NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - Kalimat yang Salah Dengar

Pagi itu Muthi'ah nggak ada jadwal ngajar.

Ustazah Khadijah memanggilnya habis setoran hafalan subuh.

"Muthi'ah, tolong anterin kitab ini ke ndalem ya. Titip ke Nyai Maryam. Bilang ini daftar nilai musabaqah kemarin, beliau yang minta," kata Ustazah sambil menyodorkan map coklat.

Muthi'ah mengangguk. "Inggih, Ustazah."

Jujur saja, Muthi'ah paling nggak betah kalau disuruh ke ndalem. Bukan karena nggak suka, tapi karena sungkan. Ndalem itu rumah Kiai. Rasanya kalau ke sana harus super sopan, jalannya harus pelan, ngomongnya harus pelan. Beda sama di asrama putri yang bisa teriak-teriakan sama Dina.

Dia jalan pelan menyebrang halaman. Pagi-pagi Darul Hikmah masih sepi, masih ada embun. Sampai depan ndalem, pintunya terbuka sedikit. Dari dalam kedengaran suara orang ngobrol di dapur.

Muthi'ah mau mengetuk, tapi tangannya berhenti.

Dia kenal suara itu. Satu suara Nyai Maryam yang lembut. Satu lagi... Ibu. Ibunya Muthi'ah.

Loh, Ibu di sini? Perasaan kemarin Ibu bilang masih di rumah, nggak bakal ke pesantren minggu ini.

Muthi'ah jadi nggak enak mau masuk. Akhirnya dia berdiri saja di dekat jendela samping, menunggu obrolannya selesai. Niatnya nggak mau nguping, beneran. Tapi dapur ndalem itu jendelanya terbuka, suaranya jelas sekali masuk.

"Muthi'ah itu memang anaknya anteng, Nyai. Saya sebagai ibunya saja kadang kaget, kok betah banget di pondok. Nggak pernah minta pulang," itu suara Ibu.

Nyai Maryam tertawa pelan. "Sama kayak Jay dulu. Waktu kecil juga betah di pojokan masjid. Nggak nangis. Makanya saya itu mantap, Laila."

Terus suara Ibu lagi, agak pelan, "Tapi apa nggak terlalu cepat, Nyai?"

Nyai Maryam menjawab, "InsyaAllah enggak. Muthi'ah sudah siap, Jay juga sudah matang. Tinggal nunggu waktu yang pas saja. Kiai juga sudah ngobrol sama Pak Haris. Biar anak-anak pelan-pelan kenal."

Muthi'ah yang di luar jendela langsung nge-freeze.

Sudah siap. Sudah matang. Tinggal nunggu waktu yang pas.

Otaknya yang seharian cuma berisi hafalan Alfiyah dan tasrifan itu langsung muter ke mana-mana.

Siap apa? Matang apa?

Pikiran pertama yang muncul di kepalanya: dipindahin.

Iya, dipindahin pesantren.

Kan biasa di Darul Hikmah, kalau santri putri sudah dianggap siap, biasanya dipindah ke pesantren putri yang lebih tinggi di Malang atau di Kediri. Buat ngambil takhassus. Apalagi dia kan juara musabaqah kemarin. Pasti Kiai dan Ibu berpikir dia sudah tidak cukup belajar di sini.

Darahnya langsung turun ke kaki. Tangan yang memegang map jadi lemas, gemetar.

Enggak mau. Dia nggak mau pindah. Dia sudah nyaman di sini. Sahabatnya di sini. Gurunya di sini. Kamarnya yang pojok yang sudah ditempeli stiker doa-doa itu di sini.

Tanpa berpikir panjang, Muthi'ah balik badan. Nggak jadi nganterin map. Dia lari kecil balik ke asrama putri, napasnya ngos-ngosan.

Di kamar, Dina lagi ng-roll jilbab sambil dengerin murottal dari HP kentangnya. Zahra lagi nulis, Salsa lagi makan kerupuk.

Muthi'ah masuk, mukanya pucat.

"Muth? Kamu kenapa? Kayak habis lihat hantu," Dina langsung berdiri.

Muthi'ah duduk di kasur, map-nya ditaruh di pangkuan, masih gemetar.

"Aku... aku dengar Ibu sama Nyai ngobrol," katanya pelan.

Zahra dan Salsa langsung mendekat.

