Di dunia tempat Surga mengendalikan takdir dan kekuatan menentukan segalanya, Gu Chenxiao adalah anomali yang tidak pernah tercatat dalam Kitab Surga.
Dengan bantuan Arsip Pengamat Abadi, ia menapaki Dao Iblis yang menentang hukum kosmos. Ia bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia, melainkan manipulator yang mempermainkan takdir, memanfaatkan pengkhianatan, dan menjadikan musuh sebagai bidak dalam rencana jangka panjangnya.
Namun, ketika Fondasi Asal mulai mengoreksi keberadaannya, Gu Chenxiao menyadari bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebagian kecil dari rahasia kosmos.
**Jika Surga menentukan takdir semua makhluk, siapa yang berani menentukan takdir Surga?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Di Antara Bidak dan Pemain
Lonceng kedua berbunyi ketika matahari tepat berada di atas arena selatan.
Enam peserta kelompok ketiga berdiri di hadapan panggung batu, masing-masing mengenakan pakaian latihan dan membawa senjata pilihan mereka. Tidak ada aturan yang mengharuskan mereka menggunakan senjata tertentu, tetapi serangan yang disengaja untuk melukai lawan secara permanen tetap dilarang.
Gu Zhen berdiri di tepi panggung sambil memegang daftar peserta. “Pertandingan kelompok ini menggunakan sistem eliminasi. Kalian bebas menentukan lawan, tetapi setiap peserta hanya boleh melanjutkan pertandingan setelah pengawas mengesahkan hasil sebelumnya. Pemenang bukan hanya mereka yang mengalahkan lawannya, melainkan mereka yang mampu bertahan sampai akhir.”
Seorang murid mengangkat tangan. “Tetua, apakah kami diperbolehkan bekerja sama?”
“Selama tidak melanggar aturan, kalian bebas menggunakan strategi apa pun.”
Jawaban itu membuat beberapa peserta saling pandang. Sistem tersebut membuka peluang bagi dua orang untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat, tetapi juga memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengkhianati sekutunya setelah ancaman utama tersingkir.
Gu Chenxiao memperhatikan perubahan ekspresi mereka tanpa berkata apa-apa.
Di dunia kultivasi, aturan sering kali tidak menentukan apa yang akan dilakukan seseorang. Aturan hanya menentukan tindakan mana yang dapat dihukum secara terbuka. Di luar itu, ambisi manusia akan mencari jalannya sendiri.
“Mulai!”
Gu Han bergerak lebih dahulu, tetapi bukan menuju Gu Chenxiao. Ia menyerang salah satu murid lain yang memiliki kultivasi setara dengannya. Serangan itu memaksa lawannya bertahan, sementara Gu Mingyuan segera mengambil posisi di sisi panggung untuk menghalangi jalur mundur.
Mereka tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Gerakan mereka sudah menunjukkan bahwa keduanya berniat bekerja sama.
Gu Chenxiao tidak terkejut. Sejak daftar kelompok diumumkan, ia telah menduga kemungkinan tersebut. Gu Mingyuan dan Gu Han sama-sama memiliki alasan untuk menganggapnya sebagai sasaran yang mudah, terutama setelah pertarungan sebelumnya yang dianggap sebagian orang sebagai kemenangan karena keberuntungan.
Namun, ia tidak segera bergerak. Ia berdiri di dekat garis luar, mengamati dua peserta lain yang masih menunggu kesempatan.
Salah satunya adalah Lin Yue.
Pemuda berjubah putih itu memutar kipas lipat di tangannya sambil memandang panggung. “Kau tidak berniat menyerang?”
“Belum.”
“Kalau kau terus menunggu, mereka mungkin akan menyerangmu bersama-sama.”
“Mungkin.”
Lin Yue menghela napas. “Kau selalu menjawab seperti itu. Apa kau tidak pernah merasa khawatir?”
“Merasa khawatir tidak mengubah jumlah lawan.”
“Lalu apa yang kau lakukan?”
“Memastikan bahwa aku tidak memberikan mereka alasan untuk memilihku sebagai sasaran pertama.”
Lin Yue terdiam, lalu tertawa pelan. “Aku mulai mengerti. Kau tidak sedang menunggu kesempatan. Kau sedang menunggu mereka membuat kesalahan.”
Gu Chenxiao tidak menjawab.
