Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membela Istri & Bertaruh Jabatan 28.
Aroma kayu cendana dari tubuh Reyhan yang biasanya menjadi oase penenang bagi Novia, kini justru terasa seperti bilah pisau yang mengiris dadanya.
Di dalam ruang piket yang pengap oleh prasangka, keheningan merayap begitu pekat. Bu Lastri masih menatap mereka dengan sepasang mata penuh kemenangan, seolah baru saja berhasil menguliti seekor pendosa.
Novia meremas ujung rok abu-abunya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menunduk, menolak menatap mata Reyhan.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah nilai nol atau skorsing seminggu, melainkan jika sepasang manik mata hitam pekat milik cowok itu berubah menjadi dingin dan penuh kekecewaan. Dia takut Reyhan mengira seluruh peluh dan kantuk yang mereka bagi semalam hanya sebuah kepura-puraan.
"Bagaimana, Reyhan? Sudah jelas, kan?" Bu Lastri melipat tangan di dada, mengetukkan jemarinya di atas meja hijau dengan ritme yang menyebalkan. "Tolong kamu buatkan surat rekomendasi penindakan. Siswi seperti Novia ini tidak bisa dibiarkan merusak integritas Pelita Bangsa."
Reyhan tidak segera bersuara. Cowok itu berdiri tegak, ban lengan OSIS di lengan kirinya tampak berkilat di bawah lampu neon yang temaram. Lembar kertas contekan itu masih berada di antara jemari panjangnya.
Matanya yang tajam meneliti setiap lekuk huruf, mengunci baris nama Reyhan Aldebaran yang sengaja digoreskan di sudut bawah dengan tinta hitam.
Sebuah fitnah yang cerdas. Dirancang bukan hanya untuk mendepak Novia, tetapi juga untuk meruntuhkan takhta absolut yang selama ini dipegang Reyhan di sekolah ini. Seseorang ingin mereka hancur bersama.
"Ini bukan tulisan Novia," ujar Reyhan akhirnya. Suaranya rendah, datar, namun memiliki gaung otoritas yang membuat Bu Lastri seketika terdiam.
Bu Lastri tertawa sumbang. "Tentu saja kamu akan bilang begitu, Reyhan. Kamu kan Ketua OSIS yang bertanggung jawab atas kedisiplinan seluruh siswa, mungkin kamu hanya mencoba objektif. Tapi bukti fisik tidak bisa bohong. Kertas itu ada di bawah mejanya."
Reyhan mengalihkan pandangannya dari kertas, lalu menatap lurus pada Novia.
Rambut gadis itu sedikit berantakan, dan ada jejak keputusasaan yang tertahan di sudut matanya. Hati Reyhan berdenyut linu—sebuah rasa sakit asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa sakit melihat gadis yang semalam mendengkur halus di atas buku paketnya, kini harus gemetar menghadapi penghakiman dunia yang kejam.
"Angkat kepala lo, Novia," perintah Reyhan, pelan namun sarat akan ketegasan yang menuntut patuh.
Novia mendongak pelan, matanya berkaca-kaca. "Rey... gue beneran nggak—"
"Gue tahu," potong Reyhan cepat. Tatapannya melunak hanya dalam sepersekian detik, sebuah kode rahasia yang hanya bisa dibaca oleh Novia, sebelum kembali berubah sekeras batu karang saat menatap Bu Lastri. "Masalah ini tidak bisa diselesaikan di ruang piket. Karena nama saya diseret di dalam kertas ini, saya minta kasus ini dibawa ke depan Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. Sekarang."
**
Ruang rapat Komite Sekolah terasa seperti ruang eksekusi mati. Di balik meja oval jati yang besar, duduk Kepala Sekolah, perwakilan komite, dan beberapa guru senior termasuk Bu Lastri.
Di sudut ruangan, berdiri dua orang saksi—siswi dari kelas Novia yang mengklaim melihat Novia menyembunyikan sesuatu sebelum ujian dimulai.
Novia berdiri di tengah ruangan, merasa seperti terdakwa di pengadilan tinggi.
Di sampingnya, Reyhan berdiri dengan punggung tegap, tak tergoyahkan.
"Jadi, Reyhan," Kepala Sekolah membuka suara, membetulkan letak kacamata minusnya sambil menatap lembar barang bukti di atas meja. "Kamu menyatakan bahwa ada konspirasi di balik kasus mencontek ini? Dan namamu dicantumkan di sini sebagai bentuk sabotase?"
"Benar, Pak," jawab Reyhan lantang. "Pertama, gaya tulisan di kertas ini menggunakan karakter serif yang rapi, sementara tulisan tangan Novia cenderung berantakan dan bertipe cursive. Kedua, integral yang tertulis di sini menggunakan metode substitusi tingkat lanjut yang belum diajarkan di kelas lintas minat. Seseorang sengaja menyiapkannya."
Bu Lastri mendengus. "Itu hanya asumsi belaka, Reyhan! Bagaimana jika Novia menyuruh orang lain menulisnya demi memanfaatkan posisimu? Faktanya, dua saksi melihat Novia memasukkan sesuatu ke laci meja."
Novia tidak bisa menahan diri lagi. Dadanya naik turun karena emosi yang membuncah. "Saya cuma masukin kotak pensil sama botol minum ke kolong meja! Saya nggak pernah lihat kertas itu sampai Bu Lastri menariknya!"
"Diam kamu, Novia! Jangan memotong pembicaraan!" bentak Bu Lastri keras.
Suasana mendadak tegang. Bisik-bisik dari anggota komite mulai menyudutkan. Mereka memandang Novia dengan tatapan merendahkan—seolah dia adalah noda hitam di atas kain putih Pelita Bangsa.
Rasa sesak itu kembali menyerang Novia. Dia merasa sendirian, telanjang di depan badai, persis seperti saat ayahnya selalu menyalahkannya atas segala kegagalan di rumah.
Namun, sebelum air mata Novia sempat luruh, sebuah kehangatan tiba-tiba melingkupi punggung tangannya.
Di bawah kolong meja rapat yang luput dari pandangan para guru, Reyhan meraih jemari Novia. Cowok itu menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang luar biasa. Genggaman tangan yang nyata, yang seolah berbisik: Gue ada di sini. Lo nggak sendiri.
Novia tertegun, debaran jantungnya berpacu gila, namun rasa takutnya mendadak menguap berganti rasa aman yang magis.
Reyhan maju satu langkah, melepaskan genggamannya perlahan sebelum menarik perhatian seluruh ruangan kembali pada dirinya. Wajahnya dingin, auranya begitu pekat hingga mampu membungkam kegaduhan dalam sekejap.
"Jika komite sekolah tetap bersikeras menjatuhkan sanksi pembatalan nilai dan skorsing kepada Novia atas dasar bukti yang cacat ini," kata Reyhan, suaranya mengalun tenang namun setajam sembilu, "maka saya, selaku Ketua OSIS Pelita Bangsa, menyatakan mundur dari jabatan saya detik ini juga."
Hening. Seluruh ruangan seperti dihantam bom tak kasat mata. Bu Lastri terbelalak, sementara Kepala Sekolah langsung menegakkan posisi duduknya.
"Reyhan! Apa-apaan kamu? Jangan main-main dengan jabatanmu!" tegur Kepala Sekolah dengan nada panik. Reyhan adalah aset emas sekolah, peraih medali olimpiade, dan lambang kesempurnaan Pelita Bangsa. Kehilangannya adalah bencana besar.
Novia menoleh cepat, menatap profil samping wajah Reyhan dengan mata membelalak sempurna. "Rey... lo gila?" bisiknya tertahan, hatinya mendadak terkoyak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Kenapa cowok itu harus melangkah sejauh ini demi dirinya?
Reyhan tidak menoleh pada Novia. Matanya tetap mengunci pandangan Kepala Sekolah dengan keyakinan yang mutlak.
"Saya tidak main-main, Pak. Tugas OSIS adalah menegakkan keadilan, bukan menjadi saksi dari eksekusi yang buta," ucap Reyhan, setiap frasa yang keluar dari bibirnya terdengar begitu indah namun mematikan. "Saya mempertaruhkan seluruh jabatan, reputasi, dan nama baik saya di sekolah ini sebagai jaminan. Novia tidak bersalah. Dan saya akan membuktikannya dalam waktu dua puluh empat jam."
Reyhan membalikkan badannya, menatap Novia yang masih mematung dengan air mata yang akhirnya menetes di pipi.
Cowok itu mengulurkan tangannya di depan semua orang, tidak lagi peduli pada aturan atau pandangan mata yang menghakimi.
"Ayo pergi," ucap Reyhan lirih, hanya untuk Novia. "Kita cari siapa yang berani menyentuh milik gue."
......................
...****************...
Tbc,