Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
_____🌺
Bu Ratna mendekat dan merebut koin itu dari tangan Nisa dengan cepat.
"Pakai koin lima ratus yang kuning itu lho, Ma. Kan enak ujungnya agak kasar, jadi anginnya cepat keluar nariknya," jawab Nisa polos.
"Aduh, pantesan anakku teriak-teriak! Kamu itu kalau ngerok suami pakai koin benggol yang halus kek, atau pakai bawang merah sekalian! Ini pakai koin bekas kembalian tukang parkir, banyak kumannya, Nis! Nanti kalau punggung Dimas infeksi gimana? Terus kamu pakainya apa ini? Lotion anti nyamuk? Ya Allah, menantu macam apa kamu ini? Suami masuk angin bukannya dikasih minyak telon atau balsem, malah dikasih lotion anti nyamuk! Emangnya punggung anakku sarang nyamuk demam berdarah?!"
Nisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Habisnya minyak kayu putihnya habis, Ma. Tadi Nisa cari di kotak obat nggak ada. Ya udah Nisa pakai lotion anti nyamuk aja biar koinnya gampang licin pas digesek ke punggung Mas Dimas."
"Licin sih licin, tapi baunya wangi lavender nyengat begini! Suamimu ini masuk angin, butuh kehangatan, bukan butuh wangi-wangian bunga! Pantes aja anginnya nggak keluar-keluar, kedinginan dia malah pakai lotion begitu!"
Bu Ratna terus menceramahi Nisa tanpa henti, tangannya berkacak pinggang menunjukkan sikap galak seorang mertua.
"Udah, Ma, udah. Jangan marah-marah terus. Ini Dimas udah mendingan kok habis dikerok. Tinggal minum teh anget aja langsung tidur pasti sembuh besok," lerai Dimas mencoba menyelamatkan istrinya dari omelan ibunya yang tiada henti.
"Mendingan dari mana? Muka kamu pucat gitu! Ini semua gara-gara kalian sore tadi keliling kompleks nyari ribut sama gengnya Bu RW kan? Kena kualat kamu, Dim. Makanya lain kali jangan biarin istrimu keluyuran pamer harta sendirian, kena angin sore langsung tumbang kan kamu," tuduh Ibu mertua itu sembarangan.
Bu Ratna memutar balikkan fakta seenak jidatnya. Padahal dia sendiri yang memaksa Nisa keliling kompleks.
Nisa melotot tak percaya mendengar tuduhan barusan. "Loh, kok Nisa yang disalahin lagi sih, Ma? Kan Mama yang tadi narik Nisa keliling kompleks buat bagiin brosur sambil pamer kalung emas gede! Mas Dimas kan tadi pulangnya naik mobil pakai AC, mana mungkin kena angin sore keliling kompleks."
"Ya tetep aja kamu bawa sial hari ini, Nis! Coba kalau tadi kamu masak makanan bergizi tinggi, bukannya pesen seblak pedas level sepuluh. Perut suamimu ini nggak bakal kaget dan masuk angin! Seblak itu makanan ringan buat anak sekolahan, bukan buat laki-laki pekerja keras! Gizi nol, micin seratus persen!" balas Ibu mertuanya ngotot tak mau kalah berdebat.
"Mas Dimas masuk angin karena di kantornya AC-nya kelewat dingin, Ma. Bukan gara-gara seblak. Seblak kan pedas, harusnya malah bikin keringetan dan hangat badannya," bantah Nisa lagi.
Kali ini kesabarannya benar-benar diuji menghadapi logika ajaib sang mertua malam ini.
"Udah, udah, ampun! Kalian berdua mending diam deh. Kepalaku makin pusing muter-muter dengerin kalian adu mulut. Nisa bener, Ma. Di kantor tadi ada perbaikan AC sentral, jadi dinginnya kebangetan. Mama jangan nyalahin Nisa terus dong masalah beginian," Dimas akhirnya bersuara agak keras, membela istrinya sepenuhnya.
Bu Ratna mendengus kasar. Merasa tak terima disalahkan dan dijawab oleh anaknya sendiri.
