NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong Kematian Gerbang Sunyi

​Ruang Batu Gerbang Sunyi — Tengah Malam

​"Pewaris yang berjalan dengan satu jejak... akhirnya kau tiba..."

​Gema suara kuno yang serak dan berat itu menyapu lorong bawah tanah, membekukan darah di pembuluh Lu Mingseng.

​Mingseng merapatkan tubuhnya di balik pilar batu yang hancur. Suara itu begitu asing—bukan suara Kaisar Abadi, bukan Penjaga Balai Penempaan Darah, dan bukan pula jiwa wanita misterius. Suara itu seolah memanggilnya langsung dari ruang dan waktu yang teramat jauh.

​Pewaris yang berjalan dengan satu jejak? Apa maksudnya?

​Mingseng tak berani bertindak impulsif. Ia bahkan tak tahu apakah kalimat itu ditujukan untuk dirinya atau wujud tak kasat mata lain yang bersemayam di sana.

​"Siapa yang berbicara?!" bentak pria berjubah cokelat—pimpinan kelompok penjelajah asing—sambil menyapukan pandangan panik ke sekeliling ruangan.

​Tak ada jawaban.

​Di hadapan mereka, sebuah lorong gelap terjal menembus ke perut bumi. Dinding batunya yang berwarna hitam legam dihiasi ukiran sulur-sulur merah yang berdenyut layaknya pembuluh darah makhluk hidup.

​Seorang pengawal maju setapak membawa obor. "Biar kuperiksa—"

​"Jangan konyol!" tebas pria berjubah cokelat. "Tunggu sampai kita paham mekanisme jebakannya!"

​Namun sebelum kalimatnya tuntas—

​Krrrrk! BRAK!

​Pintu batu raksasa di belakang mereka mendadak rubuh menutup dengan kecepatan yang sangat mengerikan!

​"Lari!" seru pria berjubah cokelat melompat ke depan.

​Dua pengawal berhasil meloloskan diri, namun pengawal ketiga yang berada paling belakang terlambat setengah detik.

​Batu raksasa seberat belasan ton itu menghantam tubuh sang pengawal tepat di bagian pinggang. Darah segar dan pecahan organ dalam tersembur dahsyat mengaliri pilar batu! Jeritan melengking pria itu terputus seketika saat tulangnya hancur menjadi bubur.

​Keheningan yang amat mencekam menyelimuti ruangan.

​Mingseng mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik penyamarannya. Ia baru saja menyaksikan seorang ahli mati hanya karena terlambat satu langkah. Inilah dunia kultivasi yang sesungguhnya—kejam, tanpa ampun, dan tak memberi ruang bagi kecerobohan sekecil apa pun.

​"Jangan sentuh pintunya!" teriak pria berjubah cokelat pada sisa anak buahnya.

​Namun terlambat. Ukiran piktogram merah di seluruh lantai batu menyala semakin terang. Gelombang pendar merah itu merambat dari pusat ruangan menuju pilar persembunyian Mingseng.

​'Guru,' bisik Mingseng di dalam batinnya, 'apakah formasi ini bisa mendeteksi auraku?'

​Kaisar Abadi menjawab dengan nada sangat serius, 'Formasi ini tidak membaca fluktuasi Qi biasa, Mingseng. Ia memindai kepadatan jiwa dan jenis energi kuno di dalam tubuhmu.'

​'Bisakah kita mendobrak pintu batu itu dari dalam?'

​'Jangan mimpi!' potong Penjaga Balai Penempaan Darah. 'Batu itu dilapisi segel penahan dari peradaban masa lalu. Kekuatanmu yang sekarang hanya akan sia-sia.'

​Mingseng menggertakkan giginya. Ia tahu kedua pembimbingnya tidak sedang mengejeknya, melainkan membeberkan realitas objektif. Meski Teknik Tubuh Naga Darah dan terobosan Pembukaan Meridian Tahap Awal-nya telah meningkatkan daya ledaknya secara drastis, mengandalkan kekuatan mentah untuk menghancurkan segel situs kuno adalah tindakan bunuh diri.

​***

​"Perhatikan alur cahaya di lantai," suara wanita misterius terdengar lembut memberi petunjuk.

​Mingseng segera mempertajam penglihatannya. Di antara sulur-sulur pendar merah yang membara, ia mendapati ada beberapa jubin batu yang tetap redup dan gelap. Jubin-jubin itu membentuk alur tidak beraturan yang sengaja ditinggalkan sebagai 'jalur aman' oleh pembuat formasi.

​Mingseng menahan napas, menghitung ritme denyutan cahaya di atas lantai.

​Satu... Dua... Tiga...

​Pada denyutan keempat, pendar merah di sudut timur ruangan mendadak meredup selama sepersekian detik sebelum kembali menyala terang!

​Formasi ini punya siklus jeda! batin Mingseng paham.

