NovelToon NovelToon
GARIS DEPAN ( Misi Senyap )

GARIS DEPAN ( Misi Senyap )

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Kehidupan Tentara / Cintapertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bojone_Batman

Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.

Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.

Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.

Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.

KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Banyak yang harus di jelaskan.

Hujan kecupan terus mengalir pada kening Pitta yang kini tidur pulas seolah tanpa beban. Bang Oscar menyandarkan kepalanya, pikirannya terus berkelana membayangkan kebersamaan Pitta dan adik laki-laki nya saat dirinya sedang tidak berada di samping istrinya itu.

'Sungguhkah tidak terjadi apapun antara kamu dan Satria???'

Bang Oscar segera menepis perasaannya yang tiba-tiba kacau tak menentu. Rasa cemburu hilang dan timbul begitu menyiksa.

'Astaghfirullah.. Jangan mikir macam-macam..!!'

***

Pagi tiba. Sesuai dengan perintahnya, pagi ini Kompi melaksanakan olahraga. Bang Oscar sudah siap dengan seragam oraum nya.

Tak jauh dari lapangan, Pitta juga sudah ada disana karena sebentar lagi ia akan berangkat menuju balai desa untuk acara bakti sosial.

"Kamu mau berangkat sekarang, dek?? Nggak capek??" Tanya Bang Oscar sambil membuka botol air mineral dan menyerahkannya pada Pitta.

"Iya Bang. Pitta harus berangkat sekarang, ada berkas yang harus Pitta tanda tangani." Kata Pitta.

"Semua sudah Abang tanda tangani. Nanti sekitar jam sepuluh baru Abang merapat." Ujar Bang Oscar yang sudah sigap menghandle semua perkara.

Pitta tertegun sesaat, lalu tersenyum lega sekaligus malu. "Ya ampun... Terima kasih, Bang. Pitta malah lupa sama sekali."

Bang Oscar tersenyum tipis, lalu mengusap pelan puncak kepala istrinya. "Pantas saja Abang ini suamimu, kan? Biar yang berat-berat Abang yang pikul, yang ringan-ringan cukup Pitta nikmati saja. Tapi janji ya... jangan terlalu capek. Kalau merasa pusing atau mual, langsung istirahat. Jangan dipaksakan."

Dengan sayangnya Bang Oscar merapikan kerah kemeja batik Pitta yang sedikit miring, lalu menatap sekeliling dengan cepat. Tatapannya sempat berhenti sejenak pada sosok yang baru saja muncul di gerbang lapangan Kompi, Bang Satria. Pria itu ada disana melambaikan tangan saat melihat mereka berdua.

'C*k, buat apa makhluk satu ini datang kesini.'

Bang Satria menghampiri, wajah Abangnya pun seketika muram. Rasa kesal dan cemburu yang sempat sirna semalam kini kembali datang.

"Mau ke balai desa, kan?? Kalau Bang Oscar nggak bisa berangkat, sama saya saja." Kata Bang Satria menawarkan diri.

"Bisa, saya free." Sambar Bang Oscar.

"Lah.. Bukannya Abang ada pengarahan, jam komandan dengan jabatan yang baru??" Ujar Bang Oscar.

"Nggak apa-apa. Saya kosongkan dulu." Jawab Bang Oscar. Ia kemudian memberi kode pada anggotanya agar segera menyiapkan seragam lorengnya.

...

Di balai desa, tak ada kegiatan apapun yang di lakukan Bang Oscar karena memang jadwal kegiatannya di balai desa masih siang hari. Yang ia lakukan saat ini adalah sibuk memantau dan mengintai adiknya sendiri.

Suasana di balai desa terasa hangat dan riuh warga, tapi mata Bang Oscar tak lepas dari setiap gerak-gerik adiknya yang juga ikut membantu di sana. Ia berdiri di ambang pintu, pura-pura memeriksa daftar kebutuhan warga, tapi telinganya menangkap setiap percakapan yang terjadi di ruangan itu.

Bang Satria terlihat sangat sopan. Ia hanya membantu mengangkat kotak vitamin, menyusun kursi, lalu mundur ke belakang saat Pitta mulai berbicara dengan ibu-ibu warga. Tak sekalipun ia berbicara berdua saja dengan Pitta. Tapi bagi Bang Oscar, setiap kali adiknya menatap sekilas ke arah Pitta, hatinya berdenyut tidak nyaman.

"Apa yang dia lihat???" Gumamnya kesal.

Pikiran Bang Oscar berkelana jauh. Hingga akhirnya ada seorang warga yang datang dengan langkah sempoyongan mengarah pada Pitta, bertelanjang dada dan memakai celana dengan karet longgar yang hampir putus.

"Ada yang punya tuak???" Tanyanya dengan mata merah marah. "Tidak ada pentingnya obat disini, yang penting tuak."

Pria itu memandangi Pitta dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Perempuan hamil, seksi sekali. Jadi istri ketiga ku saja..!!" Ucapnya melantur dengan gigi ompongnya.

Melihat situasi tidak memungkinkan, Bang Satria menahan langkah pria tersebut sedangkan Bang Oscar sendiri langsung menarik lengan Pitta dan menjauhkannya dari pria mabuk itu.

"Siapa yang jaga keamanan di depan?? Kenapa bisa kecolongan???" Tegur Bang Oscar mulai meradang.

Pria tersebut nekat dan berusaha melawan, tapi tangannya lolos dan berhasil menjamah Pitta.

Pitta yang kaget langsung berteriak kencang. Seketika Bang Satria bereaksi, Letnan Satu yang menjabat sebagai PaSie Intel Batalyon puncak itu membanting pria mabuk tersebut, belum cukup sampai disitu.. Bang Oscar langsung menginjak leher pria tersebut tanpa ampun, tanpa suara tapi tatapan itu serasa mematikan.

