"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 | BUKET BUNGA DAN PERMAINSAN BARU
Di dalam ruang rapat direksi Vanderbilt Industry, ketegangan mencekam merayapi seluruh ruangan. Austin Vanderbilt duduk di kursi kebesarannya, menatap dingin jajaran eksekutif setelah memberikan instruksi tegas mengenai penanganan insiden ledakan pabrik di Vietnam.
"Pastikan santunan dan asuransi dicairkan hari ini juga tanpa hambatan!" tegas Austin dengan suara baritonnya yang tak terbantahkan. "Jika sampai ada keluhan dari keluarga korban, pastikan kalian menyerahkan surat pengunduran diri esok pagi!"
Para direksi menunduk kaku, mengangguk patuh sebelum terburu-buru meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Christine sepupu perempuan Austin yang masih bersandar santai di kursinya.
"Kata-katamu sangat tajam, Austin. Kau membuat mereka hampir pingsan ketakutan," kekeh Christine.
"Aku hanya menegaskan aturan," sahut Austin datar.
"Tentu saja Tapi sejak kapan seorang Austin Vanderbilt peduli pada hal lain selain nama Angeline, Angeline, dan Angeline?" goda Christine seraya menaikkan sebelah alisnya. "Apakah ini ada hubungannya dengan wanita yang kau bicarakan kemarin?"
Austin hendak menjawab ketika pintu ruang rapat mendadak didobrak secara kasar!
BAM!
Aleeza Wira melangkah masuk dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyala penuh amarah. Di tangannya, ia memegang buket bunga mawar besar yang baru saja dikirimkan pengawal Austin ke ruang tunggu!
"AUSTIN VANDERBILT!" teriak Aleeza nyaring, lalu melempar buket bunga mawar itu tepat ke dada Austin seperti mengayunkan pedang!
Bunga-bunga mawar berhamburan di atas meja marmer. Austin tidak marah; senyuman miring yang begitu tampan dan provokatif justru terukir di bibirnya seraya ia berdiri rapik.
"Kau tidak suka bunganya, Mi Amor?" kekeh Austin santai.
"Hentikan drama gilamu ini, El Oso!" bentak Aleeza tak peduli ada orang lain di ruangan itu. "Kau memaksaku datang jam tiga fajar hanya untuk memberiku bunga dan mempertontonkan kekuasaanmu? Cari wanita lain jika kau ingin bermain pangeran-pangeranan!"
Christine terkekeh geli melihat keberanian Aleeza. "Austin siapakah wanita luar biasa ini?"
Austin merangkul pinggang Aleeza dengan santai, menarik tubuh gadis itu rapat ke sisinya meski Aleeza berusaha meronta.
"Aleeza, kenalkan... ini Christine, sepupuku. Dan Christine perkenalkan, ini Aleeza Wira, tunanganku calon Nyonya Vanderbilt."
Mata Christine membelalak kaget sebelum tersenyum lebar. Ia bangkit dan langsung memeluk Aleeza erat-erat. "OMG! Jadi berita di TV itu benar?! Terima kasih, Aleeza! Akhirnya ada wanita cerdas yang sanggup menyelamatkan sepupuku dari kegilaannya pada Angeline!"
"Christine " tegur Austin dengan gigi terkatup. "Bukannya kau harus terbang ke Paris pagi ini?"
"Baiklah, aku pergi! Jangan galak-galak pada tunanganmu!" goda Christine tertawa renyah seraya melambaikan tangan dan keluar dari ruangan.
Begitu pintu rapat tertutup kembali, Aleeza langsung menghempaskan tangan Austin dari pinggangnya.
"Sudah puas, Austin?" desis Aleeza tajam, matanya menatap lurus ke dalam iris biru sang billionaire. "Kau sudah membuktikan kekuasaanmu di depan keluargamu. Sekarang, hentikan ancamanmu pada Julian! Aku sudah muak bertengkar denganmu!"
Austin melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aleeza terdesak ke tepi meja. Pria Spanyol itu menatap Aleeza dengan sorot mata yang tak terbaca—campuran antara dominasi dan dorongan obsesi yang kuat.
"Permainan ini tidak akan berhenti hanya karena kau lelah, Aleeza," bisik Austin dingin di depan wajah Aleeza.
"Kenapa?! Apa yang sebenarnya kau inginkan dari jurnalis biasa sepertiku?!" cetus Aleeza dengan napas naik turun. "Kau punya uang, kekuasaan, dan wanita bangsawan seperti Angeline! Kenapa harus aku yang kau jadikan tahanan?!"
"Karena kau satu-satunya wanita yang tidak berlutut di bawah kakiku," balas Austin tajam seraya mencengkeram lembut dagu Aleeza, memaksa gadis itu menatapnya.
Aleeza memalingkan wajahnya dengan jijik.
"Dengarkan aku, Austin Vanderbilt Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi menjadi milikmu. Cintaku hanya milik Julian!"
Mendengar nama Julian disebut lagi, rahang Austin mengeras ketat. Tatapan matanya yang tadi dingin mendadak berubah menjadi gelap dan berbahaya.
"Mari kita lihat seberapa bertahan cintamu itu saat kau resmi menjadi milikku di altar bulan depan, Mi Amor," bisik Austin dengan senyuman miring yang mematikan.
Austin menarik tangan Aleeza secara paksa, membimbingnya keluar dari ruang rapat.
"Lepaskan ! Kau mau membawaku ke mana lagi?!" protes Aleeza meronta.
"Sarapan," sahut Austin datar tanpa menghentikan langkahnya. "Kau belum makan sejak semalam. Dan aku tidak ingin tunanganku pingsan sebelum pertunjukan kita yang berikutnya dimulai."
Aleeza mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk pria iblis di sampingnya dalam hati. Di dalam gedung pencakar langit Vanderbilt Tower, sang Mawar Berduri menyadari bahwa pelariannya semakin terimpit dalam cengkeraman sang pangeran Spanyol!
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!