Di tengah arena, murid yang diserang Gu Han akhirnya terpaksa menyerah setelah menerima tiga serangan beruntun. Gu Mingyuan tidak membantunya secara langsung, tetapi posisinya membuat lawan mereka tidak dapat melarikan diri dari tekanan. Setelah pengawas mengumumkan eliminasi pertama, keduanya segera berpisah, seolah-olah kerja sama mereka tadi tidak pernah terjadi.
Gu Chenxiao mencatat hal itu.
Mereka ingin orang lain melihat bahwa mereka mampu bekerja sama, tetapi tidak ingin terlihat terlalu bergantung satu sama lain. Artinya, kerja sama itu mungkin memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar memenangkan pertandingan.
Atau mungkin Gu Mingyuan sedang berusaha memperoleh sesuatu dari Gu Han.
Belum ada cukup bukti untuk menentukan yang mana.
“Saudara Chenxiao,” panggil Gu Mingyuan dari tengah arena. “Kau sudah cukup lama berdiri di sana. Apakah kau berniat menyelesaikan ujian ini tanpa bertarung?”
Gu Chenxiao melangkah maju. “Aku tidak tahu bahwa berdiri dan mengamati termasuk pelanggaran.”
“Bukan pelanggaran. Hanya saja, aku ingin mengetahui apakah kemenanganmu kemarin benar-benar hasil kemampuanmu.”
“Kalau begitu, kau bisa mencoba sendiri.”
Gu Mingyuan tersenyum. “Dengan senang hati.”
Ia mengangkat pedang kayunya dan bergerak menuju Gu Chenxiao. Kali ini, ia tidak menggunakan serangan yang berlebihan. Gerakannya terukur, dengan jarak yang cukup untuk mengubah arah kapan saja. Berbeda dari Gu Han, Gu Mingyuan telah mempelajari beberapa teknik tingkat lebih tinggi dan memahami bagaimana mengatur aliran energi spiritual di sepanjang bilah senjatanya.
Gu Chenxiao segera menyadari bahwa lawannya jauh lebih sulit dibaca.
Serangan pertama datang dari sisi kanan. Gu Chenxiao menangkisnya, tetapi getaran yang menjalar melalui lengannya membuatnya mundur satu langkah. Serangan kedua menyusul tanpa jeda, memaksanya mengubah posisi kaki. Ketika ia mencoba mendekat, Gu Mingyuan memutar pedang dan mengarahkan ujungnya ke bahu.
Gu Chenxiao menghindar, tetapi ujung pedang tetap menyentuh kain jubahnya.
Sorakan terdengar dari pinggir arena.
“Bagus!”
“Pewaris itu akhirnya bertemu lawan yang sepadan.”
Gu Mingyuan terus menekan. Ia tidak terburu-buru mengejar kemenangan, melainkan menjaga jarak dan menggunakan keunggulan kultivasinya untuk mengurangi pilihan gerakan Gu Chenxiao.
Itu strategi yang tepat.
Gu Chenxiao tidak bisa mengabaikan perbedaan kemampuan fisik mereka. Jika pertarungan berlangsung terlalu lama, tenaga dan daya tahannya akan menjadi masalah. Ia juga tidak dapat berharap bahwa setiap serangan lawan akan membuka celah.
Kecerdikan bukan berarti semua keadaan dapat diubah menjadi keuntungan.
Terkadang, kecerdikan berarti mengetahui bahwa sebuah pertarungan tidak boleh berlangsung sesuai keinginan lawan.
Gu Chenxiao mundur dua langkah, kemudian mengubah sudut tubuhnya. Ia membiarkan Gu Mingyuan menyerang sekali lagi, tetapi kali ini ia tidak mencoba menangkis seluruh tenaga lawannya. Ia menggeser pedang kayu itu ke samping, memanfaatkan arah serangan untuk membuat Gu Mingyuan harus mengubah posisi pergelangan tangannya.
Gerakan itu tidak cukup untuk mengalahkan lawan.
Namun, gerakan itu cukup untuk mengganggu ritmenya.
Gu Chenxiao segera maju, memaksa pertarungan masuk ke jarak dekat. Gu Mingyuan terpaksa menggunakan siku untuk menjaga ruang, sementara pedangnya kehilangan sebagian keunggulan jangkauan.
Untuk beberapa saat, keduanya bertukar serangan dalam jarak yang sempit.
