Asih gadis berparas cantik yang merupakan salah satu kembang desa, banyak laki-laki yang mengejar cintanya tak hanya pemuda desa, duda dan laki-laki beristri pun mengejar cinta Asih. Namun kemalangan menimpa nya Asih ditemukan seorang warga tergeletak tak bernyawa disalah satu kebun warga. Siapakah orang yang tega berbuat keji terhadap Asih?
Yuk baca terus kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arztha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana kantor kepala desa Rengas pagi hari ini lumayan cukup ramai, banyak warga yang datang untuk mengurus berbagai keperluan mereka.
Rama yang sudah rapih dengan baju berkerah warna putih dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam menambah kesan santai dan menambah kadar ketampanan yang paripurna.
Rama pagi ini berkunjung ke kantor desa Rengas untuk bertemu dengan pak kades. Banyak sekali mata yang memandang kagum atas ketampanan yang Rama miliki. Banyak yang bertanya tanya siapa pemuda tampan itu. Padahal sewaktu remaja Rama lebih aktif ikut kegiatan yang desa Rengas adakan walaupun ia adalah penduduk desa perbatasan.
Salah satu ajudan pak kades mengantarkan Rama menuju ruangan pak kades.
"Assalamu'alaikum pak kades. " Rama tak lupa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh mas Rama, silahkan duduk. " pak kades mempersilahkan Rama untuk duduk di kursi yang berada di dalam ruangannya.
"Terimakasih pak kades. " Rama pun duduk diikuti pak kades yang ikut duduk didepan nya.
"Tumben nih datang ke kantor, apa ada yang bisa saya bantu mas Rama ? " pak Kades pun bertanya.
"Jadi gini saya datang kesini ingin bertanya tentang kematian Asih pak. "
"Ohh tentang Asih ya mas, silahkan kalau ada yang mau ditanyain. " pak Kades mempersilakan Rama untuk bertanya.
"Begini pak Kades, apa bapak masih mencari tau tentang kematian Asih? " tanya Rama.
Pak Kades pun terdiam memikirkan jawaban yang tepat. Proses pencarian Asih sudah lama terhenti dikarenakan tidak ada saksi mata dan barang bukti di sekitarnya, itu yang sangat menyulitkan.
"Hmm jadi begini mas Rama, kita semua sudah mencari tau penyebab dan pelaku yang terlibat dengan kematian Asih. Tapi kita semua tidak melihat Asih terakhir pergi sama siapa sebelum meninggal dan tidak ada satupun petunjuk agar lebih mudah mencari siapa pelakunya. Jadi proses pencarian pelaku pun terhenti. " jelas pak Kades panjang lebar.
"Oh gitu ya pak, saya kira pencarian para pelaku itu masih berlanjut. " Rama terlihat sangat kecewa saat tau pencarian para pelaku dihentikan.
"Tidak mas. " pak Kades melihat raut wajah Rama yang terlihat kecewa, ia merasa tak enak hati.
"Sulit juga ya pak mencari para pelaku itu. " ucap Rama.
"Iya mas Rama. Saya sudah mencoba untuk mencari pelakunya tetapi yaitu tidak ada yang melihat Asih terakhir kali pergi dengan siapa. " Pak Kades menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Apa bapak mau membantu saya untuk mencari para pelaku yang terlibat dengan kematian Asih? " ucap Rama dengan menatap pak Kades.
"Boleh mas nanti kita cari bersama sama. "
"Terimakasih pak sudah mau membantu saya. "
"Sama sama mas, semoga kita dapat menemukan para pelaku yang terlibat dengan kematian Asih. "
"Aamiin."
"Silahkan di minum teh nya mas Rama. " ucap pak Kades mempersilahkan Rama untuk meminum teh yang sudah di suguhkan oleh pegawai desa.
"Iya pak terimakasih. " Rama pun meminum teh itu untuk menghormati suguhan yang sudah diberikan kepadanya.
Rama pun lanjut berbincang dengan pak Kades membahas tentang desa Rengas. Setelah cukup lama mengobrol Rama pun izin pamit pulang.
"Kalau begitu saya permisi pak, terimakasih sudah mau membantu saya. "
"Ia mas sama sama dan hati hati ya. "
"Assalamu'alaikum pak. "
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. "
Rama pun menuju parkiran untuk mengambil motor yang ia pinjam dengan salah satu warga, ia pun segera meninggalkan kantor desa Rengas.
