Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Membuka Hati
"Bagaimana liburnya?" tanya ibu Hannah sambil merapikan beberapa barang di warung. Hari ini ia sengaja menutup warung lebih awal dari biasanya.
Ibu Hannah sebenarnya sudah menyadari bahwa putrinya sedang menyimpan sesuatu. Ada masalah yang tengah membebani pikiran Hannah, meskipun ia sendiri belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah selesai membereskan semuanya, ibu Hannah duduk di samping putrinya.
"Padahal Hannah turun mau bantu Ibu tutup warung."
"Kok tumben tutup lebih awal?" Hannah sedikit kecewa. Semula ia berniat membantu ibunya sebelum kembali beristirahat.
"Sudah makan?"
"Sudah, Bu."
Ibu Hannah mengangguk. Kemudian, ia meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat.
"Nak, di dunia ini terkadang ada hal-hal yang terjadi di luar keinginan kita. Ada pula kejadian yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan ketika semuanya terjadi, belum tentu kita siap menghadapinya."
Hannah menoleh. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari cara ibunya berbicara.
"Kamu pasti sudah pernah mendengar cerita tentang masa lalu Ibu, bukan?"
Hannah mengangguk pelan.
Ia memang pernah mendengar kisah itu dari Umik Hasan, perempuan yang dahulu merawat ibunya. Namun, selama ini Hannah hanya mengetahui sebagian ceritanya. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu.
"Ibu dulu merantau sendirian," lanjut ibunya. "Sebenarnya Kakek dan Nenekmu tidak pernah menyetujui keputusan itu. Apalagi Ibu seorang perempuan. Mereka tentu khawatir."
Hannah sedikit terkejut. Sejauh yang ia tahu, ibunya hampir tidak pernah membicarakan kedua orang tuanya.
"Tapi waktu itu Ibu nekat. Ibu ingin mencari seseorang yang sangat Ibu cintai. Pacar Ibu yang merantau lebih dulu. Sudah dua bulan dia tidak pernah memberi kabar. Padahal sebelumnya kami selalu berkirim surat setiap dua minggu sekali. Namun, tiba-tiba saja surat itu berhenti. Ibu mulai khawatir. Akhirnya, Ibu memutuskan menyusulnya."
Ibu Hannah berhenti sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ceritanya.
"Sesampainya di kota itu, Ibu mencoba mencari alamat yang pernah dia tuliskan dalam surat. Sayangnya, alamatnya tidak lengkap. Hanya nama kota yang tercantum di sana. Ibu benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana. Ibu bertanya ke sana kemari, tetapi hampir tidak ada yang mengenalnya."
Hannah menyimak tanpa menyela.
"Ibu bahkan mendatangi kampusnya. Dia dulu mahasiswa di salah satu kampus terkenal di kota itu. Tapi ternyata, saat Ibu sampai di sana, dia sudah menyelesaikan studinya. Dari beberapa orang yang Ibu temui, akhirnya Ibu mendapatkan alamat tempat tinggalnya yang terakhir."
Ibu Hannah menghela napas.
"Ibu datang ke alamat itu, tetapi hasilnya nihil. Dia sudah pindah. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi."
Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan.
"Karena tabungan Ibu semakin menipis, akhirnya Ibu memutuskan mencari pekerjaan. Tidak mudah, Nak. Berkali-kali Ibu mencoba melamar, tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya Ibu mendapatkan pekerjaan di sebuah bar."
Hannah sedikit mengernyit.
"Kamu tahu sendiri, kan, tempat seperti apa itu?"
Hannah mengangguk pelan.
"Suatu malam, ketika sedang bekerja, Ibu melihat seseorang yang sangat Ibu kenal. Dia ada di sana. Ibu hampir tidak percaya dengan apa yang Ibu lihat. Itu benar-benar dia."
Suara ibunya mulai melemah.
"Ibu ingin sekali menghampirinya, tetapi saat itu dia sedang bersama beberapa orang berpakaian jas. Sepertinya mereka sedang mengadakan pertemuan. Jadi, Ibu memilih menunggu sampai mereka selesai."
Ibu Hannah menunduk sejenak.
