NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. TEROR RUMAH SAKIT

Malam semakin larut ketika Arka dan Sara meninggalkan taman itu.

Tidak ada percakapan di antara mereka selama beberapa menit pertama. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, bercampur dengan gesekan ban di atas jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan ke kaca depan, sementara bayangan pepohonan melintas silih berganti di sisi mobil.

Arka menggenggam kemudi dengan kedua tangannya. Rahangnya masih mengeras, dan sesekali ia melirik kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti mereka.

Di kursi penumpang, Sara duduk sambil menatap keluar jendela.

Pikirannya masih tertinggal di taman tadi.

Pengakuan Arka.

Perkelahian dengan Phat.

Dan perasaan yang belum sempat ia jawab.

Sara menarik napas pelan. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi melihat wajah Arka yang begitu tegang membuatnya mengurungkan niat.

Akhirnya, ia memilih diam.

Bukan karena tidak memiliki jawaban.

Melainkan karena ia tahu, malam ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

"Arka," panggil Sara setelah beberapa saat.

"Hm?"

"Kita mau pulang ke mana?"

Arka tidak langsung menjawab.

Matanya tertuju pada jalanan di depan, tetapi pikirannya sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada pertengkaran di taman tadi.

Rumah keluarganya.

Ia membayangkan Phat sudah lebih dahulu tiba di sana. Kakaknya itu mungkin sedang berbicara dengan ayahnya, menceritakan apa yang terjadi di taman, lalu menerima perintah baru untuk mengawasi setiap langkahnya.

Arka tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan.

Namun, satu hal terasa semakin jelas baginya.

Jika ia pulang malam ini, ia mungkin justru sedang berjalan masuk ke perangkap yang telah disiapkan keluarganya sendiri.

Arka melirik Sara sekilas.

"Kita tidak akan pulang ke rumah."

Sara menoleh. "Apa maksudmu?"

"Aku akan membawa kita ke rumah sakit."

"Rumah sakit?" Sara mengerutkan kening. "Bukankah kita baru saja meninggalkan Bastian di sana?"

"Justru karena itu."

Arka membelokkan mobil di persimpangan, mengambil jalan menuju pusat kota.

Sara memperhatikan perubahan arah tersebut, kemudian kembali menatapnya.

"Kau pikir sesuatu akan terjadi kepada Bastian?"

"Aku yakin seseorang akan mencoba melakukan sesuatu kepadanya."

Nada suara Arka terdengar datar, tetapi tangannya semakin erat menggenggam kemudi.

Sara terdiam sesaat.

"Karena Phat?"

Arka tidak menjawab dengan segera. Ia memeriksa kaca spion sekali lagi sebelum akhirnya berbicara.

"Phat bukan orang yang akan berhenti hanya karena aku memintanya berhenti. Apalagi setelah kejadian tadi."

"Dia kakakmu."

"Aku tahu."

"Dan kau tetap berpikir dia akan menyakiti Bastian?"

Arka mengembuskan napas panjang.

"Di rumah itu, Sara, aku tidak lagi tahu siapa yang bisa kupercaya."

Kalimat itu membuat Sara terdiam.

Arka jarang berbicara tentang keluarganya dengan cara seperti itu. Biasanya, ia akan menutup pembicaraan, menghindari pertanyaan, atau sekadar menjawab dengan singkat. Namun, malam ini, suaranya terdengar berbeda.

Ada kelelahan di sana.

Bukan hanya kelelahan karena perkelahian dengan Phat, tetapi juga karena terlalu lama hidup di tengah rahasia yang tidak pernah benar-benar ia pahami.

"Ayahmu juga?" tanya Sara pelan.

Arka menatap jalanan.

"Terutama ayahku."

Sara tidak bertanya lebih jauh.

Ia tahu betapa sulitnya bagi Arka untuk mengucapkan kalimat tersebut. Bagaimanapun juga, ayahnya adalah ayahnya sendiri. Namun, dari semua yang telah terjadi, Sara mulai mengerti bahwa hubungan darah tidak selalu menjamin seseorang akan melindungi kita.

