NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Badai di Ruang Redaksi ( Bagian 1 )

Dinginnya udara pagi pukul 06.15 WIB menusuk hingga ke tulang, menyatu dengan keheningan koridor lantai tiga SMA Taruna Bangsa yang masih sangat sepi. Eca berjalan tergesa-gesa dengan langkah yang sengaja diredam, memeluk tas ransel hitamnya erat-erat di depan dada. Di dalam tas itu, terdapat berkas evaluasi yayasan yang sudah dirapikan serta laptop perak milik Angkasa—benda yang menjadi taruhan hidup dan matinya hari ini. Setiap detak jarum jam di pergelangan tangannya terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Keringat dingin membasahi telapak tangannya meskipun pendingin ruangan sekolah belum dinyalakan.

Sesuai instruksi Reno semalam, Eca mengabaikan jalur menuju ruang OSIS di lantai satu dan langsung menanjak ke lantai tertinggi. Lorong lantai tiga yang biasanya digunakan untuk ruang seni dan redaksi majalah dinding terasa seperti labirin mati. Eca menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada langkah kaki lain yang mengikutinya. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang pesan ancaman semalam. Foto dirinya tanpa kacamata saat turun dari motor Angkasa seolah terus melayang di depan matanya, mengancam akan menghancurkan ketenangan yang mati-matian dia bangun.

Cklek.

Eca mendorong pintu kayu ruang redaksi mading yang sedikit berderit. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh bias cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari celah ventilasi. Aroma kertas tua dan tinta printer menyengat indra penciumannya. Di sudut ruangan, dekat meja bundar penuh tumpukan koran bekas, sesosok cowok tinggi berseragam rapi dengan ban lengan Wakil Ketua OSIS sudah berdiri menantinya.

"Lo datang lebih cepat dari dugaan gue, Sa," sapa Reno Aliansyah. Dia membalikkan tubuhnya, menampilkan senyuman ramah yang entah mengapa pagi ini terasa sedikit menekan di mata Eca. Reno melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka di tengah keheningan ruangan yang terisolasi.

"Gue gak punya banyak waktu, Kak," bisik Eca lirih, suaranya bergetar bukan karena akting cupu, melainkan karena kecemasan murni. Dia meletakkan tas ranselnya di atas meja kerja terdekat, lalu membukanya dengan tangan yang gemetaran. "Anak-anak fraksi lo... beneran udah jaga di depan mading bawah?"

"Lo tenang aja. Tiga orang pengawas terbaik gue udah standby di dekat mading utama sejak gerbang sekolah dibuka. Siapa pun yang bawa kertas atau foto mencurigakan bakal langsung dicegat sebelum sempat nempel apa pun," jawab Reno meyakinkan. Dia berdiri tepat di samping Eca, matanya melirik tajam ke arah ritsleting tas Eca yang terbuka, menanti benda yang menjadi poin utama kesepakatan mereka.

Eca menarik napas dalam-dalam, menahan sesak di dadanya. Dengan gerakan pelan, dia mengeluarkan flashdisk hitam yang sudah dia isi dengan salinan draf laporan internal dari laptop Angkasa semalam. Jantungnya berdegup brutal secara konstan. Dia tahu, detik ini juga, dia resmi menjadi seorang pengkhianat bagi Angkasa.

"Ini yang lo mau, Kak. Semua draf anggaran, laporan internal, dan taktik Angkasa soal pendanaan pentas seni ada di sini," ucap Eca sambil mengulurkan flashdisk itu.

Reno tersenyum miring, sebuah binar kemenangan yang sangat pekat berkilat di sepasang matanya. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil benda persegi panjang kecil itu. Namun, tepat sebelum jemari Reno sempat menyentuh flashdisk di tangan Eca, sebuah suara benturan keras mendadak menghantam keheningan ruangan.

BRAK!

Pintu ruang redaksi mading dihantam terbuka dengan satu sentakan kasar dari luar hingga membentur dinding pembatas. Suara gebrakan itu bergaung nyaring, memberikan efek horor yang sangat nyata bagi pendengaran Eca. Tubuh Eca langsung menegang kaku, sementara darahnya rasanya mendadak berhenti mengalir seketika.

Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri sesosok cowok jangkung dengan aura dominasi yang mutlak dan pekat. Angkasa Argantara Mahendra berdiri di sana dengan jas almamater OSIS yang terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Wajah tampannya tampak sedingin es kutub utara, namun sepasang mata elangnya berkilat menghunuskan kobaran api murka yang sangat mengerikan. Tatapan mata Angkasa langsung mengunci posisi tangan Eca dan Reno yang masih menggantung di udara.

Langkah sepatu pantofel Angkasa yang berat mulai memasuki ruangan, bergaung ritmis di atas lantai keramik seolah-olah menjadi ketukan lonceng kematian bagi ketenangan hidup Eca.

