NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 25. Sang CEO yang Demam

Tiba-tiba terdengar suara keypad pintu.

Bip.

Alessia langsung tersenyum.

“Itu pasti Vellano.”

Pintu terbuka.

Namun senyumnya seketika menghilang.

Vellano masuk dengan langkah lemah, tubuhnya dipapah Maxime. Wajahnya pucat dan matanya terlihat berat.

“Vellano!”

Alessia langsung berdiri dan menghampiri mereka.

“Ada apa?”

Maxime menghela napas.

“Tuan demam sejak pagi. Di kantor sudah saya suruh pulang beberapa kali, tetapi beliau menolak.”

Alessia menatap suaminya dengan kesal sekaligus panik.

“Kau demam sejak pagi dan masih bekerja?”

Vellano berusaha tersenyum.

“Pekerjaan tidak akan selesai kalau aku tidur.”

Maxime langsung menyela, “Tuan hampir pingsan saat berdiri.”

Vellano meliriknya.

“Maxime.”

“Saya hanya menyampaikan fakta.”

Alessia memegang dahi Vellano.

Panas.

“Ya Tuhan, kau panas sekali!”

“Aku memang seksi.”

Alessia menatapnya tidak percaya.

“Masih sempat bercanda?”

Vellano tersenyum lemah.

“Kalau aku tidak bercanda, nanti kau panik.”

“Aku sudah panik!”

Vellano tertawa kecil, tetapi langsung meringis karena kepalanya terasa berdenyut.

Alessia segera membantunya duduk.

“Maxime, ambil termometer dan obat. Aku akan siapkan air.”

Maxime mengangguk.

Namun sebelum keluar, ia menatap Vellano.

“Tuan, lain kali kalau sakit, jangan menunggu sampai hampir pingsan.”

Vellano mengangguk lemah.

“Baik.”

Maxime pergi.

Alessia membantu Vellano berbaring.

“Kau benar-benar keras kepala.”

Vellano membuka mata sedikit.

“Kita cocok.”

“Kenapa?”

“Kau keras kepala. Aku juga.”

Alessia menghela napas, tetapi sudut bibirnya akhirnya terangkat.

“Kali ini kau kalah.”

Vellano tersenyum tipis.

“Kalau hadiahnya dirawat olehmu, aku tidak keberatan.”

Alessia langsung memerah.

“Demam saja masih bisa menggoda.”

Vellano menutup mata sambil tersenyum.

“Berarti aku belum terlalu sakit.”

Alessia menggeleng, lalu menarik selimut sampai menutupi tubuh suaminya.

Di balik kekesalannya, ia merasa lega karena Vellano akhirnya berada di rumah—meski kali ini justru dirinya yang harus menjaga suaminya.

................

 Setelah Maxime pamit pulang, Alessia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter Gustavo. Tidak lama kemudian, dokter itu tiba di mansion dan langsung memeriksa Vellano.

Setelah mengecek suhu tubuh, tekanan darah, dan kondisinya, Gustavo menghela napas lega.

“Demam biasa. Sepertinya tubuhnya kelelahan karena terlalu memaksakan diri.”

Alessia langsung menatap Vellano tajam.

“Dengar itu?”

Vellano hanya bergumam, “Aku baik-baik saja.”

Gustavo terkekeh. “Saya benar-benar tidak percaya. Seorang CEO yang ditakuti banyak orang ternyata bisa tumbang hanya gara-gara demam.”

Vellano membuka mata.

“Dokter, jangan menghina pasien.”

“Saya bukan menghina. Saya sedang menikmati pemandangan langka.”

Alessia tertawa kecil.

Setelah memberikan obat dan beberapa nasihat, Gustavo akhirnya berdiri.

“Banyak istirahat, jangan bekerja dulu.”

Vellano mengangguk pasrah.

Sebelum pergi, Gustavo menoleh kepada Alessia.

“Kalau dia nekat membuka laptop, sita.”

Alessia mengangguk mantap.

“Dengan senang hati.”

Vellano langsung membuka mata lebar.

“Pengkhianatan.”

Gustavo tertawa lalu meninggalkan kamar.

Alessia tersenyum puas.

“Sekarang kau benar-benar pasien.”

Vellano hanya bisa menghela napas.

................

Pagi datang dengan cahaya matahari yang perlahan menerobos jendela mansion. Namun, suasana kamar utama masih tenang. Vellano masih terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan dahi yang hangat. Demamnya belum juga turun.

Alessia yang sejak tadi mengawasinya akhirnya turun ke dapur. Ia berniat membuat bubur agar Vellano bisa makan sebelum minum obat.

