NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Arkan

"Kenapa kalian? Habis kecebur got?" tanya Rania saat melihat Zidan dan Galang masuk ke halaman rumah dalam kondisi kuyup. Ia sedang menyiram bunga ketika motor Zidan berhenti, dengan Galang duduk di belakang, sama-sama klucrut seperti tikus kehujanan.

Keduanya langsung merengut.

"Gak usah julid, ya? Kita habis kehujanan. Mana ada kecebur got masih seganteng ini." sahut Galang, tetap narsis meski bajunya lepek.

"Kamu ganteng?" Rania mendelik. "Bagian mana yang keliatan gantengnya? Tante gak nemu." ejeknya ketus.

Galang menghela napas panjang. "Kok bisa sih almarhumah nenekku ngelahirin anak kayak tante. Gak nyambung banget."

Rania langsung melotot. "Kok bisa ya kakakku ngelahirin anak yang ganteng nya biasa aja." balasnya sengit.

Adu mulut seperti itu sudah jadi rutinitas mereka. Zidan hanya geleng-geleng kepala, tak heran sama sekali.

"Udah... udah, lanjut besok aja debatnya." sela Zidan dengan nada datar.

"Tumben kamu gak belain bestie kamu ini." curiga Rania sambil melirik Zidan tajam. Biasanya mereka duet maut ngebully Rania.

"Lagi males. Laper, Tan. Ada makanan nggak?" Zidan langsung ke inti, tanpa basa-basi seperti biasa.

"Kamu kira rumah tante ini warteg? Datang-datang minta makan." cibir Rania dengan tatapan jengah.

"Biasanya juga kayak warteg, kan?" timpal Zidan santai. Galang yang mendengarnya langsung mengangkat tangan untuk high five.

"Bener tuh. Laper, Tan. Masak apa hari ini?" tanya Galang sambil nyengir.

"Gak ada." jawab Rania santai.

"Ha?" seru Zidan dan Galang bersamaan, jelas kecewa.

"Tante gak masak hari ini." ucap Rania dengan nada datar.

"Kok bisa? Terus makan siang tadi gimana? Tante diet?" tanya Galang penasaran.

"Enggak juga."

"Terus?" Zidan ikut penasaran.

"Oh, tadi lunch sih. Ada yang traktir." jawab Rania santai sambil lanjut menyiram bunga.

"Siapa?" tanya Zidan dan Galang kompak dengan nada kepo.

"Bapakmu." jawab Rania santai sambil menunjuk ke arah Zidan, senyum licik terselip di wajahnya.

"Daddy-ku? Tante makan sama Daddy-ku?" tanya Zidan dengan tatapan mendelik, nyaris tak percaya.

"Yoi... kenapa? Kaget, ya?" Rania tertawa puas. "Kita lagi PDKT-an, tahu. Siap-siap aja kamu kalau nanti tante jadi emak tirimu. Harta bapakmu bakal tante kuasai semua!" ujarnya sok berkuasa.

Alih-alih panik, Zidan malah menatap Rania santai. "Bagus dong. Nanti hasil nguasainnya kita bagi tiga ya, Tan. Aku, tante, sama Kenzie."

Galang langsung menepuk jidat mendengar respons itu.

"Kacau. Bener-bener kacau." komentarnya sambil geleng-geleng kepala.

Rania menyipitkan mata menatap Zidan. "Dasar anak nggak tahu malu! Itu namanya kongkalikong, nggak jadi untung tante, Zidan!" sentilnya sambil melemparkan kerikil kecil ke arah anak Arkan itu.

Zidan cekikikan sambil menghindar. "Yang penting kita tim sukses. Pokoknya kalau jadi, Tante wajib traktir."

"Traktir kepala kamu tuh." balas Rania, masih sewot tapi senyum-senyum juga.

Galang mengangkat tangan seperti hendak protes. "Eh, gue gimana? Kok gue nggak dapet bagian sih?"

"Tenang, Lang. Kalau tante udah sah jadi emak tiri, lo gue angkat jadi pengacara keluarga." celetuk Zidan santai.

Rania mendecak, "Keluarga apaan. Baru juga makan bareng udah dirancang-rancang jadi keluarga."

"Lumayan, Tan. Daddyku bisa diandalkan tahu." jawab Zidan sambil merapikan rambutnya yang masih basah.

Rania cuma bisa geleng-geleng kepala melihat keduanya. Sama-sama rese.

"Mandi sana. Jangan nyampah di depan rumah." suruhnya akhirnya.

"Siap, Calon Mami!" sahut Zidan dan Galang bersamaan sambil lari-lari kecil masuk ke dalam.

Rania menghembuskan napas panjang, lalu nyengir geli. "Calon Mami... bener-bener halu kalian tuh."

Tapi senyum itu tak bisa disembunyikan. Rania senang, bukan?

Zidan memang sengaja mampir dan menginap di rumah Rania karena malam ini dia akan main futsal bareng Galang. Sekalian saja, daripada bolak-balik. Jarak rumah barunya dengan lapangan futsal cukup jauh, sementara di rumah Galang dia sudah menyimpan beberapa baju ganti.

...****************...

