Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-1 Hari Yang Kacau
Satu hal yang tidak pernah dipelajari Amora selama hidupnya, bagaimana caranya menjadi elegan. Dan satu hal yang ia kuasai dengan sempurna, ceroboh di saat paling tidak tepat.
Pagi itu, Amora berlari tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit, membawa kantong plastik berisi dua gelas kopi latte, satu cup matcha dingin, dan sekotak sandwich yang hampir tumpah dari kertas pembungkusnya. Wangi desinfektan bercampur aroma kopi membuat hidungnya geli, tapi ia tidak sempat peduli. Jam istirahat hampir habis, dan ini pesanan terbanyak minggu ini.
"Permisi! Permisi!" serunya, menyalip seorang suster yang menatapnya seperti melihat alien. Amora nggak peduli. Yang dia tahu, tip dari pesanan ini cukup buat nambah kuota internetnya bulan ini.
Tapi nasib berkata lain.
Sudut lorong rumah sakit yang licin, sepatu kets murahan, plus gravitasi yang kejam—kombinasi sempurna untuk bencana.
BRUKK!
Amora menabrak seseorang. Kantong plastik di tangannya terlempar. Dua gelas kopi melayang seolah slow motion di film-film action. Amora bisa melihat kejatuhan itu dengan mata kepalanya sendiri. Kopi panas, cream latte, dan matcha dingin—semua tumpah dengan indahnya… tepat di jas putih pria yang baru saja dia tabrak.
"ASTAGA! Saya—saya tidak sengaja!" Amora panik, berlutut sambil mencoba menyelamatkan sandwich yang sudah hancur secara moral.
Pria itu berdiri kaku. Tinggi, tegap, dengan wajah setajam rahang patung marmer. Hidung mancung, rahang tegas, dengan sorot mata abu-abu kehijauan yang tajam seperti sedang mengukur IQ Amora dari atas ke bawah. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah tegas yang jelas-jelas dapat label "om-om menggoda" versi premium.
Dan jas hijau yang tadinya bersih kini penuh noda kopi seperti lukisan abstrak yang tragis.
"Saya… saya bisa jelaskan," kata Amora, suaranya gemetar di antara kecanggungan.
Pria itu menghela napas panjang, menunduk menatap Amora dengan sorot mata datar. "Ini kopi?" suaranya rendah, pelan, tapi mengandung aura ‘kamu-dalam-bahaya-besar’.
"Bukan, ini… eh… ya, kopi sih, tapi—" Amora mencoba tertawa canggung. "Maksud saya, bukan kopi biasa. Ini latte spesial. Ada foam art-nya, tapi… ya… sekarang foam-nya sudah… jadi karya seni abstrak."
Hening. Pria itu masih menatap. Amora ingin menghilang.
"Kamu sadar ini jas operasi, kan?" katanya tegas.
Amora langsung berdiri, hampir terpeleset oleh matcha yang tumpah di lantai. "OH! Anda mau operasi? Astaga, saya menghambat nyawa orang!" Ia panik, mencoba mengelap jas pria itu dengan tisu, yang entah kenapa malah memperburuk keadaan. Kopi makin melebar seperti noda dosa yang tidak bisa dicuci.
"Berhenti," pria itu menahan tangannya. Amora langsung kaku seperti patung. Pria itu melirik jam tangannya, lalu mendengus pelan. "Saya harus ke ruang operasi."
"Ya! Silakan! Abaikan saya! Anggap saja saya tidak ada!" Amora mundur sambil mengacungkan jempol, tapi malah menabrak tiang infus di belakangnya. Tiangnya jatuh, dan Amora ikut tergelincir, mendarat dengan dramatis di lantai.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya. "Luar biasa," gumamnya pelan sebelum berbalik pergi, meninggalkan Amora yang terkapar bersama sisa-sisa harga dirinya yang berserakan di lantai.
******
Setelah insiden kopi tumpah yang mengoyak harga dirinya, Amora berdiri kaku di tengah lorong rumah sakit, menatap noda kecokelatan yang memenuhi lantai—dan sisa-sisa sandwich yang sudah lebih mirip puing-puing reruntuhan.
"Sumpah… ini rekor terburuk sepanjang hidupku," gumamnya sambil menghela napas.
Suster yang tadi menatapnya seperti alien kini menambah level tatapannya menjadi ‘spesimen langka.’ "Eh, Mbak, itu dibersihin dulu deh sebelum orang-orang kepleset," komentar suster itu sambil berlalu. Hampir semua suster hafal dengan wajah biasa saja Amora. Mengingat, setiap jam istirahat, para suster dan karyawan memesan makanan dan minuman di kafe tempat Amora bekerja.
Amora tersenyum kaku. "Iya… saya tahu kok. Saya bukan lampu merah yang butuh dikasih perintah."
Dengan napas berat, Amora mengeluarkan tisu seadanya, mencoba menghapus noda kopi yang jelas-jelas butuh lebih dari sekadar tisu murah. Setelah berjuang melawan tumpahan kopi seperti tentara tanpa senjata, dia menyerah.
"Oke. Kopi: 1, Amora: 0."
Beberapa menit kemudian, Amora kembali ke kafe yang berada tepat di sebelah rumah sakit, tempatnya bekerja paruh waktu. Teman kerjanya, Anggi, yang melihat ekspresi Amora seperti habis jatuh dari bulan, langsung tertawa.
