Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mobil SUV mewah Arga berhenti tepat di depan portico rumah megah bergaya klasik itu. Arga turun lebih dulu, setengah berlari memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Nisa. Namun, Nisa sudah lebih dulu membuka pintunya sendiri, keluar dengan anggun tanpa menoleh pada uluran tangan suaminya.
Arga menelan ludah, menarik kembali tangannya dengan kaku. "Ayo, masuk."
Begitu pintu utama terbuka, Mami Kintan langsung menyambut mereka dengan senyum semringah. "Anak-anak Mami akhirnya datang! Ayo, Kakek sudah nunggu di ruang tengah."
Arga mengambil kesempatan itu untuk melingkarkan lengannya di pinggang Nisa, berniat menunjukkan kemesraan. Namun, dengan gerakan yang sangat luwes dan natural, Nisa melangkah sedikit lebih cepat untuk menyalami Mami Kintan, membuat lengan Arga hanya menggapai udara kosong.
Saat mereka duduk di sofa ruang tengah, Arga kembali mencoba. Ia menggeser duduknya merapat, tangan kirinya bergerak hendak menggenggam jemari Nisa yang bertumpu di paha. Tapi sedetik sebelum kulit mereka bersentuhan, Nisa mengangkat tangannya untuk merapikan helaian rambut di belakang telinga, lalu beralih meraih cangkir teh di atas meja. Sebuah penolakan yang begitu halus, namun sangat telak.
"Kalian ini, mentang-mentang sibuk kerja, sampai lupa jenguk Kakek," goda Kakek dari kursi rodanya. Mata keriput pria sepuh itu menatap Arga dan Nisa bergantian dengan binar penuh harap. "Kakek ini sudah tua. Kapan rumah ini diramaikan suara tangisan bayi, Ga? Kakek sudah tidak sabar ingin menggendong cicit dari kalian."
Jantung Nisa berdetak keras. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban netral, namun suara bariton Arga menyambar lebih dulu.
"Secepatnya, Kek," jawab Arga cepat, menatap Kakek dengan senyum meyakinkan. "Arga dan Nisa sedang berusaha. Doakan saja kami bisa segera kasih Kakek cicit secepatnya, ya."
Kakek tertawa lepas, matanya menyipit bahagia. Mami dan Papi ikut tersenyum lega.
Sementara itu, tubuh Nisa seketika menegang. Matanya melotot tajam menatap sisi wajah Arga. Di bawah meja, kedua tangan Nisa mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ayo, pindah ke ruang makan. Makanannya sudah siap," ajak Papi Tommy memecah ketegangan.
Saat keluarga itu berjalan beriringan menuju ruang makan, Nisa sengaja memperlambat langkahnya. Begitu Mami dan Papi sudah agak menjauh sambil mendorong kursi roda Kakek, Nisa menarik lengan jas Arga dengan kasar.
"Mas! Apa-apaan kamu?!" desis Nisa dengan suara tertahan, amarahnya meletup di kedua pelupuk matanya. "Kenapa kamu memberikan janji busuk seperti itu?! Kenapa kamu terus memberikan kebohongan dan harapan palsu pada keluargamu?!"
Arga menatap wajah Nisa yang memerah karena marah. Pria itu terdiam. Lidahnya kelu. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada sebuah kesadaran yang sangat menyakitkan. Ia berjanji seperti itu karena sebagian dari jiwanya benar-benar menginginkannya. Sejak surat cerai itu keluar, hatinya justru terus meronta, terus mengarah pada Nisa. Ia tidak ingin berpisah. Ia ingin janji tentang anak itu menjadi nyata.
"Jawab aku, Mas!" desak Nisa.
"Aku... aku hanya ingin melihat Kakek bahagia malam ini, Nis," jawab Arga parau, tak berani mengungkapkan isi hatinya. "Tolong. Beraktinglah sedikit lagi."
Nisa mendengkus jijik, melepaskan cengkeramannya dari lengan Arga, lalu berjalan mendahului pria itu menuju meja makan.
Suasana makan malam awalnya berjalan hangat. Denting sendok dan garpu beradu dengan piring keramik, diselingi cerita Papi Tommy tentang bisnisnya.
Namun, ketenangan itu mendadak terhenti ketika seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh menghampiri meja makan.
"Permisi, Nyonya, Tuan," ucap pelayan itu dengan wajah cemas. "Di depan ada tamu. Seorang perempuan muda, katanya ingin bertemu dengan Den Arga."
Mami Kintan mengerutkan kening, meletakkan sendoknya. "Perempuan muda? Malam-malam begini? Siapa, Ga? Kamu ada janji urusan kantor?"
Arga menggeleng kebingungan. Pikirannya benar-benar kosong. "Arga tidak tahu, Mi. Arga tidak—"
"Malam, semuanya!"
Sebuah suara melengking yang sangat angkuh dan familier mendadak membahana memotong ucapan Arga.
Dari ambang pintu ruang makan, Adelia melangkah masuk tanpa diizinkan. Wanita itu mengenakan gaun merah ketat yang sangat mencolok, sama sekali tidak pantas untuk dipakai bertamu ke rumah orang tua, apalagi selarut ini.
Mata Arga membelalak sempurna. Pria itu spontan melompat berdiri dari kursinya hingga kakinya membentur kaki meja dengan keras. "Adelia?!"