Gu Chenxiao tidak mencoba memenangkan adu kekuatan. Ia menyerang tangan, mengganggu langkah, dan memaksa lawannya terus mengoreksi posisi. Setiap gerakan hanya memberikan keuntungan kecil, tetapi keuntungan kecil itu membuat Gu Mingyuan semakin sulit menggunakan tekniknya dengan sempurna.
Akhirnya, Gu Mingyuan melompat mundur dan memutus pertarungan jarak dekat.
Napasnya masih teratur, tetapi ekspresinya telah berubah.
“Kau mempelajari gerakanku selama pertarungan?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
“Aku belum mengetahui semua yang bisa kau lakukan.”
Gu Mingyuan menyipitkan mata. “Kau berbicara seolah-olah sedang menguji teknikku.”
“Bukankah kita memang sedang bertukar pengalaman?”
Untuk sesaat, Gu Mingyuan tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan, suara Gu Han terdengar dari samping.
“Mingyuan, jangan buang waktu. Kita sudah membicarakan ini.”
Gu Mingyuan meliriknya.
Satu tatapan singkat, tetapi cukup untuk mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana mereka.
Gu Chenxiao melihat pertukaran itu. Ia tidak mengetahui isi pembicaraan mereka, tetapi kini ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk mencurigai bahwa kerja sama keduanya bukan sekadar strategi ujian.
Gu Han melangkah maju, berdiri di sisi Gu Mingyuan. “Kita selesaikan sekarang. Jika dia kalah, tidak perlu ada alasan lagi.”
Gu Chenxiao menatap keduanya bergantian. “Kalian ingin bertarung bersama?”
“Ini ujian kelompok,” jawab Gu Han. “Bukankah pengawas sudah mengatakan bahwa kerja sama diperbolehkan?”
“Benar.”
Gu Chenxiao mengangguk, lalu menurunkan pedangnya.
“Kalau begitu, silakan.”
Jawabannya membuat keduanya terdiam.
Mereka telah bersiap menghadapi perlawanan, mungkin juga protes mengenai aturan. Namun, Gu Chenxiao tidak menunjukkan kemarahan atau ketakutan. Ia justru mengambil satu langkah ke samping, memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk menyerang.
Gu Mingyuan mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Kalian ingin bekerja sama. Aku tidak melihat alasan untuk melarangnya.”
“Jangan mencoba mempermainkan kami.”
Gu Chenxiao tersenyum tipis. “Aku tidak sedang mempermainkan siapa pun. Aku hanya ingin mengetahui apakah kalian benar-benar yakin dengan keputusan kalian.”
Kalimat itu membuat Gu Han ragu selama sesaat. Ia segera menepis keraguan tersebut dan maju, tetapi Gu Mingyuan tidak langsung mengikuti. Ada sesuatu pada sikap Gu Chenxiao yang membuat kerja sama mereka terasa jauh lebih buruk daripada sebelumnya.
Jika mereka menang, mereka akan terlihat seperti dua orang yang mengeroyok satu lawan.
Jika mereka kalah, mereka akan mempermalukan diri sendiri di hadapan seluruh keluarga.
Dan jika mereka mundur sekarang, orang-orang akan bertanya mengapa mereka begitu yakin dapat mengalahkan Gu Chenxiao bersama-sama.
Gu Chenxiao tidak perlu mengucapkan satu kata pun lagi.
Ia hanya membiarkan pilihan itu tetap berada di hadapan mereka.
Akhirnya, Gu Han menyerang.
Gu Mingyuan mengikuti dari sisi berlawanan, memaksa Gu Chenxiao menghadapi dua arah serangan sekaligus. Tekanan mereka jauh lebih berat daripada sebelumnya. Gu Chenxiao menangkis serangan pertama, tetapi serangan kedua mengenai lengan kirinya dan membuatnya terhuyung.
Rasa sakit menjalar hingga ke bahu.
Ia mundur dengan cepat, menyadari bahwa ia tidak dapat terus bertahan dengan cara yang sama. Gu Han memiliki tenaga lebih besar, sedangkan Gu Mingyuan mampu memanfaatkan setiap celah yang muncul. Jika keduanya menjaga koordinasi, Gu Chenxiao tidak memiliki peluang besar untuk menang melalui pertarungan langsung.
Ia harus mengubah keadaan.
Ketika Gu Han maju lagi, Gu Chenxiao bergerak ke arah Gu Mingyuan, bukan menjauh darinya. Perubahan arah itu memaksa Gu Mingyuan menahan serangannya agar tidak mengenai sekutunya sendiri.
