NovelToon NovelToon
Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.

Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.

Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.

Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.

Mari mengikuti ceritanya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 Bertemu Kembali

Ezra Baru saja sampai rumah, memasuki kamarnya dengan jasnya yang basah dan langsung dia buka.

Dratt- dratt, dratt.

Suara ponselnya berdering yang baru saja diletakkan di atas nakas.

Panggilan telepon yang masuk itu dengan kontak Yogi.

Ezra kemudian menghela nafas kasar dan mengangkat panggilan telepon itu.

"Kau puas mengerjaiku, tubuhku menggigil gara-gara ulahmu!" ucapnya begitu kesal.

"Ezra santai dulu, aku hanya memberikan saran meditasi untuk meregangkan otot-ototmu, bukankah kamu minta saran kepadaku, jadi ini saran yang aku berikan," ucapnya dengan santai.

"Saran yang kau berikan tidak masuk akal, kau tahu apa yang aku lakukan membuat orang berpikir bahwa aku akan melakukan percobaan bunuh diri, diceramahi dan dikasihani, apa kau puas sekarang?" ucap Ezra.

"Hey, jika kau sudah menyadari bahwa saran yang aku berikan tidak masuk akal, seharusnya kau tidak mengikutinya," sahut Yogi.

"Sial!" umpat Ezra.

"Sudahlah. Besok sore kita kembali bertanding futsal, tenang saja aku mengajakmu sore setelah kau selesai bekerja," sahut Yogi.

"Tidak bisa, aku ada acara yang menurutku tidak penting," jawabnya.

"Menurutmu tidak penting, lalu kenapa mendahulukan acara itu!" tanya Yogi.

"Sudahlah, aku tidak ingin bicaramu terlalu lama denganmu, kau sudah membuatku kesal!" ucap Ezra kemudian mematikan telepon tersebut.

"Sial, bisa-bisanya aku tertipu olehnya," ucap Ezra dengan geleng-geleng kepala.

********

"Bi, apa catering nya sudah siap?" tanya Mila yang sejak tadi tampak begitu sibuk, mengurus dari satu yang satu ke tempat

"Sedang dalam perjalanan nyonya," jawab Bibi.

"Jangan lupa nanti lapis talamnya dikeluarkan ya, sebagai hidangan pembukaan untuk tamu," ucap Nisa.

"Baik Bu," jawabnya menundukkan kepala dan kemudian langsung pergi.

"Repot amat sih, Ma!" Laudya menuruni anak tangga menggunakan dress berwarna merah di bawah lututnya dengan heels 7 cm dan tas sandang yang berada di bahunya.

"Laudya, kamu mau pergi lagi?" tanya Mila

"Ya, harus menghadiri acara ulang tahun teman Laudya," jawabnya.

"Nak, nanti sore calon suami kakak kamu akan datang, bukankah acara pertemuan ini jauh lebih penting dibandingkan acara pertemuan dengan teman-teman kamu," ucap Mila.

"Ma, ulang tahun teman Laudya itu satu tahun satu kali, sementara untuk pertemuan yang dilakukan Kak Refisha bisa saja 1 bulan ada 5 atau 6 kali pertemuan dengan laki-laki," ucapnya dengan sindiran.

"Shutttttt, jangan berbicara seperti itu!" tegur Mila dengan suara pelan.

"Apa yang Laudya katakan benar. Mama dan Papa tidak capek selalu membuat acara seperti ini, menjamu calon suaminya, ketika diadakan pertemuan awal, eh calon suaminya menolak, lagi dan lagi batal untuk menikah," ucap Laudya.

"Laudya, batasi bicara kamu!" terdengar suara sedikit tegas sembari menuruni anak tangga.

Laudya menghela nafas, ketika melihat pria tersebut tak lain adalah Tio.

"Kamu ini tidak ada sopannya, sebagai seorang adik seharusnya kamu selalu mendukung kakak kamu, bukan menggunjingnya!" tegas Tio.

"Ya, okelah, nanti kalau waktunya cukup, Laudya akan menyempatkan untuk pulang ke rumah lebih awal, ya semoga saja pertemuannya tidak batal dan semoga saja kakakku cepat menikah, agar aku bisa secepatnya menikah dengan pacarku," ucap Laudya mengangkat kedua bahunya dan kemudian langsung pergi.

"Kalau pergi itu mengucapkan salam terlebih dahulu!" tegur Toni berteriak pada putrinya.

"Walaikum salam," jawabnya dengan santai-sampai sudah tidak terlihat lagi dari area pintu.

"Tidak tahu bagaimana cara berbicara dengan anak itu agar kata-katanya bisa dikontrol sedikit," ucap Tio.

"Sudah Pa, sebaiknya jangan terlalu keras pada Laudya, dia akan terus menganggap bahwa dia tidak dipedulikan," sahut Mila.

"Iya," sahut Tio.

*****

Kediaman Refisha mulai dimasuki beberapa mobil yang tampak berjejer, bukan hanya satu atau dua mobil saja dan bahkan beberapa mobil yang kemudian diatur parkirannya terlihat rapi di pekarangan rumah yang telah disediakan.