"Sampai akhirnya dia keluar. Kondisinya sudah mabuk berat. Ibu tidak tega membiarkannya begitu saja. Apalagi dia terus meracau, meminta tolong agar diantarkan ke tempat Ibu."
"Karena kontrakan Ibu tidak mengizinkan laki-laki menginap, akhirnya Ibu membawanya ke sebuah motel. Dan mungkin kamu sudah bisa menebak apa yang terjadi malam itu."
Hannah menundukkan pandangan. Jari-jarinya mulai saling meremas.
"Pagi harinya, ketika Ibu terbangun, dia sudah tidak ada. Dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun. Ibu marah, kecewa, sekaligus bingung. Setelah sekian lama mencarinya, ternyata pertemuan kami justru berakhir seperti itu."
Ibu Hannah menarik napas panjang.
"Beberapa waktu kemudian, Ibu baru tahu kalau Ibu hamil. Anak yang Ibu kandung adalah anaknya."
Hannah mulai merasakan dadanya sesak.
"Di saat yang sama, Ibu akhirnya berhasil mendapatkan alamat tempat tinggalnya. Ibu berniat menemuinya, berharap setidaknya dia mau bertanggung jawab. Tapi ternyata, dia sudah menikah."
Ibu Hannah tersenyum getir.
"Ibu mengurungkan niat. Ibu tidak mau menjadi alasan hancurnya rumah tangga orang lain. Ibu pikir, cukuplah Ibu yang menanggung semuanya."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu masih ingat malam itu. Hujan gerimis. Ibu merasa sudah tidak punya siapa-siapa. Orang yang Ibu cintai pergi begitu saja, sementara Ibu harus menghadapi kehamilan seorang diri. Malam itu Ibu benar-benar kehilangan harapan. Ibu bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup."
Genggaman tangan ibu Hannah semakin erat.
"Tapi Allah masih memberi Ibu kesempatan. Abu Hasan yang menemukan dan menolong Ibu malam itu."
Hannah terdiam. Air matanya mulai menggenang.
"Kamu sudah tahu kelanjutan ceritanya, Nak. Bagaimana Abi Hasan kemudian membantu Ibu, sampai akhirnya Ibu bisa membesarkanmu."
Ibu Hannah mengusap punggung tangan putrinya.
"Dan Ibu juga tahu, selama ini kamu mungkin masih menyimpan banyak pertanyaan tentang masa lalu Ibu. Ibu tidak pernah benar-benar menceritakannya karena Ibu pikir kamu belum perlu mengetahui semuanya."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Hannah lebih dalam.
"Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu. Ibu sangat marah pada kejadian malam itu. Di saat kamu diantar seorang laki-laki. Ibu sangat takut hal yang sama terjadi padamu. Alhamdulillah Allah masih menjagamu nak."
"Ibu..."
Akhirnya Hannah bersuara. Air matanya jatuh membasahi pipi.
Ibu Hannah menoleh penuh perhatian.
"Ada apa, Nak?"
Hannah berusaha mengatur napas. Ada sesuatu yang selama ini ia pendam, sesuatu yang bahkan membuatnya takut untuk mengungkapkannya kepada sang ibu.
"Sebenarnya, laki-laki yang bekerja sama denganku selama ini..." Suara Hannah bergetar. Ia menunduk, tak sanggup menatap wajah ibunya. "Dia adalah laki-laki yang mengantarku malam kejadian itu."
Ibu Hannah seketika membeku.
Seolah-olah seluruh suara di sekitarnya mendadak menghilang.
"Apa?" bisiknya.
Hannah mengangguk. Air matanya semakin deras.
"Dia orang yang sama, Bu."
"Ya Allah, Nak..."
Ibu Hannah segera berdiri, lalu menarik putrinya ke dalam pelukan. Dipeluknya Hannah erat-erat, seolah ingin melindunginya dari segala luka yang selama ini harus ditanggung sendirian.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu..."
Hannah akhirnya menangis dalam pelukan ibunya.
"Seandainya...seandainya Ibu tahu sejak awal bahwa kamu bertemu dengan laki-laki itu, Ibu tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian."
Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi menyembunyikan luka masing-masing.
Dan malam itu, dua perempuan yang selama ini sama-sama menyimpan kepedihan akhirnya saling membuka hati.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