Jarak desa dengan rumah mbok Inah cukup jauh apabila di tempuh dengan berjalan kaki, mau tak mau Rama pun menyewa motor salah satu warga yang cukup mampu. Disepanjang jalan Rama menikmati udara desa Rengas yang sangat sejuk walaupun sudah siang. Tidak seperti di ibukota yang selalu padat dan polusi di mana mana.
Rama pun melewati kebun karet tempat ditemukan nya Asih. Saat sedang asik mengendarai sepeda motor Rama merasakan ada seseorang yang terus memperhatikan nya. Ia pun berhenti sejenak melihat keadaan sekitar.
"Kayak ada orang yang ngeliatin. " gumam Rama.
Rama pun menyipitkan matanya saat melihat sekelebat bayangan yang lewat. "Siapa itu ya? "
Mata Rama terus mengedarkan pandangan ke sekitarnya namun tidak ada apa apa. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah mbok Inah.
🦇🦇🦇
"Sudah pulang le? " tanya si mbok saat Rama baru saja memarkirkan motornya.
Rama segera menghampiri dan ia pun mencium tangan mbok Inah. "Ia mbok tadi Rama ada perlu sama pak Kades sebentar. "
Karena sudah siang kini tiba waktunya untuk makan siang, mbok Inah mengajak Rama untuk makan siang. "Makan dulu yuk le, mbok sudah siapkan tadi. "
"Ayuk mbok, Rama juga sudah laper. " Rama dan mbok Inah pun berjalan menuju ke meja makan. Sebelumnya Rama bergegas ke kamar mandi untuk mencuci tangannya sebelum makan. Mbok Inah sudah menyediakan piring untuk Rama. Rama tanpa sungkan lagi ia menyendok nasi beserta lauk pauk yang sudah di sediakan mbok Inah ke dalam piringnya sendiri.
Masakan mbok Inah Rama akui sangat enak sekali, ia merasa cocok dengan apapun yang dimasak mbok Inah. Acara makan pun selesai seperti biasa mereka membereskan piring piring kotor terlebih dahulu. Setelah dirasa rapih semua mbok Inah dan Rama pun duduk di ruang tamu dengan santai.
Rama berfikir sejenak, ia ingin sekali bertanya kepada mbok Inah tentang Asih. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan kepada si mbok agar kasus kematian Asih segera terbongkar.
"Mbok Rama mau tanya nih? "
Mbok Inah mengernyit. "Mau tanya apa maksud Rama? "
"Tanya tentang Asih mbok. " sahut Rama.
Mbok Inah mengangguk. "Silahkan le, kalau mbok tahu pasti mbok jawab. "
"Mbok tahu sebelum Asih meninggal Asih pergi kemana mbok? Ada pamit nggak ke mbok? " tanya Rama. Rama berharap ada titik terang dari si mbok.
"Seingat mbok, Asih sore pamit mau ke rumah temannya di desa sebelah le. "
"Siapa mbok namanya? " tanya Rama penasaran.
"Mbok nggak tau nak, mbok lupa nanya ke Asih siapa temannya itu. "
Rama terdiam ia memikirkan siapa teman Asih yang tinggal di desa sebelah. Kenapa Asih tidak bilang ke mbok siapa temannya itu. Berbagai pertanyaan memutar di kepalanya.
"Apa Asih pergi sendirian mbok?" tanya Rama kembali.
"Mbok nggak tau le tapi sepertinya sih nggak soalnya, soalnya yang mbok liat Asih pergi setelah mendapatkan pesan dari si pengirim pesan Asih pun pamit tanpa bilang pergi dengan siapa kepada mbok Inah, ia pun langsung pergi.
"Siapa kira kira ya orang yang Asih temui. " Rama pun kembali diam. Setidaknya ada sedikit informasi dari mbok Inah.
Rama memikirkan langkah selanjutnya untuk mengungkap semuanya.
"Hufttt." helaan nafas Rama terdengar.
"Le mbok istirahat sebentar ya, mata dan pinggang mbok udah nggak bisa diajak kompromi duduk kelamaan sakit bergerak terus juga sakit, apa emang begini ya penyakit orang sudah tua. " keluh mbok Inah tentang keadaannya sekarang.
Rama pun terkekeh mendengar ucapan mbok." Ya sudah mbok istirahat duluan, Rama juga sebentar lagi mau istirahat mbok. "
Hening.....