Terkadang, orang yang paling dekat justru menjadi orang yang paling sulit dikenali.

Beberapa menit kemudian, mobil Arka memasuki halaman rumah sakit.

Bangunan itu masih terang meskipun malam telah larut. Sejumlah kendaraan terparkir di depan pintu masuk, sementara beberapa orang berjalan keluar masuk melalui lobi. Bau antiseptik yang samar tercium begitu mereka melewati pintu otomatis.

Arka memarkir mobil di tempat yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk.

Setelah mematikan mesin, ia tidak langsung turun.

Ia menatap gedung rumah sakit melalui kaca depan.

"Bastian masih dirawat di lantai tiga," katanya. "Aku akan meminta izin untuk menunggu di kamarnya."

Sara melepas sabuk pengaman.

"Kau benar-benar tidak ingin pulang?"

"Belum."

"Bagaimana kalau Phat datang ke rumah sakit?"

Arka menoleh kepadanya.

"Itulah alasan kita harus berada di sini."

Sara menghela napas kecil. "Kau tahu, terkadang caramu menjelaskan sesuatu membuat orang lain ingin melemparkan sesuatu ke kepalamu."

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Arka terangkat tipis.

"Kalau kau ingin melempar sesuatu, tunggu sampai kita menemukan bantal."

Sara menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.

Tawa itu singkat, tetapi cukup untuk mengendurkan ketegangan di antara mereka.

Arka memperhatikan Sara diam-diam.

Ia menyukai suara tawa itu.

Dan justru karena itulah ia merasa semakin takut.

Selama ini, Arka terbiasa menghadapi bahaya sendirian. Ia bisa menerima jika dirinya terluka, dicurigai, bahkan dibenci. Namun, setelah Sara masuk ke dalam hidupnya, ada sesuatu yang berubah.

Ia mulai memikirkan keselamatan orang lain sebelum keselamatannya sendiri.

Dan itu membuatnya rentan.

"Arka?"

Suara Sara menyadarkannya.

"Apa?"

"Kau melamun."

"Tidak."

"Kalau begitu, kenapa kau menatapku seperti sedang memikirkan cara menyembunyikan sesuatu?"

Arka mengangkat alis.

"Perumpamaanmu semakin buruk."

"Belajar darimu."

Arka mendengus pelan, lalu membuka pintu mobil.

"Turunlah. Sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar menyuruhmu menunggu di mobil."

Sara segera menyusulnya.

"Dasar."

"Haha."

Mereka berjalan menuju lobi rumah sakit. Meski percakapan mereka terdengar ringan, Arka tetap mengamati sekeliling. Ia memperhatikan setiap orang yang berada di dekat pintu masuk, setiap kendaraan yang berhenti terlalu lama, dan setiap sosok yang berdiri sendirian di sudut ruangan.

Ia tidak ingin menganggap semua orang sebagai ancaman.

Namun, setelah membaca buku catatan Pak Thom, ia tahu bahwa kewaspadaan bisa menjadi satu-satunya hal yang membuat mereka tetap hidup.

Buku itu.

Nama Tiara Chenzae.

Dan pesan yang ditulis pada secarik kertas tersembunyi.

Jika mereka mencari Tiara, jangan biarkan dia kembali ke Sagara.

Arka masih belum memahami siapa Tiara sebenarnya. Akan tetapi, bagaimana reaksi ayahnya ketika mendengar nama itu.

Apakah ayahnya mengenal perempuan itu.

Arka melirik Sara yang berjalan di sampingnya.

Ada satu hal lain yang membuat pikirannya semakin kacau.

Ia yakin Phat juga sudah mengetahui keberadaan buku catatan milik Pak Thom. Entah dari mana, tetapi kakaknya itu selalu tampak selangkah lebih cepat dalam urusan yang berkaitan dengan rahasia keluarga.

Jika Phat mengetahui isi buku tersebut, ia pasti akan menyadari bahwa Arka sedang mendekati sesuatu yang selama ini disembunyikan ayahnya.