Hanya sepersekian detik.
Namun, sepersekian detik itulah yang dibutuhkan Gu Chenxiao untuk keluar dari kepungan.
Ia kemudian bergerak menuju sisi panggung, membuat kedua lawannya harus mengejar dengan posisi yang lebih sempit. Gu Han berusaha memotong jalurnya, tetapi langkahnya terlalu jauh. Gu Mingyuan berhenti untuk mengubah sudut serangan, dan keduanya kehilangan keselarasan.
Gu Chenxiao tidak mencoba menjatuhkan mereka. Ia terus bergerak, memaksa mereka mengulang posisi, sampai Gu Han akhirnya kehilangan kesabaran.
“Berhenti menghindar!”
Ia menyerang dengan tenaga yang lebih besar daripada sebelumnya. Pedang kayunya meluncur ke arah tubuh Gu Chenxiao, tetapi kali ini Gu Chenxiao tidak menghindar sepenuhnya. Ia menangkis dari samping dan memutar pergelangan tangan, membuat pedang lawannya bergeser ke arah Gu Mingyuan.
Gu Mingyuan terpaksa mundur untuk menghindari benturan.
Kerja sama mereka pecah.
Gu Chenxiao segera memanfaatkan celah itu untuk keluar dari jarak serangan. Namun, ia tidak sempat mengambil keuntungan lebih jauh. Gu Mingyuan telah memulihkan keseimbangannya dan melancarkan serangan yang membuat Gu Chenxiao harus menangkis dengan kedua tangan.
Benturan itu memaksanya berlutut dengan satu kaki.
“Cukup!” seru pengawas.
Ketiganya berhenti.
Gu Zhen turun dari sisi panggung dan memeriksa posisi mereka. Setelah memastikan tidak ada pelanggaran yang mengharuskan diskualifikasi, ia memandang Gu Chenxiao.
“Kau belum kalah, tetapi kau juga belum menang. Apakah kau ingin melanjutkan?”
Gu Chenxiao merasakan nyeri pada lengan kirinya. Jika pertarungan diteruskan, ia masih dapat bertahan untuk beberapa waktu, tetapi kemungkinan mengalahkan dua lawan sekaligus sangat kecil.
Ia mengangkat kepala.
“Tidak. Saya menyerah.”
Suara bisikan langsung menyebar di antara penonton.
Beberapa orang terlihat kecewa. Mereka mengira Gu Chenxiao akan terus bertarung demi mempertahankan harga dirinya. Yang lain justru tampak terkejut karena ia memilih berhenti sebelum benar-benar dikalahkan.
Gu Mingyuan mengembuskan napas lega, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. Gu Han menyeringai, merasa bahwa mereka telah membuktikan keunggulan mereka.
Gu Chenxiao berdiri, menyerahkan pedang kayu kepada pengawas, lalu berjalan turun dari panggung.
Lin Yue segera menyusulnya. “Kau benar-benar menyerah?”
“Ya.”
“Kau masih bisa bertahan.”
“Bertahan bukan berarti menang.”
“Tetapi jika kau terus bergerak, mungkin salah satu dari mereka akan membuat kesalahan.”
“Mungkin,” jawab Gu Chenxiao. “Namun, aku tidak tahu berapa banyak tenaga yang masih mereka miliki, dan aku tidak ingin mengetahui jawabannya dengan menerima serangan berikutnya.”
Lin Yue terdiam.
Gu Chenxiao melanjutkan, “Aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan dari pertarungan itu.”
“Apa yang kau dapatkan?”
“Informasi.”
Lin Yue menatapnya lama, seolah-olah sedang mempertimbangkan apakah pemuda di hadapannya benar-benar serius. “Kau mengorbankan kemenangan demi informasi?”
“Aku mengorbankan satu pertandingan. Jangan membesar-besarkan nilainya.”
Gu Chenxiao meninggalkan arena menuju ruang istirahat. Ia tidak merasa senang karena kalah, tetapi ia juga tidak melihat alasan untuk menyesal. Ia telah mengetahui bahwa Gu Mingyuan dan Gu Han bersedia bekerja sama di hadapan banyak orang, tetapi masih belum sepenuhnya mempercayai satu sama lain. Ia juga telah mengetahui bahwa keduanya lebih mementingkan hasil pertarungan daripada penilaian orang lain, setidaknya selama mereka merasa memiliki peluang menang.
