NovelToon NovelToon
DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikahmuda / Penyelamat
Popularitas:132.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.

"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.

"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona

"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.

"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Tak ada yang menyadari kalau sepanjang sore itu Bara diam-diam memperhatikan Mirella yang duduk di paling sudut ruangan. Ia melihat bagaimana gadis itu hanya mendengarkan, sesekali tersenyum tipis namun tak pernah menyela pembicaraan yang berjalan di antara teman-temannya.

Ia melihat bagaimana jari-jemari Mirella meremas ujung roknya setiap kali tiba giliran mengutarakan pendapat, seakan suaranya terlalu kecil untuk didengar. Dan tadi, ia menangkap suara batuk halus yang berkali-kali tertahan di kerongkongan gadis itu, seakan Mirella berusaha menyembunyikan rasa tidak enak badannya agar tidak merepotkan siapa pun.

Tanpa banyak bicara, Bara bangkit berdiri. Ia berjalan ke dapur, menuangkan segelas air hangat, lalu kembali mendekati sudut tempat Mirella duduk. Semua mata sesaat beralih ke arahnya, namun Bara seakan tak peduli. Ia meletakkan gelas itu di meja kecil di depan Mirella.

"Minumlah. Tadi aku lihat tenggorakan tidak enak," ucapnya pelan, suaranya cukup rendah agar hanya mereka berdua yang mendengar.

Mirella tertegun, matanya sedikit membelalak menatap gelas bening di depannya. Wajahnya perlahan memerah.

"T-terima kasih, Bara ..."

Saat tangannya yang halus menyambut gelas itu, Pingkan dan Ria yang duduk berhadapan saling bertukar pandang. Senyum di bibir mereka sedikit miring, namun keduanya segera bangkit dan berjalan mendekat, menarik kursi hingga berada tepat di sisi Mirella.

"Mirella, boleh tanya nggak?" tanya Pingkan, suaranya terdengar manis namun ada nada yang tak bisa dijelaskan.

"Tanya apa?" jawab Mirella pelan, meletakkan gelas itu perlahan di atas meja.

"Kami penasaran, orang tuamu kerja apa ya?" tanya Ria menyambung, matanya menatap tajam namun tersenyum.

"Terakhir kali waktu ikut rapat orangtua murid, yang datang ke sekolah itu mama kamu? Yang penampilannya sederhana banget itu. Bilang ke kita-kita deh, orangtua kamu kerja apa?"

Mirella menunduk sejenak, menatap ujung kakinya yang tersembunyi di bawah meja. Ia tidak pernah membicarakan keluarganya dengan siapa pun. Tidak ada yang perlu tahu siapa Viona, siapa Zavian ayah tirinya, atau bagaimana hidupnya sebenarnya.

Toh dia juga selalu ke sekolah naik bus. Kalau dia bilang dari keluarga berada, mereka pasti menertawainya dan bilang dia ngaku-ngaku. Selama ini yang selalu datang ikut rapat guru atau ambil rapot adalah pembantu yang bundanya suruh. Jadi memang banyak yang mengira keluarganya hanya keluarga pas-pasan.

"Bunda ... Pekerja kantoran," jawabnya singkat, tak berniat menambahkan lebih banyak.

Pingkan dan Ria saling berpandangan, senyum mereka melebar seakan baru saja menemukan jawaban yang memuaskan.

"Jadi kamu anak orang biasa ya? Nggak apa-apa kok, Mirella," ucap Pingkan dengan nada yang terdengar menenangkan namun penuh makna lain.

"Semua orang pasti butuh pekerjaan. Setidaknya ibumu jujur bekerja, bukan begitu?"

Mirella hanya tersenyum tipis, tak berniat membela diri. Ia sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. Di rumah pun ia sering dianggap tidak lebih dari sekadar penambah beban. Kata-kata itu menyakitkan, tapi ia sudah belajar menelannya sendiri. Bara tidak senang mendengar itu dan berdeham keras.

Tiba-tiba Ria menoleh ke arah Bara yang berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan pandangan yang jauh.

"Bara, kolam renangmu bening banget! Boleh kami berenang sebentar? Tugas juga sudah hampir selesai, istirahat dulu dong," pinta Ria dengan nada memohon yang manis.

"Maaf, kolam renangnya ..."

Belum sempat Bara menyelesaikan kalimatnya, Rosa tiba-tiba berdiri dan meraih tangan Mirella, menariknya berdiri dengan gerakan cepat.

"Ayo, Mirella! Aku kebetulan selalu bawa dua set baju renang. Kamu pasti mau ikut kan? Sekalian aku pinjamkan satu set untukmu. Kebetulan ukurannya pasti pas," ajaknya cepat, seakan tak memberi ruang untuk menolak.

"Tapi aku nggak bawa pakaian ganti..."

"Sudah aku bilang, aku bawa ekstra! Ayo, jangan malu-malu!" Rosa menarik tangan Mirella menuju ruang ganti di sayap rumah itu.

Mirella menoleh ke belakang sekilas, bertemu pandang dengan Bara yang menatapnya dengan ragu, namun ia hanya bisa mengangguk pelan. Di ruang ganti, Rosa menyerahkan baju renang berwarna biru muda yang terlihat sederhana namun elegan.

