Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Terima
Jihan mengigit bibir, menahan isak tangis yang hampir lolos. Sesaknya hati akan perkataan sang suami membuatnya terdiam. Terdiam tanpa kata. Pikirannya ke mana mana, mencoba mencerna keadaan yang sedang ia hadapi saat ini.
Ada ribuan pertanyaan di dalam pikirannya. Ribuan pertanyaan itu, kini menghimpit dada Jihan. Hanya saja ribuan pertanyaan itu tidak sanggup ia ungkapkan. Pertanyaan-pertanyaan itu serasa seperti sebuah pisau yang mengiris ulu hatinya.
Bayangkan, selama sepuluh tahun ini, ia menganggap pernikahan ini adalah hidupnya. Ia tidak tahu jika pernikahan ini memiliki batas umur penentu.
Sepuluh tahun yang lalu, ia kehilangan kemampuan berjalannya secara normal. Lalu pria yang sudah lima tahun ia taksir tiba-tiba datang, mengaku bahwa dirinyalah yang menabrak Jihan kala itu.
Dan... entah bagaimana prosesnya, pria itu setuju menikah dengannya.
Jihan benar-benar tidak tahu bahwa pernikahan ini tercipta karena sebuah perjanjian. Perjanjian yang pada kenyataannya malah menghancurkan kepingan harapan untuk membina rumah tangga ini sungguh-sungguh.
Jihan meremas jari jemarinya sendiri. Tampak jelas bahwa ketakutan itu menguasai dirinya. Hanya saja, bibirnya terkunci. Ia takut, takut jika Hansen tau kalo dia ketakutan sekarang.
"Maafkan aku, Jihan. Aku pikir orang tuamu sudah memberi tahu mu soal perjanjian ini," ucap Hansen, serius.
Jihan menggeleng. Ia benar-benar shock dengan kabar ini. Bahkan lima tahun lalu, saat sang ayah menghembuskan napas terakhirnya, pria itu juga tak memberi tahu dirinya soal ini.
"Maaf, saya benar-benar tidak tahu soal ini," jawab Jihan, sedih. Namun ia tidak menangis, bahkan setetes air mata pun tak tampak di pelupuk matanya. Hanya suaranya yang terdengar terbata dan lirih. Seolah ia sedang menekan ribuan air mata di tenggorokannya.
Justru di sini malah Hansen yang tampak gugup. Balasan ekpresi yang ia terima dari Jihan, sungguh berbeda dari yang ia pikirkan.
Ia pikir Jihan akan menangis histeris. Ia pikir, Jihan akan memintanya untuk tidak melepaskannya. Ia pikir Jihan akan memohon padanya agar tidak meningalkan dirinya.
Ekpresi perempuan ini sungguh di luar ekspektasinya.
"Aku nggak peduli kamu tau ini di awal atau baru tahu sekarang, Jihan. Tapi kamu sudah dengar apa yang aku katakan tadi kan. Aku juga yakin kamu bisa memahami apa yang aku inginkan," ucap Hansen lagi, akhirnya ia pun mampu mengungkapkan apa yang ia inginkan.
Jihan diam sesaat. Menatap tubuh Hansen dari kepala hingga ujung kaki.
Kini ia sadar, kenapa selama ini Hansen bersikap dingin padanya. Ternyata...
Jihan bukan orang bodoh yang tak mengerti arah pembicaraan mereka kali ini. Jihan tau, Hansen pasti menginginkan perceraian. Namun satu hal yang tidak ia sangka, ternyata pernikahan mereka ada batas waktunya.
"Kenapa Mas nggak bilang dari dulu-dulu, seandainya Mas bilang, kita nggak perlu menikah, kita nggak perlu melangkah sejauh ini. Saya bisa kok jaga diriku sendiri. Saya bisa kok bilang sama orang tuaku, Saya nggak apa sendirian seumur hidup. Saya nggak masalah andai nggak ada laki-laki yang mau, beneran. Dari pada seperti ini, ada yang menikahi tapi tanpa sadar saya malah menyakitinya," ucap Jihan, serius.
Hansen menatap Jihan sekilas, lalu kembali berucap, "Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan ku, Jihan. Itu saja."
"Tapi kan nggak harus dengan pernikahan, Mas. Kita bisa saja berteman dan Mas bisa menikah dengan wanita pilihan hati Mas. Mas nggak harus berkorban selama ini hanya untuk itu," jawab Jihan. Terlihat tanpa beban.
"Aku nggak tau, Jihan. Saat itu aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku pikir kamu sudah tau dengan isi perjanjian itu."