Mobil bagian depan 4 pintu mobil itu sudah terbuka, tampak dua orang wanita yang keluar dari mobil dan dua orang pria.

Penampilan Mereka tampak sopan dengan menggunakan gamis yang dibalut dengan hijab.

"Ini rumahnya yang akan menjadi calon istriku?" tanya seorang pria tampak berpenampilan sopan menggunakan pakaian kokoh yang melihat rumah tersebut.

"Benar Malik," sahut Nia yang tak lain adalah ibunya.

"Ya, sudah kalau begitu sebaiknya kita langsung masuk saja," sahut Dellon sang ayah.

Di depan pintu tampak kedua orang Refisha sudah tidak sabar ingin menyambut tamu istimewa mereka, ketika rombongan itu datang terlihat senyum sumringah Mila dan begitu juga dengan suaminya.

Keluarga calon besannya itu juga tampak sopan yang menyapa dengan cipika-cipiki dan begitu juga dengan Malik mencium punggung tangan Mila dan Tio.

"Alhamdulillah kalian datang dengan selamat dan untung saja tidak nyasar," sahut Mila sedikit basa-basi.

"Kalau begitu ayo silakan masuk!" ajak Tio dengan ramah membuat mereka menganggukkan kepala.

Kemudian rombongan tamu itu langsung memasuki rumah, dan ternyata masih ada mobil yang datang di bagian terakhir.

Terlihat dua orang pria yang duduk di jok belakang disetiri oleh sopir dan tak lain satu pria itu adalah Ezra.

"Lihat Ezra, kamu susah sekali dihubungi sampai-sampai kita terlambat seperti ini!" ucap pria di sebelahnya sekitar berusia 50 tahun yang tak lain adalah ayahnya Dion.

"Aku sudah mengatakan kepada Papa, tidak tertarik untuk acara hal-hal seperti ini," ucapnya tampak tidak bersemangat.

"Ini acara tradisi keluarga, bagaimanapun kita harus hadir, ingat Malik itu sepupu kamu!" tegas Dion. Ezra hanya membuang nafas dengan kasar.

Kemudian mereka sama-sama keluar dari mobil dan disambut kembali oleh keluarga Refisha.

******

Sementara keberadaan Refisha saat ini berada di dalam kamar, dia tampak gugup, terlihat cantik dan anggun menggunakan gamis berwarna biru, senada dengan hijab pashmina yang teruntai indah.

"Nona, ayo turun, tamu sejak tadi sudah menunggu!" ucap Bibi.

"Tapi. Bi, saya takut, bagaimana jika...."

"Nona tidak boleh berburuk sangka seperti itu, apapun yang terjadi semua atas kehendak Allah. Ayo sekarang sebaiknya kita turun, jangan membuat kamu menunggu!" ajak Bibi.

"Baiklah," sahut Refisha menganggukkan kepala dan kemudian berdiri dari tempat duduknya, bersama-sama pergi bersama dengan Bibi menghampiri ruang tamu.

Ruang tamu penuh perbincangan antara kedua belah pihak, tidak lupa para tamu juga dijamu dengan makanan yang sudah disiapkan oleh Mila.

Ezra bersama ayahnya sudah bergabung dengan tamu tersebut yang saat ini dia memang harus menemani sepupunya untuk melamar seorang gadis yang dilakukan dengan proses taaruf.

Laudya juga sudah berada di sana, dengan sangat terpaksa dia harus pulang dan jika tidak maka ayahnya akan terus mengungkit apa yang dia lakukan, tetapi kali ini moodnya tampak baik dan bahkan sejak tadi melihat Ezra yang tampak cuek dan sibuk dengan ponselnya, bahkan Laudya juga beberapa kali menawarkan makanan kepada para tamu.

Penampilannya juga terlihat sopan menggunakan dress panjang berwarna coklat, meski tidak menggunakan hijab, tetapi sepertinya Laudya cukup mencari perhatian, baik dari keluarga calon suami Kakanya dan juga orang lain.

Suara heels terdengar di anak tangga yang membuat pandangan mata tertuju pada tangga yang terlihat Refisha dengan kepala menunduk.

Ezra sendiri yang sebelumnya pernah bertemu dengan Refisha masih tidak menyadari bahwa wanita yang akan menjadi calon istri dari sepupunya adalah wanita yang pernah menyangka dirinya akan bunuh diri.

Bersambung.....

Hay para pembaca, senang sekali bisa menyapa kalian di karya terbaru saya dengan episode pertama, besar harapan saya kalian mendukung karya saya dari awal sampai akhir, memberikan komentar positif yang membangun karya saya menjadi lebih baik, memberikan vote, like dan yang pastinya hal-hal kecil yang kalian berikan menjadi motivasi untuk saya.

Saya ucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca yang sampai saat ini masih setia pada karya-karya saya dan terus menunggu karya-karya terbaru saya.....

1
Dew666
Belah durenya di cut nanggung nih
Yasinta Niken
saya suka dengan cerita2nya tapi kenapa selalu putus 2
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!