"Terima kasih, Rosa." ucap Mirella pelan.

Rosa tersenyum, namun matanya tak ikut tersenyum sepenuhnya.

"Sama-sama. Kita kan teman sekelompok. Sudah selesai? Ayo keluar, mereka sudah menunggu."

Saat mereka berjalan keluar menuju kolam renang, Pingkan, Ria, dan Devon sudah ada di sana. Mereka tertawa riang, seakan pembicaraan yang menyakitkan tadi tak pernah terjadi. Mirella berdiri di tepi kolam, menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh. Ia sebenarnya tidak terlalu pandai berenang, dan rasa cemas perlahan merayap di dadanya.

Mirella juga malu karena baju renang yang dia pakai rasanya seksi sekali. Dia jarang berpakaian terbuka di hadapan orang lain.

"Tuh cewek penyendiri, badannya bagus juga ternyata." bisik Devon pada Bara dengan seringai tipis.

Bara menyikunya dan memberikan tatapan tajam

"Jangan lihat dia kayak gitu." peringatnya dengan nada dingin.

Devon terkekeh.

"Tenang, tenang bro. Gue tahu dari tadi mata lo cuma ke dia. Gue gak bakal rebut milik lo."

Bara menyikutnya lagi.

"Jangan ngomong sembarangan." katanya. Pandangannya kembali fokus ke Mirella, badan gadis itu memang bagus. Bagus sekali malah. Tapi Bara tidak fokus ke badannya, ia hanya fokus melihat gadis itu yang tampak ragu-ragu mau masuk ke dalam air.

Mirella yang tampak nyaman duduk sendirian di tepian, membiarkan air menyentuh kakinya sambil menatap ke permukaan air yang berkilau terkena sinar matahari sore. Gadis itu terlihat damai saat sendirian, namun begitu ada yang mendekat, bahunya perlahan terangkat kembali.

Mengapa dia selalu terlihat seperti burung yang takut terbang?

batin Bara bertanya-tanya.

Belum sempat kakinya menemukan pijakan yang stabil, tiba-tiba Ria dari belakang dengan sengaja menyenggol bahu Mirella cukup keras. Mirella yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya miring ke depan dan jatuh ke dalam air dengan suara cipratan yang keras.

Karena tidak siap dan tidak pandai berenang, Mirella langsung terendam sepenuhnya. Panik menguasainya. Ia meronta-ronta, tangan dan kakinya bergerak tak menentu mencoba mencari permukaan, tapi semakin ia bergerak, semakin ia terasa tersedot ke bawah. Air masuk ke hidung dan mulutnya, membuatnya terbatuk-batuk dan kesulitan bernapas.

Di tepi kolam, Bara yang melihat itu langsung berlari kencang dan melompat ke dalam air tanpa ragu sedetik pun. Semua orang terpaku. Dan Ria, tidak menyangka Mirella akan tenggelam.

1
faridah ida
Zavian perhatian.banget sama Mirrela , .. semoga Viona gak bikin ulah lagi ...
Ita rahmawati
eh ada apa dg lampunya
Fitria Syafei
KK cantik Mantaf 😍 kereen 🥰 terimakasih 😘
Al Fatih
Daddy zavian sebaik itu......,, istrinya malah kayak ratunya para setan😡
Naufal Affiq
aku yakin ini ulah bunda mu merella
faridah ida
kok bisa pecah ya lampu nya ... 🤔
apa ada yang sabotase ...
stefani n.i.s
nah gitu dong masa seorang laki² bisa dikendalikan oleh perempuan setan. diancam ya diancam balik lagi aja. kasihan Mirella tdk pernah dpt kasih sayang..bapak kandung nya Mirella kemana sih thor
Syakirah Dzaky
Aku takut terjadi cinta terlarang
Yul Kin
lanjut kak
~Hartwyn_Dee~
baguusss zavian,, Viona emng kudu di gertak dikit biar ga songong...
Syakirah Dzaky
Bagus Zavian , klo perluh sebarkan aja semua Video saat dia menyiksa anakx , jadikan itu sebagai bukti , biar dia di penjara sekalian
Naufal Affiq
emosi lah aku lihat si viona ini,entah dimana lah otaknya
Lilik Juhariah
cerita kak Mae gak pernah gagal
Lilik Juhariah
naaah gitu Daddy diancam ancam balik , jangan kalah sama viona iblis itu
Anisa Dwi riona
mantap zavian
faridah ida
baguuss Zavian ...👍👍👍
Al Fatih
Nah gitu dong Daddy zavian.....,, sama si Piona mah harus tegas,, kejam dan licik
faridah ida
Zavian kamu harus lebih pintar dan lebih licik dari viona ...
Fitria Syafei
Zavian kereen 😍 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 😘
🍒WINA🍒
Bagus zavian lawan aja wanita berhati iblis itu, sangat kejam dan tega sekali sama anak kandungnya sendiri dimana hati nuraninya. Mirella sangat rapuh sekali hidupnya tidak bahagia.
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭

daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..

hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.

viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...

mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...

lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
🍒WINA🍒: kasih pelajaran istri durhaka kamu zavian biar kapok dan jera🤭🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!