"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anakku
"Aku di sini sudah lama, dari Reyhan masih kecil. Sudah tahu seluk beluknya. Ini bocah nakal tuh memang anak pungut. Makanya sifatnya beda dari Reyhan dan Pak Bian yang lebih anteng. Walaupun dia berasal dari keluarga Pak Bian, tapi tetap saja namanya anak pungut." seru Mbak Lani dengan tatapan tajamnya.
Lani...
"Lopa adukan sama Papa. Lopa bukan nanak pungut," teriak Elova dengan mata berkaca-kaca.
"Lopa ndak nakal. Lopa anak baik," lanjutnya.
Mbak Lani merasa bodo amat dengan ancaman dari Elova. Menurutnya, apa yang dia katakan itu sudah benar. Bibi Sita sampai berteriak agar Mbak Lani tidak melanjutkan ucapannya. Bahkan Bibi Sita langsung menarik pergi Mbak Lani agar tak lagi mengoceh. Mbak Ambar mencoba menenangkan Elova yang menangis. Ternyata bocah cilik itu sudah paham dengan maksud dari anak pungut. Aluna dibantu oleh Bibi Tari berjalan menuju Elova. Tadi Aluna sudah melangkah ingin mendekati Elova tapi di tahan oleh Bibi Tari. Pasalnya tadi pecahan piringnya masih berserakan. Alhasil Bibi Tari langsung menyingkirkan dengan sapu, baru membawa Aluna pergi setelah bersih.
"Sini sama Tante, lobak." Aluna mengulurkan kedua tangannya ke arah Elova yang menangis sesenggukan.
Huaaaaa...
"Lopa bukan nanak pungut kan, Tante? Itu Nenek lampil ndak benal kan?" seru Elova saat sudah digendong oleh Aluna. Bahkan Elova sampai menangis histeris. Bibi Tari dan Mbak Ambar langsung membantu Aluna untuk duduk di sofa agar bisa menenangkan Elova.
"Nggak benar dong. Lobak ini kan anaknya Papa dan Tante. Elova adalah anakku," ucap Aluna berusaha menahan tangisnya saat mendengar tangisan dari Elova.
"Tadi Nenek lampil bilang Lopa nanak pungut. Dali dulu ndak suka itu olang sama Lopa. Padahal Lopa nanak baik," adu Elova mengenai perlakuan dari Mbak Lani.
Aluna tak bisa berkata-kata lagi. Dia mengelus punggung Elova untuk menenangkannya. Pasalnya dia tak tahu bagaimana kelakuan Mbak Lani saat dulu. Bian juga tak menceritakannya. Saat Mbak Lani sampai semalam, dia belum bertemu. Aluna baru bertemu Mbak Lani saat pagi tadi. Itu pun aura di sekitarnya lumayan tidak enak. Dia merasakan ada seseorang yang tengah menatapnya begitu sinis. Saat diperkenalkan oleh Bibi Sita dengan Mbak Lani, terdengar nada tak suka dari ART satu itu padanya.
"Mbak ambar, lobak tidur kan ini?" tanya Aluna saat merasakan deru nafas dari Elova yang tersendat-sendat tapi ada suara mendengkur.
"Iya, Bu Aluna. Lova tidur," jawab Mbak Ambar sambil tersenyum. Bahkan mata Mbak Ambar sampai berkaca-kaca melihat bagaimana Aluna bisa menidurkan Elova. Dulu saat awal bekerja di sini, Elova sangat susah untuk ditidurkan. Bahkan sering sekali rewel.
"Kasihan nafasnya agak sesak," ucap Aluna sambil mengelus dada Elova yang naik turun.
"Tolong bawa lobak ke kamarnya, Mbak Ambar." lanjutnya.
"Baik, Bu."
Setelah memastikan Elova pergi ke kamar bersama Mbak Ambar, Aluna langsung berdiri. Tatapannya lurus ke depan dengan kedua tangan mengepal erat. Salah satu tangannya menggenggam erat tongkat kayunya. Dia segera pergi dari ruang keluarga diikuti oleh Bibi Tari. Wanita paruh baya itu merasakan suasana yang tegang. Dia khawatir akan terjadi sesuatu di rumah ini. Apalagi Bian tidak ada di rumah.
"Bi Tari, dimana Mbak Lani? Aku ingin menemuinya," tanya Aluna pada Bibi Tari yang ada di belakangnya.