"Tuh kan! Sekarang anak kandung malah belain istrinya terang-terangan. Mama ini cuma peduli sama kesehatanmu, Dim. Mama capek-capek buatin teh telor bebek ini niatnya buat ningkatin stamina biar kalian cepat punya anak, eh malah disuruh diminum buat obat masuk angin! Rugi bandar tenaga Mama malam ini!" keluh wanita tua itu, sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ya udah, Ma. Teh telor bebeknya buat Nisa aja sini kalau gitu. Biar stamina Nisa yang kuat buat besok ngadepin omongan tetangga dan omelan Mama lagi," ucap Nisa.
Nisa mengulurkan tangannya berniat mengambil gelas teh dari atas meja rias.
"Enak aja! Ini buat Dimas! Kamu kalau mau bikin sendiri sana di dapur! Suami sakit malah istrinya yang mau ngabisin gizinya. Denger ya, Nis, tugas istri itu merawat suami pas lagi sakit. Malam ini kamu nggak usah tidur pules, pijitin terus kaki Dimas sampai pagi! Awas aja kalau Mama denger suara ngorok kamu duluan!"
Bu Ratna, menyambar gelas teh tersebut dan memberikannya langsung ke tangan Dimas dengan cepat.
"Diminum sampai habis bersih, Dim. Biar besok pagi anginnya langsung ilang. Ingat pesen Mama, jangan kebanyakan jajan makanan pinggir jalan sama istrimu!" pesannya pada Dimas sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah dihentak-hentakkan kesal ke lantai.
"Iya, Ma. Makasih ya tehnya," jawab Dimas pelan.
Pintu kamar akhirnya tertutup rapat kembali. Nisa menghela napas sangat panjang, merosot duduk di pinggir kasur sambil memijat dahinya sendiri yang mulai ikut berdenyut.
"Maafin Mama ya, Nis. Dia emang mulutnya nggak bisa dikontrol kalau udah panik lihat aku sakit begini," ucap Dimas merasa bersalah sambil meminum teh telor bebek buatan ibunya.
Nisa menoleh dan tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Mas. Aku udah kebal kok. Lagian mamamu ada lucunya juga. Bisa-bisanya dia mikir kita lagi bikin anak jam segini. Padahal kamunya lagi teriak mau mati gara-gara koin lima ratusan."
Dimas terkekeh pelan. "Habisnya suara kamu ngerok emang mencurigakan banget sih. Penuh penghayatan gitu desahannya tadi."
"Enak aja! Aku ngos-ngosan itu gara-gara butuh tenaga nekan koinnya, bukan karena yang aneh-aneh! Emang otak mamamu aja yang udah konslet pengen buru-buru punya cucu," cibir Nisa seraya melempar bantal kecil tepat ke wajah Dimas yang mengaduh pelan namun tertawa.
_____🌺
Keesokan harinya.
"Hancur, Nis! Hancur berantakan reputasi Mama hari ini! Cuma gara-gara kamu salah beli merek kecap manis, arisan geng sosialita Mama siang ini bisa terancam gagal total dengan kerugian harga diri mencapai miliaran rupiah!"
Suara teriakan Bu Ratna menggelegar dari arah dapur, mengalahkan suara mesin cuci yang sedang berputar di ruang belakang.
Nisa yang baru saja meletakkan nampan berisi potongan buah melon di atas meja makan, langsung mengelus dada perlahan.
Pagi ini, rumah mewah mereka sudah berubah wujud menjadi kapal pecah. Pasalnya, hari ini Ibu Ratna mendapat jatah giliran menjadi tuan rumah arisan bulanan ibu-ibu kompleks perumahan.
"Ma, astaga. Cuma beda merek kecap doang lho. Rasanya kan sama-sama manis, warnanya juga sama-sama hitam pekat. Masa sampai segitunya sih bawa-bawa harga diri miliaran?" protes Nisa dengan suara pelan, berusaha tidak memancing kemarahan mertuanya lebih jauh.
Mertua galak, yang sedang mengaduk panci besar berisi semur daging, langsung menoleh dengan tatapan membunuh. Tangannya yang memegang spatula kayu menunjuk lurus ke arah wajah Nisa.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh