Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Bu Karina Datang
Ardana masih berada di depan pintu ruangan Sanggar Mini milik Nayra. Kali ini rasa khawatir itu begitu besar. Nayra yang sedang sakit dan belum berobat serta belum ada makanan sedikitpun yang masuk.
"Ya ampun, kenapa jadi begini?" gumamnya sambil mondar-mandir di depan ruangan itu. "Nayra, tolong buka pintunya, kamu sedang sakit dan harus minum obat," desak Ardana, berharap Nayra akan membuka pintu itu.
Namun nihil, bujukan apapun yang dilakukan Ardana, tidak membuat Nayra luluh dan membuka pintu ruangan itu.
Ardana kalang kabut, ia harus melakukan sesuatu. Bagaimana caranya Nayra bisa makan kemudian minum obat.
Ardana melihat jam di tangannya entah yang ke berapa kali. Kali ini ia sudah tidak membujuk Nayra lagi, karena cara ini menurutnya terbilang paling ampuh.
Dua puluh menit kemudian, akhirnya yang ia tunggu datang. Sang Mama yang tadi terpaksa dihubungi, sudah datang. Wajah perempuan paruh baya itu terlihat khawatir dan was-was.
"Mama...akhirnya Mama datang. Maaf, Ma, Arda tadi terpaksa hubungi Mama." Ardana mendahului Bu Karina bicara, sebab ia takut diintrogasi duluan oleh sang mama.
"Memangnya Nayra kenapa, tiba-tiba sakit saja. Kemarin pas Mama dan Papa pulang, ia tidak kenapa-kenapa?" herannya sembari langkah kakinya sudah menuju tangga dan menaikinya.
"Itu dia, Ma. Sakit kan tidak ada yang tahu. Nayra demam, badannya panas. Saat itu, Dana tugas malam karena...." Kalimat Ardana tidak tuntas, dia bingung harus katakan apa.
"Ya ampun, Arda...Jangan sejajari dan pegang lengan Mama, Mama bisa jalan sendiri, kalau kamu pegangi kayak gini, Mama nggak bisa jalan dengan cepat. Lagian Mama masih sehat, tidak perlu kamu pegangi begini," protes Bu Karina. Ia pikir Ardana berjalan menyamai langkahnya lalu memegangi lengannya karena khawatir dirinya jatuh atau kenapa-kepana. Apa yang dilakukan Ardana adalah bentuk rasa gugup dan kekhawatiran kalau Bu Karina akan bertanya-tanya yang aneh-aneh.
"Iya, Ma. Arda hanya khawatir saja." Ardana memberi alasan. Sementara hatinya kini merasa kalut, sebab ia takut kalau nanti Nayra akan bilang yang sejujurnya kalau Ardana semalaman tidak di rumah karena menjaga pasien bernama Tiana.
"Aduhh...kenapa juga tadi aku bilang ke Mama kalau aku habis tugas malam? Tapi, aku tidak bilang bahwa semalam aku tugas malam, bisa saja malah Nayra yang mengatakan yang sesungguhnya, kalau aku tugas malam karena menjaga Tiana." Ardana bermonolog, hatinya dilanda was-was.
"Tadi, kamu bilang tugas malam. Tugas malam di mana dan kenapa? Mama jadi bingung, kamu ini baru pulang tugas malam dan kamu tidak tahu kalau istrimu sakit? Tapi, di mana dia sekarang?" cecar Bu Karian saat kakinya sudah menapaki lantai dua rumah itu.
"Itu dia, Ma. Arda memang baru tahu Nayra sakit, pagi ini. Masalahnya, Nayra sampai pagi ini, belum minum obat. Tadi Arda sudah paksa makan bubur, tapi ia menolak dan marah. Sekarang dia mengurung diri di Sanggar Mini," tutur Ardana sambil mengarahkan langkah kaki sang Mama ke ruangan yang disebut sebagai Sanggar Mini.
"Ya ampun, Arda. Kenapa Nayra bisa sampai marah? Apa istrimu tidak menghubungimu kalau dia sakit? Kamu ini, sepertinya lalai. Mentang-mentang sedang tugas malam, kamu sampai abaikan istrimu. Mama yakin istrimu menghubungimu, tapi kamu abai kan?" tuduh Bu Karina seakan tahu alur yang sudah terjadi pada Ardana semalam.
"Mama bisa menebak pula. Jangan sampai Mama bisa menebak juga kalau pasien yang aku tunggu adalah Tiana, bisa celaka aku. Aduhhh...gimana kalau nanti malah Nayra yang bilang kalau aku tugas malam karena menjaga Tiana?" Ardana kembali was-was, apabila Nayra nanti mengatakan yang sesungguhnya.
"Tapi, aku rasa Nayra tidak akan berani mengatakan itu, dia pasti tidak akan bicara yang sebenarnya," yakinnya dalam hati.
"Ini pasti kamu yang abai. Kamu memang keterlaluan," omelnya masih belum berhenti, sampai tubuhnya tahu-tahu sudah berada di depan ruangan yang diberi nama Sanggar Mini oleh Nayra.
"Istrimu di sini?" Bu Karina keheranan. Dia tidak tahu kalau ruangan itu adalah ruangan yang paling banyak Nayra habiskan waktunya di sana.
"Iya, Ma. Dia tadi masuk ke ruangan ini. Nayra marah karena Arda memang tidak membuka pesan WA nya semalam, sebab Arda sibuk."
"Tuh, kan, apa Mama bilang tadi? Dugaan Mama betul, kamu itu abai. Pasien mana yang membuat kamu abaikan istrimu sampai dia sakit saja tidak tahu?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.
Dana seketika kalang kabut, untung saja saat ini mereka sudah berada di depan pintu ruangan Sanggar Mini.
"Mama...sekarang Mama coba panggil Nayra. Arda yakin, kalau Mama yang bujuk dan panggil, Nayra pasti akan membuka pintu ini."
Bu Karina mengerungkan keningnya dalam, merasa apa yang dikatakan Ardana benar juga. Bukankah tujuan dia dihubungi Ardana adalah untuk membujuk Nayra yang terlanjur marah, supaya membuka pintu ruangan itu, karena Ardana bilang kalau Nayra belum minum obat dan makan sesuap nasipun.
"Nayra Sayang, kamu di dalam kan, Nak? Ayo buka pintunya, ini Mama. Kata Arda, kamu sakit dan belum minum obat juga sarapan. Kamu marah sama Arda karena dia tidak sempat baca chat kamu, kan?" bujuk Bu Karina berharap Nayra mendengar dan luluh lalu membuka pintu ruangan itu.
Sementara di dalam ruangan Sanggar Mini, Nayra yang terbaring lemah di bangku baralaskan busa tipis, sayup-sayup seakan mendengar seseorang memanggil.
Meskipun tubuhnya lemas dan masih demam, Nayra perlahan bangkit. Saat berusaha bangkit lalu menduduki bangku itu, kepala Nayra seketika sangat sakit dan berat.
"Ya ampun...." rintihnya seraya memegangi kepalanya yang sakit.
"Nayra, Sayang...ini Mama Karina datang, Nak. Kalau kamu masih kuat dan dengar Mama, bukalha pintunya. Kamu sakit Sayang, kamu harus minum obat, tapi kamu harus sarapan dulu." Suara bujukan dari seseorang yang sangat dikenalinya terdengar.
Nayra terperanjat, ia tidak yakin kalau di luar sana adalah Mama mertuanya.
"Pasti hanya halusinasi," sangkalnya sambil menggeleng.
"Nay...ini Mama. Buka pintunya. Kamu sedang sakit, Nak. Kamu dengar Mama, kan?" Suara itu kembali terdengar diiringi ketukan di pintu.
Nayra tersentak, kini suara itu benar-benar nyata dan di luar ruangan ini adalah Ibu mertuanya.
"Mama...itu benar-benar Mama Karina. Kenapa Mas Arda malah menyuruh Mama Karina datang?" gumamnya masih belum yakin.
Karena ketukan di pintu itu masih terdengar dan suara Bu Karina terus memanggil, dengan perlahan dan langkah yang pelan karena tubuhnya lemas, Nayra menghampiri pintu, lalu membukanya.
Saat pintu ruangan itu terbuka, Nayra benar-benar melihat Bu Karina yang terlihat sangat khawatir melihatnya.
"Nayra...."
Tubuh Nayra tiba-tiba melayang, matanya kunang-kunang, dan ia tidak sadarkan diri.
Bu Karina dan Ardana panik. Untung saja, lagi-lagi Ardana sigap menangkap tubuh Nayra sehingga tidak jatuh ke lantai.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...