Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
POV: Arga
Setelah konferensi pers itu, duniaku runtuh secepat yang hanya bisa dilakukan uang ketika memutuskan pergi, berlari, tanpa menoleh.
Dalam seminggu, tiga dana hengkang dari Wiratama Tech. Dewan komisaris memanggilku ke rapat darurat. Merek-merek membatalkan kontrak dalam semalam. Nama yang kubangun dari nol, merek Nova, kebanggaanku, jadi lelucon dan sasaran boikot di media sosial. "Aku tidak beli dari orang yang mengurung istri hamil," tulis mereka. Dan mereka benar.
"Kami perlu kamu mundur selangkah dari direksi," kata ketua dewan komisaris lewat panggilan, tanpa menatap kamera. "Sementara. Demi kesehatan perusahaan. Kamu paham."
Aku paham. Tak kubantah. Tak punya argumen. Aku si "miliarder pengendali" yang mendorong istrinya dari tangga, padahal bukan aku yang mendorong, dan pada saat seperti ini kebenaran tak penting. Akulah yang membangun sangkar tempat Mama masuk. Tagihannya milikku, dan kubayar diam-diam.
Polisi memanggil Mama atas penganiayaan. Dan Mama, terpojok, melakukan apa yang selalu dia lakukan seumur hidup. Berusaha menyeretku bersamanya, memakaiku sebagai perisai.
"Kamu yang akan membereskan ini," katanya, di rumahku, masuk tanpa permisi seperti biasa. "Sewa yang terbaik. Kita bilang videonya dimanipulasi. Kita bilang dia jatuh sendiri, dia memang tidak stabil dari dulu. Kamu berutang ini pada Mama. Mama yang membesarkanmu. Mama memberimu segalanya."
Dan kalimat itu, "Mama yang membesarkanmu", yang diulang untuk keseribu kalinya, yang membuka pintu yang seumur hidup tak mau kubuka.
Karena ada satu hal yang selalu salah dan tak pernah mau kutatap langsung. Obat-obat "untuk jantung" yang diberikan Mama sejak aku kecil. Nyeri di belakang mata yang tak pernah dijelaskan dokter mana pun. Ketidakstabilan yang datang bergelombang, tahun-tahun ketika aku merasa bergantung pada tablet-tablet itu, dan hanya tablet darinya yang manjur.
Aku pergi ke dokter lama keluarga, yang kupercaya, dan minta pemeriksaan. Semuanya. Darah, toksikologi, semuanya.
"Kenapa sebanyak ini, Arga?" tanyanya. "Ada gejala baru?"
"Aku ingin memahami gejala lama."
Hasilnya keluar dua hari kemudian. Kubuka amplopnya di ruang tamu rumahku yang kosong, sendirian, di malam hari.
Uji toksikologi menunjukkan jejak sebuah zat. Terus-menerus. Dosis rendah, selama bertahun-tahun. Seseorang meracuniku pelan-pelan, sepanjang waktu, lewat apa yang kuminum karena kukira obat jantung.
Dan ada lagi. Aku sempat meminta, setengah tak paham kenapa, agar dia memeriksa segalanya, bahkan yang tak masuk akal, termasuk apakah darahku cocok dengan darah keluarga. Dia mencari data Mama di rekam medis lama, dari operasi Mama bertahun-tahun silam, dan mencocokkannya dengan milikku.
Tidak cocok. Golongan darahnya tidak cocok. Mustahil secara biologis.
Kutelepon dokter itu dengan tangan gemetar, amplop jatuh ke lantai.
"Dok, hasil ini. Golongan darahnya. Ini bilang bahwa..."
"Bilang bahwa secara biologis mustahil Bu Ratna ibumu," katanya, hati-hati, memilih tiap kata. "Arga, saya tidak tahu cara mengatakan ini. Tapi angka tidak berbohong. Kamu bukan anaknya. Dan dari hasil toksikologi, seseorang memberimu zat ini sangat lama, bertahun-tahun. Dosis kendali, bukan dosis mematikan. Jenis yang membuat orang bergantung, penurut, lelah. Jenis yang menahan seseorang."
Kuletakkan ponsel di meja.
Perempuan yang kupanggil ibu selama tiga puluh empat tahun bukan ibuku. Dan dia meracuniku seumur hidup untuk menahanku di bawah kendalinya, bergantung padanya, penurut, pewaris yang dia tanam dan dia pelihara supaya jadi apa pun yang dia mau.
Malam itu juga kuhadapkan Mama dengan hasilnya. Dia datang, mengira aku akan membantunya, dan kulempar kertas-kertas itu ke meja ruang tamu.
"Ibu bukan ibuku. Dan Ibu meracuniku."
Dia memandang kertas-kertas itu. Tak pura-pura kaget. Tak menangis. Dan melakukan hal paling menakutkan yang mungkin dia lakukan. Dia tertawa.
"Lama juga," katanya. "Kukira kamu terlalu bodoh untuk menemukannya. Obat-obat itu membuatmu agak lamban, memang itu serunya."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak punya anak laki-laki." Suaranya es, dan dia bercerita dengan jijik orang yang sudah tak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. "Dan aku butuh pewaris. Seorang pria, untuk membawa nama, untuk membangun. Kuperoleh satu. Kupastikan dia tak pernah punya tenaga meninggalkanku. Dosis rendah, terus-menerus, seumur hidup. Kamu berutang kepatuhan padaku, dan kupastikan kamu tak punya tenaga mempertanyakannya. Berhasil tiga puluh empat tahun, Arga. Atau siapa pun nama aslimu, karena Arga itu nama yang kukarang."
"Aku anak siapa?"
Dia tersenyum, dan saat itu bel pintu berbunyi, dan lewat jendela terlihat mobil polisi berhenti di depan, lampunya berputar tanpa sirene.
"Kamu tidak pernah jadi anakku," katanya, menuju pintu belakang, tenang, masih tersenyum, merapikan rambut. "Kamu bahkan tak tahu anak siapa. Dan hadiah itu, yang itu tidak akan kuberikan. Cari sendiri, kalau sanggup. Itu satu-satunya hal yang akan kamu lakukan sendirian seumur hidup."
Dia menghilang lewat pintu belakang saat polisi masuk dari depan. Belakangan aku tahu dia tertangkap beberapa hari kemudian, saat mencoba kabur ke luar negeri.
Aku tinggal sendirian di ruang tamu, hasil pemeriksaan di tangan, seluruh hidupku runtuh sekaligus, sekali lagi. Istri yang kuhilangkan, putri yang kukuburkan, perusahaan yang berderit. Dan sekarang ini.
Penemuan bahwa aku bahkan bukan orang yang kukira. Bahwa Arga Wiratama, pengusaha rintisan, bocah miskin yang menang, adalah ciptaan seorang kriminal, tokoh yang dia tulis.
Aku anak siapa?
Kupandangi hasil pemeriksaan di tanganku, kata "tersisa" yang masih ada di map lain di atas meja, rahasia lain yang kupikul.
Dan malam itu, kepingan-kepingan mulai, sangat pelan, bersusun menjadi gambar yang belum bisa kulihat utuh. Tapi ada. Seorang bocah yang tertukar. Tanda lahir. Zat yang menahanku bertahun-tahun.
Aku bukan Wiratama. Dan aku punya dugaan, begitu besar dan begitu absurd sampai malam itu aku tak berani mengucapkannya keras-keras, tentang siapa aku mungkin sebenarnya.