Kenzie sudah tertidur ketika Arkan pulang. Anak itu sebelumnya dititipkan pada Axel bahkan Axel pula yang menjemput Kenzie dari sekolah. Selepas makan siang dengan Rania, Arkan memang masih harus menyelesaikan urusan penting bersama Nathan.

Untuk sementara waktu, Arkan memang belum bisa mempercayakan pengasuhan Kenzie kembali ke Rosa. Meski wanita itu telah bersumpah tak akan menyakiti Kenzie lagi, Arkan masih belum cukup yakin bahwa Rosa benar-benar berubah.

"Baru pulang, lu?" sapa Axel dari ruang keluarga. Hari ini Axel memang cuti, santai mengenakan kaus oblong dan celana pendek.

"Hm...." gumam Arkan sambil menjatuhkan tubuh ke sofa, melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. "Thanks, udah jagain anak gue."

Axel hanya mengangguk kecil. "Luna tahu Kenzie sama gue. Dia sempat chat minta gue anter Kenzie ke rumah nyokap lu. Tapi gue cuma read."

Arkan mengangguk pelan, tak terkejut.

"Lu yakin nggak mau pertimbangin Luna jadi istri?" tanya Axel pelan, hati-hati.

Arkan menggeleng. "Enggak. Gue udah janji sama mendiang istri gue. Luna tidak akan pernah jadi istri gue. Apapun alasannya."

"Kalau bukan karena janji itu?" selidik Axel.

Arkan terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Gue dan Luna udah selesai sejak gue mutusin nikah sama mommy-nya anak-anak. Gue nggak akan mundur ke masa lalu."

Axel menghela napas. "Luna tetap cinta sama lu, Ar. Bahkan setelah istri lu meninggal. Dia bertahan... lama."

"Gue nggak pernah minta." potong Arkan dengan suara pelan tapi tegas.

Axel hanya bisa menatap sahabatnya, lalu mengangguk kecil. Mereka sama-sama tahu, masa lalu tak akan berubah.

"Zidan ke mana? Gue nggak lihat dia pulang sekolah." tanya Axel, mencoba mengalihkan topik.

"Nginap di rumah Galang." jawab Arkan singkat. Dia sudah dapat pesan dari Zidan sebelumnya.

"Galang... itu yang lu bilang bestie-nya dia?" Axel menoleh. Ia memang pernah ditugaskan menjaga Zidan saat Arkan dan Nathan dinas ke Jepang, tapi kebanyakan tugas operasional dikerjakan anak buahnya. Mungkin itu sebabnya dia kurang ingat detail.

"Hm." Arkan hanya mengangguk pelan, deham ringan.

Hening sejenak menyelimuti ruangan.

"Mau minum?" tawar Axel, berdiri dan berjalan ke arah minibar kecil di sudut ruang.

Arkan menoleh sekilas. Setiap kali topik tentang masa lalu muncul, Axel seperti bisa membaca suasana hati Arkan. Dan benar, setelah pembicaraan barusan, hatinya sedikit mengendur.

"Lu nggak kerja besok?" tanya Arkan, alisnya sedikit terangkat.

"Kerja. Tapi beberapa gelas nggak bakal bikin gue mabuk." jawab Axel santai sambil menuang dua gelas kecil whisky. "Lagipula kita butuh rileks sesekali."

Arkan tersenyum tipis. Benar juga. Terakhir kali dia mabuk memang agak kacau tapi toleransinya kuat, jadi bukan soal kuantitas, tapi momen yang terlalu emosional.

Tapi tiba-tiba, sebuah bayangan melintas di pikirannya. Terakhir kali dia mabuk, Rania datang. Merawatnya. Membuat bubur. Menemaninya dalam diam yang menenangkan.

Mengingat itu, bibir Arkan melengkung pelan.

'Kalau mabuk lagi... kira-kira dia bakal datang lagi nggak?'

Tiba-tiba ide itu terasa menghibur. Dan menggoda.

"Hm....." ucapnya akhirnya pada Axel dengan tatapan mengarah ke gelas.

Dua pria dewasa itu menikmati malam dengan menyesap minuman ringan sambil mengobrol seputar bisnis. Obrolan mengalir santai, tidak terlalu serius, hanya membahas beberapa potensi kerja sama dan proyek ke depan. Tak ada yang berlebihan. Pukul dua belas malam lewat sedikit, keduanya memutuskan untuk beristirahat.

Axel memilih menginap. Ia terlalu malas pulang dalam kondisi sedikit hangat oleh alkohol. Arkan pun tidak mempermasalahkannya.

Namun, sebelum menaiki anak tangga menuju kamarnya, Arkan memanggil salah satu pelayan rumah.

"Saat Kenzie bangun besok, tolong bilang ke dia..." ucap Arkan pelan, dengan raut wajah serius yang menyembunyikan maksud lain. "Bilang daddynya sakit. Mungkin butuh tante Rania-nya buat masakin bubur."

Pelayan itu menahan senyum. Tapi segera mengangguk sopan. "Baik, Pak."

Arkan mengangguk pelan dengan senyum tipis penuh arti lalu berbalik, menaiki tangga menuju kamarnya.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!