Namun, baru saja sampai di ruang makan, ia mendapati Nicholas sudah duduk santai sambil menikmati sarapan.

“Pagi,” sapa Nicholas.

Alessia mengangguk. “Pagi. Kamu sudah bangun?”

“Sudah. Kak Vellano mana?”

Alessia berhenti sebentar sebelum menjawab, “Masih di kamar. Dia demam.”

Nicholas langsung membelalakkan mata. “Hah? CEO itu sakit?”

Alessia mendengus. “Memangnya CEO kebal penyakit?”

Nicholas tertawa kecil. “Aku kira kakak iparku cuma kebal terhadap perasaan.”

Alessia langsung menatap tajam. “Nicholas!”

“Oke, oke! Aku diam.”

Namun beberapa detik kemudian ia menambahkan, “Tapi kalau buburnya gosong, jangan salahkan demam Kak Vellano.”

Alessia menghela napas panjang. Pagi-pagi sudah dibuat kesal oleh adiknya sendiri.Nicholas kembali menikmati sarapannya dengan santai, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi. Sementara itu, Alessia selesai menyiapkan semangkuk bubur hangat. Ia membawa nampan dan hendak menaiki tangga menuju kamar utama.

Baru beberapa langkah, Nicholas tiba-tiba berdiri.

“Aku ikut.”

Alessia menoleh. “Untuk apa?”

“Mau lihat keadaan Kak Vellano. Aku juga peduli.”

Alessia mengangkat alis. “Tadi katanya CEO kebal perasaan.”

Nicholas nyengir. “Itu urusan perasaan. Demam beda perkara.”

Ia lalu berjalan mengikuti Alessia. Bahkan ia sempat mengambil satu potong roti dari piringnya.

Alessia melirik. “Kamu mau menjenguk atau piknik?”

“Persiapan mental,” jawab Nicholas serius.

Alessia menahan tawa. “Aneh.”

Sesampainya di depan kamar, Nicholas mendadak memasang wajah khawatir. Bagaimanapun, di balik semua candaan mereka, ia benar-benar ingin memastikan kakak iparnya baik-baik saja.

......................

Begitu pintu kamar dibuka, Nicholas langsung heboh. Matanya membesar melihat Vellano terbaring lemah di atas ranjang. Wajah sang CEO yang biasanya dingin dan berwibawa kini pucat, rambutnya sedikit berantakan, sementara sebuah stiker kompres demam menempel di dahinya.

“Ya ampun, Kak! Kamu benar-benar sakit!”

“Pelankan suaramu,” tegur Alessia cepat.

Vellano hanya membuka mata perlahan, lalu menggeleng lemah melihat tingkah dua orang itu. Sepertinya demamnya saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut, ditambah suara Nicholas yang nyaris seperti alarm kebakaran.

“Aku cuma kaget,” bisik Nicholas, meski volumenya masih terdengar jelas.

Alessia menaruh nampan berisi bubur di meja. “Aku mau ke kamar mandi sebentar. Jangan berisik.”

Nicholas mengangguk patuh.

Beberapa menit kemudian, Alessia pergi. Nicholas menatap bubur, lalu menatap Vellano.

“Kalau begitu… aku yang suapi.”

Vellano langsung mengerutkan kening.

“Tidak perlu.”

“Tidak boleh membantah orang sakit.”

“Aku masih bisa makan sendiri.”

Nicholas mengambil sendok dan mengisinya dengan bubur. “Buka mulut, Kak.”

Vellano menatapnya datar.

“Aku CEO, bukan anak TK.”

Nicholas menahan tawa. “CEO tetap harus makan.”

Akhirnya, dengan wajah pasrah, Vellano membuka mulut. Nicholas menyuapinya dengan hati-hati, tetapi senyumnya semakin lebar.

“Wah, ternyata gampang juga merawat CEO.”

Vellano memejamkan mata.

Dalam hati ia hanya berharap Alessia segera kembali sebelum harga dirinya benar-benar hancur.

Namun, sebelum benar-benar kembali masuk ke kamar, Alessia berhenti di balik pintu yang sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat pemandangan yang membuat sudut bibirnya terangkat.

Nicholas masih sibuk menyuapi Vellano dengan ekspresi serius, sementara Vellano menerimanya dengan wajah pasrah.

“Pelan-pelan,” gumam Vellano.

“Kalau pelan nanti buburnya keburu dingin.”

“Aku tidak sedang dikejar waktu.”

Nicholas mengangguk sok bijaksana. “Benar juga. Orang sakit memang harus santai. Apalagi kalau yang sakit CEO.”

Vellano menatapnya datar. “Kau sengaja mengejekku?”

“Tidak. Aku sedang memberikan pelayanan premium.”