"Demi Tuhan, Mas. Saya nggak tau apa apa. Saya minta maaf juga."
Suasana hening beberapa saat. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jihan dengan ribuan pertanyaannya, sedangkan Hansen dengan keinginan bercerainya yang semakin kuat.
"Jadi, sekarang Mas mau apa?" tanya Jihan. Memastikan.
"Seperti yang sudah kamu dengar, Jihan. Aku ingin kamu melepaskan aku. Aku sudah memenuhi janjiku pada kedua orang tuamu, itu artinya hutangku lunas kan."
HUTANG... jadi... pernikahan ini adalah hutang.
Kali ini air mata lolos dari pelupuk mata Jihan. Dengan cepat ia pun menghapus air mata itu. Ia tak ingin air matanya akan disalah artikan oleh Hansen. Jihan tidak mau, Hansen menilai dirinya sedang mengiba.
"Baik jika demikian, Mas. Malam ini juga saya akan rapikan barang-barang saya. Saya akan segera tinggalkan rumah ini," ucap Jihan, langsung tanpa basa-basi.
Hansen mengangkat wajahnya, menatap Jihan yang terlihat sibuk meremas jari jemarinya. Entah mengapa, ucapan Jihan seperti tamparan baginya. Namun tamparan itu sama sekali tidak menggoyahkan niatnya untuk menceraikan Jihan.
"Kamu nggak perlu pergi dari sini, Jihan. Kamu mau pergi ke mana? Rumah orang tuamu kan sudah dijual. Kamu nggak mungkin kan numpang sama sodara. Sudahlah kamu tinggal di sini saja. Aku iklas kok kasih rumah ini buat kamu," ucap Hansen melarang.
"Ah nggak lah, Mas. Cukup sudah sepuluh tahun saya jadi bebanmu. Saya nggak mau jadi bebanmu lagi. Lagi pun gaji saya kan kecil, sepertinya nggak akan cukup buat bayar perawatan rumah ini," jawab Jihan, kali ini ia tersenyum. Meskipun menunduk. Hansen tau Jihan sedang tersenyum.
"Kamu nggak usah khawatir soal itu, Raka kan juga tinggal di sini, aku yang akan bayar semuanya."
"Kalo begitu sama saja, Mas. Saya akan terus jadi bebanmu. Nggak apa, setelah ini saya akan cari kontrakan. Saya pastikan, setelah ini Mas nggak akan repot lagi soal saya. Saya akan berusaha mandiri, percayalah," jawab Jihan lagi.
Suasana hening beberapa saat. Ada rasa tak bimbang di kedua hati ini. Namun Hansen tidak bisa berbohong, bahwa ia merasa nyaman bercengkrama dengan Jihan. Ternyata Jihan bukan wanita yang tidak bisa diajak bicara. Justru Jihan sangat mudah di ajak diskusi. Pikirannya begitu dewasa, tutur katanya sangat lembut, sama sekali tidak menyakiti telinga.
Hansen baru menyadari, ternyata Jihan adalah wanita yang lemah lembut dan tidak memaksa.
"Baik kalo itu yang kamu mau. Kamu boleh meninggalkan rumah ini, tapi aku nggak mau kamu nolak rumah dari aku. Besok aku akan minta Juan buat nyari rumah, kamu pengennya rumah yang kayak gimana, biar Juan carikan," ucap Hansen lagi.
"Nggak usah, Mas. Jangan. Serius. Bukan saya berniat menolak kebaikan, Mas. Keluarga saya udah banyak ngrepotin, Mas. Saya juga kan. Jadi cukup lah, rasanya sepuluh tahun ini sudah cukup, bahkan kalo dihitung-hitung, justru keluarga saya yang masih ada utang. Jadi nggak usah lagi Mas berkorban. Saya pastika, saya akan baik baik saja, percayalah... " Jihan kembali tersenyum. Entah senyum itu senyum bahagia atau senyum untuk menutupi luka. Yang jelas, senyum itu terasa berbeda di hati Hansen.
Senyum yang manis, senyum yang hampir tidak pernah Hansen lihat.
Hansen ingin memeluk Jihan, namun ia tak berani melakukannya. Ia takut berubah pikiran karena kasihan. Sedangkan Jihan, wanita ini berusaha tetep tenang. Ia tak ingin Hansen tahu jika saat ini dia berada di titik paling rendah. Ia tak ingin Hansen tak jadi menceraikan dirinya hanya karena kasihan...
Bersambung....