Dan jika Phat merasa posisinya terancam, Bastian mungkin menjadi sasaran berikutnya.

Arka mempercepat langkahnya.

Mereka harus sampai ke kamar Bastian sebelum siapa pun menyadari kedatangan mereka.

Bastian sedang berbaring ketika Arka dan Sara memasuki kamarnya.

Kaki kanannya masih dibalut perban tebal dan diletakkan di atas penyangga. Selang infus terpasang di tangannya, sedangkan sebuah gelas air berada di meja kecil di samping tempat tidur.

Pria itu sedang membaca sesuatu di ponselnya.

Begitu melihat kedua tamunya, ia mengangkat kepala.

"Lihat siapa yang datang." Bastian menyeringai. "Pasangan yang baru saja membuat keributan di taman akhirnya memutuskan mengunjungi orang sakit."

Sara langsung memelototinya.

"Kau tahu dari mana?"

"Arka punya wajah yang sangat mudah dibaca."

"Aku tidak punya wajah yang mudah dibaca," sahut Arka.

Bastian menurunkan ponselnya.

"Benar. Wajahmu sulit dibaca. Tapi kalau sedang memikirkan Sara, kau terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan kemampuan berbicara."

Sara menutup wajahnya dengan satu tangan.

"Bastian, kau sedang dirawat. Seharusnya kau beristirahat."

"Aku sedang beristirahat. Mengganggu kehidupan cinta kalian adalah bagian dari terapi."

Arka menarik kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur.

"Kalau kakimu sudah sembuh, aku akan memastikan kau mendapat pekerjaan yang tidak membutuhkan kemampuan berbicara."

"Sayangnya, menjadi kepala polisi membutuhkan kemampuan itu."

"Kalau begitu, aku akan mengajukan permohonan agar kau dipindahkan menjadi penjaga gudang."

Bastian terkekeh.

Untuk beberapa saat, suasana kamar terasa lebih ringan.

Namun, setelah Arka duduk dan Sara menutup pintu, ekspresi Bastian perlahan berubah.

"Kalian tidak pulang?" tanyanya.

Arka menggeleng.

"Aku ingin tinggal di sini sampai kau diperbolehkan pulang."

Bastian menatapnya lekat-lekat.

"Karena apa?"

"Karena aku tidak yakin kau aman."

Senyum di wajah Bastian menghilang.

Ia meletakkan ponselnya di meja.

"Kau mencurigai seseorang?"

"Phat."

Nama itu membuat Bastian terdiam sejenak.

Kemudian, ia mengembuskan napas.

"Sepertinya aku memang tidak pernah disukai keluarga mu."

"Ini bukan tentang suka atau tidak suka," jawab Arka. "Aku tahu bagaimana cara kakakku berpikir. Jika dia merasa penyelidikan kita mengancam keluarganya, dia tidak akan membiarkanmu menghalangi mereka."

Bastian menyandarkan punggungnya pada bantal.

"Dan kau pikir dia akan datang ke rumah sakit untuk membunuhku?"

"Aku tidak tahu apakah dia akan melakukannya sendiri. Tapi aku tidak akan mengambil risiko."

Bastian memandang Arka cukup lama, kemudian mengalihkan tatapannya kepada Sara.

"Bagaimana dengan kalian berdua? Apakah ada sesuatu yang terjadi setelah aku pergi?"

Sara dan Arka saling pandang.

Hanya sesaat.

Namun, Bastian menangkapnya.

"Oh." Ia mengangguk perlahan. "Jadi, memang ada sesuatu."

"Tidak ada," jawab Arka cepat.

"Kalau begitu, kenapa Sara mendadak melihat ke jendela?"

"Karena jendelanya ada di sana," balas Sara.

Bastian tertawa kecil hingga wajahnya sedikit meringis karena rasa sakit pada kakinya.

"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bertanya."

Arka menghela napas lega.

"Bagus."

"Tapi aku akan menebak."