Itu bukan informasi yang cukup untuk menyelesaikan masalah apa pun.
Tetapi cukup untuk menentukan langkah berikutnya.
Di ruang istirahat, seorang tabib muda memeriksa lengannya dan memberikan salep untuk mengurangi nyeri. Setelah tabib itu pergi, Gu Chenxiao duduk sendirian sambil mengamati pintu.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan masuk membawa secarik kertas.
“Tuan Muda, seseorang menitipkan ini untuk Anda.”
“Siapa?”
“Dia tidak menyebutkan nama.”
Gu Chenxiao menerima kertas itu. Tidak ada segel keluarga, tidak ada tanda pengenal, dan tidak ada tulisan pada bagian luar. Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya terdapat satu kalimat.
Jangan mencari cap yang telah dihancurkan. Ada alasan mengapa catatan pemusnahannya tidak lengkap.
Gu Chenxiao membaca kalimat tersebut dua kali.
Pelayan itu masih berdiri di depan pintu. “Apakah Tuan Muda membutuhkan sesuatu?”
“Tidak. Kau boleh pergi.”
Setelah pintu tertutup, Gu Chenxiao meletakkan kertas itu di atas meja. Ia tidak segera membakarnya, juga tidak berusaha mencari siapa yang mengirimkannya. Sebaliknya, ia memperhatikan serat kertas, bekas lipatan, dan tinta yang digunakan.
Kertas itu berasal dari persediaan kantor administrasi keluarga.
Tinta yang digunakan berwarna hitam pekat, dengan sedikit kilau ketika terkena cahaya. Jenis tinta itu biasa digunakan dalam pencatatan resmi, bukan untuk surat pribadi.
Pengirimnya kemungkinan memiliki akses terhadap perlengkapan administrasi.
Namun, itu belum berarti bahwa pengirimnya adalah seorang pejabat. Seseorang bisa mengambil kertas dari meja orang lain, meminjamnya, atau sengaja menggunakan bahan yang mudah ditemukan agar identitasnya sulit dilacak.
Pesan itu sendiri lebih menarik.
Pengirimnya mengetahui bahwa Gu Chenxiao sedang mencari informasi mengenai cap lama. Padahal, penyelidikan tersebut baru dimulai sehari sebelumnya dan hanya melibatkan beberapa orang.
Artinya, salah satu dari tiga hal mungkin telah terjadi: informasi bocor dari Paman Fu, seseorang mengawasi ruang arsip, atau pengirimnya telah mengetahui masalah cap itu jauh sebelum Gu Chenxiao mulai menyelidikinya.
Kemungkinan terakhir paling sulit diabaikan.
Gu Chenxiao melipat kertas itu dan menyimpannya di dalam lengan jubah. Ia tidak akan mengikuti perintah untuk berhenti mencari hanya karena seseorang menyuruhnya. Namun, ia juga tidak akan meneruskan penyelidikan dengan cara yang sama.
Jika seseorang telah memperingatkannya, berarti penyelidikannya telah menarik perhatian.
Dan jika pengirimnya memang ingin melindunginya, orang itu dapat memilih untuk berbicara secara langsung.
Sebaliknya, jika tujuannya adalah membuatnya berhenti, pesan tersebut hanya membuktikan bahwa ada sesuatu yang layak diperiksa.
Gu Chenxiao berdiri dan meninggalkan ruang istirahat. Di luar, ujian kelompok masih berlangsung. Para murid bersorak ketika seorang peserta berhasil menang, sementara para tetua mencatat hasil pertandingan tanpa mengetahui apa yang baru saja diterima salah satu pewaris mereka.
Di ujung koridor, seorang lelaki berpakaian sederhana berdiri di dekat jendela. Ia adalah orang yang kemarin duduk di tribun utama, lelaki dengan lambang pengelolaan sumber daya di ikat pinggangnya.
Ketika Gu Chenxiao lewat, lelaki itu menundukkan kepala dengan sopan.
“Tuan Muda.”
Gu Chenxiao berhenti. “Siapa namamu?”
“Zhao Lin. Saya bertugas membantu administrasi gudang barat.”
“Begitu rupanya.”
Zhao Lin tetap menundukkan kepala. “Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Gu Chenxiao memandangnya selama beberapa detik. “Tidak untuk saat ini.”
Ia melanjutkan langkahnya.