"Ngobrol apa?" tanya Zahra.

Muthi'ah menelan ludah. "Nyai bilang... aku sudah siap, Jay juga sudah matang. Tinggal nunggu waktu yang pas."

Seisi kamar hening dua detik, terus...

"HAAAA?" Dina menjerit, kerupuk Salsa jatuh.

Salsa langsung melek, "Jay? Gus Jay? Matang? Siap apa? Nikah?!"

"Eh Salsa! Jangan keras-keras!" Zahra panik, langsung menutup pintu kamar.

Muthi'ah makin panik, "Bukan! Bukan nikah! Maksudnya... maksudnya aku mau dipindahin! Pasti aku mau dipindahin pesantren!"

Dina mengernyit, "Dipindahin? Kok kesimpulannya ke situ?"

"Ya kan, kalau santri sudah siap sama matang itu biasanya dipindahin ke cabang yang lebih tinggi kan? Aku dengar dulu Kak Nadira juga gitu. Bilangnya sudah siap, eh besoknya dipindah ke Malang," kata Muthi'ah, suaranya sudah mau nangis.

Zahra berpikir, tangannya mengusap punggung Muthi'ah.

"Bisa jadi sih. Tapi... kenapa harus nyebut Gus Jay juga? Kalau mau mindahin kamu ngapain bawa-bawa nama Gus Jay? Kan aneh," kata Zahra logis.

Salsa yang paling blak-blakan langsung nyeletuk, "Jangan-jangan kamu mau dijodohin sama Gus Jay?! Kan cocok! Kamu pintar, dia putra Kiai!"

Muthi'ah langsung melotot, mukanya merah padam.

"Salsa! Jangan ngaco! Nggak mungkin! Aku sama Gus Jay itu... ya Allah, jauh banget! Dia itu putra pengasuh! Aku cuma santri biasa! Nggak level!"

"Eh, jangan ngomong gitu," Zahra menegur halus. "Nggak ada yang nggak level di depan Allah."

Dina yang dari tadi diam sambil mikir keras akhirnya bicara.

"Oke, oke, kita jangan suudzon dulu. Muthi'ah, kamu dengarnya beneran cuma segitu doang? Nggak ada kelanjutannya?"

Muthi'ah mengangguk, "Cuma itu. Habis itu aku langsung lari ke sini. Nggak berani dengerin lagi."

Dina menepuk jidat, "Ya Allah Muth, kamu tuh kebiasaan. Denger setengah-setengah terus langsung panik."

"Terus aku harus gimana?" Muthi'ah sudah benar-benar mau nangis. Matanya berkaca-kaca.

Zahra mengambil map dari pangkuan Muthi'ah. "Gini. Map ini harus tetap kamu anterin ke Nyai. Tapi nanti kalau ketemu Ibu, kamu tanya baik-baik. Jangan langsung nuduh. Bilang aja, 'Ibu kok di sini? Kangen?' Gitu. Biar nggak salah paham."

"Tapi kalau beneran aku mau dipindahin gimana, Zah?" Suara Muthi'ah kecil.

Salsa langsung menyambar, "Ya kalau dipindahin, kita ikut! Kita pindah juga! Biar sekelas terus!"

Dina memeluk Muthi'ah dari samping. "Denger ya, Muth. Mau kamu dipindahin kek, mau dijodohin sama Gus Jay kek, atau mau dijadiin ustazah tetap di sini kek, kita bertiga bakal tetap di samping kamu. Nggak usah mikir sendirian."

Muthi'ah mengangguk pelan, air matanya sudah jatuh satu-satu. Dia bukan nangis karena takut dijodohkan, karena dia bahkan nggak kepikiran sampai sana. Dia nangis karena takut kehilangan. Takut tempat yang sudah dia anggap rumah selama bertahun-tahun ini tiba-tiba menyuruhnya pergi, tanpa nanya dulu dia mau apa enggak.

Siang itu, map akhirnya dianterin sama Zahra, bukan sama Muthi'ah. Zahra bilang Muthi'ah lagi kurang enak badan. Nyai Maryam cuma tersenyum, bilang makasih.

Dan di dapur ndalem, obrolan Nyai Maryam dan Bu Laila masih lanjut, nggak tahu kalau kalimat mereka yang cuma sepenggal itu sudah bikin satu santri pendiam nggak bisa tidur semalaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!