"Bastian."

"Kurasa kau akhirnya mengaku suka kepadanya."

Sara membeku.

Arka menatap Bastian dengan ekspresi dingin.

Sementara itu, Bastian mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah.

"Apa? Aku hanya menebak. Dan melihat wajah kalian sekarang, kurasa tebakanku benar."

"Kalau kau terus berbicara, aku akan memanggil perawat untuk menyuntikkan obat tidur kepadamu," ancam Arka.

"Silakan. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu satu hal."

Bastian menoleh kepada Sara.

"Apakah kau sudah menjawabnya?"

Sara terdiam.

Ia bisa saja menjawab bahwa belum. Ia bisa saja mengatakan bahwa dirinya masih membutuhkan waktu. Namun, entah mengapa, menjawab pertanyaan itu di hadapan Bastian terasa terlalu sulit.

Akhirnya, ia hanya berkata, "Maaf, aku belum ingin membicarakannya."

Bastian tersenyum lebar.

"Begitu ya."

Sara mengambil bantal kecil dari kursi kosong dan melemparkannya ke arah Bastian. Bantal itu mengenai dadanya dengan lembut.

"Beristirahatlah!"

Bastian tertawa lagi.

Arka memandang keduanya, dan untuk sesaat, beban di dadanya terasa sedikit berkurang.

Akan tetapi, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Ketika Sara mengambil tempat duduk di dekat jendela, Arka mengeluarkan ponselnya. Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Lalu, ia membuka daftar panggilan.

Tidak ada panggilan dari rumah.

Tidak ada pesan dari ayahnya.

Tidak ada kabar dari Phat.

Justru itulah yang membuatnya semakin gelisah.

Phat bukan tipe orang yang akan membiarkan kejadian berlalu begitu saja. Kakaknya itu pasti sedang memikirkan sesuatu. Dan jika ia belum menghubungi Arka, mungkin ia sedang sibuk melaksanakan rencana yang lebih besar.

Arka memasukkan ponselnya ke saku.

"Bastian, mulai sekarang, jangan menerima tamu tanpa sepengetahuan petugas yang berjaga."

Bastian mengangkat alis.

"Aku berada di rumah sakit, bukan di hotel."

"Aku serius."

"Aku juga serius. Kalau ada orang datang membawa buah, aku tetap akan memeriksa apakah dia membawa pisau di dalam keranjang."

Sara menggeleng, tetapi senyumnya segera menghilang ketika melihat ekspresi Arka.

"Kau benar-benar takut sesuatu akan terjadi malam ini," katanya.

Arka menoleh kepadanya.

"Aku tidak takut, tapi..."

Sara menatapnya tanpa berkedip.

"Kau selalu mengatakan itu setiap kali kau sedang takut."

Arka tidak menjawab.

Bastian yang semula hendak melontarkan lelucon akhirnya memilih diam.

Sara bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Arka.

"Arka, kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian."

Kalimat itu membuat Arka teringat percakapan mereka di taman.

Tentang perasaannya.

Tentang keraguan yang ia miliki.

Dan tentang bagaimana Sara meminta dirinya untuk tidak memutuskan sendiri bahwa ia tidak pantas berdiri di sampingnya.

Arka menatap perempuan itu.

"Aku tahu."

"Benarkah?"

Ia terdiam sebentar sebelum mengangguk.

"Aku sedang berusaha mempercayainya."

Sara tidak mendesaknya untuk mengatakan lebih banyak.

Ia hanya menarik kursi dan duduk di samping Arka. Bahu mereka hampir bersentuhan, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha menjauh.

Untuk saat ini, kedekatan kecil itu sudah cukup.

Tentang jawaban yang belum diberikan, Sara memilih untuk menyimpannya terlebih dahulu. Bukan karena ia ingin membuat Arka menunggu tanpa kepastian, melainkan karena ia tidak ingin perasaan mereka diputuskan di tengah ancaman, amarah, dan rahasia keluarga yang semakin membelit.