“Pelayanan premium?”

“Iya. Gratis pula.”

Vellano menghela napas. “Aku lebih memilih membayar.”

Nicholas tertawa kecil. “Sayangnya, pasien tidak boleh memilih menu pelayanan.”

Alessia menutup mulutnya agar tidak tertawa. Entah kenapa melihat dua orang itu seperti itu membuat hatinya terasa hangat. Vellano yang biasanya dingin dan sulit didekati kini malah terlihat seperti pasien manja yang pasrah disuapi adik iparnya.

Tiba-tiba muncul ide jahil di kepala Alessia.

Ia sengaja tidak masuk.

Biarlah Nicholas menemani Vellano sedikit lebih lama.

Di dalam kamar, Nicholas kembali menyuapkan bubur.

“Kalau sembuh nanti,Kak Vellano harus traktir aku.”

“Untuk apa?”

“Biaya tenaga medis.”

“Kau bukan tenaga medis.”

Nicholas menunjuk sendok di tangannya. “Sekarang aku dokter bubur.”

Vellano memejamkan mata sambil menggeleng.

Di balik pintu, Alessia akhirnya tertawa kecil.

“Dasar dua orang aneh,” gumamnya sambil membiarkan mereka melanjutkan kekonyolan itu.

......................

Setelah acara menyuapi bubur yang cukup membuat harga diri Vellano terkikis, suasana kamar akhirnya terasa lebih ringan. Beberapa saat kemudian, Vellano yang mulai bosan berbaring meminta pindah ke balkon.

Alessia sempat melarang, tetapi Vellano bersikeras. Akhirnya ia berbaring nyaman di kursi santai dengan beberapa bantal sebagai penyangga, sementara Alessia dan Nicholas duduk di sofa di depannya.

Udara pagi terasa sejuk. Untuk pertama kalinya sejak demamnya muncul, Vellano tampak sedikit santai.

Nicholas langsung membuka percakapan.

“Kak, kalau perusahaan tahu CEO mereka sekarang disuapi bubur, kira-kira bagaimana?”

Vellano melirik malas. “Kau mau aku pecat?”

Nicholas terkekeh. “Tidak bisa. Aku bukan karyawanmu.”

Alessia ikut tertawa. “Tapi dia memang terlalu banyak bicara.”

“Aku hanya menghibur pasien.”

“Kau lebih cocok jadi pengganggu pasien,” balas Vellano.

Nicholas langsung memasang wajah tersinggung. “Sakit hati lebih parah daripada demam, Kak.”

Alessia tertawa semakin keras.

Percakapan itu terus berlanjut, mulai dari cerita masa kecil Nicholas hingga kebiasaan aneh Vellano ketika tidur. Tingkah Nicholas memang sudah sangat bisa ditebak—selalu punya komentar konyol untuk segala hal.

Bahkan Vellano yang biasanya hanya menghela napas akhirnya tidak mampu menahan tawa.

“Hahaha…”

Tawanya terdengar lucu dan sedikit lemah karena demam.

Alessia terdiam sesaat, menatapnya dengan senyum hangat.

Ternyata, melihat Vellano tertawa seperti itu jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.

......................

Malam tiba. Setelah seharian menemani Vellano yang masih demam, Alessia baru saja selesai mengelap tubuh suaminya agar ia merasa lebih nyaman. Ia kemudian mandi dan berganti pakaian tidur sebelum kembali ke kamar.

Alessia merebahkan diri di sisi Vellano yang sudah berbaring nyaman.

“Masih pusing?” tanyanya pelan.

Vellano menggeleng. “Sedikit.”

Alessia mengangguk lega. Namun tiba-tiba Vellano berkata, “Kompres di dahiku jangan lupa.”

Alessia menoleh dan tertawa kecil. “Kamu ternyata manja kalau sakit.”

“Aku sedang sakit, bukan manja.”

“Bedanya tipis.”

Vellano hanya mendengus, lalu memejamkan mata.

Alessia tersenyum. Malam itu, kamar mereka terasa jauh lebih tenang.

......................

Baru saja Alessia dan Vellano hendak memejamkan mata, tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan kamar.

Vellano mengerutkan kening. Ia meraba ponselnya di meja samping ranjang, lalu matanya langsung membesar melihat layar.

“Gawat.”

Alessia yang sudah hampir tertidur langsung membuka mata. “Kenapa?”

Vellano menatap layar seolah baru saja melihat surat kematian.

“Aku lupa.”

“Lupa apa?”

...****************...

Kira-kira apa yang lupa ya?Hal penting atau apa lagi?

Kayaknya hampir setiap hari ada aja....

 🤣💜

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!