Tanggap situasi, Bang Oscar langsung memeluk suaminya. Ia tau betul resiko apa yang akan terjadi jika suaminya terus menindak pria tersebut. Tangan itu juga menarik ujung pakaian Bang Satria agar adik suaminya itu juga berhenti menindak, tapi kemudian Bang Oscar menepisnya.

"Apalah nih, pegang-pegang segala."

Pitta semakin mengunci pelukannya. "Abang, sudah..!!!" Bujuknya pelan tapi Bang Oscar berusaha melepas pelukan sang istri karena emosinya sedang meninggi.

Sulitnya Pitta meredakan emosi suaminya membuatnya harus menyudahi situasi panas ini.

"Abaang, Pitta pusing. Eeghhh.." Pitta pun memegangi perutnya seolah merasa kesakitan.

Sesuai dengan dugaan Pitta. Amarah Bang Oscar lenyap, tergantikan kepanikan yang luar biasa.

"Astaghfirullah.. Anak ku..!!" Tanpa pikir panjang Bang Oscar langsung mengangkat Pitta dan membawa Pitta ke ambulans Batalyon. Lembut namun juga tergesa-gesa.

Bang Satria pun sigap mengikuti langkah Abangnya. Akhirnya Prada Syafi'i pun mengikuti kedua Letnan. Tapi saat tiba di ambulans, Bang Satria melirik Prada Syafi'i.

Sesampainya di dalam ambulans, Bang Oscar duduk menahan tubuh Pitta yang terbaring di ranjang pasien. Tangannya gemetar saat mengusap kening Pitta yang dingin berkeringat.

Prada Syafi'i seolah paham arti lirikan tersebut. Ia kemudian menunggu moment yang pas untuk membakar situasi kepanikan.

"Pitta, sayang... Pitta rasa bagaimana sekarang?? Jangan buat Abang takut..!" suaranya bergetar, penuh kepanikan yang luar biasa.

Bang Satria berdiri di ambang pintu ambulans, namun tidak ikut masuk. Ia menahan diri, hanya mengawasi dari kejauhan dengan perasaan yang tak kalah cemas.

Prada Syafi'i yang ikut berdiri di sisi pintu berbicara dengan nada cemas yang sengaja ditinggikan, menatap ke arah pengemudi ambulans agar Letnan Oscar bisa mendengarnya.

"Pak... tadi saya lihat baju Ibu Danki ada bercak merah di bagian bawah. Takutnya... takutnya ada apa-apa sama Ibu dan bayinya."

Seketika Bang Satria syok, ia menyangka Prada Syafi'i sudah pergi mencari air mineral untuk Pitta. Bang Oscar tak kalah panik, ia langsung melihat ke arah kaki Pitta. Benar saja, ada warna merah segar disana, di bagian bawah rok panjangnya juga kaki Pitta.

"Astaghfirullah.. Ya Allah." Rasanya Bang Oscar bagai terkena serangan jantung. Kepalanya mendadak pening hingga rasanya nyaris pingsan.

Situasi tersebut membawa kepanikan juga bagi Bang Satria, saat ia melihat warna merah di sekitar kaki dan rok Pitta, saat itu juga kakinya ikut lemas.

Beberapa saat kemudian dokter datang dan melihat kedua Letnan sudah lemas dengan wajah pucat pasi.

"Jadi siapa yang sakit??" Tanya dokter disana.

.

.

.

.

1
Maysuri
alah.... dalah tambah runyam iki toh thor.....
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"Asti"•§͜¢•🦢🍒
maulah aku tugasnya cuma rebahan sama scroll hp
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 gimana ini ceritanya
Maysuri
thor aq sampai ikut gemetar,lah kok bisa gitu loh.....kmn aj ajudannya
Tanti
mba Nara....konfliknya udah mulai naik yaaa🥹🥹...perasaanq udaah campur aduk bacanya..
ditunggu lanjutanya mba
Tanti
wadooohhh....gawat!!!
Maysuri
wow.....ternyata....
Maysuri
eng....iiii.....eng.....thor🤦
Tanti
luar biasa hukuman yg diberikan pak Dante...selain dapet pahala jg bs perbaiki diri..mantappp

ditunggu lanjutannya mba Nara
Maysuri
klw engk mau sakit hati,lebih baik mundur bang,jngn 1 wilayah,lebih baik menjauh unk menata hati ....🤭
Bojone_Batman: Harusnya yaaa.. tapi SKEP yang menentukan dari pusat
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
jangan berdinas disitu bang satria semakin dekat pasti sulit melepas perasaan
Bojone_Batman: Iya, karena pasti akan sering ketemu.
total 1 replies
Tanti
semoga mama dan calon baby nya ga kenapa-napa
Bojone_Batman: Aamiin.. Semoga selalu baik-baik saja.
total 1 replies
Maysuri
aq kira si fita pura" pusing dan keram perut..🤔
dyah EkaPratiwi
semoga kuat ya pitta
Maysuri
semangat buat kapan ber2,...💪💪
Septi Astuti
semoga lekas sembuh dan sehat kembali untuk orang tua mbak Nara.. Aamiin
Septi Astuti: sama-sama mb...
total 2 replies
Tanti
Tetap semangat semua...ingat pesannya mama Dilan💪💪💪
Tanti
seneng lihatnya...Bang Dante, Dilan, dan Bian bs rukun ky gini

lanjut mba Nara👍
dyah EkaPratiwi
semangat pitta
dyah EkaPratiwi
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!