Jika ia menjawab, ia ingin melakukannya dengan pikiran jernih.

Bukan karena takut kehilangan Arka.

Dan bukan pula karena merasa berutang atas perlindungannya.

Arka berhak mendapatkan jawaban yang jujur.

Namun, malam ini, mereka memiliki masalah yang jauh lebih mendesak.

Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit.

Bastian mulai mengantuk akibat obat yang diberikan dokter. Meski masih berusaha melontarkan komentar sesekali, matanya beberapa kali terpejam sebelum terbuka kembali.

Sara akhirnya berdiri.

"Aku akan membeli kopi dan sesuatu untuk dimakan. Kalian belum makan malam dengan benar, bukan?"

Arka langsung menggeleng.

"Aku ikut."

"Kau tetap di sini," kata Sara. "Kalau seseorang datang, Bastian tidak mungkin melawan dengan kaki seperti itu."

Bastian mengangkat telunjuk.

"Aku tersinggung, tetapi tidak bisa membantah."

Sara mengambil tasnya.

"Aku hanya akan pergi sebentar. Ada mesin penjual minuman di lantai bawah. Aku tidak akan keluar dari gedung."

Arka masih tampak ragu.

Sara menatapnya dengan lembut.

"Aku akan kembali."

Dua kata itu sederhana, tetapi membuat Arka akhirnya mengangguk.

"Telepon aku kalau ada sesuatu."

"Baiklah."

Sara melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi kepada Arka, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, pada akhirnya, ia hanya tersenyum tipis dan meninggalkan kamar.

Pintu tertutup perlahan.

Bastian membuka sebelah matanya.

"Kau benar-benar menyukainya."

Arka tidak menanggapi.

"Dan dia jelas bukan perempuan yang tidak memiliki perasaan kepadamu."

"Beristirahatlah, Bastian."

"Aku sedang membantu."

"Kau sedang mengganggu."

Bastian tertawa pelan, lalu memejamkan mata kembali.

Arka menoleh ke arah pintu.

Entah mengapa, ia tidak menyukai kenyataan bahwa Sara harus berjalan sendirian di koridor rumah sakit. Ia tahu tempat itu dijaga, dan ia juga tahu Sara tidak akan pergi jauh. Namun, firasat buruk yang sejak tadi menekan dadanya semakin sulit diabaikan.

Ia mengambil ponselnya, berniat mengirim pesan kepada Sara.

Namun, sebelum sempat mengetik, layar ponselnya menyala.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Arka mengernyit.

Ia membuka pesan itu.

Hanya ada satu kalimat pendek.

Jangan biarkan Bastian melewati malam ini.

Arka membeku.

Beberapa detik berlalu sebelum ia membaca kalimat itu sekali lagi, berharap dirinya salah memahami maksudnya.

Tidak.

Pesan itu tetap sama.

Arka langsung berdiri dan menoleh kepada Bastian.

"Bastian, bangun."

Bastian membuka mata dengan malas.

"Apa lagi? Kalau ini tentang Sara, aku—"

"Diam."

Nada suara Arka membuat Bastian seketika terjaga.

Arka menunjukkan layar ponselnya.

Senyum Bastian lenyap.

Ia membaca pesan itu, lalu perlahan mengangkat kepala dan memandang pintu kamar.

"Siapa yang mengirimnya?" tanyanya.

"Aku tidak tahu."

"Apakah kau sudah membalas?"

"Belum."

Bastian meraih ponselnya sendiri, tetapi gerakannya terhenti ketika terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.

Langkah itu tidak terburu-buru.

Seseorang berjalan mendekati pintu mereka.

Arka segera memasukkan ponselnya ke saku. Ia berdiri di antara pintu dan tempat tidur Bastian, sementara matanya terpaku pada gagang pintu yang mulai bergerak.

Klik.

Pintu terbuka sedikit.

Seorang petugas rumah sakit muncul di ambang pintu.

"Permisi, apakah di sini pasien atas nama Bastian Baert?"