"Pagi-pagi buta di lantai tiga... Pertemuan yang sangat romantis, bukan?" suara bariton Angkasa yang sangat rendah, berat, dan sedingin es memecah keheningan yang mencekam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya sarat akan intimidasi yang sanggup membuat nyali seseorang ciut dalam sekejap.

Reno menarik kembali tangannya dengan tenang, menegakkan tubuhnya untuk menghadapi sang Ketua OSIS. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya dengan gaya santai, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. "Ngapain lo ke sini, Angkasa? Ini area pengawasan fraksi gue."

Angkasa berhenti tepat dua langkah di depan mereka. Dia menjulang tinggi, mengabaikan Reno sepenuhnya, dan mengarahkan seluruh pandangan elangnya yang mematikan tepat ke arah wajah Eca yang sudah pucat pasi bagai mayat hidup. "Gue ke sini buat nyari asisten pribadi gue yang lupa ingatan kalau jam tujuh kurang seperempat dia punya janji di meja kerja gue. Dan ternyata... singa betina gue lagi sibuk main gerilya di belakang kesepakatan resmi kita, hm?"

Keringat dingin mengucur deras di pelipis Eca. Dia refleks mundur satu langkah hingga punggungnya membentur tepian meja kayu, meremas flashdisk di tangannya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Kebohongannya, pengkhianatannya, semuanya telah dikuliti habis sampai ke akar-akarnya oleh tatapan mata Angkasa yang tajam seperti mata pisau.

"Jangan libatin Alesya, Angkasa. Dia ke sini karena butuh bantuan gue, sesuatu yang nggak bisa dibilang sama cowok manipulatif kayak lo," potong Reno, melangkah maju untuk memposisikan dirinya di antara Angkasa dan Eca, bertindak sebagai tameng pelindung.

Angkasa terkekeh hambar, sebuah suara tawa rendah yang bergetar di dadanya dan sukses membuat seluruh tubuh Eca merinding kaku seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Sudut bibir tipis Angkasa terangkat sedikit, membentuk seringai kejam yang sangat menakutkan. "Bantuan? Dari orang yang bahkan nggak bisa ngamanin vendornya sendiri di ruang rapat kemarin? Jangan buat gue ketawa, Reno."

Angkasa tiba-tiba maju satu langkah besar dengan gerakan cepat yang tidak terduga. Dengan sentakan kasar namun terkendali, dia mencengkeram lengan Reno dan menggeser tubuh Wakil Ketua OSIS itu ke samping, mengikis sisa jarak di antara dirinya dan Eca hingga jarak di antara wajah mereka bener-bener tipis banget, hanya tersisa sekitar beberapa sentimeter saja.

Aroma wangi maskulin dari tubuh Angkasa langsung mengepung indra penciuman Eca, bikin otaknya mendadak macet total di tengah kepungan rasa takut yang luar biasa.

"Buka tangan lo, Alesya," perintah Angkasa dengan suara yang melembut namun terdengar sangat mutlak, posesif, dan tidak bisa diganggu gugat.

Eca menahan napasnya rapat-rapat, menggelengkan kepalanya panik dari balik lensa kacamata tebalnya yang mulai berembun. "N-nggak mau..." cicit Eca dengan suara aslinya yang terdengar sangat gugup.

Tanpa membuang waktu, Angkasa meraih pergelangan tangan kanan Eca yang mengepal. Ibu jari Angkasa menekan urat nadi di pergelangan tangan Eca dengan penekanan lembut namun tegas, memaksa jemari kecil Eca terbuka perlahan hingga flashdisk hitam itu terjatuh tepat ke atas telapak tangan kekar Angkasa.

Angkasa mengangkat benda kecil itu di depan mata Eca, lalu memasukannya ke dalam dompet kulit hitam yang dia ambil dari saku celananya—dompet yang sama tempat kartu pelajar lama Eca disembunyikan.

"Permainan lo kotor banget, Asisten," desis Angkasa tepat di depan bibir Eca, menyisakan hembusan napas hangatnya yang membakar kulit wajah Eca yang sensitif. "Lo pikir gue nggak tahu kalau lo mindahin file dari laptop gue semalam? Sistem keamanan OSIS itu buatan gue, Alesya. Setiap pergerakan data di laptop itu langsung ngirim notifikasi ke ponsel gue."

Mendengar kenyataan itu, runtuhlah sudah seluruh pertahanan Eca. Dia tidak hanya kalah, tapi dia sudah masuk ke dalam jebakan Angkasa sejak awal.

Reno yang melihat situasi semakin tidak terkendali langsung mencengkeram bahu Angkasa dari belakang, menariknya menjauh dari Eca. "Lepasin dia, Angkasa! Lo nggak punya hak buat bersikap semena-mena kayak gini di lingkungan sekolah!" bentak Reno dengan rahang yang mengeras tegang, memicu konfrontasi segitiga yang semakin panas dan mencekam di dalam ruang redaksi yang sepi itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!