua istri yang lainnya entah dengan alasan apa mereka pun belum juga mengandung, padahal mereka semua sehat termasuk suaminya tidak ada gangguan apa pun.
Dian duduk memeluk lutut, sembari berderai air mata. Hidupnya begitu sepi! itu sebabnya Dian lebih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Karena dia tidak mau larut dalam sepi, dalam kekosongan! sekalipun dia kurang memperhatikan suaminya.
Orang tua Dian berada di luar negeri, mereka kurang tau keadaan putri semata wayangnya, yang di tanyakan hanyalah cucu dan cucu. Membuat dirinya terkadang merasa stres, dan orang tua Dian tidak tau kondisi putri mereka yang sesungguhnya....
Lain lagi dengan mertuanya, mereka tahu akan kondisinya. Mereka pun tau Ibra punya istri empat sekarang ini, mereka juga sudah mengenal Yulia dan Mery. Hanya dengan Laras mungkin baru bertemu sekarang.
Dian meraih ponsel, dengan niat memberi kabar suaminya. Namun di urungkan karena tau saat ini suaminya maupun Laras sedang menghadiri rapat.
Akhirnya Dian berbaring di sofa, sambil mengusap pipinya yang basah....
,,,,
Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.