​Namun sebelum Mingseng sempat melangkah, seorang anak buah berjubah cokelat mendadak menunjuk ke arah pilarnya. "Ketua! Ada orang yang bersembunyi di balik pilar itu!"

​Serentak, pandangan mata pimpinan berjubah cokelat dan sisa pengawalnya tertuju padanya.

​Mingseng menghela napas pelan, tahu penyamarannya telah terbongkar. Ia keluar dari balik pilar batu dengan langkah tenang, mengenakan jubah hitam dan topeng separuh wajah yang misterius.

​"Siapa kau?!" gertak pimpinan jubah cokelat sambil mengarahkan pedangnya. "Apa yang kaucari di sini?!"

​"Aku hanya pengelana yang kebetulan terjebak," jawab Mingseng datar dari balik topeng.

​"Bohong! Tangkap dia! Geledah kantong penyimpanannya!" perintah sang pimpinan dingin.

​Dua pengawal langsung menerjang maju, mengayunkan pedang mereka dari dua arah berbeda.

​Mingseng tidak berniat membuang-buang energi. Begitu mata pedang pertama meluncur ke arah lehernya, Mingseng memiringkan tubuh sedikit, mencengkeram pergelangan tangan lawan dengan dorongan Tubuh Naga Darah, lalu memutarnya ke belakang!

​KRAK!

​"ARGH!" Pengawal pertama melolong saat sendi tangannya terlepas. Mingseng lalu menghantamkan sikunya tepat ke ulu hati lawan hingga pria itu pingsan terlempar ke tanah.

​Pengawal kedua mencoba menebas dari belakang. Mingseng berputar secepat kilat, merendahkan kuda-kudanya, lalu menghantamkan bahunya lurus ke dada lawan dengan teknik tumpuan meledak.

​BUUM!

​Pengawal kedua terpelanting menabrak dinding batu, memuntahkan darah segar sebelum terkulai tak sadarkan diri!

​Pertarungan itu tuntas dalam dua tarikan napas.

​Pimpinan jubah cokelat terbelalak horor. Ia tak menyangka seorang pemuda bertopeng yang kelihatannya hanya berada di puncak Pengumpulan Qi sanggup melumpuhkan dua pendekarnya dengan sangat mudah!

​

​KLANG! KLANG! KLANG!

​Belum sempat pimpinan jubah cokelat itu mengambil tindakan, gema dentuman logam raksasa bergema dari kedalaman lorong bawah tanah.

​Lantai di tengah ruangan terbelah dua. Sebuah lengan batu berukuran masif dengan ukiran benang merah memanjat keluar dari dalam celah, disusul oleh kebangkitan sesosok monster raksasa setinggi tiga meter!

​Monster itu terbuat dari batu hitam tempaan masa lalu, mengenakan helm baja tanpa raut wajah, dan memiliki inti merah membara yang berdenyut di tengah dadanya.

​Penjaga Kuno Gerbang Sunyi!

​"M-monster itu... bangkit!" teriak sisa pengawal ketakutan.

​Monster batu itu menggerakkan kepalanya yang kaku. Pendar merah dari matanya menyapu ruangan, mendeteksi penyusup.

​WUSH!

​Tanpa memberi waktu bernapas, monster batu itu melayangkan pukulan raksasanya ke arah pengawal yang berdiri di dekatnya.

​BANG!

​Pengawal itu bahkan tak sempat menjerit saat tubuhnya dihancurkan menjadi serpihan darah di atas lantai batu!

​"Serang intinya!" teriak pimpinan jubah cokelat panik sambil melesatkan tebasan pedangnya yang berbalut energi Fondasi Spiritual ke arah dada sang monster.

​KRAANG!

​Percikan api membara terlempar, namun inti merah di dada monster itu tak tergores sedikit pun! Sebaliknya, kibasan tangan batu sang monster menghantam pimpinan jubah cokelat hingga terlempar memuntahkan darah!

​Mingseng cermat mengamati pergerakan monster tersebut dari sudut ruangan.

​'Mingseng! Jangan serang inti dadanya!' peringat sang penjaga Balai Penempaan Darah. 'Inti itu dilindungi lapisan pelindung absolut! Serang persendian kaki dan titik tumpu alirannya saat energinya berpindah!'

​Mingseng langsung memahami instruksi tersebut. Ia melihat bahwa setiap kali monster itu hendak mengayunkan pukulannya, pendar merah di persendian lututnya akan meredup selama sepersekian detik untuk mengalihkan tenaga ke lengan.

​"Serang belakang lututnya saat energinya berpindah!" teriak Mingseng pada pimpinan jubah cokelat dan sisa pengawalnya yang masih bernapas.

​"Apa?!"

​"Lakukan saja jika tidak ingin mati di sini!" tegas Mingseng dingin.