"Sepertinya ada di dapur. Coba kita cek ke sana dulu," Bibi Tari juga tidak tahu dimana keberadaan Mbak Lani setelah diseret paksa oleh Bibi Sita.
"Tolong bantu biar Luna segera menemui Mbak Lani," ucap Aluna agar Bibi Tari menggandengnya.
Akan ada apa ini? Baru kali ini aku lihat wajah Nak Aluna marah begini. Dulu saat disiksa keluarganya saja memilih diam, tapi ini berbeda.
***
Bibi Sita sangat marah pada keponakannya karena asal bicara tentang Elova dan menghina Aluna. Padahal Bian sudah meminta mereka merahasiakan tentang Elova yang bukan anak kandungnya. Walaupun Elova hanya keponakannya, tapi Bian sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Jika Bian mengetahui rahasia yang disimpannya dibongkar di depan Elova, pasti dia akan marah besar. Dia sendiri yang akan mengatakan pada Elova ketika bocah itu sudah mengerti.
"Ngapain kamu ke sini? Majikan tuh di depan. Baru ngerasain jadi or..."
Plakkk...
"Sialan... Kamu menamparku? Kamu pura-pura buta ya?" teriak Mbak Lani saat Aluna langsung menampar pipinya saat tengah berbicara. Mbak Lani tak menyangka kalau tamparan itu bisa tepat sasaran. Sehingga Mbak Lani menduga bahwa Aluna ini hanya pura-pura buta saja.
"Lani... Jangan kurang ajar kamu sama majikan," teriak Bibi Sita saat mendengar teriakan dari Mbak Lani. Baru juga dia tinggal sebentar pergi mengambil minum, keponakannya sudah berbuat ulah.
"Majikanku itu Pak Bian dan Reyhan. Si buta dan anak pungut itu bukan majikanku. Nggak sudi aku melayani mereka," seru Mbak Lani dengan beraninya.
"Makin lama, mulutmu ini lancang. Walaupun aku buta, tapi aku ini istri dari Mas Bian. Kamu harus menghargaiku, maka aku pun akan berlaku sama. Jangan mentang-mentang aku ini buta terus kamu bisa seenaknya saja. Apalagi ini sampai menghina Lova," teriak Aluna dengan beraninya.
Bibi Tari tak menyangka kalau Aluna berani menampar Mbak Lani. Walaupun statusnya Aluna lebih tinggi alias istri dari Bian, tetapi Mbak Lani ini orang lama. Bian belum tentu percaya akan ucapan Aluna. Jika nanti Mbak Lani mengadu hal sebaliknya, ada kemungkinan Bian lebih percaya ART-nya. Bibi Tari khawatir kalau Bian nanti akhirnya malah menyalahkan Aluna.
Aluna tak terima dengan Mbak Lani yang mengatakan Elova adalah anak pungut. Aluna tahu tapi untuk sekarang tidak mau memberitahukan pada Elova. Dia menunggu Bian sampai sekiranya Elova telah siap menerima kenyataan. Aluna juga nanti yang akan membantu memberikan pengertian pada Elova. Bibi Sita kembali menarik tangan Mbak Lani agar pergi dari hadapan Aluna.
"Sebentar, Bi. Aku masih mau meladeni si buta dari goa hantu ini," teriak Mbak Lani tak terima ditampar oleh Aluna.
"Apa? Masih kurang tamparannya? Mau minta dijahit itu bibirnya biar rapat dan nggak bisa ngomong lagi? Punya mulut itu dijaga, jangan asal ngomong. Aku bakalan adukan ini sama Mas Bian," ucap Aluna dengan senyuman sinisnya. Walaupun Aluna lebih sering diam, tapi soal anak dia tidak bisa mengalah begitu saja.
"Sana laporkan saja. Aku yakin kalau Pak Bian lebih percaya sama orang lama. Kamu itu hanya orang baru di hidup Pak Bian, jadi jangan harap beliau bisa percaya pada kamu." ucap Mbak Lani dengan percaya dirinya bahwa Bian akan lebih mempercayainya.
Deg...
br tau sekaya apa aluna.mungkin bisa lebih kaya dari bian..
bagus bagus, biar mereka malu tuh🤣
apalagi captionnya menyebutkan makanan basi, pasti mereka bakalan dihujat itu🤣🤣