Melihat kedatangan Adelia, wajah Mami Kintan langsung berubah merah padam. Ia ingat betul wajah perempuan yang pernah beberapa kali mencoba mencari perhatian Arga di masa lalu.
"Sedang apa kamu di sini, perempuan tidak tahu malu?!" bentak Mami Kintan, menunjuk ke arah pintu. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?! Keluar dari rumah saya sekarang juga!"
Adelia mendecakkan lidah, sama sekali tidak terpengaruh oleh kemurkaan Nyonya besar itu. Ia mengabaikan Mami Kintan dan melangkah dengan sepatu hak tingginya langsung mendekati kursi Arga dan Nisa.
"Oh, pantesan Mas Arga nggak bisa dihubungi dari sore," Adelia bersedekap di dada, menatap sinis ke arah Nisa. "Ternyata lagi dipelet sama perempuan murahan ini."
"Adelia! Jaga mulutmu!" Arga membentak keras, berusaha menghalangi Adelia mendekati Nisa. "Keluar kamu dari sini! Kita bicara di luar!"
"Nggak mau!" Adelia menepis kasar tangan Arga. Matanya yang menyalang penuh amarah kini menatap tepat ke wajah Nisa yang masih duduk mematung di kursinya.
"Heh, perempuan nggak tahu diri!" tunjuk Adelia tepat ke depan wajah Nisa. Suaranya menggema liar ke seluruh penjuru ruangan. "Kamu itu udah dicerai! Udah didepak! Tapi masih aja nempel-nempel kayak perempuan murahan sama Mas Arga! Kamu pikir aku nggak tahu rencanamu, hah?!"
Papi Tommy dan Mami Kintan tersentak kaget.
"Dicerai?! Arga, apa maksud perempuan gila ini?!" jerit Mami Kintan panik.
Adelia menoleh pada keluarga Arga dengan tawa yang sangat sinis. "Iya! Anak kesayangan kalian ini udah menceraikan perempuan gembel ini secara resmi di pengadilan! Dan asal kalian tahu, Nisa ini cuma manfaatin keluarga kalian! Dia sengaja pura-pura baik, cari muka ke kalian, supaya kalian memihaknya dan maksa Arga buat narik surat cerai itu!"
"Adelia, cukup!" Arga maju, mencengkeram lengan kekasihnya dengan kasar. "Kamu sudah gila! Pulang sekarang!"
"Lepas, Mas!" Adelia meronta histeris. Ia kembali menatap Nisa dengan kebencian yang mendidih. "Sadar diri kamu, Nisa! Sejak awal, dari hari pertama kalian nikah, Mas Arga itu nggak pernah sedikit pun cinta sama kamu! Dia cuma cinta sama aku! Kamu itu cuma penghalang!"
Nisa menatap Adelia dengan sorot mata sedingin es. Tangannya bergetar menahan napas yang terasa mencekik tenggorokannya. Ia melirik Arga yang kini terlihat sangat kacau, tak berdaya menenangkan selingkuhannya sendiri.
"Kalau dia memang mencintaimu," ucap Nisa pelan, sangat tenang namun tajam, "Lalu kenapa kamu yang harus repot-repot datang kemari dan berteriak seperti orang gila?"
Kalimat Nisa menampar telak ego Adelia. Amarah wanita itu meledak melampaui batas kewarasannya. Ia menepis tangan Arga sekuat tenaga, lalu berteriak sekeras-kerasnya ke seluruh penjuru ruangan.
"Karena aku sedang hamil anak Arga!"
Ledakan keheningan seketika melumpuhkan ruang makan itu.
"Darah daging Arga ada di perutku!" jerit Adelia histeris, menepuk perutnya sendiri dengan air mata membanjiri wajahnya. "Aku mengandung cucu pertama keluarga ini! Seharusnya kamu yang tahu diri dan pergi dari sini, Nisa! Kamu perempuan mandul yang nggak berguna!"
Wajah Papi Tommy seketika pucat pasi. Ia terhuyung ke belakang, menabrak kursinya sendiri. Mami Kintan menutup mulutnya dengan kedua tangan, menangis histeris mendengar kenyataan paling memalukan dan menghancurkan itu.
Sementara Nisa... Nisa menatap Arga dengan pandangan yang benar-benar hancur dan kosong. Kini ia tahu mengapa Arga begitu terburu-buru merevisi surat cerai dan menyelesaikannya. Ada nyawa lain yang sedang menanti status suaminya.
Di tengah kepanikan dan jeritan histeris Adelia, tak ada yang menyadari kondisi pria sepuh di ujung meja.
Kakek yang sejak tadi diam mendengarkan semua cacian itu, mendadak membelalakkan matanya. Tangan keriputnya mencengkeram kemejanya di bagian dada kiri dengan sangat kuat. Wajahnya membiru. Napasnya putus-putus, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekik paru-parunya.
Pria sepuh itu berusaha memanggil nama Arga, namun yang keluar hanyalah suara rintihan tertahan. Tubuhnya kejang sesaat, tangannya menyenggol teko porselen hingga jatuh.
PRANG!
Suara pecahan beling itu memecah fokus semua orang.
"Kakek!!" jerit Nisa dengan suara yang menyayat hati, melompat dari kursinya.
Namun terlambat. Tubuh Kakek ambruk, merosot dari kursi rodanya dan jatuh menghantam lantai ruang makan.
pengen tau masih mau ga tuh si lampir sama Arga ...cabut semua dukungan finansial Arga...