"Eh, kenapa lo? Kayak abis disiram kenyataan pahit."
Amora melemparkan celemek ke meja. "Nggak, Nggi. Bukan kenyataan pahit. Ini kopi pahit. Lebih tepatnya… kopi tumpah di jas dokter ganteng yang tatapannya bisa bikin gue kehilangan sinyal."
Anggi terbatuk karena menahan tawa. "Serius? Lo nabrak dokter? Siapa namanya?"
Amora mengerutkan kening. "Nggak tahu. Dia pergi sebelum gue bisa minta maaf dengan benar. Dia cuma… pergi begitu aja, kayak… kayak gue ini semacam gangguan visual."
"Wow. Drama Korea banget." Anggi menyeringai. "Tapi tunggu dulu, dokter ganteng? Gantengnya tuh kayak gimana?"
Amora menatap langit-langit, mencoba mengingat wajah pria itu. "Gantengnya tuh kayak… Tuhan lagi nggak bercanda waktu bikin dia. Hidung mancung, rahang tegas, mata tajam kayak bisa nembus ke pikiran terdalam lo. Dan… duh, suaranya, Anggi. Dingin, tapi seksi."
Anggi menatap Amora seolah dia baru saja jatuh cinta pada… secangkir kopi. "Lo yakin itu bukan efek kafein kebanyakan?"
Amora mengabaikan komentar itu. "Gue harus minta maaf. Maksud gue, dia keliatan sibuk banget, kayak dokter penting gitu. Mana jasnya penuh noda kopi… duh, Nggi, itu jas mahal kan ya?!"
Anggi mengangguk sambil mengunyah donat. "Iya, itu mahal. Dan lo baru aja membuatnya jadi edisi terbatas."
Amora mendesah panjang. "Gue harus cari dia. Minimal biar gue nggak kepikiran. Masa iya gue mau dikenang sebagai ‘cewek kopi tumpah’ seumur hidup?"
Anggi mengedikkan bahu. "Siapa tahu, dari ‘kopi tumpah’ bisa jadi ‘cinta tumpah.’"
Amora melotot. "Nggak lucu." Tapi pipinya merona pelan.
Dan entah kenapa, dalam hati kecilnya, ada rasa penasaran yang tumbuh. Bukan cuma soal minta maaf… tapi tentang pria dengan tatapan dingin itu.
Setelah menenangkan diri dengan seteguk air putih (yang rasanya tetap nggak bisa meredam rasa malu), Amora memandangi dompetnya yang tergeletak di meja. Dompet itu terlihat… sangat kosong. Bukan kosong secara fisik, tapi kosong secara makna dan harapan.
"Amora, pesanan yang tadi gimana?" tanya Anggi sambil menyapu remah donat.
Amora menghela napas, panjang dan penuh penderitaan. "Tumpah semua."
Anggi mengangkat alis. "Semua?"
Amora mengangguk lesu. "Semua. Kopi, matcha, sandwich… habis kayak harga diri gue barusan."
Anggi menahan tawa. "Terus lo kasih apa ke pelanggan?"
"Ya itu masalahnya." Amora mengacak-acak rambutnya sendiri. "Gue harus ganti pesanan mereka. Dari kantong gue sendiri. TEKOR!"
Dengan wajah penuh derita, Amora mengambil dompetnya dan mengeluarkan lembaran uang terakhir yang bahkan tampak seperti ikut sedih karena akan dipisahkan dari pemiliknya.
"Selamat tinggal, uang. Kita punya kenangan indah bersama," gumamnya dramatis.
Anggi tertawa terpingkal-pingkal. "Lo lebay banget sih, Mor."
Amora mendengus. "Lebay? Ini bukan lebay, ini tragedi ekonomi pribadi."
Akhirnya, dengan wajah pasrah, Amora meracik ulang kopi latte, matcha dingin, dan membuat sandwich baru. Setiap tetes susu dan serpihan selada terasa seperti menghitung sisa tabungan mentalnya.
Setelah semuanya selesai, dia kembali ke lantai rumah sakit, membawa nampan dengan ekstra hati-hati seolah-olah itu adalah bayi porselen yang rapuh. Kali ini dia berjalan pelan banget, sampai-sampai seorang suster berkata, "Mbak, ini rumah sakit, bukan catwalk."
Amora pura-pura tidak mendengar.
Fokus. Jangan sampai tumpah lagi.
Sesampainya di ruang tunggu dokter, ia menyerahkan pesanan itu kepada pelanggan yang sudah menunggu.
"Maaf banget, Kak. Tadi ada… kecelakaan kecil," kata Amora dengan senyum lebar, berusaha menutupi penderitaan batinnya.
Pelanggan hanya mengangguk tanpa banyak tanya, tapi Amora tahu: hatinya menjerit.
Karena hari itu ia resmi…
TEKOR.
Saat ia berbalik hendak pergi, matanya tanpa sengaja bertemu dengan sosok pria berseragam dokter di ujung lorong. Dia. Pria itu.
Tatapan dinginnya sekilas mengarah ke Amora sebelum mengalihkan pandangan seolah dia hanyalah… angin lalu.
Amora menatap punggung pria itu sambil bergumam pelan, "Aku rugi dua gelas kopi, satu sandwich, dan harga diri… tapi kenapa masih penasaran sama orang ini, sih?"
"Sadar diri, Amora," pekik Amora dalam hati sambil mencubit pipinya sendiri.