Zhao Lin tidak mengikutinya, tetapi ketika Gu Chenxiao berbelok di ujung koridor, lelaki itu mengangkat kepala dan menatap punggungnya. Ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan ataupun ketakutan. Hanya ada kerutan tipis di antara kedua alisnya, seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa sebuah perhitungan sederhana mungkin tidak sesederhana yang ia kira.
Di sisi lain kediaman, Paman Fu menerima laporan bahwa seseorang telah memasuki ruang istirahat Gu Chenxiao. Pelayan yang membawa kertas tersebut tidak mengenali pengirimnya, dan tidak ada saksi yang dapat memastikan dari mana pesan itu berasal.
Paman Fu segera mengirimkan kabar kepada Gu Chenxiao.
Namun, ketika kabar itu tiba, Gu Chenxiao sedang berdiri di depan jendela kamarnya, memandang ke arah gedung administrasi.
Ia membaca pesan Paman Fu, kemudian menutupnya tanpa memberikan perintah baru.
Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia mempertimbangkan kemungkinan bahwa orang yang menyembunyikan rahasia tersebut mungkin bukan satu-satunya pihak yang berusaha mengarahkannya.
Seseorang telah mengambil salinan laporan.
Seseorang telah menggunakan cap lama.
Dan seseorang kini berusaha membuatnya berhenti mencari.
Ketiga tindakan itu mungkin berasal dari orang yang sama, tetapi tidak ada alasan untuk menganggapnya demikian.
Gu Chenxiao mengambil secarik kertas kosong dan menulis tiga nama: Luo Ming, Zhao Lin, dan Gu Mingyuan.
Ia memandang ketiganya selama beberapa saat, kemudian mencoret nama Gu Mingyuan.
Bukan karena ia yakin sepupunya tidak terlibat, melainkan karena belum ada hubungan langsung yang mengaitkannya dengan transaksi perdagangan. Pertarungan di arena hanya menunjukkan bahwa Gu Mingyuan memiliki ambisi dan bersedia bekerja sama demi kemenangan. Itu bukan bukti kejahatan.
Gu Chenxiao tidak ingin membiarkan kecurigaan berubah menjadi keyakinan hanya karena sebuah dugaan terasa masuk akal.
Ia menyimpan kertas itu di laci, lalu menutupnya.
Di luar, matahari mulai condong ke barat. Ujian generasi muda akan berakhir sebelum malam, dan nama para pemenang akan diumumkan di aula utama. Sebagian murid akan pulang dengan hadiah, sebagian akan menerima hukuman latihan tambahan, dan sebagian lainnya akan mulai merencanakan bagaimana memperbaiki kekalahan mereka.
Gu Chenxiao tidak akan menerima hadiah sebagai pemenang hari itu.
Namun, ia tidak menganggap hasil tersebut sebagai akhir dari sesuatu.
Ia hanya kehilangan satu kesempatan untuk memperoleh sumber daya tambahan. Sebagai gantinya, ia memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai dua orang yang telah bertarung bersamanya, serta sebuah pesan yang menunjukkan bahwa penyelidikan kecilnya telah menarik perhatian pihak yang belum dikenal.
Belum cukup untuk disebut keuntungan.
Tetapi juga belum cukup untuk disebut kerugian.
Gu Chenxiao menatap langit yang perlahan berubah warna.
“Kalau kalian ingin aku berhenti,” gumamnya, “setidaknya berikan alasan yang lebih baik.”
Ia berbalik menuju meja, mengambil laporan perdagangan, lalu mulai membaca kembali angka-angka yang sebelumnya dianggap tidak penting.
Di suatu tempat di dalam kediaman Klan Gu, seseorang telah membuat keputusan untuk memperingatkannya.
Orang itu mungkin sedang berusaha melindungi rahasia keluarga.
Mungkin sedang melindungi dirinya sendiri.
Atau mungkin ingin melihat apa yang akan dilakukan Gu Chenxiao setelah mengetahui bahwa dirinya sedang diawasi.
Apa pun alasannya, satu hal telah berubah.
Gu Chenxiao tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang mencari jawaban.
Dan ia belum mengetahui apakah orang yang mengawasinya merupakan lawan, sekutu, atau seseorang yang hanya ingin memastikan bahwa ia mengambil langkah ke arah yang tepat.
Untuk saat ini, ia tidak akan memilih salah satunya.
Ia akan membiarkan orang itu terus mengamati.
Sampai pengamatan tersebut menjadi kesalahan.