​Mingseng melesat secepat bayangan, memanfaatkan jeda siklus formasi lantai untuk mendekati monster tersebut. Begitu sang monster batu mengangkat tangan raksasanya untuk memukul, Mingseng melompat memutar, mengalirkan Qi pekatnya, dan menghantamkan tinjunya lurus ke bagian belakang lutut kiri sang monster!

​BOOM!

​KRAK!

​Retakan besar menganga di persendian lutut sang monster! Pimpinan jubah cokelat yang melihat kesempatan itu langsung menyusul, menebas lutut kanan monster tersebut dengan seluruh sisa tenaganya!

​CRACK!

​Kedua lutut monster batu itu hancur lumpuh! Tubuh raksasanya terhuyung jatuh berlutut ke tanah.

​Mingseng tidak membuang momentum emas ini. Ia meloncat tinggi ke udara, menghantamkan sisa daya ledak fisiknya tepat ke bagian retakan dada monster yang pelindungnya telah melemah!

​DUUUUUM!

​Inti merah di dada monster batu itu pecah berhamburan! Pendar energinya mati total, dan tubuh raksasanya runtuh hancur menjadi tumpukan batu hitam tak bernyawa.

​***

​Pertarungan sengit itu berakhir dengan helaan napas berat. Dari belasan orang yang masuk, kini hanya tersisa Mingseng, pimpinan jubah cokelat yang mengaku bernama Gao Renshan, dan seorang pengawal tersisa.

​Gao Renshan menatap Mingseng dengan pandangan penuh rasa hormat campuran gentar. "Terima kasih... Nama saya Gao Renshan, pimpinan Kelompok Penjelajah Serigala Besi."

​Mingseng merapikan jubahnya. "Lu Mingseng."

​"Mingseng, lorong di hadapan kita adalah jalan menuju bilik utama reruntuhan. Maukah kau bekerja sama denganku untuk memeriksanya?" tawar Gao Renshan.

​Mingseng mempertimbangkan tawaran itu sejenak. Ia tahu di dalam sana tersimpan rahasia yang dicari oleh tablet warisannya. "Kerja sama sementara. Tapi ingat, jika kau mencoba mengkhianatiku, aku tidak akan segan mencabut nyawamu."

​"Disepakati!" tegas Gao Renshan.

​Ketiganya berjalan menyusuri lorong bawah tanah yang makin menukik ke bawah. Udara di sekeliling mereka terasa kian membeku dan menusuk tulang.

​Di ujung lorong, mereka tiba di sebuah ruang bundar mahaluas.

​Di tengah-tengah aula batu tersebut, berdiri sebuah pilar hitam pekat. Di permukaannya, terukir jelas tiga titik merah yang persis sama dengan lambang pada tablet warisan Mingseng dan cakram kelabu milik Mingseng!

​Gao Renshan yang matanya gelap oleh keserakahan langsung berlari mendekati pilar hitam itu. "Harta karun utama...!"

​"Tunggu! Jangan melangkah!" teriak Mingseng memperingatkan.

​Namun terlambat! Pengawal Gao Renshan telah menginjak jubin batu di depan pilar!

​KLIK!

​Syuuung...!

​Seluruh aula bundar itu seketika diterangi oleh pendar cahaya merah pekat dari dasar bumi!

​Dari balik retakan tanah di bawah pilar hitam, sebuah tangan pucat berzirah baja kelam merayap keluar. Sesosok ksatria berzirah hitam berdiri tegap—tubuhnya diselimuti aura kematian pekat, dan di balik helm bajunya hanya ada satu mata merah membara yang menyala dingin.

​Sensasi aura menakutkan yang dipancarkannya membuat Kaisar Abadi dan penjaga balai di dalam jiwa Mingseng seketika berteriak peringatan keras!

​Ksatria berzirah hitam itu tidak menyerang Gao Renshan. Sebaliknya, matanya yang menyala merah menatap lurus ke arah Lu Mingseng yang berdiri di barisan belakang.

​Ksatria itu mengangkat jari bajanya, menunjuk tepat ke wajah Mingseng, lalu bergumam dengan suara mekanis ghaib yang menggetarkan seluruh aula:

​"Jejak pertama telah ditemukan... Namun sang pemilik belum teruji."

​WUSH!

​Ksatria zirah hitam itu mendadak menghilang dari pandangan!

​Sebelum Mingseng sempat bereaksi, sebuah sabetan pedang pendar merah telah meluncur hanya sejarak satu mili dari dadanya, menyoyak jubah hitam Mingseng dan meninggalkan garis luka berdarah di kulitnya!

​Mingseng melompat mundur secepat kilat dengan napas terengah-engah.

​Ksatria zirah hitam itu kembali berdiri di posisi asalnya, mengangkat pedang darahnya tinggi-tinggi ke angkasa, sementara seluruh pintu keluar aula batu terkunci rapat oleh dinding segel merah.

​Ksatria itu berbisik dingin:

​"Ujian Pertama Pewaris Keabadian... !"

1
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!