Bastian menjawab dengan hati-hati, "Ya. Ada apa?"

Petugas itu tersenyum tipis.

"Kami mendapat instruksi untuk memindahkan pasien ke ruangan lain."

Arka langsung menegang.

"Instruksi dari siapa?"

Petugas itu menatap Arka.

Senyumnya menghilang sesaat sebelum kembali muncul.

"Dari pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan pasien."

Arka tidak bergerak.

Ia mengenali kalimat itu.

Bukan karena pernah mendengarnya dari petugas rumah sakit, melainkan karena kalimat itu terdengar seperti jawaban yang sengaja disusun untuk menghindari pertanyaan.

"Siapa nama dokter yang memberikan instruksi?" tanya Arka.

Petugas itu terdiam.

Hanya sesaat.

Namun, bagi Arka, jeda tersebut sudah cukup.

Ia melangkah mendekati pintu.

"Saya akan menghubungi bagian administrasi untuk memastikannya."

Wajah petugas itu berubah.

Dan untuk pertama kalinya, Arka melihat sesuatu di matanya.

Bukan kebingungan.

Melainkan kepanikan.

Petugas itu segera mundur selangkah.

"Tidak perlu. Mungkin ada kesalahan administrasi."

Ia berbalik terlalu cepat, lalu berjalan menjauh menyusuri koridor.

Arka segera keluar kamar.

"Hei! Tunggu!"

Namun, sosok itu sudah berbelok di ujung lorong.

Arka mengejarnya beberapa langkah, tetapi berhenti ketika mendengar suara Bastian memanggil dari dalam kamar.

"Arka!"

Arka menoleh.

Bastian menunjuk ke arah jendela.

Di luar, di antara kendaraan yang terparkir di halaman rumah sakit, sebuah mobil hitam baru saja menyalakan lampunya.

Mesinnya menyala.

Dan di balik kaca depan yang gelap, seseorang tampak sedang mengawasi gedung tempat mereka berada.

Arka merasakan darahnya seolah membeku.

Ia tidak tahu siapa orang di dalam mobil itu.

Namun, ia tahu satu hal.

Phat mungkin belum datang sendiri untuk memburu Bastian. Akan tetapi, seseorang sudah lebih dahulu tiba di rumah sakit untuk memastikan target mereka tidak lolos.

Arka mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Sara.

Panggilan tersambung.

"Halo?" Suara Sara terdengar dari seberang.

"Sara, di mana kau sekarang?"

"Di lantai bawah. Aku baru saja membeli minuman. Kenapa?"

"Kembali ke kamar sekarang. Jangan melewati pintu utama sendirian. Cari petugas keamanan dan minta mereka menjemputmu."

Keheningan singkat terdengar.

"Ada apa, Arka?"

Arka menatap mobil hitam di luar jendela.

"Kita punya masalah."

Dari seberang telepon, Sara tidak langsung menjawab.

Kemudian terdengar suara langkah cepat dan bunyi pintu yang terbuka.

"Arka," katanya dengan suara lebih pelan, "ada dua orang laki-laki yang baru saja masuk ke lobi. Mereka mengenakan jaket hitam."

Arka menggenggam ponselnya erat-erat.

"Jangan dekati mereka."

"Aku tidak mendekati mereka."

"Bagus. Tetap di tempat aman dan tunggu petugas keamanan."

Sara menarik napas gugup.

"Arka, mereka sedang melihat ke arahku."

Arka menutup mata sesaat.

Ketika membukanya kembali, tatapannya berubah dingin.

Malam ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Sara ataupun Bastian.

Bahkan jika ia harus menghadapi kakaknya sendiri.

"Jangan bergerak, Sara," katanya tegas. "Aku akan menjemputmu."

Lalu ia memutus panggilan, mengambil kursi di dekat pintu, dan menahannya di bawah gagang pintu kamar Bastian.

Di luar, langkah kaki mulai terdengar lagi.

Kali ini, jumlahnya lebih dari satu.

Dan mereka sedang menuju kamar Bastian.

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!